Menikahi Pria Seribu Tahun

Menikahi Pria Seribu Tahun
Bab 48 Perebutan Takhta


__ADS_3

Ratu Claudia beranjak dari duduknya lantas maju ke depan. Sementara itu Duncan masih membisu di kursinya. Ia sedang menjelajah ke dalam pikiran sepasang vampir pria dan wanita yang berwajah kembar.


Dari sorot mata maupun gerak-geriknya, kedua vampir itu terlihat lebih agresif dari yang lain. Jelas terlihat bahwa mereka adalah vampir yang selalu haus akan darah manusia. Firasat Duncan mengatakan bahwa keduanya patut dicurigai sebagai tersangka pembunuh ayah dan ibu mertuanya.


"Terima kasih atas kehadiran kalian semua di aula. Aku mengumpulkan kalian malam ini untuk mengumumkan sesuatu yang sangat penting, yaitu kembalinya cucuku, Duncan Kliev," ucap Ratu Claudia memperkenalkan Duncan.


Juru bicara anggota majelis yang bernama Hector beranjak dari kursi. Ia membungkukkan badan sebelum mengajukan sebuah pertanyaan yang mengganjal di hati para vampir.


"Salam, Ratu, kami semua sangat senang karena Pangeran akhirnya menampakkan diri. Selama ini kami hanya mendengar rumor seputar Pangeran yang harus diasingkan karena sebuah alasan. Kami ingin menanyakan apakah Pangeran Duncan mendapat kutukan karena memiliki darah manusia?"


Ratu Claudia sama sekali tidak terkejut mendengar pertanyaan ini, karena dia sudah mengantisipasi sejak awal.


"Tidak ada yang perlu aku tutupi di hadapan kalian. Duncan memang memiliki darah manusia, tetapi itu bukanlah kutukan melainkan berkah untuk kita semua. Selama seribu tahun ini, dia tinggal di tempat yang terpisah untuk melatih diri dan melakukan pemurnian. Duncan sudah berhasil melewati berbagai ujian, dan kini dia siap memimpin ras vampir."


"Apa maksud Anda, Ratu?" tanya Hector.


"Duncan memiliki sejumlah kelebihan yang tidak dimiliki vampir lain. Dia bisa beraktivitas di bawah matahari tanpa perlu menggunakan mantra pelindung, tahan berpuasa darah hingga tujuh hari, mengalami penuaan lebih lambat, dan juga memiliki kekuatan sihir yang tidak terbatas. Cucuku bisa hidup di dua alam sekaligus, dan itu akan membuat ras vampir akan lebih mudah beradaptasi. Dengan semua kemampuannya itu, Duncan sangat layak menggantikan posisi kakeknya, Lord Anthony, sebagai...."


"Tunggu dulu, Ratu!"


Terdengar suara bariton pria yang menginterupsi perkataan Ratu Claudia. Semua pandangan mata sontak tertuju ke sumber suara tersebut. Tak terkecuali Duncan yang sedang merasuki pikiran targetnya. Ia hampir melihat bagaimana vampir wanita itu menangkap ibunya Daphne. Namun konsentrasinya terganggu saat melihat sosok laki-laki yang mendekat ke arah Ratu Claudia.


"Vladimir, dari mana saja kau? Kenapa baru datang?" tanya Ratu Claudia.

__ADS_1


"Aku baru saja melakukan sebuah tugas penting darimu, Ratu. Tetapi ternyata yang kucari sudah ada di sini," ucap Vladimir menatap tajam kepada Duncan.


Duncan balas menatap wajah Vladimir yang sekilas memiliki kemiripan dengannya. Meski mereka belum pernah bertemu, Duncan yakin bahwa pria ini adalah kakak tirinya yang sering diceritakan oleh Ratu Claudia. Sebagai pihak yang lebih muda, Duncan pun memberikan hormat kepada sang kakak.


"Selamat malam, Kak, aku Duncan, adikmu," ujar Duncan memperkenalkan diri.


Vladimir hanya membalas dengan senyuman tipis di sudut bibirnya. Kemudian ia beralih menatap Ratu Claudia.


"Yang Mulia Ratu, aku tahu Anda sangat bahagia karena adikku ini sudah pulang ke istana. Namun bukan berarti dia layak untuk dinobatkan sebagai raja. Aku juga keturunan Lord Anthony, bahkan putra tertua di keluarga kerajaan. Semua kelebihan Duncan yang Anda sebutkan tadi, aku juga memilikinya, kecuali puasa darah."


Vladimir membalikkan punggungnya menghadap kepada seluruh vampir yang hadir di aula pertemuan.


"Aku harus meminum darah setiap hari, karena aku adalah vampir sejati. Menurut kalian calon raja seperti apa yang cocok untuk memimpin klan vampir, yang berdarah asli atau campuran?" tanya Vladimir melontarkan pertanyaan ke muka umum.


Melihat Vladimir berbuat lancang, Ratu Claudia menjadi marah. Ia memegang tangan cucu pertamanya itu agar berhenti bicara.


"Ratu, selama ini aku diam saja melihatmu lebih menyayangi Duncan daripada aku. Namun sekarang aku tidak akan terima jika Anda berbuat tidak adil. Lagipula keputusan Anda tidak bersifat mutlak karena Anda adalah pengganti sementara, bukan penguasa yang sesungguhnya."


Ratu Claudia terpekur di tempatnya saat mendengar ucapan Vladimir yang menohok. Ia tidak menyangka jika Vladimir yang selama ini terlihat pendiam, ternyata menyimpan bara kebencian di dalam hatinya.


Tanpa mempedulikan sang nenek, Vladimir kembali menyuarakan ajakannya.


"Aku tahu kalian semua pasti memiliki pendapat yang berbeda-beda. Ada yang mendukung aku, tetapi ada juga yang bersimpatik kepada adikku. Karena itu demi penegakan keadilan, aku mengusulkan untuk dilakukan pemungutan suara. Kalian berhak memilih siapa yang akan raja, aku atau Duncan. Yang mendapatkan suara terbanyak, dialah yang berhak duduk di atas takhta."

__ADS_1


Duncan yang mendengar perkataan Vladimir tidak bereaksi apa-apa. Dia justru merasa senang jika Vladimir yang menjadi raja, karena itu artinya dia masih punya kesempatan untuk hidup bersama Daphne.


Para vampir mulai gelisah dan saling berbisik untuk membahas masalah ini. Melihat kegaduhan yang terjadi di aula, Ratu Claudia segera menyampaikan keputusannya.


"Tidak boleh ada pemungutan suara. Di kerajaan, penerus takhta ditentukan oleh penguasa sebelumnya," geram Ratu Claudia.


"Mohon maaf, Ratu, saya mewakili anggota majelis lebih setuju dengan usul Pangeran Vladimir. Kali ini kita perlu mengadakan pemungutan suara, karena ada dua orang cucu Lord Anthony yang sama-sama berhak mewarisi singgasana. Jika tidak, maka akan timbul pertikaian di dalam dan di luar kerajaan. Dan yang lebih buruk lagi, bisa mengakibatkan perang saudara," sahut Hector.


Selanjutnya para anggota majelis bersujud di hadapan sang ratu untuk memohon hal yang sama.


"Ratu, mohon dipertimbangkan untuk mengadakan pemungutan suara!" desak anggota majelis secara bersama-sama.


Ratu Claudia menatap ke arah pamannya, Marconi, yang tidak ikut bersujud. Karena lelaki tua itu menganggukkan kepala, Ratu Claudia terpaksa menyetujui permintaan mereka.


"Baiklah, aku akan mengizinkan kalian melaksanakan pemungutan suara, tetapi aku tidak akan mengurusi hal itu," tukas Ratu Claudia.


Merasa mendapat angin segar, Vladimir buru-buru menimpali ucapan Ratu Claudia.


"Terima kasih atas kemurahan hatimu, Ratu. Memang seharusnya pemungutan suara dilakukan oleh dewan majelis supaya tidak ada kecurangan."


Vladimir lantas mendekati para anggota majelis untuk memuluskan rencananya.


"Jika kalian setuju, aku rasa waktu yang paling tepat untuk melakukan pemungutan suara adalah besok malam. Sebab itu merupakan hari di mana ayahku dijatuhi hukuman mati, dan kakekku mengasingkan diri ke dunia gelap. Dengan demikian peringatan kematian mereka akan sekaligus menjadi hari terpilihnya raja baru," ujar Vladimir penuh keyakinan.

__ADS_1


Di deretan paling belakang, Zetta merasa puas menyaksikan Vladimir berhasil mempengaruhi dewan majelis. Dia yakin Vladimir yang akan terpilih sebagai raja. Karena di waktu yang sama, pesaing putranya akan segera lenyap menjadi debu.


Bersambung


__ADS_2