Menikahi Pria Seribu Tahun

Menikahi Pria Seribu Tahun
Bab 50 Menyusup ke Istana


__ADS_3

Daphne merasa gelisah sepanjang tidurnya, bahkan kerap kali ia mengigau sesuatu yang tidak jelas. Begitu fajar muncul di ufuk timur, Daphne langsung terbangun dan bersiap untuk ke kampus.


Selama kuliah, Daphne seperti robot berjalan yang tidak mendengarkan apa-apa. Secara fisik, ia memang berada di kampus, tetapi jiwanya mengembara entah ke mana. Satu-satunya yang dia nantikan saat ini adalah matahari terbenam, supaya ia dapat bertemu dengan Vladimir.


Sambil menunggu datangnya sore hari, Daphne memilih pergi ke perpustakaan untuk mencari referensi tentang dunia metafisika. Siapa tahu ia akan menemukan informasi tambahan mengenai belati suci. Namun suara seseorang menghentikan langkah Daphne.


“Tunggu, Daph! Kenapa jalanmu sekarang cepat sekali,” panggil Tracy dari belakang.


Saat berhasil menyusul Daphne, Tracy langsung mengguncang-guncang tubuh sahabatnya itu.


“Thanks, God, syukurlah kamu baik-baik saja. Aku takut kalau berbuat nekat atau semacamnya setelah pergi dari restoran. Kemarin aku dan Kakek James berusaha mencarimu, tetapi ponselmu tidak aktif,” cerocos Tracy.


“Kau tidak perlu khawatir, semalam aku pulang ke rumah dengan diantar seorang teman.”


Tracy mengerutkan alisnya bingung. Setahunya Daphne tidak punya teman akrab selain dirinya.


“Teman? Siapa dia, laki-laki atau perempuan?”


Sebelum Daphne menjawab, layar ponselnya berkelap-kelip. Ia pun mengangkat panggilan dari nomer yang tak dikenal tersebut.


“Halo, siapa ini?” tanya Daphne.


“Ini aku, Vladimir. Kau di mana, Daphne? Aku sudah menunggumu di depan rumah.”


Daphne terkejut karena orang yang menghubunginya ternyata adalah Vladimir.


“Kau sudah datang? Bukankah kau bilang akan menemuiku nanti sore?”

__ADS_1


“Aku terus kepikiran tentangmu. Karena itu, aku putuskan untuk menemuimu sekarang saja. Lebih cepat kau menemukan Duncan, itu akan lebih baik bagi kita semua.”


“Baiklah, tetap tunggu aku di sana, aku akan segera pulang,” ujar Daphne lantas mematikan sambungan teleponnya.


Setelah mengetahui kedatangan Vladimir, Daphne membatalkan niatnya untuk pergi ke perpustakaan. Tanpa membuang waktu, gadis itu memutar tubuhnya lantas berjalan menuju ke area parkir.


“Daph, kau tidak jadi ke perpustakaan?” tanya Tracy menyusul Daphne.


“Tidak, aku harus menemui seorang teman.”


“Apa temanmu ini orang yang sama dengan yang mengantarmu pulang? Dia seorang laki-laki?” tanya Tracy penasaran.


“Iya, kau benar sekali. Sampai jumpa, Tracy.”


“Baiklah, selamat berkencan. Semoga setelah ini kau kembali menjadi gadis yang normal, Daph,” seru Tracy melambaikan tangannya.


Sementara itu, Daphne segera melajukan mobilnya keluar dari kampus. Ia menginjak pedal gas untuk menambah kecepatan supaya cepat sampai di rumah. Tak kurang dari setengah jam, gadis itu pun tiba di rumahnya.


“Maaf, aku membuatmu menunggu terlalu lama,” ujar Daphne.


“Tidak masalah, aku adalah pria yang penyabar. Apa kau sudah mendapatkan senjata atau mantra yang bisa dipakai untuk mengalahkan Duncan?” tanya Vladimir.


“Sudah, ayo masuk ke dalam. Aku akan menunjukkannya kepadamu.”


Karena pada jam ini Kakek James masih berada di restoran, rumah pun dalam kondisi sepi. Daphne bergegas membuka pintu, lalu mempersilakan Vladimir untuk menunggu di ruang tamu. Sedangkan dia sendiri pergi ke kamar untuk mengambil belati peninggalan ayahnya.


Begitu masuk di rumah Daphne, Vladimir langsung merasakan aura Duncan yang pernah berdiam di tempat itu.

__ADS_1


‘Jadi ini tempat tinggalmu selama bersembunyi di antara manusia? Kau pasti merasa senang karena memiliki istri, keluarga, dan teman. Mungkin kau lebih cocok menjadi manusia daripada vampir, Duncan,’ pikir Vladimir mengelilingi ruangan tersebut.


Vladimir buru-buru duduk saat melihat Daphne berjalan menghampirinya. Gadis itu duduk di hadapannya sembari membawa sebuah peti kayu.


“Daddy mewariskan sebuah belati untukku. Belati ini memiliki kesaktian yang luar biasa karena sudah didoakan oleh para pendeta.”


Ketika Daphne mengeluarkan isi peti tersebut, Vladimir sontak memundurkan tubuh sambil melindungi wajahnya dengan telapak tangan. Pasalnya, ia bisa merasakan kuatnya energi yang terpancar dari belati itu, sehingga membuat rongga dadanya terasa panas.


Vladimir teringat bahwa sewaktu kecil Zetta pernah menceritakan kepadanya mengenai legenda belati suci. Konon katanya benda itu paling ditakuti oleh para makhluk penghisap darah, termasuk raja dan ratu vampir. Untungnya belati suci diperkirakan sudah menghilang ratusan tahun yang lalu. Tak disangka, kini ia bisa menyaksikan secara langsung kehebatan senjata milik kaum pemburu vampir.


“Apa kau ingin memegangnya?” tanya Daphne.


“T-tidak usah, aku percaya pada kesaktian belati peninggalan ayahmu. Lebih baik kau menyimpannya sekarang supaya lebih aman. Nanti kau bisa menggunakan belati itu saat bertemu dengan Duncan.”


“A-apa maksudmu?” tanya Daphne memperjelas perkataan Vladimir.


“Sebentar lagi aku akan mengajakmu untuk menyusup ke istana vampir. Kita berdua akan menyamar sebagai pelayan. Aku akan membawamu untuk menyelinap ke kamar Duncan secara diam-diam. Ketika kalian bertemu, gunakan kesempatan itu untuk menusuk Duncan dengan belati suci tepat di jantungnya. Aku yakin dia pasti akan mati.”


Mendengar penjelasan Vladimir, bibir Daphne memucat. Daphne tidak yakin apakah ia akan sanggup melakukan hal sekeji itu kepada suaminya sendiri.


Melihat keraguan di mata Daphne, Vladimir segera melancarkan sihirnya untuk menghipnotis Daphne.


“H-haruskah a-aku membunuh Duncan?” tanya Daphne tergagap.


“Harus! Itu adalah satu-satunya jalan untuk membalas kematian orang tuamu. Percayalah arwah orang tuamu akan tenang setelah Duncan Kliev tewas,” tegas Vladimir.


Lelaki itu lantas menyerahkan sebuah bungkusan yang berisi gaun dan jubah berwarna hitam, dengan kerudung di bagian kepala.

__ADS_1


“Ganti bajumu dengan seragam pelayan vampir. Setelah itu, kita akan berangkat menuju ke istana. Jangan takut karena aku akan melindungimu,” ujar Vladimir meyakinkan Daphne.


Bersambung


__ADS_2