
Daphne terlebih dulu ke restoran bahan kue dengan berjalan kaki, karena letaknya tidak jauh dari rumah. Setelah selesai dengan urusannya, Daphne pun menyeberang jalan untuk memanggil taksi yang lewat. Karena ini menjelang sore hari, ada banyak orang yang juga membutuhkan taksi. Alhasil ia selalu saja kalah cepat dengan orang-orang tersebut.
‘Huft, seharusnya aku pesan lewat aplikasi saja supaya cepat sampai,’ batin Daphne kesal.
Daphne pun bergerak maju, supaya dia lebih dekat dengan bahu jalan. Namun mendadak hujan turun dengan deras, sehingga membuat baju yang dikenakan Daphne basah.
“Oh, sial, kenapa harus turun hujan!” pekik gadis itu di tengah guyuran hujan.
Daphne segera berlari untuk mencari tempat berlindung, tetapi tiba-tiba sebuah payung menaungi kepalanya dari belakang. Seketika Daphne menoleh dan bertukar pandang dengan pria yang membawa payung tersebut.
“Duncan, kenapa kau ada di sini? Bukankah kau sedang mengunjungi makam ibumu?” tanya Daphne mengernyit bingung.
“Aku sudah selesai, Nona. Aku sengaja datang ke mari untuk menjemputmu pulang. Di sini terlalu berbahaya.”
“Berbahaya kenapa?”
Duncan tidak menjawab pertanyaan Daphne, tetapi ia merangkul bahu gadis itu dan menuntunnya berjalan menuju mobil.
Berpayung berdua di tengah hujan, membuat jantung Daphne berdebar-debar. Ia jadi teringat adegan romantis di dalam film yang selalu membuatnya iri. Tak disangka, kini ia juga bisa merasakan hal yang sama.
Dengan sigap, Duncan membukakan pintu mobil sembari tetap memayungi gadis itu. Sesudah memastikan Daphne masuk ke mobil, barulah Duncan duduk di kursi kemudi.
Melihat lengan baju pria itu sedikit basah, Daphne berinisiatif untuk mengelapnya dengan tissue. Duncan tidak bergeming. Ia diam saja dengan pandangan lurus ke depan. Rahang pria itu mengeras sementara wajahnya tampak tegang. Entah apa yang terjadi pada Duncan. Sepertinya lelaki itu sedang punya masalah yang membebani pikirannya.
“Duncan, aku mau mampir dulu ke Pizza Oversize. Aku sudah janji kepada Xin Fei untuk membelikannya pizza,” pinta Daphne sedikit takut. Tidak biasanya Duncan bersikap sekaku ini saat mereka sedang berdua. Barangkali pria itu tengah membutuhkan darah, sehingga ia tidak banyak bicara.
“Bajumu basah, Nona. Aku yang akan memesan pizza dan mengantarnya ke Oliver Kitchen,” jawab Duncan memusatkan fokus ke jalan.
__ADS_1
“Tapi aku juga membawa pewarna makanan yang dibutuhkan Xin Fei untuk membuat kue,” protes Daphne.
“Aku bisa mengantarnya sekalian ke restoran. Sekali ini menurutlah padaku, Nona,” tegas Duncan.
Dari ekspresi Duncan, jelas sudah bahwa pria itu tidak ingin dibantah. Akhirnya, Daphne memilih untuk bungkam sampai mereka tiba di rumah.
Sebelum turun dari mobil, Daphne menyodorkan tas berwarna putih dan sejumlah uang kepada Duncan.
“Masuklah, Nona, kunci pintu dan jangan ke mana-mana. Aku akan segera kembali.”
“Iya, aku mengerti."
Melihat sikap calon suaminya yang berbeda, Daphne menjadi keheranan. Biasanya Duncan adalah pria yang polos, tenang, dan penurut. Tetapi kali ini dia menunjukkan sisi ketegasannya sebagai seorang pria.
‘Pasti Duncan menjadi tegang karena dia belum minum darah sejak kemarin. Aku harus mencarikan darah untuknya sekarang juga, supaya besok pernikahan kami berjalan lancar,’ pikir Daphne lantas memesan taksi online lewat aplikasi.
Gadis itu bergegas ke kamar mandi untuk membersihkan diri, dan mengganti pakaiannya yang basah. Hanya sekitar lima belas menit Daphne menyelesaikan kegiatan pribadinya. Tepat pada saat itu, terdengar suara klakson dari luar. Menandakan bahwa taksi yang dipesannya sudah datang.
“Pak, kita ke kios Mc. Grey, tempat penjualan daging,” pinta Daphne.
“Baik, Nona.”
Cuaca yang dingin akibat hujan, membuat Daphne mengeratkan sweaternya. Terlebih saat ia harus turun dari taksi untuk menuju ke kios Mc. Grey.
Kios Mc. Grey adalah tempat penjualan daging yang paling besar di kota. Mereka menjual berbagai macam bagian tubuh hewan ternak, termasuk darahnya yang sudah dibekukan. Karena itu, Daphne memilih tempat ini sebagai alternatif untuk mendapatkan darah.
Daphne menaikkan hodie sweaternya untuk menutupi kepala, lalu ikut mengantri dengan para pengunjung. Ketika tiba gilirannya, Daphne pun maju ke depan.
__ADS_1
“Mau pesan apa, Nona?” tanya pria paruh baya yang bertugas melayani pembeli.
“Darah sapi dan ayam, Tuan. Kalau ada darah domba atau kalkun, saya juga mau beli,” jawab Daphne.
“Berapa banyak, Nona?
“Sepuluh kantong.”
Pria setengah baya itu nampak terkejut karena Daphne membeli darah hewan dalam jumlah banyak. Namun sebagai penjual, ia tidak ingin terlalu ambil pusing.
Pria itu segera berjalan menuju ke freezer besar di tengah kios, untuk mengambilkan barang pesanan Daphne.
“Ada tambahan lagi, Nona?”
“Tidak, Tuan, itu saja,” jawab Daphne tersenyum.
Setelah membayar barang belanjaannya, Daphne memesan taksi lewat ponsel untuk mengantarnya pulang ke rumah. Akan tetapi, ia kembali dikejutkan oleh kehadiran Duncan yang tiba-tiba.
“Nona Daphne,” panggil Duncan memegang lengan gadis itu.
“Duncan?! Apa kau memakai telepati untuk melacak keberadaanku? Maaf, aku keluar rumah tanpa memberitahumu dulu. Aku hanya ingin…membelikanmu ini,” tunjuk Daphne ke kantong belanjanya.
Duncan merespon ucapan Daphne dengan senyuman lebar. Lagi-lagi Daphne merasa heran melihat sikap Duncan yang berubah drastis dalam sekejap. Sepulang dari makam ibunya, Duncan tidak banyak bicara, tetapi pria itu sekarang bisa tersenyum. Bahkan Duncan tidak marah atau kesal, walaupun Daphne telah melanggar larangan dari pria itu.
“Tidak apa-apa. Sekarang ikut aku. Aku ingin menunjukkan sebuah tempat yang spesial,” ajak Duncan menggandeng tangan Daphne.
“Bagaimana jika besok saja kita ke sana? Ini sudah malam dan besok pagi kita harus menjalani upacara pernikahan," tawar Daphne.
__ADS_1
“Aku tidak bisa menundanya, Nona. Percayalah, tempat itu akan membuatmu senang untuk selamanya," jawab Duncan dengan tatapan misterius.
Bersambung