
“Tapi bagaimana caranya kita bisa ke sana? Apa itu tidak terlalu berbahaya?” tanya Daphne ragu.
“Percaya saja padaku. Aku dianugerahi kemampuan turun-temurun untuk bisa berpindah tempat dalam waktu singkat. Jadi kita bisa langsung tiba di istana vampir tanpa perlu bersusah payah. Sekarang cepat ganti bajumu. Dan satu lagi, pakailah bedak yang lebih tebal agar kulitmu terlihat pucat seperti vampir,” tukas Vladimir
Daphne pun mengangguk lantas berjalan menuju ke kamarnya. Setelah mengunci pintu, ia melakukan persis seperti yang dikatakan oleh Vladimir. Ia mengenakan gaun hitam pemberian pria tersebut, lalu menaburkan bedak berwarna putih di seluruh bagian wajah dan leher. Daphne juga mengoleskan bedak dan lipgloss transparan pada bibirnya supaya tampak pucat. Daphne juga membiarkan rambutnya yang panjang terurai begitu saja untuk menambah kesan menyeramkan. Sebagai sentuhan akhir, dia mengenakan jubah berwarna hitam dengan kerudung yang menutupi kepalanya.
Merasa penampilannya sudah menyerupai vampir wanita, Daphne bergegas keluar dari kamar. Tak lupa ia menyembunyikan belati suci di balik gaun hitam tebal yang dikenakannya. Tanpa keraguan lagi, Daphne pun menemui sang pesulap hijau.
“Aku sudah siap,” ujar Daphne begitu ia berhadapan dengan Vladimir.
Seutas senyum licik terlukis di bibir Vladimir. Dia merasa kagum sekaligus senang melihat perubahan pada diri Daphne. Terlintas di pikiran Vladimir untuk menjadikan Daphne sebagai vampir sungguhan bila nanti Duncan telah mati. Barangkali wanita ini bisa menjadi salah satu istrinya ketika ia sudah dinobatkan sebagai raja.
Untuk sesaat Vladimir memejamkan mata sambil memegangi bahu Daphne. Ia memberikan mantra pelindung supaya bau darah manusia di tubuh Daphne tidak tercium oleh vampir yang lain. Ia harus memastikan Daphne selamat sampai gadis itu berhasil menuntaskan misinya.
“A-apa yang kau lakukan?” tanya Daphne bingung.
“Memberimu tabir pelindung dari serangan vampir. Sekarang pegang tanganku dan pejamkan kedua matamu. Kita akan segera tiba di istana vampir yang menakjubkan.”
Dengan jantung yang berdebar kencang, Daphne menuruti semua instruksi Vladimir. Tiba-tiba ia merasakan kepalanya berputar-putar laksana terhantam oleh badai tornado.
“Buka matamu sekarang, Daphne,” bisik Vladimir.
Perlahan Daphne membuka mata dan terperanjat melihat kondisi di sekelilingnya. Baru semenit yang lalu dia berada di rumahnya, kini ia berdiri di sebuah bangunan megah mirip kastil kerajaan.
Semua interior didominasi oleh warna merah dan hitam. Di setiap sudut terdapat obor yang menyala sebagai penerang, tetapi tidak ada lampu sama sekali. Nampaknya bangunan ini sengaja dibuat remang-remang oleh pemiliknya. Kesan pertama yang didapatkan Daphne adalah kastil mewah ini mengandung aura mistis yang membuat bulu kuduk merinding.
__ADS_1
“Benarkah ini…istana vampir?” tanya Daphne gugup.
“Ssshh, jangan keras-keras. Di sini ada banyak sekali vampir yang berkeliaran,” ucap Vladimir membungkam mulut Daphne dengan telapak tangannya.
“Kau lihat di sebelah sana dan di sana juga, ada beberapa pria memakai jubah hitam dan perisai baja. Mereka adalah pengawal di istana vampir yang ganas dan kuat. Kalau kau sampai tertangkap, mereka akan langsung menghisap darahmu sampai kering. Sekarang diam dan ikuti langkahku di belakang. Aku akan membawamu ke kamar Duncan Kliev.”
Saat bersitatap dengan Vladimir, Daphne merasa heran karena lelaki itu telah berubah total. Kini ia mengenakan setelan hitam bercorak hijau dengan jubah panjang di belakang punggung. Sekilas Vladimir mirip dengan seorang pangeran atau kstaria dari abad pertengahan. Pria itu juga membawa sebuah nampan yang berisi baju laki-laki, lalu menyerahkannya kepada Daphne.
“Bawa ini untuk meyakinkan para pengawal, bahwa kamu adalah wanita yang bertugas melayani Duncan.”
Daphne menerima nampan itu tanpa mempertanyakan apa pun. Ia hanya mengikuti Vladimir yang sudah berjalan mendahuluinya.
Langkah Vladimir terlihat begitu percaya diri saat melewati para pengawal di istana, apalagi mereka selalu membungkuk untuk memberikan hormat kepadanya. Hal ini berbanding terbalik dengan Daphne yang terus menundukkan kepala karena takut akan ketahuan.
Vladimir berbelok ke lorong sebelah kanan, yang terhubung langsung dengan kamar Duncan. Ia yakin Duncan akan diminta berganti pakaian oleh Ratu Claudia, karena waktu pemungutan suara hanya tersisa satu jam lagi.
Dengan cepat, Vladimir mendekati dua vampir yang berjaga di depan pintu kamar Duncan.
“Salam, Yang Mulia Pangeran,” ucap keduanya seraya membungkukkan badan.
“Apa adikku ada di dalam? Aku mengirimkan seorang pelayan untuk membantu dia berganti pakaian.”
Kedua pengawal itu saling melemparkan tatapan bingung.
“Maaf, Pangeran, Ratu Claudia tidak mengizinkan siapapun masuk selain Ratu sendiri.”
__ADS_1
“Dengar, aku sengaja mengirimkan pelayanku untuk mengurus keperluan Duncan, tetapi kalian berani menghalangiku. Apa kalian sudah bosan hidup?” tekan Vladimir.
“Bukan begitu maksud kami, Pangeran. Hanya saja Ratu Claudia memerintahkan kepada kami untuk menjaga keselamatan Pangeran Duncan sampai acara penobatan raja selesai dilaksanakan.”
Darah Vladimir langsung mendidih kala mendengar sang nenek begitu melindungi Duncan.
“Kalian pikir aku akan mencelakakan adikku sendiri? Perlu kalian tahu, aku tidak akan masuk ke dalam kamar Duncan. Hanya pelayanku saja yang masuk dan itu tidak akan lama. Apa kalian akan tetap melarangnya?”
Melihat wajah Vladimir yang mengeras, kedua pengawal itu tidak berani membantah lagi. Mereka tahu benar bagaimana dahsyatnya kekuatan Vladimir, yang bisa membuat kepala mereka terpisah dari raganya.
“Baik, silakan pelayan Anda masuk asalkan tidak lebih dari dua puluh menit.”
Vladimir segera memberikan kode kepada Daphne agar berjalan menghampirinya. Sementara kedua pengawal itu sudah membukakan pintu kamar Duncan.
Di dalam kamar, Duncan sedang melukis wajah Daphne di atas gulungan kertas untuk menyalurkan kerinduannya. Ia benar-benar tersiksa berada di dalam istana tanpa bisa mengetahui kabar sang istri. Duncan sudah memutuskan untuk melarikan diri usai acara pemungutan suara selesai.
Ketika mendengar suara pintu terbuka, Duncan buru-buru menyimpan lukisannya. Kemudian ia berdiri dengan posisi membelakangi sang tamu tak diundang. Sungguh ia merasa malas berinteraksi atau sekadar berbicara dengan vampir lain.
“Siapa kau? Kenapa datang kemari?” tanya Duncan ketus.
“Salam, Pangeran, saya adalah pelayan yang diutus untuk membantu Anda.”
Mendengar suara tersebut Duncan langsung terhenyak. Ia hapal betul siapa pemilik suara nan merdu itu, yang tak lain dan tak bukan adalah wanita yang tengah dirindukannya.
Secara refleks, Duncan memutar tubuh sehingga berhadapan dengan si empunya suara. Ia kembali dibuat tercengang saat mendapati sosok wanita berkerudung hitam yang berdiri di hadapannya. Meski sebagian wajahnya tertutupi, Duncan tak pernah salah mengenali istri yang dicintainya.
__ADS_1
“Daphne?! Apa ini kau, Sayang?” tanya Duncan berlari untuk memeluk wanita itu.
Bersambung