
Meski harus bersusah payah, Daphne berhasil mendekati tubuh suaminya. Ia meraih tangan kanan Duncan yang hampir lenyap, dan berusaha menyatukannya dengan tangannya sendiri. Daphne sama sekali tidak mempedulikan para vampir yang sedang menontonnya. Yang terpenting baginya saat ini adalah bersama dengan Duncan, meski itu berarti dia harus berpindah ke alam maut.
“Duncan, aku minta maaf kepadamu. Kau jadi seperti ini karena kesalahanku. Jika kau pergi, aku akan ikut bersamamu, Sayang.”
“Tidak, kau harus tetap hidup, demi…anak kita.”
“Anak?” tanya Daphne bingung.
Duncan berusaha menyentuh perut Daphne, tetapi ia tidak mampu karena tangannya sudah lenyap.
“Cahaya…dari perutmu itu adalah…”
Duncan tidak dapat melanjutkan kata-katanya karena wajahnya kian memudar. Mengetahui suaminya akan lenyap, Daphne berusaha memeluk Duncan erat-erat. Namun raga Duncan terlanjur berubah menjadi butiran-butiran kecil. Butiran mirip kristal itu beterbangan di udara, melayang-layang tak tentu arah.
Menyadari dirinya hanya memeluk udara kosong, tangan Daphne lalu menggapai-gapai ke seluruh penjuru. Mencoba mengumpulkan satu per satu butiran yang tersisa di udara, walaupun hanya seujung kuku. Namun usahanya berakhir sia-sia, karena ia gagal mengumpulkan butiran tubuh sang suami.
Daphne pun terduduk di lantai dengan tatapan hampa. Ia tidak menyangka bahwa hidupnya akan sehancur ini. Tanpa sadar ia telah menggenapi ramalan kematian dari Madame Claretta dan Marcia. Tak hanya menjadi pembunuh sang suami, ia juga telah menyebabkan penderitaan tiada akhir bagi dirinya sendiri.
Lelah bercampur putus asa, Daphne berteriak histeris. Suaranya terdengar begitu menyayat hati, sehingga mengejutkan semua yang hadir di aula.
“Duncan, jangan tinggalkan aku! Aku akan menyusulmu, Sayang.”
Daphne pun melompat dari atas podium untuk meraih butiran tubuh Duncan yang masih tersisa. Ketika berhasil mendapatkan satu buah, mendadak Daphne terhempas ke bawah. Dalam keadaan genting tersebut, tiba-tiba cahaya kebiruan yang sama memancar dari perut Daphne.
Cahaya tersebut kian lama kian membesar hingga menyelubungi seluruh tubuh Daphne. Gadis itu pun terangkat tinggi ke atas dalam kondisi pingsan.
Selanjutnya, hal yang tidak terduga terjadi di depan mata semua orang. Butiran-butiran kristal yang berasal dari tubuh Duncan perlahan menyatu, lalu membentuk sosok laki-laki mulai dari kepala, tangan, dan kaki. Duncan yang sempat terhilang, merasakan jiwanya utuh kembali. Kekuatannya pun berangsur pulih, bahkan terasa lebih hebat dari sebelumnya.
Setelah Duncan sadar sepenuhnya, ia segera menggapai tubuh Daphne. Sambil melayang turun, Duncan menggendong Daphne dan menurunkannya dengan sangat hati-hati. Ia tidak ingin menyakiti Daphne maupun calon bayi mereka yang baru saja tumbuh di rahim sang istri.
Dari kejauhan, Vladimir yang masih memulihkan diri, sangat terkejut menyaksikan keajaiban yang berlangsung di depan matanya. Ia sungguh tidak rela melihat Duncan yang sudah lenyap mendadak bangkit kembali.
“Vladi, apa yang kau lakukan? Kau masih terluka,” cegah Zetta khawatir dengan kondisi putranya.
“Aku tidak bisa membiarkan ini. Aku harus membunuh Duncan.”
Dengan kebencian yang membuncah, Vladimir terbang menghampiri Duncan. Ia mengeluarkan sinar hijau dari kedua telapak tangannya untuk menyerang adik tirinya itu.
“Ternyata kau memiliki cadangan nyawa, Duncan. Sayangnya, kali ini aku akan menghabisimu tanpa sisa. Kau, istri, dan anakmu yang belum lahir, semuanya akan mati di tanganku.”
Mengetahui hal itu amarah Duncan seketika memuncak. Ia masih bisa memaafkan Vladimir bila itu menyangkut dirinya. Namun ia tidak akan tinggal diam jika ada yang berani mengusik keselamatan orang yang dikasihinya.
“Kali ini aku harus menghukummu, Kak. Kejahatanmu sudah terlalu besar dan tidak bisa diampuni lagi,” tegas Duncan dengan mata menyala.
“Coba saja kalau kau bisa membunuhku. Akan kulihat seberapa besar kemampuanmu sebagai vampir berusia seribu tahun!” tantang Vladimir.
Sebelum kedua pangeran vampir itu saling menyerang, Marconi maju ke depan. Ia meminta Duncan untuk menyerahkan Daphne yang masih tak sadarkan diri.
“Pangeran, aku akan menjaga istrimu sementara kalian bertarung. Dia akan aman bersamaku,” ucap Marconi.
__ADS_1
Setelah Duncan mengiyakan, vampir tua itu menopang tubuh Daphne lalu merebahkannya di atas kursi. Kemudian ia berdiri untuk menghadap ke seluruh vampir yang hadir di aula.
“Dengarkan semuanya, siapa yang memenangkan pertarungan ini, dia layak menjadi raja. Sedangkan yang kalah atau terbunuh, artinya dia tidak layak untuk memimpin ras vampir. Tidak boleh ada yang mengganggu atau ikut campur selama pertarungan antara kedua pangeran berlangsung. Dan setelahnya, kita akan langsung menobatkan raja yang baru. Apa kalian setuju?” teriak Marconi.
Para vampir pun bersorak kegirangan. Mereka tak sabar untuk menyaksikan kedua cucu raja yang sama-sama hebat itu beradu kekuatan, menunjukkan keahlian masing-masing.
Sementara Vladimir dan Duncan sudah saling berhadapan. Tak sabar untuk menghabisi Duncan, Vladimir segera melancarkan sihir andalannya yang langsung dibalas oleh Duncan. Pertarungan sengit pun berlangsung di antara mereka. Tak hanya adu sihir, tetapi kedua pria itu juga berduel secara fisik.
“Duncan, aku akan membuat istrimu mati kehabisan darah,” ujar Vladimir dengan napas memburu.
Mendengar Vladimir lagi-lagi ingin melukai Daphne, kemarahan Duncan semakin membara. Tubuhnya berpijar seperti kobaran api, sehingga menyilaukan setiap mata yang memandangnya.
Tak ayal, Vladimir pun menutupi matanya dengan punggung tangan. Saat itulah Duncan segera melesat ke arahnya. Dengan kekuatan penuh, ia menyerang Vladimir tepat ke bagian leher.
Vladimir hanya bisa terperanjat saat melihat bola api seukuran kepala menebas lehernya. Dalam hitungan detik, kepalanya sudah terpisah dari tubuh. Vladimir mengerang dengan kencang sebelum akhirnya ia roboh tak bernyawa.
Zetta menjerit tak percaya melihat putra tunggalnya telah meninggal di tangan Duncan. Ia hendak menyerang Duncan, tetapi sudah diamankan terlebih dulu oleh para prajurit vampir.
Marconi kembali maju ke depan untuk memberikan pengumuman kepada seluruh rakyat.
“Pangeran Duncan sudah berhasil mengalahkan Pangeran Vladimir. Dia layak menjadi raja kita,” ucapnya menyadarkan para vampir yang masih tercengang dengan duel sengit itu.
Layaknya paduan suara, seluruh vampir meneriakkan nama Duncan penuh semangat.
“Hidup, Yang Mulia, Raja Duncan!” seru mereka lantas bersujud di hadapan Duncan.
Suara yang riuh rendah itu membangunkan Daphne dari pingsannya. Saat ia membuka mata, Daphne melihat suaminya tengah berdiri di podium. Tanpa menghiraukan tubuhnya yang masih lemas, Daphne berlari menghambur ke pelukan Duncan.
“Iya, aku kembali berkat kau dan kekuatan anak kita. Semuanya sudah berakhir, Sayang.”
“A-apa benar aku hamil? Tapi ini terlalu cepat,” ujar Daphne mengelus perutnya yang masih rata.
“Kau bersuamikan vampir, Nona. Pertumbuhan benih vampir sangat berbeda dengan manusia. Hanya dalam waktu dua atau tiga hari setelah kalian menyatu, kau sudah bisa hamil,” jelas Marconi menyela percakapan mereka.
Daphne pun tersenyum bahagia mengetahui dirinya sedang mengandung buah cinta mereka.
“Mulai saat ini kita akan selalu bersama, Sayang,” ujar Duncan dengan mata berbinar.
“Tidak, kalian tidak bisa bersama!”
Sebuah suara menginterupsi suasana haru yang tercipta. Duncan dan Daphne melerai pelukannya, lalu menoleh ke arah Ratu Claudia. Vampir wanita itu telah terbebas dari mantra pengurung sesudah Vladimir tewas.
“Kenapa tidak bisa, Nenek? Daphne bahkan sedang mengandung anakku,” sanggah Duncan.
“Karena kau sudah terpilih menjadi raja. Vladimir telah tiada, tidak ada lagi keturunan Lord Anthony yang bisa menggantikan posisinya, kecuali dirimu, Duncan!” tekan Ratu Claudia.
“Itu benar, Pangeran. Lihatlah seluruh rakyat sudah menerimamu sebagai raja mereka, dan kau tidak boleh meninggalkan tanggung-jawabmu. Sejak awal kau sudah ditakdirkan menjadi pemimpin ras vampir,” imbuh Marconi.
Melihat keadaan yang memaksa mereka untuk berpisah, Duncan kemudian mengajak Daphne berlutut di hadapan Ratu Claudia.
__ADS_1
“Yang Mulia Ratu, mohon berikan pilihan agar kami tetap bisa menjadi suami istri. Tolong berikan kesempatan kepadaku untuk mendampingi Daphne dan merawat anakku hingga tumbuh dewasa,” pinta Duncan bersungguh-sungguh. Daphne menunduk di samping Duncan dengan mata yang berkaca-kaca. Ia tidak akan sanggup bila harus berpisah lagi dengan suaminya.
“Ubahlah istrimu menjadi vampir sekarang juga, maka dia bisa tinggal selamanya di kerajaan,” jawab Ratu Claudia.
“Maaf, Nenek, aku tidak bisa. Aku tidak mau Daphne menerima kutukan dengan menjadi makhluk penghisap darah,” tolak Duncan.
“Tidak apa-apa, Sayang, aku bersedia,” ucap Daphne kepada Duncan.
“Daphne, kau punya Kakek James, teman-teman, dan kehidupan yang menyenangkan sebagai manusia. Aku tidak mau merusak semua itu,” tolak Duncan.
“Tapi itu satu-satunya cara supaya kita bersama,” tutur Daphne putus asa.
Duncan lantas bersujud kepada Ratu Claudia, lalu menyampaikan keputusan terbesar dalam hidupnya.
“Yang Mulia Ratu, aku minta waktu selama tujuh belas tahun untuk tinggal sebagai manusia. Setelah itu, aku berjanji akan kembali menjadi raja dari ras vampir.”
Ratu Claudia menaikkan alisnya karena kaget dengan permintaan Duncan.
“Kenapa harus tujuh belas tahun?”
“Karena pada usia itu, anakku sudah mulai tumbuh dewasa. Dia akan bisa menjaga ibunya dan diri sendiri, sehingga aku akan tenang meninggalkan mereka.”
Mendengar jawaban yang diberikan Duncan, Ratu Claudia tidak mampu berkata-kata. Dengan kemampuannya melihat masa depan, Ratu Claudia bisa melihat bahwa apa yang diminta oleh Duncan sudah sesuai dengan suratan takdir.
“Baiklah, kalian boleh pergi ke dunia manusia sekarang. Namun tepatilah janjimu, Duncan. Jika kau tidak kembali setelah tujuh belas tahun, aku dan seluruh anggota majelis akan membawamu secara paksa.”
“Terima kasih, Nenek. Aku bersumpah akan menepati janji yang telah kuucapkan,” ucap Duncan merasa lega.
***
Tujuh belas tahun kemudian….
Usai meniup lilin di kue tartnya, Jerome mengucapkan doa di dalam hati. Ia sungguh berharap agar sang ayah tidak jadi pergi meninggalkan mereka.
“Doa apa yang kau minta, Jerome?” tanya Daphne penasaran.
“Apa kau ingin punya pacar yang secantik ibumu?” sambung Duncan menggoda putranya.
“Tidak, Daddy, aku cuma ingin kau tetap bersama kami.”
Merasa terharu dengan ucapan Jerome, Duncan memegang kedua bahu sang putra. Ia menatap iris mata biru milik Jerome yang sangat mirip dengannya.
“Jerome, sebagai seorang lelaki sejati, Daddy tidak bisa melanggar janji. Percayalah, Daddy akan selalu mengawasi dan melindungi kalian dari kejauhan. Daddy juga akan mengunjungi kalian di rumah setiap malam bulan purnama.”
“Benarkah yang kau katakan itu, Sayang?” tanya Daphne memegang tangan Duncan.
“Benar, Sayang, nantikanlah kedatanganku seperti pada waktu kita berbulan madu.”
Duncan pun merangkul Daphne dan Jerome sebelum ia berangkat ke kerajaan vampir. Mereka memang harus berpisah untuk sementara waktu, tetapi cinta dalam hati mereka akan terus abadi sepanjang masa.
__ADS_1
THE END