
"Hei, Daph, kenapa kau diam saja? Apa kau masih mendengarkan aku? Atau jangan-jangan kau sedang berjalan dalam tidur?" cerocos Tracy dari balik telepon.
Daphne tidak menyahut karena dia masih bingung dengan apa yang terjadi. Entah drama apa yang dimainkan semua orang, sehingga mereka berlagak lupa dengan upacara pernikahannya yang baru saja digelar.
"Aku hitung sampai sepuluh. Jika kau tidak menjawab, aku akan mematikan sambungan telepon ini, Daph," ancam Tracy.
"I-iya, jangan dimatikan. Aku ingin bertanya sesuatu padamu, Tracy. Tolong jawab dengan serius, jujur dan jangan bercanda. Aku sedang membutuhkan jalan keluar atas permasalahanku, okey," tukas Daphne.
"Hah, memangnya kau terkena masalah apa, Daph? Please, jangan membuatku takut."
"Tracy, apa kau mengenal seorang pria tampan bermata biru yang selalu bersamaku? Selama ini dia menjadi supir sekaligus pengawal pribadiku, dan juga menemani aku saat kuliah. Dia juga pintar melukis sketsa wajah," jelas Daphne panjang lebar.
Tracy yang berada di seberang sana hanya melongo ketika mendengarkan ucapan Daphne.
"Sorry, Daph, menurutku kau sudah terpengaruh oleh makalah tentang delusi dan skizofrenia. Maksudku kau memang mahasiswi paling pintar di fakultas psikologi. Mungkin saja kau terlalu menghayati riset dan tulisanmu itu sampai memiliki khayalan tingkat tinggi. Tetapi aku rasa kau bisa menuangkan imajinasimu dalam bentuk cerpen."
Daphne pun mengacak rambutnya dengan frustasi.
"Aku tidak bohong, Tracy. Asal kau tahu aku ini masih waras seratus persen. Aku tanya sekali lagi apakah kau sama sekali tidak ingat siapa Duncan? Kau bahkan dulu sangat tergila-gila padanya sampai melupakan Aaron."
"Begini saja, Daph, kita lanjutkan obrolan tentang pria fantasimu itu di kampus. Kau bisa menceritakan semuanya untuk meringankan beban pikiran. Anggap saja aku adalah psikolog yang sedang mendengarkan curahan hatimu. Sekalian aku ingin praktek menjadi...."
"Terserah kau saja," potong Daphne.
Segera ia menutup panggilan itu sambil berdecak kesal. Daphne masih tidak mengerti mengapa Kakek James dan Tracy bertingkah seperti orang yang terkena amnesia. Namun Daphne tidak ingin memikirkannya lebih lanjut, karena yang terpenting saat ini adalah mencari keberadaan Duncan.
Daphne pun masuk ke dalam kamar mandi, lalu memutar keran shower hingga maksimal. Sambil mengusapkan busa sabun ke tangannya, Daphne teringat momen romantis tatkala ia mandi berdua dengan Duncan. Waktu itu ia merasa sangat malu sekaligus berbunga-bunga. Namun kini ia hanya bisa menyimpan kenangan indah itu di dalam hatinya.
Tak seperti biasa, Daphne hanya butuh waktu lima belas menit untuk mandi dan berdandan. Sebelum pergi, ia mengusap bibirnya yang sedikit bengkak. Sama halnya dengan pusat tubuhnya yang masih terasa ngilu selepas bercinta dengan Duncan. Ini semua adalah bukti nyata bahwa apa yang dialaminya adalah nyata, bukan ilusi seperti yang dituduhkan orang-orang.
'Duncan, kenapa kau menghilang tiba-tiba tanpa kabar? Di mana kau sekarang? Apakah mimpiku yang semalam itu adalah tanda perpisahan darimu?' batin Daphne menatap hampa pada pantulan dirinya di cermin.
...****************...
__ADS_1
Daphne tidak menyapa Tracy maupun teman kampusnya yang lain selama jam kuliah. Ia sedang malas berbicara dengan yang siapapun, karena merasa itu tidak ada gunanya.
Usai kelas bubar, Daphne bergegas menuju ke tempat parkir. Ia bahkan tidak mendengar seruan Tracy yang mengejarnya dari belakang.
"Daph, berhenti dulu! Astaga, kau sedang kerasukan apa hari ini? Kau tidak bicara sepatah kata pun dan cara jalanmu terlihat aneh," keluh Tracy memegangi kedua lututnya.
"Untuk apa aku bicara jika sahabatku sendiri tidak mempercayai kata-kataku," sindir Daphne sembari membuka pintu. Tracy pun memaksa masuk ke mobil Daphne dan duduk di sebelah gadis itu.
"Jangan sensitif begini, Daph. Coba tarik napas pelan-pelan, lalu hembuskan. Setelah itu, ceritakanlah sepuas hatimu mengenai pria yang kau impikan, aku pasti akan mendengarkan."
Daphne melepaskan tangannya dari setir kemudi dan mendekatkan wajahnya ke arah Tracy.
"Daph, kau mau apa? Ingin menciumku?" tanya Tracy memundurkan tubuh. Ia merasa harus membawa Daphne ke paranormal agar temannya ini terbebas dari pengaruh setan.
"Coba amati bibirku baik-baik! Kau pasti bisa melihat perbedaannya. Dan tadi kau mengatakan cara jalanku aneh, itu karena aku sudah melalui malam pertama bersama suamiku yang bernama Duncan. Bahkan kau sendiri yang memberiku hadiah berupa lingerie dan video porno. Apa kau sudah paham sekarang? Aku ini tidak gila," tandas Daphne.
Tracy membulatkan matanya. Jika diperhatikan dengan seksama, bibir Daphne memang membengkak seperti orang yang habis berciuman. Namun, bukti itu saja belum cukup untuk membuatnya percaya bahwa Daphne telah bersuami.
"Oke, jika kau memang sudah menikah, lalu di mana suamimu? Boleh aku berkenalan dengannya?" tanya Tracy.
"Aku sedang...berusaha untuk mencarinya. Duncan meninggalkan aku tanpa pamit," tutur Daphne tertunduk lesu.
Melihat kesedihan di mata sahabatnya, Tracy menjadi tidak tega. Ia berpikir bahwa Daphne mengalami depresi karena tak kunjung memiliki kekasih. Ditambah lagi tugas kuliah mereka sedang menumpuk.
"Daph, apa kau punya saksi mata lain yang pernah mengenal suamimu? Barangkali mereka tahu di mana dia sekarang."
Daphne mendadak teringat kepada Noel dan Xin Fei yang juga hadir di pernikahannya. Ya, kedua lelaki itu adalah harapan terakhir bagi Daphne untuk bisa mendapatkan petunjuk mengenai Duncan.
"Kalau begitu kita ke restoran kakekku sekarang," ujar Daphne berapi-api.
Tak ingin membuang waktu, Daphne menginjak pedal gas dan melajukan mobilnya menuju ke Oliver Kitchen. Begitu tiba, ia langsung menarik lengan Noel yang sedang mengelap meja bekas pakai. Pria itu sampai terkejut melihat kedatangan Daphne yang tiba-tiba.
"Daph, aku belum selesai mengelap meja. Kenapa kau malah memaksaku masuk ke sini?" protes Noel.
__ADS_1
"Ssshhh, diam, Noel. Aku hanya ingin bertanya. Apa kau tahu di mana Duncan?" tanya Daphne.
Secara refleks, kedua alis mata Noel saling bertaut membentuk garis lurus.
"Duncan? Apa dia salah satu tamu di restoran ini?"
"Bukan, Duncan itu suamiku. Dia sering datang ke restoran untuk membantu kalian. Dia juga pernah mendatangkan banyak pelanggan karena kepandaiannya dalam melukis."
Noel menggaruk kepalanya karena tidak mengerti dengan penjelasan Daphne.
"Kapan kau punya suami? Dan di Oliver Kitchen tidak pernah ada pegawai lain selain aku dan Xin Fei."
"Ck, sudahlah, percuma aku bertanya padamu," gerutu Daphne merasa jengkel.
Daphne bergegas menuju ke dapur untuk mencari Xin Fei, sementara Tracy dan Noel saling melempar tatapan penuh tanda tanya.
"Sweetheart, tumben kau datang lebih awal ke restoran," tegur Kakek James.
"Iya, Kek, aku punya keperluan penting dengan Xin Fei," jawab Daphne lantas menghampiri Xin Fei.
Juru masak handal itu terkesiap saat Daphne menarik lengan seragamnya.
"Xin Fei, kau adalah satu-satunya harapanku sekarang. Kau ingat kan kalau aku sudah menikah di Gereja dua hari lalu? Kau menjadi saksi pernikahanku dan kau juga yang membuatkan kue tart pengantin. Aku mohon bantulah aku mencari Duncan."
Kelopak mata Xin Fei yang semula kecil, seketika berubah menjadi lebar. Ia sungguh tidak mengerti dengan arah pembicaraan Daphne.
"A-ku tidak tahu apa maksudmu, Daph. Siapa itu Duncan?"
Tubuh Daphne mendadak lemah seperti tak bertulang. Kini ia semakin yakin bahwa semua orang telah melupakan Duncan dan menganggap pria itu tidak pernah ada. Sepertinya mereka telah terkena mantra sihir, sehingga tidak mengingat Duncan sama sekali.
Dengan mata berkaca-kaca, Daphne pun berlari keluar dari restoran kakeknya. Ia tidak menghiraukan panggilan dari Kakek James, Xin Fei, maupun Noel.
"Daph, kau mau ke mana?" tanya Tracy berusaha menghentikan Daphne.
__ADS_1
"Biarkan aku pergi sendiri, Tracy. Aku akan mencari seseorang yang bisa menolongku untuk menemukan Duncan," ujar Daphne menutup pintu mobilnya.
BERSAMBUNG