
Rangkaian prosesi pernikahan di gereja akhirnya selesai. Untuk merayakan hari bahagia tersebut, Kakek James sudah menyiapkan jamuan makan di restorannya miliknya.
Mereka berenam duduk bersama di sebuah meja panjang, yang di bagian tengahnya terdapat kue tart buatan Xin Fei.
"Kita foto dulu untuk kenang-kenangan. Noel, tolong ambil foto kami!" seru Tracy sambil menyerahkan kameranya.
"Kenapa harus aku? Aku juga ingin berfoto bersama mempelai," tanya Noel keberatan.
"Nanti kita bisa gantian. Cobalah mengalah sedikit kepada wanita supaya kau tidak menjadi bujang lapuk," jawab Tracy berdecak sebal.
Noel terpaksa mengalah. Dia mengambil foto Daphne dan Duncan beberapa kali sambil bertindak sebagai pengarah gaya. Sementara di tengah acara foto tersebut, Daphne justru merasa cemas. Ia pernah membaca artikel bahwa sosok vampir tidak bisa tertangkap oleh kamera. Daphne takut bila nanti wajah Duncan tidak terlihat dalam foto, sehingga Kakek James dan teman-temannya akan curiga.
"Boleh aku lihat hasil fotonya sekarang?" tanya Daphne kepada Tracy.
"Kau semakin tidak sabaran, Daph. Ini lihat sendiri," ujar Tracy menyodorkan kamera digital miliknya ke tangan Daphne.
Daphne buru-buru menerima kamera itu dan melihat hasil jepretan Noel. Setelah mengecek foto-foto tersebut, Daphne bisa bernapas lega. Lagi-lagi kecemasannya tidak terbukti, karena wajah Duncan terpampang jelas di setiap foto. Bahkan suaminya itu merekahkan senyum bahagia ketika berdiri di dekatnya.
"Sudah cukup, kita lanjutkan acara dengan pemotongan kue," ucap Kakek James menyerahkan pisau kue kepada Daphne.
"Duncan, bantu aku memotongnya," bisik Daphne melihat Duncan yang berdiri diam seperti orang bingung.
"Bagaimana caranya?" tanya Duncan.
"Kalian ini berbisik-bisik terus, padahal aku sudah tidak sabar untuk mencicipi kue," tegur Tracy sambil melipat kedua tangannya.
Daphne mendelik kepada sahabatnya yang cerewet itu. Dengan cepat, ia meletakkan tangan Duncan di atas tangannya, kemudian mereka membelah kue berdua dari atas sampai ke bawah.
Setelah diabadikan dengan foto, Daphne meletakkan kue itu di atas piring. Ia memberikan potongan kue pertama kepada sang kakek sebagai ungkapan rasa terima kasih yang tak terhingga. Jika bukan karena kasih sayang dari Kakek James, ia tidak akan tumbuh menjadi gadis muda seperti sekarang.
"Kek, terima kasih atas segalanya," ucap Daphne menyuapkan kue itu ke mulut kakeknya dengan penuh sayang.
Kakek James menerima suapan dari sang cucu dengan mata berkaca-kaca. Sebagai pengganti orang tua bagi Daphne, ia merasa terharu, bersyukur, sekaligus bahagia, karena tugasnya untuk mendampingi Daphne ke jenjang pernikahan sudah selesai. Kini jika sewaktu-waktu dia dipanggil Tuhan, Kakek James sudah merasa tenang karena ada Duncan yang melindungi Daphne.
"Jangan membuatku menangis, Sweetheart. Tidak boleh ada air mata yang tertumpah di hari pernikahanmu. Sekarang giliranmu dan Duncan yang saling menyuapi," ujar Kakek James.
__ADS_1
Daphne pun memotong satu kue lagi dan menyuapkannya kepada Duncan, begitu pula sebaliknya. Namun karena Duncan belum terbiasa melakukan hal itu, tanpa sengaja ia meninggalkan bekas krim di bibir Daphne.
Lupa bahwa ada orang di sekitar mereka, Duncan mengelap sisa krim tersebut perlahan menggunakan telunjuknya. Sontak tubuh Daphne bergetar seperti terkena aliran listrik, tatkala bibirnya disentuh dengan lembut oleh Duncan.
Tracy, Noel, dan Xin Fei hanya melongo melihat kemesraan dua sejoli yang baru menikah itu.
"Ck, ck, kalian sengaja bermesraan di depanku untuk membuatku tersiksa. Padahal aku sudah menjomblo hampir satu tahun lamanya," keluh Noel.
Xin Fei pun menepuk bahu temannya itu dengan tatapan prihatin.
"Cari saja di aplikasi kencan, Teman, mungkin kau akan menemukan gadis yang cocok."
"Kalau tetap tidak ada yang mau denganmu, alternatif terakhir adalah berkencan dengan wanita bayaran," ejek Tracy.
Bukannya marah, Noel justru mengedipkan sebelah matanya kepada Tracy.
"Bagaimana jika kau saja yang menemaniku malam ini, Baby? Aku janji akan membuatmu melayang ke nirwana," goda Noel.
Tracy segera menjulurkan lidahnya sambil bergidik ngeri.
Mendengar pertengkaran teman-temannya, Daphne langsung tersadar. Ia pun menjaga jarak dari Duncan sambil tertunduk malu.
Kakek James hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah absurd para anak muda di sekitarnya. Ia pun bangkit berdiri, lalu menyerahkan sebuah amplop panjang ke tangan Duncan.
"Ini hadiah pernikahan dari Kakek untuk kalian. Seperti yang Kakek janjikan kemarin, kami semua tidak akan mengganggu kalian selepas pesta pernikahan. Pergilah berbulan madu setelah acara makan ini selesai."
"Terima kasih, Kek," jawab Duncan.
Karena penasaran, Tracy, Noel, dan Xin Fei segera mengerubungi Duncan dan memaksanya membuka amplop tersebut. Sedangkan Daphne memilih untuk menghabiskan kue tartnya. Ia pura-pura tidak peduli dengan tempat bulan madu mereka.
"Wow, Hotel Mount Valley. Aku jadi ingin ikut bersama kalian ke sana. Berduaan di pegunungan yang dingin dan sepi seperti itu, kita bisa berteriak sepuasnya tanpa ada yang mendengar," ucap Noel membayangkan yang tidak-tidak.
Sama seperti Noel, mata Tracy berbinar terang. Ia segera menarik Daphne untuk ikut bergabung dengan mereka.
"Daph, sepulang dari sana ceritakan pengalamanmu yang dahsyat kepadaku. Dan jangan lupa bawa hadiahku, itu akan sangat membantu kalian."
__ADS_1
Wajah Daphne sontak memerah seperti kepiting rebus.
"Aku tidak akan membawanya karena aku tahu isi pikiranmu," cibir Daphne.
"Baiklah, kalau kau menolak aku akan memintanya kepada Duncan."
Tracy berbalik arah untuk membujuk Duncan yang terlihat lebih penurut ketimbang Daphne.
"Duncan, saat kalian berangkat nanti, bawalah hadiah dariku yang ada di dalam paper bag. Di situ ada cara yang bisa kau tiru, supaya kalian cepat memiliki anak yang lucu. Jika kau meninggalkannya, aku akan marah padamu," ancam Tracy.
Duncan mengangguk-angguk tanda setuju, sedangkan Daphne hanya bisa memijit pangkal hidungnya mendengar ocehan Tracy yang mesum.
"Baik, Nona Tracy, aku akan membawanya," jawab Duncan menyanggupi.
Setelah makan bersama selesai, Daphne dan Duncan kembali ke rumah untuk bertukar baju sekaligus menyiapkan koper. Meski sudah suami istri, mereka masih berganti baju di kamar masing-masing.
Duncan sudah lebih dulu selesai, sehingga ia menunggu Daphne di depan kamar. Karena sang istri tak kunjung keluar, ia pun mengetuk pintu kamar beberapa kali.
"Nona, maksudku Daphne, kenapa lama sekali di dalam? Apa terjadi sesuatu padamu?" tanya Duncan cemas.
"Sebentar lagi aku selesai," seru Daphne.
Sesungguhnya sedari tadi ia merasa kesulitan untuk membuka gaun pengantin seorang diri. Namun untuk meminta tolong pada Duncan, Daphne masih merasa malu. Alhasil ia butuh waktu lama untuk melepas gaun yang berat itu dari tubuhnya.
"Maaf, membuatmu menunggu. Ayo, kita berangkat sekarang," ajak Daphne mendorong kopernya.
Duncan mengambil alih koper milik Daphne, tetapi ia berhenti saat melihat paper bag yang tertinggal di nakas. Pria itu segera meraihnya, lalu memasukkan benda itu ke dalam koper.
"Duncan, untuk apa kau membawanya?" tanya Daphne terkejut.
"Karena itu pemberian dari Nona Tracy. Lagipula di dalamnya ada hal penting yang harus kupelajari," jawab Duncan lantas melenggang pergi.
Perkataan Duncan membuat jantung Daphne berdesir cepat. Ia meneguk salivanya sendiri saat membayangkan bagaimana ia akan melewati malam pertama. Bersuamikan seorang vampir setengah manusia adalah hal yang sangat tidak biasa. Dan entah bagaimana rupa keturunan mereka nanti jika ia benar-benar hamil.
Bersambung
__ADS_1