Menikahi Pria Seribu Tahun

Menikahi Pria Seribu Tahun
Bab 46 Fitnah yang Keji


__ADS_3

Seulas senyum terbit di sudut bibir pria itu. Entah mengapa Daphne merasa sang pesulap memiliki kemiripan dengan Duncan, terutama saat ia tersenyum. Namun Daphne segera menepis pikiran itu, karena mustahil keduanya memiliki hubungan darah.


"Ternyata daya ingatmu sangat tajam, Nona. Aku tidak menyangka kita bisa bertemu lagi di sini. Mungkin ada semacam benang takdir yang ingin menyatukan kita," ujar Vladimir.


“Ini hanya kebetulan saja, Tuan. Saya terkejut karena Tuan ternyata berprofesi sebagai pesulap,” jawab Daphne malas untuk berbasa-basi.


“Sulap sekadar hobiku, bukan pekerjaan utama. Aku melakukannya untuk bersenang-senang sekaligus menghibur anak-anak. Oh ya, waktu di rumah sakit kita belum sempat berkenalan. Namaku Vladimir. Kau bisa memanggilku, Vladi,” ujar pria itu memperkenalkan diri.


Melihat sifat ramah Vladimir, Daphne pun tidak ragu untuk menerima uluran tangannya.


“Aku Daphne.”


“Daphne, nama yang cantik seperti orangnya. Sayang sekali di balik kecantikanmu, kau sedang menyimpan beban pikiran yang sangat berat. Apa tebakanku ini benar?” tanya Vladimir sambil menaikkan alisnya.


“Dari mana kau tahu, Tuan Vladi? Pasti kau asal menebak saja,” jawab Daphne. Pengalaman telah mengajarinya untuk tidak mudah percaya kepada orang asing.


“Tidak, Nona. Dari tadi kau melamun, lalu sesekali menatap ke arahku. Jadi, aku yakin kau sedang punya masalah dan membutuhkan bantuanku. Kalau tidak, mana mungkin kau akan repot-repot mendatangi tendaku yang sederhana ini.”


Dari gaya bicaranya, Daphne merasa pria ini berbeda dari yang lain. Di antara sekian banyak orang, barangkali Vladimir-lah yang bisa memahami rasa putus asa dan kepedihan yang tengah melandanya.


“Tuan Vladi, aku ingin bertanya dulu kepadamu. Jika aku menceritakan sesuatu yang berada di luar nalar manusia, apa kau akan menganggapku tidak waras?”


“Kenapa kau bisa berpikir begitu, Nona Daphne? Aku adalah seorang petualang yang suka menjelajah ke mana saja, termasuk ke dimensi yang bukan tempat tinggal manusia. Karenanya aku percaya tidak ada yang mustahil di alam semesta ini.”


“Apa kau seorang indigo yang bisa melihat makhluk tak kasat mata, dan juga meramal masa depan?” tanya Daphne memastikan.


Vladimir melengkungkan bibirnya tatkala mendengar pertanyaan yang diajukan Daphne.

__ADS_1


“Tidak penting aku indigo atau bukan. Yang jelas aku bersedia menjadi teman bicaramu, Nona, itu pun jika kau mau mempercayai aku. Namun sebelum kau bercerita, aku akan mentraktirmu makan gulali. Kata orang, makanan manis bisa membuat pikiran lebih tenang.”


Vladimir pun berjalan menuju ke stand penjual gulali, sedangkan Daphne mengekor di belakangnya. Pria itu membeli dua buah gulali berwarna pelangi, lalu menyerahkan satu ke tangan Daphne.


“Kita duduk di sebelah sana sambil menghabiskan gulali,” ajak Vladimir menunjuk ke bangku panjang di dekat wahana menembak.


Mengikuti arahan Vladimir, Daphne duduk di sebelah pria itu. Namun baru sekali Daphne menggigit gulali, ia langsung menitikkan air mata. Tiba-tiba saja kenangan demi kenangan bermunculan satu per satu.


Setiap sudut taman ini mengingatkan Daphne tentang Duncan. Dahulu mereka berdua juga duduk berdampingan di bangku sambil menikmati gulali. Masih teringat dengan jelas bagaimana sikap kekanakan Duncan yang kerap kali membuat Daphne kesal. Namun kini ia justru sangat merindukan momen indah tersebut.


“Hapus air matamu, Nona. Menangis sambil makan tidak baik bagi kesehatan lambung,” ujar Vladimir menyodorkan tissue ke tangan Daphne.


Dengan bahu yang naik turun menahan tangis, Daphne menyeka air mata yang membasahi pipinya. Kemudian ia menyerahkan gulali miliknya kepada Vladimir.


“Tuan Vladi, aku tidak bisa menghabiskan gulali ini. Maaf, aku harus pergi.”


Daphne merasa harus pergi secepatnya dari Magic Park, supaya batinnya tidak semakin merana. Dengan tergesa-gesa, Daphne keluar dari keramaian itu. Ia bahkan hampir menabrak beberapa orang pengunjung yang melintas di depannya.


Seperti orang linglung, Daphne pun bergumam sendiri.


“Sayang, akhirnya aku menemukanmu. Tunggu, aku di sana."


Tanpa memperhatikan kondisi di sekitarnya, Daphne langsung menyeberangi jalan raya. Dia tidak menghiraukan suara klakson yang memperingatkannya dari kejauhan. Alhasil dalam hitungan detik, sebuah truk melaju kencang ke arah Daphne.


Secara refleks, Daphne memejamkan mata. Gadis itu hanya bisa tertegun, menantikan maut yang akan segera menjemputnya. Di kala ia siap untuk melepas nyawa, Daphne merasakan tubuhnya ditarik dengan cepat. Bersamaan dengan itu, Daphne jatuh terpelanting dan menimpa tubuh kekar seseorang.


"Duncan...." lirih Daphne mengira bila sang penyelamat adalah suaminya. Namun saat manik mata Daphne telah terbuka, yang dilihatnya bukanlah Duncan, melainkan Vladimir.

__ADS_1


"Nona Daphne, kau tidak apa-apa?" tanya Vladimir.


Menyadari dirinya berada di atas tubuh lelaki asing, Daphne buru-buru bangkit. Dengan tatapan nanar, ia memandang wajah Vladimir.


"Tuan Vladi, kenapa kau menolongku dari kecelakaan? Biarkan saja aku mati."


"Kau ini bicara apa, Nona? Usiamu masih sangat muda, tidak mungkin aku tega membiarkanmu celaka," bantah Vladimir.


"Jauhi aku, Tuan! Kau tidak tahu seberapa berat penderitaanku sekarang. Aku baru menikah, tetapi suamiku mendadak hilang bak ditelan bumi. Dia pergi tanpa meninggalkan jejak, seolah tidak peduli lagi kepadaku. Lebih parahnya, keluarga dan teman-temanku lupa bahwa aku sudah bersuami. Mereka menganggap aku berhalusinasi."


Daphne menumpahkan keluh kesah yang mengganjal di hatinya tanpa jeda. Sungguh ia tak sanggup lagi menahan beban ini lebih lama.


Takut Daphne berbuat nekat, Vladimir melingkarkan tangannya ke pinggang gadis itu. Kemudian ia menggiring Daphne masuk ke dalam mobil.


"Lepaskan tanganmu, jangan berbuat kurang ajar!" tolak Daphne sambil meronta-ronta.


Vladimir memaksa Daphne duduk di kursi penumpang, sementara dia sendiri duduk di balik kemudi.


"Aku harus melakukan ini demi kebaikanmu, Nona. Pikiranmu sedang kacau, karena kau berada di bawah pengaruh jahat. Ada makhluk penghisap darah yang sudah menipumu selama ini. Dia juga merapalkan mantra untuk membuat orang-orang di sekitarmu lupa tentang dirinya."


"A-apa maksudmu?" tanya Daphne membelalakkan mata.


"Aku bisa mencium bau vampir di tubuhmu. Karena itu, aku yakin kau memiliki hubungan erat dengan seorang vampir. Bahkan mungkin kau mencintainya karena vampir ini sangat mempesona. Padahal sebenarnya dia hanya ingin mengambil keuntungan darimu. Setelah tujuannya tercapai, dia mencampakkanmu begitu saja dan membuatmu setengah gila."


Darah Daphne serasa mengumpul di ubun-ubun. Ia tahu persis siapa sosok vampir yang dimaksud oleh Vladimir.


"Jangan asal menuduh, Tuan Vladi! Kau bahkan tidak mengenal Duncan, suamiku."

__ADS_1


"Siapa bilang aku tidak mengenalnya? Aku sudah memburunya selama bertahun-tahun. Duncan Kliev, suamimu itu adalah vampir yang sangat berbahaya. Dia terbiasa menipu para manusia, terutama kaum wanita. Dan perlu kau tahu, Nona, Duncan adalah musuh besar dari kelompok pemburu vampir, karena dia sudah membunuh anggota mereka dengan keji," ujar Vladimir meracuni pikiran Daphne.


Bersambung


__ADS_2