Menjelajah Dimensi Setelah Reinkarnasi: EztEnd

Menjelajah Dimensi Setelah Reinkarnasi: EztEnd
Tuduhan Penyihir


__ADS_3

Di situ Bumi dipijak di sana langit dijunjung — kurang lebih itu adalah peribahasa yang mengatakan bahwa kita harus menghormati adat orang-orang yang tinggal di tempat yang kita kunjungi. Tidak ada yang senang jika kita datang ke suatu tempat untuk mengacau. Niscaya orang-orang di sana akan memberikan perlawanan pada kita atas hal-hal bertentangan dengan adat mereka.


Dan baru saja itulah yang Rena lakukan. Dia melanggar adat di sana.


"Apa yang kamu lakukan, wanita! Kau ingin melindunginya kah?"


"Aku juga bertanya pada kalian: Apa yang ingin kalian lakukan padanya!"


"Diam!" salah satu lainnya membentak, "Apa yang diketahui orang luar sepertimu! Dia adalah penyihir! Dia lah yang membuat Desa kami menderita!"


Lisa terdiam melihat adegan di depannya. Sering dirinya menemui penyihir yang disiksa dan dieksekusi meski belum dikonfirmasi apakah mereka penghirat betulan atau hanya tuduhan palsu. Tapi yang manapun itu, dia harusnya maju dan menolongnya.


Tapi kenapa tubuhnya tidak mau bergerak? Seakan hatinya terkadang dan ada yang menahannya untuk bertindak.


"Apa ini kali pertamamu?" tanya Elena, "Kau belum pernah bertindak untuk menyelamatkan seseorang dengan kedua tanganmu sendiri, 'kan?"


Benar.


Apa yang Elena katakan benar.


Kekuatan «Mengintip» Lisa sangat berguna untuk mencari, tapi tidak dalam pertarungan. Jika dia bertindak, niscaya dia akan terlibat dalam pertarungan yang tidak bisa ia menangkan. Lisa hanya memiliki kemampuan dasar dalam berpedang dan cepat kalah. Selama ini tugasnya hanya sebagai pencari. Untuk urusan penyelamatan adalah urusan rekannya yang lain. Dia lemah.


"Meski begitu, bukan berarti kamu bisa seenaknya!" Rena bersikeras.


"Kau…." Seorang dari mereka menggeram.


Lelaki-lelaki itu — yang mengejar wanita tadi — mencoba menyerang Rena. Tapi sia-sia. Rena yang merupakan seorang pejuang memiliki keterampilan dalam bertarung. Dia memang lebih lemah dari Elena, tapi mengkomparasikan dengan pejuang normal, dia lumayan kuat. Melawan pria yang tidak benar-benar memiliki kemampuan bertarung, Rena dengan mudah menghindari satu per satu serangan mereka dan melumpuhkan dengan pukulan ringan. Satu per satu, dia membuat mereka tersungkur jatuh.


"Ingat saja! Kami akan kembali!"

__ADS_1


Para lelaki itu kabur dengan ancaman. Sungguh terbalik ketika orang yang menyerah memberikan ancaman, tapi beginilah yang namanya "anjing" kecil di halaman yang dikelilingi pagar. Mereka hanya bisa menggonggong tanpa bisa mencakar.


Wanita yang dikejar-kejar para lelaki tadi memiliki penampilan menyedihkan. Sebenarnya sama dengan mayoritas penduduk di sini: Pakaiannya compang-camping, tubuhnya kotor dan bau, serta amburadul. Dia juga kurus sampai tulangnya di beberapa bagian terlihat. Rena membawanya ke gerobak dan memberikan makanan berupa sup.


"Te-Terima kasih," ucap wanita itu.


"Sama-sama. Tidak usah dipikirkan," ucap Rena, "Ngomong-ngomong, kenapa mereka mengejarmu?"


"Pe-Penyihir. Mereka menganggapku sebagai penyihir. Padahal …."


Tak selesai kalimatnya. Di sana Elena sudah menyelam, "Mereka memberikan tuduhan palsu dan mengkambing hitamkan atas segala kemalangan yang mereka dapatkan, bukan?"


"Benar," jawabnya sedih.


Itu normal. Di saat akal sehat manusia sudah tidak mampu juga disertai emosi yang telah memuncak, manusia cenderung bersikap irasional atau tidak masuk akal. Melihat sejarah, dulu pada abad ke-14 saat wabah Black Death (Yersinia pestis) menyebar, terjadi pembantaian terhadap kaum Yahudi. Kaum Yahudi tersebut dianggap sebagai penyebar wabah Black Death, meski pada kenyataannya bukan mereka penyebabnya. Inilah ke-irasional dan manusia di masa lalu.


Elena berbalik, pergi meninggalkan mereka semua tanpa berkata sepatah kata pun.


"Elena, mau ke mana kau?" tanya Lisa.


"Bukan urusanmu."


~


Pembersih ke peribahasa di mana Bumi dipijak di situ langit dijunjung. Melanggar adat dan kebiasaan suatu masyarakat adalah hal yang dapat memicu api kebencian dan memasukkan diri sendiri dalam masalah. Dan benar saja, masalah menghampiri mereka saat sore hari — di kala Matahari akan tenggelam.


Hari sudah mulai gelap waktu itu dan para warga menyalakan obor. Mereka berbondong-bondong dengan penuh kemarahan membawa benda itu juga garpu kebun menuju karavan. Lantas itu membuat perdebatan hebat di antara anggota karavan. Siapa yang memicu semua ini? Dan jawabannya jelas; Rena, Lisa, Dorm, dan Font, mereka berempat lah yang dijatuhi tanggung jawab untuk bertatap muka melawan warga yang murka.


Kini mereka berempat berhadapan dengan kerumunan massa yang marah. Ada pula wanita yang diselamatkan Rena siang tadi, dia tidak bisa melakukan apa-apa selain duduk meringkuk gemetaran.

__ADS_1


"Itu dia orangnya! Dia pasti bersekongkol dengan penyihir!" Salah satu warga menunjuk Rena.


Coba kalian pikir, Rena cs. baru saja sampai di desa siang tadi. Bagaimana mereka bisa bersekongkol pada orang yang baru ditemui dalam sehari dan pertama kali? Apa juga untungnya buat Rena dan kawan-kawannya? Tapi pemikiran rasional itu telah sirna di bawah emosi yang tak terkendali.


"A-Aku? Aku sama sekali tidak ada hubungannya dengan penyihir!" Rena mengelak, "Dan dia juga bukan penyihir."


Secara teknis, apa yang Rena katakan adalah kebohongan. Dengan mengkategorikan Lisa sebagai penyihir maka disimpulkan bahwa Rena berkelana bersama penyihir selama ini. Tapi yah, dia tidak menyadarinya.


"Bohong itu, Pak! Dia cuma ngeles supaya bisa selamat!"


"Aku tidak bohong!"


Terjadi perdebatan panas antara Rena dan kerumunan massa yang marah. Mengapa? Sebab argumen mereka tidak disertai pendukung. Mereka langsung masuk ke kesimpulan. Pola perdebatan ini hanya akan membawa pada debat kusir — perdebatan di mana dua belah pihak saling gontok-gontokan dan membentak sekerasnya. Perdebatan orang bodoh yang tidak akan ada akhirnya.


"Tenang, bapak-bapak! Tenang!" Salah satu dari mereka maju. Orang ini terlihat memiliki kondisi cukup baik. Maksudku, pakaiannya lebih baik dibandingkan orang yang compang-camping, kotor, dan kumuh. "Saya sebagai kepala desa berkewajiban untuk menyelesaikan masalah. Setiap dari orang di sini harus patuh pada saya!"


Orang ini sudah seperti pak RT yang datang menentangkan warga dalam serial sinetron azab dari acara TV saluran ********. Dia laksana orang berwibawa. Dia selalu muncul Ketika masalah datang menghadang.


"Kita harus menyelesaikan masalah ini secara kekeluargaan! Jangan sampai terjadi pertumpahan darah di desa ini!"


Ini kalau saya ada di sana, saya cuma mau bilang: Telat, Pak! Sudah ada yang dieksekusi!


Setidaknya usahanya berhasil membuat kerumunan masa yang marah menjadi tenang begitu pula Rena yang akhirnya bisa mengambilnya napas lega. Walaupun, dia sendiri masih memiliki pandangan marah yang terpampang jelas di wajahnya.


"Jadi sekarang, mari kita diakui dalam damai dan selesaikan lewat jalur musyawarah!" tambah orang itu.


Eh belum sempat dia berucap lagi, suara auman besar terdengar. §Graaa!§. Lantas saja mau itu Rena ataupun para warga segera waspada dan siaga mengarahkan senjata mereka pada makhluk buas yang mengeluarkan auman besar itu. Di salah satu atap rumah, terlihat sosok harimau besar dengan bulu berwarna hitam legam. Laksana nyala api yang berkobar, bulu-bulu melambai-lambai oleh angin sore.


Untuk Lisa, Rena, dan Dorm, mereka yang di kota sebelumnya akan menuju ke hutan, mereka menyadari bahwa harimau ini mirip dengan harimau yang mereka temui waktu itu. Dan memang benar, itu adalah Aya yang tengah menyamar!

__ADS_1


__ADS_2