
Sadar bahwa ada yang berubah dari dirinya, Duncan menjaga jarak dari Daphne. Ia tidak ingin tergoda untuk mengulangi perbuatan yang serupa. Sampai detik ini, Duncan belum mengerti apa yang terjadi pada dirinya. Padahal sebelum mengalami kesakitan, ia merasa biasa saja saat berada di dekat Daphne.
Sementara Daphne sudah berhasil menetralkan deru jantungnya. Gadis itu meraup oksigen sebanyak mungkin dari udara untuk memenuhi paru-paru. Bagi Daphne pengalaman tadi sungguh mendebarkan sekaligus memacu adrenalinnya. Mungkin karena Duncan adalah vampir, maka ia bersikap lebih agresif daripada pria biasa.
"Nona, mari kita pulang sebelum Kakek James terbangun. Dia pasti cemas jika mengetahui kita tidak ada di kamar," ujar Duncan memecah keheningan.
Daphne menundukkan kepala, masih merasa malu setelah apa yang mereka lakukan tadi. Namun demikian, ia tetap mengkhawatirkan kondisi Duncan.
"K-kamu tidak apa-apa, Duncan? Apa kamu membutuhkan...darah?" tanya Daphne mencuri pandang ke arah Duncan.
"Tidak, Nona, aku sudah cukup meminum darah binatang."
"Tapi wajahmu masih agak pucat."
"Nanti juga kondisiku akan membaik setelah istirahat," sahut Duncan lantas berjalan di depan untuk memandu Daphne.
Daphne pun mengikuti Duncan menuju ke tempat mobilnya terparkir.
Ketika mereka berjalan keluar dari hutan, mendadak terdengar suara lolongan panjang. Spontan Daphne memeluk Duncan dan menyembunyikan wajahnya di bahu pria itu.
"Kenapa, Nona?"
"A-aku takut. Sepertinya di belakang ada serigala," lirih Daphne.
Naluri Duncan kembali terusik saat tubuh Daphne merapat kepadanya. Namun sebisa mungkin, ia berusaha menguasai diri.
"Tenang saja, sebentar lagi kita sampai di mobil."
"Serigala itu tidak akan mengikuti kita, kan?" ulang Daphne.
"Kalaupun dia mengikuti kita, artinya dia cari mati. Apa Nona lupa kalau aku ini vampir? Serigala itu justru akan menjadi makananku," ucap Duncan tersenyum tipis.
Ada perasaan nyaman sekaligus aneh di hati Daphne saat menyadari bahwa pria di sisinya ini adalah vampir. Kini bukan rasa takut atau benci yang terlintas di benaknya, melainkan rasa ingin tahu yang berlebihan. Barangkali lewat Duncan, ia bisa memahami karakter vampir, termasuk kelebihan dan kekurangannya. Siapa tahu pria ini juga bersedia menolong untuk menemukan vampir yang telah membunuh kedua orang tuanya.
__ADS_1
Setibanya di mobil, Duncan langsung duduk di bagian setir kemudi.
"Duncan, kau masih terlihat lemah. Bagaimana kalau aku saja yang mengemudikan mobil?" tanya Daphne masih cemas.
"Jangan, Nona. Penglihatanku di malam hari jauh lebih tajam dari manusia biasa. Aku akan melewati jalan pintas supaya kita lebih cepat sampai di rumah."
Setelah Duncan berkata seperti itu, Daphne tidak berani membantah. Ia memang belum mengetahui apa saja kemampuan Duncan dan mengapa pria ini mendadak hadir dalam hidupnya.
"Boleh aku bertanya sesuatu? Kenapa waktu itu...kau mengejarku di depan museum? Apakah aku pernah berbuat salah padamu?" tanya Daphne ingin tahu.
"Tidak, aku mencarimu karena kau yang sudah membebaskan aku dari lukisan. Saat kau bersin, kau telah membuka segel mantra lukisan itu, sehingga aku terlempar ke dunia manusia. Selama ini, aku tinggal di dalam lukisan kastil yang tersimpan di museum. Aku tidak hidup bersama dengan vampir lain," jelas Duncan.
"Jadi kau adalah bayangan pria yang aku lihat di lukisan kastil? Kenapa kau tinggal di sana dan berapa lama?" tanya Daphne terkejut. Ia tidak menduga bahwa hanya dengan bersin, dirinya dapat mengubah takdir hidup Duncan.
"Nenekku mengatakan bahwa aku memiliki darah campuran, karena ayahku vampir sedangkan ibuku manusia. Karenanya, aku tidak bisa hidup di lingkungan vampir maupun manusia. Tempat tinggal yang paling aman untukku adalah lukisan. Aku sudah berada di sana selama seribu tahun."
Mulut Daphne menganga tak percaya saat mendengarkan pengakuan Duncan. Seribu tahun? Artinya lelaki di hadapannya ini berkali lipat lebih tua daripada Kakek James.
Anehnya, penampilan Duncan tampak seperti pria muda yang berusia dua puluh lima tahun. Mungkinkah Duncan menggunakan ilmu sihir untuk menutupi rupa aslinya yang keriput dan menakutkan?
Duncan lantas menghentikan laju mobilnya. Ia terkesiap saat Daphne tiba-tiba menarik dan mencubit kedua pipinya. Gadis itu memperlakukan wajahnya layaknya karet gelang atau topeng elastis.
"Sakit, Nona, lepaskan tanganmu," keluh Duncan. Melihat Duncan mengaduh kesakitan, Daphne segera menghentikan aksinya.
"Jadi wajahmu ini asli? Bukan topeng atau rekayasa sihir?" tanya Daphne membulatkan mata.
"Apa maksud, Nona? Dari kecil wajahku sudah seperti ini," jawab Duncan sedikit kesal.
"Tapi bukankah usiamu sudah seribu tahun? Seharusnya kau sudah...."
Daphne menghentikan ucapannya karena takut menyinggung perasaan Duncan. Namun seperti biasa pria itu selalu mengerti apa saja yang terlintas dalam pikirannya.
"Perhitungan usia vampir berbeda dengan manusia, Nona, karena kami hidup abadi. Kami hanya bisa mati jika dibunuh oleh sesama vampir atau manusia pemburu vampir yang terpilih."
__ADS_1
Terjawab sudah apa yang dipertanyakan Daphne. Duncan bukanlah vampir tua yang menyamar sebagai pria tampan untuk menipu para wanita.
Sebelum Daphne memberikan respon, Duncan menyambung ucapannya dengan melemparkan sebuah pertanyaan.
"Nona, setelah kau mengetahui bahwa aku vampir berusia seribu tahun, apakah kau tetap mau menikah denganku?" tanya Duncan.
Daphne kehilangan kata-kata. Ia tidak tahu bagaimana harus menjawab pertanyaan Duncan mengenai pernikahan mereka. Namun yang pasti, Daphne tak ingin membatalkan permintaan yang telah diucapkannya kepada sang kakek.
"Aku tidak akan berubah pikiran. Kita akan tetap melangsungkan pernikahan Sabtu besok," ujar Daphne penuh keyakinan.
...****************...
Di tengah rapat penting, Ratu Claudia tiba-tiba bangkit dari singgasana. Rahangnya mengeras dan bola matanya bersinar dengan terang.
"Maaf, semuanya, aku harus kembali ke kamar. Dadaku mendadak nyeri," ujar Ratu Claudia. Tubuh vampir wanita itu langsung menghilang begitu saja dari gedung pertemuan. Membuat para anggota majelis saling memandang satu sama lain.
Marconi yang mengetahui keanehan pada diri Ratu Claudia, bergegas menyusul keponakannya itu. Ia mengetuk perlahan pintu kamar sang ratu sebelum masuk.
"Apa yang terjadi, Ratu? Kenapa kau pergi secara tiba-tiba?" tanya Marconi menelisik ke dalam mata Ratu Claudia.
"Batu penutup hati sudah keluar dari tubuh Duncan, Marconi. Aku bisa merasakannya, karena kekuatanku terhubung dengan batu itu. Apa yang harus kulakukan sekarang?" tanya Ratu Claudia panik.
Wajah Marconi berubah pucat saat mendengar kabar buruk itu. Jika benar Duncan telah kehilangan batu penutup hati, maka bencana besar tidak akan dapat terelakkan.
Vampir tua itu menghela napas berat, berusaha mencari jalan keluar untuk masalah pelik yang dihadapi keponakannya.
"Ratu, masih ada satu cara untuk mencegah datangnya kutukan itu. Carilah Duncan dan nikahkan dia segera dengan putri bangsawan dari ras kita."
Ratu Claudia berpikir sejenak untuk mempertimbangkan usulan Marconi. Ia takut akan mengulangi kesalahan yang sama seperti saat ia menikahkan Brandon dengan Zetta. Namun, memang ini satu-satunya cara yang bisa ditempuh untuk menghindarkan Duncan dari kematian.
"Kau benar, Marconi. Aku akan menjodohkan Duncan dengan seorang putri vampir yang cerdas. Aku yakin dia akan berhasil menemukan Duncan dan memikat hatinya. Sekarang juga, aku akan memanggil gadis itu."
"Siapa nama gadis beruntung yang kau pilih, Ratu?" tanya Marconi penasaran.
__ADS_1
"Salma, putri bungsu Lord Duante, yang terkenal dengan kemampuannya dalam mengubah wujud. Dia adalah calon istri yang paling tepat untuk cucuku," ujar Ratu Claudia mengambil keputusan.
Bersambung