MENITIH JALAN KE SURGA

MENITIH JALAN KE SURGA
Bab. 30.MIMPI


__ADS_3

Dirga mengulum senyum diam-diam melihat Istrinya sudah mulai patuh akan perintah nya dan Dirga yang entah mengapa sedari pagi tidak berjumpa dengan Istri culun dan kampungannya merasa rindu dan rasanya ingin menghabiskan Waktu berdua saja.


Entah mengapa Dirga mulai memiliki perasaan itu yang sesungguhnya Dirga sendiri tidak tau mengapa.


"Bagaimana, apakah enak? "


Dengan malu-malu Julaiha Mengaggukan kepala.


"Coba Aku juga ingin menikmati rasanya disuapi, coba sekarang kamu suapi Aku,"


"Saya, "


"Iya, mau siapa lagi di Rumah ini kan hanya kita berdua, "


Dengan sedikit perasaan canggung Julaiha mulai melakukan apa yang film perintahkan Suaminya dengan menyuapi Dirga Suaminya.


"Hmmm, enak sekali kamu pintar masak juga ya, "


Julaiha tidak menjawab pertanyaan suaminya dia hanya tersenyum kecut.


"Kamu kenapa dari tadi diam saja? "


"Tidak kenapa-napa Mas, Aku hanya ingin segera beristirahat karena Aku lelah, "


"Ok, baiklah pergilah tidur, Aku bisa makan sendiri, "


Dirga menggambil alih makanan yang ada di tangan Julaiha dan mulai menikmati makanan nya sendiri sementara Julaiha yang di izinkan untuk beristirahat berjalan masuk ke dalam kamarnya.


Julaiha merasa lega karena Pada Akhirnya Dirga tidak meminta yang aneh aneh padanya dan Julaiha merasa senang karena di Rumah suaminya ini hanya tinggal menghitung hari, setelah Suaminya meresmikan pernikahannya dengan Wanita lain Julaiha, Julaiha sudah mengetahui dari Mama Dirga jika Suaminya akan segera menikah dalam waktu dekat ini dan Mama Dirga juga memberikan Cek kosong padanya untuk pergi jauh dari Dirga dan menggunakan Cek kosong itu untuk kebutuhan hidupnya agar Tidak lagi menganggu putranya.


Dengan bibir menggulum senyum Julaiha langsung merebahkan tubuhnya di atas Ranjang dan menarik selimut setinggi dada.


Membayangkan sebentar lagi akan bebas dari Rumah ini, dimana sang Suami hanya membutuhkan tubuhnya sebagai pelampiasan sebuah keinginan dari kelakiannya akan segera berakhir, mungkin dirinya bisa menerima jika seandainya Suaminya masih memiliki perasaan suka dan tertarik padanya tapi faktanya sang Suami sama sekali tidak ada cinta ataupun suka padanya, hal itu sudah dikatakan Dirga suaminya terlebih dahulu.

__ADS_1


Ketika julehah hendak memejamkan kedua bola matanya tiba-tiba Juleha merasakan ranjangnya bergoyang karena waktu itu Juleha dalam posisi sedang tidur dengan memiringkan tubuhnya membuat Julaiha tidak tau bahkan Julaiha yang sangat mengantuk berpikir apa yang dirasakan nya hanyalah sebuah mimpi tidur nya.


Ranjang terus bergoyang seolah ada yang sedang naik ke atasnya, antara sadar dan tidak Julaiha merasakan pergerakan orang di belakang nya akan tetapi lagi-lagi Julaiha menganggap jika dia sedang bermimpi.


Karena Julaiha tau di Rumah besar itu hanya ada mereka berdua, hanya ada Suami dan dirinya tapi Julaiha sangat yakin, suaminya tidak akan pernah mau masuk ke dalam kamarnya apalagi tidur bersama dengan dirinya Oleh karena itu Juleha berpikir apa yang dirasakannya saat itu hanyalah sebuah mimpi belaka untuk itu Julaiha memilih mengabaikannya dengan terus memejamkan kedua bola matanya.


Suara dan bunyi derit Ranjang sudah tidak lagi terdengar, hal itu semakin membuat Julaiha merasa sangat yakin jika dirinya hanya sedang bermimpi atau berhalusinasi saja.


Kini Julaiha mulai merasakan tidur dengan tenang karena suara derit Ranjang yang bergoyang sudah tidak ada lagi.


Malam semakin merangkak Naik, rintik hujan yang turun membasahi bumi menjadi teman setia tidur Julaiha dalam sepi, malam ini Juleha bisa tidur dengan tenang dan dengan hati yang sangat senang karena sebentar lagi dia bisa terbebas dari kehidupan rumah tangga yang sangat membuatnya begitu rendah dan tidak berharga.


Lambat laun Julaiha akhirnya Julaiha tertidur juga.


Di sisi lain Dirga setelah menyelesaikan makan, pergi ke kamarnya untuk melakukan ritual mandi, kurang lebih dari tiga puluh menit, Dirga seorang Pemuda yang sangat peduli dengan kebersihan untuk itu dia tidak akan mandi dengan asal asalan sehingga untuk melakukan Ritual Mandi Dirga membutuhkan Waktu kurang lebih tiga puluh menit.


Setelah merasa semua sudah beres dan bersih Dirga segera Menganti baju kotornya dengan yang bersih.


Tidak ingin harga diri jatuh Dirga sengaja menunggu sedikit malam dimana istrinya pasti sudah tertidur dengan lelap.


Apa yang Dirga pikirkan ternyata benar Julaiha istrinya sudah tertidur pulas buktinya dia tidak mendengar dan tidak terganggu dengan kehadiran Dirga yang Naik ke atas Ranjang secara perlahan lahan.


Dirga bisa bernapas lega karena kehadirannya di dalam kamar sang istri Aman, Julaiha istrinya tidak mengetahui kehadiran nya sama sekali, dengan mengulum senyum Dirga memejamkan matanya dan dengan sangat hati-hati dan sangat perlahan sekali Dirga meletakkan tangannya di punggung sang istri kemudian memejamkan kedua bola matanya.


Baru juga beberapa detik Dirga memejamkan mata tiba-tiba Julaiha melakukan pergerakan membuat Dirga buru-buru menarik tangannya tidak sempat menarik dengan sempurna karena posisi kala itu tangan Dirga masih terlentang dan apesnya Julaiha sudah membalik posisi sehingga tanpa sengaja tangan Dirga menjadi bantal bagi Julaiha.


Jantung Dirga serasa copot ketika Julaiha membalikkan badan dan tanpa sengaja tidur di tangannya yang terlentang.


"Aduh, mampus gue kalau leha sampai tau Aku berada disini bisa besar kepala dia, tapi bagaimana ini tanganku yang malang justru dia jadikan bantal, sebenarnya tidak apa-apa sih Aku suka dan asik aja, tapi kalau sampai ketahuan Aku di sini bisa jatuh harga diriku dan mau ditaruh dimana mukaku ini kalau sampai ketahuan, Aku harus mencari cara agar Leha tidak tau Aku tidur dengan nya tapi apa ya? "


Dirga sibuk berpikir keras agar dirinya tidak sampai ketahuan sang Istri jika dirinya tidur dikamarnya.


"Ah ya, Aku gunakan bantal yang besar itu dan guling, Aku taruh di atas tubuhku dan juga di samping mukaku pasti ini Aman Julaiha pasti berpikir yang ada disampingnya adalah bantal guling. " gumam Dirga sambil terkekeh dalam hati.

__ADS_1


Apa yang menjadi pemikiran dan dugaan Dirga ternyata benar seratus persen Julaiha tidak curiga, hampir satu jam lamanya Dirga harus begadang karena tangannya yang dijadikan bantal oleh Julaiha membuat Dirga tidak bisa bergerak, hingga pada saat Julaiha kembali memposisikan dirinya untuk tidur dengan memiringkan tubuhnya Dirga bisa bernapas dengan lega, Akhirnya tangannya yang malang yang beberapa waktu lalu menjadi bantal geratis, kini sudah terbebas dan Dirga bisa tidur di samping Julaiha dengan tenang, meskipun bantal dan guling masih terpajang di tengah tengah mereka, karena bantal dan guling yang ada di kamar Julaiha cukup besar dan tinggi, Dirga yang tidur disamping Julaiha menjadi tertutup dan tidak kelihatan, selain itu Julaiha yang tidak pernah berpikir jika Suaminya akan tidur dengan nya dengan santai nya tidur dengan nyenyak tak terganggu sedikitpun.


Hal itu membuat Dirga tersenyum senang karena dirinya tidak perlu khawatir jika tiba-tiba Julaiha melihat dan memergoki dirinya.


Malam yang dingin semakin merangkak Naik dan kini waktu mulai berganti dengan Pagi, sebelum Adzan Subuh berkumandang dan sebelum Julaiha terbangun dari tidurnya Dirga buru-buru bagun dengan gerakan yang sangat pelan dan perlahan Dirga turun dari Ranjang dan membuka pintu pun dengan sangat perlahan pula sehingga Julaiha tidak terganggu dan mendengar pergerakannya.


Sampai diluar Dirga menutup pintu pun dengan sangat perlahan kemudian berlari kembali ke kamarnya, Dirga bukannya mandi dan bagun akan terapi pergi tidur lagi.


Sementara Julaiha yang baru bangun sedikit heran karena ada guling di sampingnya dan juga ada selimut yang seperti nya baru dilipat dengan asal, kecurigaan Julaiha tepis menggingat semalam Julaiha sedang bermimpi yang aneh sehingga Ranjang nya pun berderit.


"Aku semalam benar benar bermimpi yng aneh, sampai bawa bawa guling segala disampiku, sudahlah sekarang Aku harus sholat kemudian masak, hari ini Aku akan masak karena Aku ingin memberikan kenangan pada Mas Dirga sebelum Aku pergi, "


Julaiha segera masuk ke dalam kamar mandi kemudian setelah selesai langsung pergi untuk melakukan ibadah sholat subuh.


Menyisir rambut dan mengenakan jilbab panjang baru Julaiha keluar dari dalam kamar Julaiha tidak merasa curiga sedikitpun ketika pintu kamarnya tidak terkunci karena sudah biasa Julaiha tidak menguncinya meskipun terkadang juga menguncinya.


Julaiha berjalan melewati sebuah ruang panjang sebelum sampai di dapur, Julaiha sedikit melingokkan wajahnya ketika melewati kamar Dirga suaminya dan entah mengapa Julaiha melangkah dan melihat dari dekat, Julaiha sedikit terkejut karena Julaiha melihat Suaminya Dirga tidur tanpa selimut.


Dengan berjalan mengendap endapa Julaiha mulai membuka pintu yang juga tidak terkunci, dengan sedikit berjinjit Julaiha masuk kedalam kamar, kedua bola matanya menyapu ke sekeliling Rupanya Julaiha sedang mencari selimut terbukti setelah Menemukan benda itu Julaiha langsung menyelimutkan pada Suaminya.


Pergerakan Julaiha yang sangat perlahan tidak membuat Dirga terbangun dari tidur Julaiha merasa senang karena dirinya tidak ketahuan.


Sampai di luar kamar Julaiha menarik napas lega dan bibirnya tersenyum senang.


"Sebenarnya Suamiku itu cukup tampan tapi sayangnya dia tidak menyukai Aku, tidak ada rasa sesal dan kecewa Aku sudah menyerahkan kehormatan ku padanya dan jika kelak benih itu tumbuh dia akan menjadi kenangan terindah darimu, Aku akan merawat dan menjaga dengan sepenuh hatiku, sekarang Aku harus cepat masak sebelum Mas Dirga bangun."


Bergegas Julaiha masuk ke dalam dapur kemudian mulai memasak, hari ini Julaiha ingin memasak sesuatu yang spesial semua Julaiha lakukan agar kelak laki-laki yang sudah mengambil kehormatan nya akan selalu mengingat masakan darinya, meskipun semua itu sangat mustahil dimana Dirga tidak terlalu menyukai dirinya.


Masakan ala restoran yang Julaiha buat dengan melihat beberapa resep lewat youtube yang dia lihat dan Julaiha berharap hari ini Dirga menyukai masakannya meskipun semua itu terlihat mustahil menggingat berapa benci dan tidak suka nya Dirga kepada nya.


Sangat muak itulah yang berkali-kali Dirga katakan kepada nya membuat Julaiha benar-benar sangat sedih dan kecewa akan tetapi Julaiha berusaha untuk bersabar dan tabah karena dirinya menyadari dirinya tidak ada apa-apa nya jika dibandingkan dengan Selin kekasih Dirga yang sangat cantik dan juga terpelajar tidak seperti dirinya yang kampungan dan norak.


Julaiha tersenyum kecut menggingat semua itu, tangannya yang trampil dengan cekatan menata makanan diatas meja setelah selesai Julaiha duduk sambil menunggu Dirga bangun.

__ADS_1


__ADS_2