Menikahi Pria Seribu Tahun

Menikahi Pria Seribu Tahun
Bab 28 Saingan Cinta


__ADS_3

Usai bicara dengan Marconi, Ratu Claudia mengutus salah seorang pengawalnya untuk pergi ke kediaman Salma Duante. Ia yakin putri vampir itu mampu memutus kutukan yang tengah mengintai Duncan.


Tak berselang lama, terdengar suara ketukan di pintu. Mengetahui siapa yang datang, Ratu Claudia bergegas menjetikkan jemarinya untuk membuka pintu. Seulas senyuman terbentuk di bibir sang ratu ketika melihat sosok gadis cantik yang memasuki ruangannya.


"Salam Yang Mulia Ratu," ucap gadis muda itu membungkuk penuh hormat.


"Jangan sungkan padaku, Salma. Selamat datang di istana," sahut Ratu Claudia mendekat.


Gadis bergaun ungu itu mengangkat kepalanya untuk memandang wajah sang ratu.


"Saya sangat tersanjung karena mendapat undangan khusus dari Yang Mulia. Sudah lama saya ingin datang berkunjung. Namun Ayah mengatakan bahwa saya harus mencari waktu yang tepat, supaya tidak mengganggu kesibukan Anda."


Ratu Claudia tersenyum mendengar ucapan Salma. Dari cara bicaranya saja, sudah terlihat bahwa gadis ini pandai merangkai kata-kata.


"Ayahmu terlalu berlebihan. Aku tidak sesibuk itu, apalagi aku akan segera pensiun dari urusan kerajaan," ucap Ratu Claudia.


Salma tampak mengeluarkan sebuah botol kaca berwarna merah dari dalam tasnya.


"Yang Mulia, mohon terimalah bingkisan spesial dari saya," ucap Salma menyerahkan botol itu ke tangan Ratu Claudia.


"Apa ini, Salma?" tanya Ratu Claudia mengerutkan dahi.


"Darah putri duyung Nevalia yang berusia ribuan tahun. Meminumnya beberapa tes saja bisa membuat Anda lebih muda ratusan tahun."


Netra sang ratu langsung berbinar terang saat melihat botol darah yang dipegangnya. Hampir semua vampir tahu bahwa ia selalu antusias terhadap segala sesuatu yang berbau awet muda.


"Aku tidak salah memilihmu, Salma. Kau memang paling bisa memahami keinginan setiap vampir. Aku pasti akan meminum darah Nevalia sampai habis."


Ratu Claudia meletakkan botol darah itu di meja, lalu menghampiri Salma.

__ADS_1


"Aku memanggilmu karena ingin memberikan sebuah misi rahasia. Ini bukan tugas sembarangan, karena hadiah yang menantimu tidak main-main. Hadiah yang kutawarkan adalah...menikah dengan cucuku."


Salma terkesiap sekaligus merasa bahagia. Tak menyangka bila dirinya akan mendapatkan anugerah sebesar ini. Jika benar ia menikah dengan cucu Ratu Claudia, artinya dia akan menjadi calon ratu berikutnya.


"Saya siap menerima tugas apapun dari Anda, asalkan saya bisa menjadi istri Pangeran Vladimir."


Yang pertama kali muncul di benak Salma tentu saja adalah Vladimir. Karena setahunya Ratu Claudia hanya memiliki satu orang cucu sebagai calon pewaris takhta.


"Bukan Vladimir yang akan kunikahkan denganmu, melainkan Duncan. Dia adalah cucuku yang selama ini hidup dalam pengasingan."


"Anda punya cucu laki-laki lagi?" tanya Salma memastikan.


"Aku kira kau sudah mengetahui desas-desus ini dari ayahmu. Aku memang memiliki cucu laki-laki yang di dalam tubuhnya mengalir darah manusia. Dia memiliki banyak kelebihan yang tidak akan ditemui pada vampir biasa. Aku yakin kau akan tertarik kepadanya."


Salma nampak masih ragu karena ia belum pernah melihat Duncan. Sebagai putri bangsawan yang dipuja banyak pria, tentu saja ia tidak ingin menikahi kucing dalam karung.


"Saya perlu mengetahui dulu seperti apa wajah Pangeran Duncan, dan apa saja kemampuan sihirnya," tegas Salma.


"Kau akan melihat Duncan sebentar lagi."


Ratu Claudia meletakkan tangannya di kepala Salma untuk mengirimkan memorinya. Beberapa saat kemudian, Salma bisa melihat kenangan masa lalu Duncan, seperti sebuah film yang berputar sangat cepat. Terakhir, dia melihat bagaimana rupa Duncan yang tampan, lengkap dengan mata birunya yang sejernih batu safir. Iris mata seperti ini jarang sekali dimiliki oleh seorang vampir pria.


Salma pun terkesima dalam penglihatannya. Kini, ia tak akan berpikir dua kali untuk menikah dengan Duncan. Bahkan ia merasa jatuh cinta pada pandangan pertama, meski ia belum bertemu muka dengan lelaki itu.


"Bagaimana, apa kau sudah melihat cucuku?" tanya Ratu Claudia melepaskan tangannya.


"Sudah, Yang Mulia. Aku...bersedia menyelesaikan tugas yang Anda berikan."


"Bagus. Aku memberimu tugas untuk mencari Duncan, karena dia sedang tersesat di dunia manusia. Sebenarnya Vladimir sudah menawarkan diri untuk hal itu, hanya saja dia belum memberikan laporan kepadaku," jelas Ratu Claudia.

__ADS_1


"Berangkatlah secepatnya, Salma. Jika kau berhasil membawa Duncan pulang ke istana, aku akan segera menikahkan kalian. Sekaligus aku berencana mengumumkan pengangkatan raja yang baru."


Mendengar janji menggiurkan yang diberikan oleh sang ratu, Salma mengulum senyuman.


"Baik, Yang Mulia, saya pasti akan membawa Pangeran Duncan ke hadapan Anda," jawab Salma membungkukkan badan.


"Tapi ada sebuah halangan yang perlu kamu tahu, Salma. Kemungkinan besar ada wanita dari golongan manusia yang sedang berada di sekitar Duncan. Aku tidak tahu siapa wanita itu, tetapi aku melihatnya dalam meditasi."


Salma sedikit terkejut mendengar informasi yang disampaikan oleh Ratu Claudia. Namun tak sampai satu menit ia kembali tersenyum. Masalah manusia terlalu mudah bagi seorang Salma Duante.


Apa hebatnya wanita manusia hingga ia harus merasa gentar? Tinggal menghisap darahnya sampai kering, maka wanita itu pasti langsung mati. Salma akan menyingkirkannya semudah membalikkan telapak tangan.


"Saya akan melenyapkan apa saja yang merintangi tugas saya, Ratu. Termasuk, wanita manusia yang coba mendekati Pangeran Duncan," tegas Salma penuh percaya diri.


...****************...


Daphne dan Duncan sudah tiba di rumah Kakek James. Mereka turun dari mobil, lalu berjalan dengan mengendap-endap. Hanya tersisa dua jam lagi sebelum Kakek James terbangun di pagi hari, dan Daphne tidak ingin kepergok. Jika kepergiannya sampai diketahui oleh Kakek James, pria tua itu pasti akan menghujaninya dengan banyak pertanyaan.


"Pergilah ke kamarmu dan langsung tidur. Hari ini jadwal kuliahku di siang hari," bisik Daphne kepada Duncan.


"Baik, Nona. Tidur satu jam saja sudah cukup untukku. Setelah itu, aku akan membantu Kakek James membuat sarapan."


"Memangnya berapa lama vampir biasanya tidur?" tanya Daphne dengan suara lirih.


"Aku bisa tidur setengah hari atau tidak tidur sama sekali. Itu tidak masalah," jawab Duncan lantas berlalu ke kamarnya.


Daphne hanya bisa menatap punggung Duncan dari belakang. Ia marasa harus menggali lebih banyak lagi mengenai vampir. Pasalnya, dia masih buta sama sekali mengenai kebiasaan dan cara hidup makhluk abadi yang misterius itu.


Satu hal yang pasti, Daphne yakin jika kondisi Duncan belum sepenuhnya pulih. Benda aneh yang keluar dari tubuh Duncan, sepertinya telah berefek besar pada diri pria itu.

__ADS_1


'Sebelum kuliah, aku akan membeli beberapa kantong darah dari rumah sakit. Mungkin dengan meminumnya, Duncan akan lebih sehat. Aku ingin dia tampil sempurna di hari pernikahan kami,'


pikir Daphne seraya merebahkan tubuh di tempat tidur.


__ADS_2