Menjelajah Dimensi Setelah Reinkarnasi: EztEnd

Menjelajah Dimensi Setelah Reinkarnasi: EztEnd
Latihan Singkat


__ADS_3

"Memangnya apa yang mau kamu lakukan dengan pedang itu, Nona?"


"Ini bukan untukku." Wajah Elena sudah kembali datar. Tak seperti sebelumnya yang riang. "Ini untuk bocah itu."


"Aku?" tanya Fint.


"Dan jangan memanggilku 'Nona'. Itu tak nyaman," tambah Elena, "Panggil saja dengan namaku — Elena."


Menyingkat cerita, Elena menuju hutan bersama Fint untuk latihan bocah itu. Aslinya hanya Elena dan bocah itu saja yang butuh pergi ke sana, hanya saja Dorm menawarkan dirinya untuk ikut bersama mereka. Awalnya Elena menolak karena Dorm yang notabene merupakan pandai besi mungkin saja hanya akan menjadi beban, tapi pandai besi itu menunjukkan keterampilannya memainkan pedang. Bukan keterampilan yang bagus serta hebat, tapi setidaknya cukup untuk menjaga dirinya sendiri.


Untuk Aya jangan tanya tentang dia. Kucing itu hinggap di bahu Elena. Kemudian tentang Lisa, dia mengunjungi karavan dan menghabiskan waktu bersama Rena.


Mereka bertiga melalui jalan setapak memasuki hutan belantara. Makin dalam, jalan setapak makin ditumbuhi oleh rerumputan dan tumbuhan-tumbuhan pendek lainnya. Dan semakin masuk lagi, jalan tersebut sungguh tak terlihat oleh mata saking lebatnya tumbuhan di atasnya. Pencahayaan nampak sama di setiap sudut dan sisi. Entah mana timur, barat, utara, atau selatan. Inilah yang biasa membuat orang tersesat.


"Di hutan ini tidak banyak hewan buruan, Nona," ucap Dorm, "Aku yang telah tinggal di kota itu sejak masih muda tak pernah sekalipun mendengar seorang pemburu mencari mangsa di tempat ini."


"Benarkah?" Elena yang berada paling depan antara mereka bertiga melirik Dorm dengan sudut matanya. "Bagaimana bila aku mengatakan 'pasti ada serigala di hutan ini'. Apa kamu akan berubah pikiran?"


"Aku akan menganggap itu sebagai keajaiban," jawab Dorm, "Lalu aku akan bersumpah setia kepadamu."


"Sungguh pria tua yang tak mengenal sejarah." Elena berucap pelan. "Jas merah — jangan sekali-kali melupakan sejarah. Apa kau lupa sumpahmu itu yang membuat dirimu kalah?"


"Kali ini berbeda," balas Dorm, "Tadi aku lengah dan tidak sengaja memakan ucapanku sendiri." Lelaki tua itu memandang wajah kesal. "Kali ini aku menjamin apa yang aku katakan telah aku konfirmasi dan merupakan hasil dari pengalaman hidup puluhan tahun."


"Terserah kau saja, Pak Tua," jawaban Elena tanpa niat, "Jangan sampai salahkan aku kalau kau kalah untuk kedua kalinya hari ini."


Melihat percekcokan di antara mereka berdua, Fint jadi tak tenang. Dia pun berkata, "E-Elena, aku rasa kita memang harus mendengarkan perkataan penduduk setempat."


"Kau membelanya?" Mata Elena tajam memandang Fint. "Bocah, satu-satunya yang harus kau lakukan adalah memegang pedang itu dan bersiap pada binatang buas yang akan datang."


"Ta-Tapi…."

__ADS_1


Tidak sempat Fint berkata lebih jauh, Elena melompat. Gerakannya sangat cepat sampai kedua temannya tak mampu menangkap sosoknya di mata mereka. Dan bahkan jika mereka memandang ke atas, pada tempat seharusnya Elena berada, Mereka hanya menemukan udara kosong.


"Benar-benar gadis yang misterius."


"Y-Ya, aku yang sejak awal bersamanya tak bisa menyangkal."


"Sekarang apa yang akan kamu lakukan, bocah?" tanya Dorm dengan suara kasar. "Peta yang ada di tanganmu bukanlah mainan anak kecil. Menggunakannya seperti oleh-oleh karya wisata hanya mengurangi nilai gunanya. Jika kau mendengarkanku, akan kubawa kau ke tempat di mana kau bisa mendapatkan hewan buruan."


Fint nampak tak yakin.


"Sayangnya dilihat dari wajahmu kamu lebih suka menunggu gadis itu," tambah Dorm.


*Srek!* *Srek!*


Semak-semak bergerak memperdengarkan suara dedaunan yang bergesekan.


"Apa itu!"


"Palingan hanya hewan kecil," tebak Dorm.


Tapi siapa sangka, yang keluar dari sana bukanlah hewan kecil tebakan Dorm, melainkan serigala. Benar-benar serigala dewasa! Hewan yang baru saja diperdebatkan keberadaannya di hutan ini oleh Dorm dan Elena.


"Se-Serigala? A-Ada serigala di sini." Fint gemetaran.


Reaksi Fint cukup lumrah untuk seseorang yang baru pertama ini bertemu dengan hewan buas. Yang lebih mengherankan adalah Dorm. Dia tertegun di tempat dan terdiam. Bukan sebab dirinya takut. Tapi ini kali pertamanya mengetahui bila hutan di dekat kota tempat tinggalnya terdapat hewan buas di dalamnya. Dia tak pernah menyangka dan tak pernah terpikirkan. Yang ada di kepalanya adalah, 'Apakah ini ada hubungannya dengan gadis itu? Terlalu bagus untuk dikatakan kebetulan.'


Tidak ada gunanya berpikir dan ini bukan waktunya untuk itu. Serigala tersebut melesat ke arah mereka berdua dengan cepat. Dekat, serigala itu melompat dengan kedua cakarnya yang tajam. Dia menerkam Fint.


"U-Uwah!" Fint terkaget. Dia secara refleks melompat ke samping menghindari terkaman serigala. Itu menyelamatkannya, meski dia sampai terjatuh di tanah. Agak lama juga dia bangkit.


Serigala tersebut mendarat. Dia lalu berbalik dan memandang Dorm sebagai target selanjutnya.

__ADS_1


"Jangan remehkan aku, hewan liar!" Dorm menarik senjata — pedang — di pinggangnya. "Aku bisa membabatmu, makhluk buas!"


Serigala itu bergeming. Dia berlari dan menerjang Dorm. Dorm, si lelaki tua pendek, mengarahkan pedangnya balik pada serigala. Tapi sebelum mereka berdua bertemu ….


*Bugh!*


Suara pukulan benda tumpul terdengar keras.


"Merepotkan saja, ya," suara Elena terdengar. Sosoknya terlihat. Dia muncul dari antah-berantah dan memukul serigala tadi hingga terpelanting. "Padahal hanya satu ekor, tapi kau malah ketakutan. Apa hanya sampai di sini tekad dan keberanianmu, bocah? Kusarankan kau pulang saja!"


Fint baru saja bangkit. Melihat sosok Elena dan mendengarkan kata-katanya, sungguh membuatnya merasa sebal dan kesal. Dia memang lemah — dirinya menyadarinya sendiri. Dan yang lebih membuatnya kesal adalah kenyataan bahwa kata-kata Elena adalah kenyataan. Dia tak bisa melawan. Perkataan berupa olok-olokan itu, tak bisa dirinya lawan.


Tatapan dan perhatian Elena mengarah pada si serigala alih-alih Fint. Serigala di hadapannya juga memandang balik Elena. "{Mulai deh cari penampilan keren.}" Aya mengeong, "{Apa sebegitunya kamu mau sok keren?}"


Abaikan perkataan (ngeongan) Aya. Serigala di depan Elena melolong, terus selanjutnya dengan kecepatan ia berlari menerjang Elena. Pola serangan yang sama. Dia melompat dan menerkam Elena.


Mudah bagi gadis itu untuk menghindar. Dia cuma memiringkan tubuhnya. Meskipun si serigala menyerang balik, dia mendarat dan mengulangi sergapan, Elena bisa dengan mudah menghindar lagi. Dia terus-terusan memiringkan tubuhnya.


"Hmph! Lemah!"


*Slash!*


Mengelok pada satu serangan, Elena menarik wakizashi dan dengan cepat memenggal kepala serigala. Gerakan tangannya sangat cepat. Saking cepatnya Dorm dan Fint tak mampu melihatnya. Jika pun ada yang ditangkap oleh mata keduanya, itu merupakan jalur putih yang mengikutinya wakizashi Elena.


"Selesai." Lanjut, Elena berjalan pelan menghampiri Fint. Bocah itu mengangkat pedang dengan tangan kanannya, tetapi hanya sebatas memegang — bukan kuda-kuda siap akan bertarung. "Bocah, apa kau takut saat serigala itu datang padamu?" tanya Elena dengan suara dinginnya.


Fint tak bersuara. Dia mengangguk.


"Rasa takutmu adalah hal pertama yang harus kau atasi." Elena berbalik. Lalu dengan suara riang, terdengar dia berkata, "Yah~ Untuk sekarang kau cukup latihan mengayunkan pedang~ Seribu kali sehari seharusnya cukup, 'kan~"


Dorm di sisi lain terdiam melihat perubahan gaya Elena yang berbanding terbalik dalam waktu singkat. Dia berpikir bila gadis itu merupakan perwujudan dari hal berbahaya.

__ADS_1


__ADS_2