Menikahi Pria Seribu Tahun

Menikahi Pria Seribu Tahun
Bab 31 Tak Bisa Jauh Darimu


__ADS_3

"Aku tidak mengerti dengan yang kau bicarakan dan aku juga tidak percaya dengan ramalan. Maaf ya, aku harus menemui calon suamiku. Kerjakan saja tugasmu sebagai asisten dan tidak usah mencampuri urusanku," tukas Daphne lantas meninggalkan Marcia.


Daphne pun menerobos masuk ke dalam kamar ganti. Ia terkejut saat melihat Duncan sedang melepaskan celana yang dipakainya. Bagian atas tubuh lelaki itu juga terlihat dengan jelas, karena sebagian kancing kemejanya telah terbuka.


Wajah Daphne dan Duncan sama-sama memerah. Daphne langsung memalingkan wajah, sedangkan Duncan bergegas menaikkan celananya.


"Kenapa Nona tiba-tiba masuk dengan memakai gaun pengantin?" tanya Duncan dari belakang punggung Daphne. Diam-diam, ia mengagumi penampilan Daphne yang terlihat cantik dengan gaun pengantin berwarna putih.


"Karena aku khawatir padamu. Kenapa kamu lama sekali di dalam?" tanya Daphne.


"Oh, itu karena aku bingung bagaimana memakai rompi dan jas ini. Aku mencoba berulang kali dan baru bisa terpasang dengan benar. Sekarang aku ingin melepasnya," ujar Duncan.


"Oke, selesaikan saja, aku keluar dulu," ucap Daphne.


Karena terlalu tergesa-gesa, ekor gaun Daphne yang panjang terinjak oleh kakinya sendiri. Daphne hampir hilang keseimbangan jika saja Duncan tidak menangkapnya tubuhnya.


"Nona, tidak apa-apa?"


"Tidak, lanjutkan saja kegiatanmu. Aku juga belum selesai memilih gaun," jawab gadis itu segera berdiri. Daphne kesal dengan dirinya sendiri yang selalu bersikap ceroboh di hadapan Duncan.


"Nona, apa menurutmu jas putih ini bagus untukku?" tanya Duncan.


"Bagus, pilih itu saja."


Tanpa banyak bicara lagi, Daphne keluar dari kamar itu. Baginya apa saja yang dikenakan oleh Duncan selalu tampak bagus, apalagi bila harus memakai jas pengantin.


"Daphne, kau ke mana saja? Dari tadi aku mencarimu," ucap Nyonya Victoria sambil menenteng gaun pengantin yang akan ditawarkan kepada Daphne.


"Aku sedang melihat Duncan, Nyonya."


"Wah, sepertinya kau tidak tahan jika berpisah sebentar saja dengan calon suamimu. Tetapi aku maklum karena aku juga pernah muda seperti kalian," kekeh Nyonya Victoria.


Ia lantas mengajak Daphne untuk kembali ke ruang fitting.


Di saat yang bersamaan, Duncan sudah selesai dengan urusan jas pengantin. Ia langsung menyerahkan jas yang dicobanya tadi kepada Marcia.


"Aku pilih yang ini," kata Duncan singkat.


"Baik, Tuan."

__ADS_1


Duncan dan Marcia hanya bicara seperlunya. Duncan nampak enggan untuk berbicara lebih lanjut dengan Marcia, begitu pula sebaliknya.


Karena tak ada lagi yang mesti dikerjakan, Duncan memilih untuk mencari Daphne.


"Duncan, untung kau datang. Bantulah Daphne untuk memilih gaun pengantin. Dari tadi ia belum menetapkan pilihan," panggil Nyonya Victoria saat melihat kedatangan Duncan.


"Aku juga tidak tahu apa-apa soal ini, Nyonya," jawab Duncan menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Ah, sudahlah, tidak usah malu. Aku akan meninggalkan kalian supaya kalian berdua lebih leluasa untuk berdiskusi. Jika gaun sudah ditentukan, kalian bisa memanggilku."


Wanita pemilik butik itu lantas meninggalkan Daphne dan Duncan berdua saja.


Melihat ekspresi Daphne yang seperti orang bingung, Duncan pun bergerak ke depan.


"Nona, kau ingin model gaun seperti apa?"


Daphne mencoba menyelami pikirannya sendiri. Mengingat ia akan menikah dengan vampir yang hidup sejak berabad-abad lalu, mungkin akan lebih baik jika ia memilih gaun model kerajaan.


"Aku ingin yg modelnya klasik seperti putri kerajaan di abad pertengahan. Apa kau bisa membantuku untuk mencarinya? Di sini ada banyak sekali gaun."


Duncan mengangguk lalu menggerakkan tangan kanannya ke arah sederetan gaun. Mendadak satu buah gaun pengantin terangkat ke atas, lalu melayang-layang di udara. Gaun itu memiliki model yang sangat mirip dengan keinginan Daphne.


"Apa ini salah satu kekuatan sihir yang kau miliki? Hebat sekali!" puji Daphne. Selama ini, ia hanya bisa melihat pertunjukan sihir di layar televisi. Siapa sangka sekarang ia bisa menyaksikan secara langsung.


"Ini hanya sebagian kecil, Nona," jawab Duncan menggerakkan gaun itu ke tangan Daphne.


"Jadi masih ada yang lain? Kalau begitu tunjukkan semuanya kepadaku. Aku ingin tahu apa saja sihir yang dimiliki vampir," pinta Daphne antusias.


"Kau tidak takut, Nona?"


Daphne menggeleng pelan.


"Tidak, aku justru ingin melihatnya. Kau pasti memiliki banyak kelebihan yang menakjubkan dibandingkan manusia biasa."


"Baiklah, aku akan menunjukkan hal-hal yang belum pernah kau lihat di malam pernikahan kita," kata Duncan mengucapkan janjinya.


Mendengar janji yang diucapkan Duncan, membuat Daphne berdebar-debar. Malam pernikahan membuat Daphne merasa takut sekaligus penasaran. Ia tidak tahu apa yang akan dilakukan Duncan terhadap dirinya, dan bagaimana nasibnya kelak sebagai istri seorang vampir.


Perkataan Marcia tadi juga mengingatkan Daphne akan ramalan kartu tarot mengenai adanya.kematian. Jika dipikir lagi keduanya saling terkait. Namun Daphne tidak akan mundur. Siap atau tidak, ia akan menanggung segala konsekuensi untuk memasuki dunia vampir. Dengan begitu, ia berharap dapat menguak tabir kematian kedua orang tuanya.

__ADS_1


...****************...


"Duncan, apa wanita bernama Marcia tadi mengatakan sesuatu kepadamu?" tanya Daphne ketika mereka dalam perjalanan menuju ke Oliver Kitchen.


"Tidak. Kenapa Nona bertanya begitu?"


"Lupakan saja. Oh ya, Duncan apa kau tidak keberatan kalau kita menikah di Gereja? Setahuku vampir tidak tahan melihat hal-hal tertentu seperti salib, kitab suci, dan...pastur."


Duncan mengulum senyum mendengar pertanyaan Daphne yang naif.


"Vampir tidak pernah takut pada benda, tetapi pada kekuatan suci yang terkandung di dalamnya. Asalkan kami tidak melanggar aturan, kami tidak takut pada apapun."


Duncan menepikan mobilnya sebelum menurunkan Daphne di depan restoran.


"Kau tidak ikut masuk ke restoran?" tanya Daphne saat Duncan membukakan pintu mobil.


"Aku minta izin untuk pergi sebentar, Nona. Aku ingin mengunjungi makam ibuku sebelum kita menikah."


"Kau sudah berhasil menemukan makam ibumu? Kalau begitu aku akan ikut sekalian," pinta Daphne.


"Jangan, Nona. Makam ibuku ada di lokasi terpencil yang dekat dengan hutan. Aku tidak ingin Nona berada dalam bahaya bila pergi ke sana. Lebih aman jika Nona berada di restoran bersama Kakek James."


Benar juga apa yang dikatakan Duncan. Daphne tidak ingin pria itu berkelahi lagi bila ada vampir yang mengganggunya, sementara luka Duncan yang kemarin saja belum sembuh.


"Baiklah, tapi jangan pergi terlalu lama. Kembalilah sebelum makan malam. Aku menunggumu."


Daphne langsung berlari ke restoran setelah mengucapkan kalimat itu. Sedangkan Duncan tersenyum sendiri seraya memandang Daphne dari kaca jendela mobil. Hatinya serasa menghangat karena mendapat perhatian dari gadis cantik itu.


'Jangan khawatir, Nona, aku akan segera kembali. Entah kenapa sekarang ini aku tidak bisa jauh darimu,' gumam Duncan.


...****************...


Seorang wanita muda berjalan sendirian menyusuri rerumputan. Sang fajar yang mulai tenggelam di ufuk barat, sama sekali tidak menyurutkan langkahnya. Dia justru merasa senang dengan hari yang beranjak senja, karena ini merupakan waktu kebebasannya.


Bibir tipis wanita itu melengkung ke atas, tatkala ia menatap pusara berwarna abu-abu gelap. Itulah pusara yang diperlihatkan Ratu Claudia sebelum ia berangkat untuk menjalankan tugas.


'Ariadna Lewis, aku akan memulai pencarian putramu dari sini. Aku yakin cepat atau lambat Pangeran Duncan akan datang ke makam ini. Restuilah kami supaya bisa bersatu, agar tragedi yang sama tidak terulang kepada putramu. Vampir ditakdirkan untuk menikah dengan vampir, bukan dengan manusia.'


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2