Menikahi Pria Seribu Tahun

Menikahi Pria Seribu Tahun
Bab 45 Sang Pesulap Hijau


__ADS_3

Daphne terus menaikkan kecepatan mobilnya untuk membelah jalanan kota. Ia tak peduli bila ada polisi lalu lintas yang mengejarnya, karena dianggap menyetir dengan ugal-ugalan. Keinginan Daphne sekarang hanya satu, yaitu menemukan suaminya. Tak peduli bila harus ke ujung dunia sekalipun, ia akan terus mencari Duncan sampai ketemu.


Suara decit ban mobil Daphne terdengar nyaring saat bergesekan dengan aspal. Dengan tidak sabar Daphne memarkirkan mobil, lalu masuk ke butik gaun pengantin milik Nyonya Victoria. Ya, Daphne datang ke tempat ini untuk mencari tahu apakah Nyonya Victoria masih ingat bahwa ia sudah menjadi seorang mempelai wanita.


"Nona, ada keperluan apa?" tanya resepsionis saat melihat Daphne menerobos masuk.


"Apa Nyonya Victoria ada di dalam?" tanya Daphne.


"Ada, tapi Beliau sedang merias seorang klien, tidak bisa diganggu."


"Aku hanya perlu waktu lima menit untuk bicara dengan Nyonya Victoria. Tolong sampaikan bahwa Daphne, pengantin yang dua hari lalu dirias olehnya, datang kemari.”


Mendengar perkataan Daphne, resepsionis tersebut mengerutkan dahinya.


“Maaf, Nona, dua hari yang lalu butik ini tutup. Mungkin Anda salah mengingat.”


“Panggilkan saja Marcia, asisten Nyonya Victoria. Dia pasti mengenali siapa aku dan suamiku,” ucap Daphne setengah memaksa.


“Marcia sudah mengundurkan diri, Nona. Dia kembali ke kampung halamannya di Brookeville,” ujar resepsionis itu.


Daphne semakin dilanda kecemasan saat mengetahui Marcia tidak bekerja lagi di butik. Padahal ia yakin wanita itu bisa melacak keberadaan Duncan dengan menggunakan indera keenamnya.


“Kalau begitu aku harus bertanya kepada Nyonya Victoria. Nyonya, ini aku, Daphne, cucunya Kakek James!” teriak Daphne.


“Nona, mohon jaga kesopanan. Silakan menunggu di sini,” tegur sang resepsionis.


Karena mendengar suara ribut-ribut, Nyonya Victoria menghentikan sejenak aktivitasnya. Ia keluar dari ruang rias untuk melihat apa yang terjadi.

__ADS_1


“Ada apa ini, Lindsey?” tanya Nyonya Victoria.


“Nona ini memaksa ingin bicara dengan Anda, Nyonya.”


Melihat kemunculan Nyonya Victoria, Daphne bergegas menghampiri wanita itu. Ia ingin memastikan apakah Nyonya Victoria juga melupakan Duncan atau tidak.


“Nyonya, apa Anda masih ingat saya? Saya adalah cucunya Kakek James, yang menyewa gaun pengantin di butik Anda. Waktu saya menikah, Anda-lah yang mendandani wajah dan rambut saya.”


Nyonya Victoria menggelengkan kepala dengan ekspresi keheranan.


“Jadi kau adalah cucunya James? Maaf, Sweety, aku saja baru melihatmu hari ini, mana mungkin aku pernah meriasmu. Aku bahkan belum tahu bahwa kau sudah menikah.”


Lantai yang dipijak Daphne serasa terbelah menjadi dua. Ternyata seluruh dunia telah melupakan Duncan, tak terkecuali Nyonya Victoria. Percuma saja ia menjelaskan panjang lebar karena takkan ada orang yang mempercayai kata-katanya. Andai ia tetap bersikeras, orang lain akan menganggapnya sebagai pembual.


“Saya minta maaf karena sudah mengganggu waktu berharga Anda, Nyonya. Permisi."


Berusaha tetap tegar, Daphne memacu kendaraan roda empatnya menuju ke Magic Park. Karena ini masih sore hari, taman fantasi tersebut hanya dikunjungi oleh segelintir orang. Alhasil Daphne langsung mendapatkan tempat parkir tanpa perlu bersusah payah.


Tanpa berpikir dua kali, Daphne berlari menyusuri lapangan rumput untuk mencari tenda peramal tarot. Namun setelah berputar beberapa kali, ia tidak dapat menemukan letak tenda yang dicarinya.


'Aku tidak mungkin salah ingat. Tenda Madam Claretta ada di dekat pohon besar ini. Tetapi kenapa sekarang hanya ada tanah kosong? Apa dia sudah tidak membuka jasa pembacaan tarot?' pikir Daphne bertanya-tanya.


Untuk mendapatkan jawaban yang akurat, Daphne bertanya kepada salah satu petugas yang berjaga di rumah hantu.


"Maaf, Tuan, apakah Madam Claretta sudah tidak berada di Magic Park?"


Pria berkumis tipis itu menganggukkan kepala.

__ADS_1


"Madam Claretta jatuh sakit, sehingga tidak bisa bekerja lagi, Nona."


"Apa Tuan tahu di mana alamat rumahnya?" tanya Daphne.


"Tidak tahu, Nona. Kalau Nona ingin mencari jasa peramal, Nona bisa ke Tenda Sulap Greenland. Di sana ada seorang pria muda yang baru bergabung dengan kami. Selain pandai bermain sulap, katanya dia juga bisa meramal."


"Baik, Pak, saya akan ke sana."


Bak mendapat secercah cahaya, Daphne mengikuti petunjuk dari penjaga rumah hantu. Ia berbalik arah ke sebelah kiri sambil mencari-cari letak tenda sulap tersebut.


Setelah berjalan cukup lama, Daphne melihat kerumunan anak-anak yang mengerubungi seorang pria. Pria muda itu sedang menarik sesuatu dari dalam topinya. Dan tak lama kemudian keluarlah sejumlah permen lolipop warna-warni. Sontak, anak-anak kecil itu bertepuk tangan dan bersorak kegirangan. Terlebih saat pria tersebut membagi-bagikan permen lolipop secara gratis.


Didorong rasa penasaran, Daphne berjalan menghampiri mereka. Ketika jaraknya sudah dekat, Daphne bisa membaca tulisan "Pesulap Greenland" yang tertera di belakang pria itu.


"Anak-anak, permen lolipop adalah bagian akhir dari pertunjukan sulap hari ini. Besok Uncle akan memperlihatkan atraksi yang lebih menarik. Sekarang kalian boleh pulang bersama Mommy dan Daddy," ujar pesulap itu sambil tersenyum lebar.


Dengan patuh anak-anak membubarkan diri, lalu berhamburan ke pelukan orang tua mereka. Daphne merasa heran karena sang pesulap seolah-olah memiliki daya pikat, yang mampu membuat anak kecil taat kepadanya.


Karena asyik memandangi para orang tua beserta anak mereka, Daphne tidak sadar bila pesulap itu sudah berdiri di depannya.


"Nona, kenapa kau melamun sendirian? Ada yang sedang mengganggu pikiranmu?"


Mendengar suara bariton yang menyapanya, Daphne mengalihkan pandangan. Ia pun bersitatap dengan netra berwarna hijau zamrud milik sang pesulap. Seakan mengalami dejavu, Daphne merasa pernah bertemu dengan pria ini sebelumnya.


"Kau?! Bukankah kau adalah pria yang membeli darah di rumah sakit tempo hari?" tanya Daphne mengamati wajah pria tampan di hadapannya.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2