Menikahi Pria Seribu Tahun

Menikahi Pria Seribu Tahun
Bab 47 Menjadikan Dia sebagai Boneka


__ADS_3

"I-ini mustahil. Tidak mungkin Duncan sekejam itu. Dia sangat baik hati, polos, dan suka menolong manusia. Kau sudah memfitnah suamiku!" bentak Daphne.


Vladimir mengedikkan bahunya sembari tetap fokus mengemudikan mobil. Padahal darah vampirnya sedang bergejolak hebat. Sejak berdekatan dengan Daphne, ia bisa mengendus aroma darah murni yang dimiliki wanita muda ini. Daphne juga memancarkan aura berwarna keemasan yang jarang dimiliki oleh manusia biasa. Sekarang ia bisa mengerti mengapa adik tirinya sampai jatuh cinta dan menikahi Daphne.


"Aku tahu kau tidak akan mempercayai ucapanku karena dibutakan oleh cinta. Namun aku memberitahukan kebenaran ini supaya kau bisa melindungi dirimu dan keluargamu," ungkap Vladimir.


"Dari mana kau mengetahui sepak terjang Duncan di masa lalu?" tanya Daphne lebih lanjut.


Vladimir terdiam sebentar. Untung saja dia sudah menyelidiki segala sesuatu tentang Daphne, termasuk riwayat keluarganya. Bahkan ia sampai bermeditasi semalaman untuk mengetahui kisah kedua orang tua Daphne. Kartu As sudah berada di tangannya, dan sekarang Vladimir tinggal memakainya.


Vladimir menghentikan mobilnya di depan kawasan pertokoan yang sepi. Kemudian ia memasang wajah prihatin untuk meyakinkan Daphne.


"Aku adalah...keturunan dari keluarga pemburu vampir. Nenek kakekku serta kedua orang tuaku membekali aku dengan berbagai macam pengetahuan tentang vampir. Mereka juga memberiku daftar nama vampir yang paling berbahaya. Dan yang berada di urutan pertama adalah suamimu, Duncan Kliev. Mau tahu alasannya kenapa dia menjadi target utama kami?"


Daphne menggeleng kecil. Lidahnya terasa kaku, bahkan untuk berucap satu kata pun ia tidak sanggup.


Melihat wajah syok Daphne, Vladimir memanfaatkan kesempatan emas ini untuk semakin memperdalam pengaruhnya. Ia akan menjadikan Daphne sebagai pion untuk menghabisi nyawa Duncan.


"Karena Duncan sudah membunuh sahabat orang tuaku, sepasang suami istri dari kelompok pemburu vampir. Nama mereka adalah...Gerald dan Rebecca Oliver," tukas Vladimir sengaja menekan kalimatnya.


Bak tersengat listrik, Daphne merasakan seluruh sarafnya seakan lumpuh. Rasanya bagai terperosok ke dasar jurang yang paling gelap, saat mengetahui bahwa Duncan adalah pembunuh dari kedua orang tuanya. Ternyata semua cinta dan kebaikan yang dibuat pria itu hanyalah kamuflase. Bahkan mungkin saat ini Duncan sedang menertawakan keadaannya yang nyaris gila.


Sebelum Daphne kembali kepada kesadarannya, Vladimir memutar tubuh gadis itu agar mereka saling berhadapan. Dalam kondisi terguncang, pikiran bawah sadar manusia akan lebih mudah dikendalikan, dan Vladimir tahu benar akan hal itu.


Dalam sekejap, bola mata Vladimir menyala seperti sinar laser. Dengan gerakan tak terduga, ia menegakkan kepala Daphne agar menatap langsung ke dalam matanya. Vladimir akan menggunakan kekuatan hipnotis untuk menaklukkan Daphne. Tidak lama lagi ia akan mengubah Daphne menjadi boneka yang selalu siap melakukan perintahnya.

__ADS_1


"Daphne, dengarkan aku baik-baik. Duncan itu adalah pembunuh orang tuamu. Dia juga membuangmu setelah puas menikmati tubuhmu. Sudah tiba waktunya kau harus membalas dendam. Lenyapkan Duncan, dan buatlah jiwa kedua orang tuamu tenang di atas sana," ucap Vladimir.


"Duncan adalah pembunuh, aku harus melenyapkannya," ulang Daphne dengan tatapan kosong.


"Bagus, sekarang aku akan mengantarmu pulang ke rumah. Setelah sampai, geledah rumahmu dan carilah senjata yang bisa dipakai untuk membunuh Duncan. Aku yakin ayahmu menyimpan sebuah senjata hebat yang sengaja diwariskan untukmu."


"Baiklah, aku akan mencari senjata itu," ujar Daphne persis seperti robot.


...****************...


Duncan sedang termenung di dalam kamar usai mengganti pakaiannya dengan baju kerajaan. Saat ini, dia sangat merindukan Daphne. Ingin sekali ia mencari tahu bagaimana kabar sang istri. Namun, Ratu Claudia selalu menghalanginya dengan berbagai cara.


Di berbagai sudut telah ditempatkan pengawal untuk menjaga kamarnya. Bahkan sang nenek melarangnya untuk bermeditasi agar dia tidak mencuri-curi kesempatan untuk bertemu Daphne. Sungguh pergerakan Duncan sangat dibatasi, hingga ia merasa seperti seorang tawanan.


'Sayang, sedang apa kau sekarang? Apa kau sudah melupakan aku?' pikir Duncan merindukan Daphne.


"Duncan, ayo, kita ke aula pertemuan sekarang," ajak Ratu Claudia.


Duncan bangkit dari tempat tidur dengan ekspresi lesu. Ia sama sekali tidak berminat menghadiri acara yang diselenggarakan oleh Ratu Claudia.


"Ratu, bisakah aku di kamar saja malam ini?"


Ratu Claudia langsung mendelik saat mendengar permintaan Duncan.


"Ada apa denganmu, Duncan? Acara ini aku buat untuk meresmikan pengangkatanmu sebagai calon raja, tetapi kau malah ingin berada di kamar? Apa kau masih memikirkan wanita itu, hah?!"

__ADS_1


"Aku tidak akan pernah bisa melupakan Daphne, karena dia istriku, Nek. Aku mencintainya."


Ratu Claudia tersenyum remeh saat mendengar jawaban Duncan.


"Cinta? Kau pikir dia masih mencintaimu? Sayang sekali jawabannya, Tidak. Dia bahkan sudah lupa bahwa kau pernah hadir di hidupnya, Duncan. Aku sendiri yang menghapuskan memori para manusia itu, supaya mereka tidak lagi mengingatmu."


Hati Duncan serasa diremas dengan kuat tatkala ia mendengar kenyataan pahit ini. Terbayang di benak Duncan bagaimana Daphne, Kakek James, dan semua orang yang pernah dikenalnya menganggap dia seolah tak pernah ada.


"Aku tidak berminat sama sekali dengan takhta, Nek. Lebih baik aku kembali saja ke dalam lukisan jika aku tidak boleh bersama dengan Daphne."


"Duncan, jangan buat aku kehilangan kesabaran! Kau tahu apa yang bisa kulakukan jika kau terus membangkang!" ancam Ratu Claudia.


Karena takut neneknya akan mencelakai Daphne, Duncan terpaksa ikut ke aula pertemuan. Ketika tiba, ia melihat para vampir dari kaum bangsawan dan ksatria sudah berkumpul di aula. Sementara deretan terdepan diisi oleh anggota majelis kerajaan dan Zetta, ibunda Vladimir.


Begitu Ratu Claudia dan Duncan masuk, mereka semua langsung membungkukkan badan untuk memberi hormat.


Duncan memandangi vampir di hadapannya satu per satu. Ia mencoba merasuki isi pikiran mereka, untuk melacak apakah pembunuh orang tua Daphne hadir juga di aula ini.


Di sisi lain, hati Zetta serasa terbakar saat melihat Duncan dihormati semua vampir. Apalagi ia duduk di samping Ratu Claudia. Zetta tidak terima jika anak haram suaminya itu akan dilantik sebagai seorang penguasa. Zetta pun mundur ke barisan belakang. Diam-diam ia mengirim pesan kepada Vladimir lewat telepati.


'Kau di mana, Vladi? Cepatlah datang kemari karena nenekmu akan menobatkan Duncan,' batin Zetta mengirimkan pesan.


Tak berselang lama, Vladimir membalas pesan tersebut.


'Tenang saja, Ibu, sebentar lagi aku sampai di istana. Riwayat Duncan akan segera berakhir, karena dalam satu langit tidak boleh ada dua matahari,' ucap Vladimir.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2