
"Dahulu kala ada seorang yang hidup nestapa." Elena bercerita. Dia bercerita tanpa pendengar. Satupun tidak ada. Dia berada di sebuah ruang spatial yang dipenuhi gugusan bintang. "Suatu hari, dia mendapati berkah dari Tuhan sehingga bisa hidup dengan standar yang lebih baik. Merasa amat senanglah ia. Dia merayakan pesta sebagai bentuk perayaan atas berkah itu. Tapi siapa membuat kesalahan." Dia berhenti sejenak. Membuat jeda. "Berkah yang ia dapatkan justru habis dan dirinya kembali ke titik awal. Justru lebih rendah."
Celah terbuka. Dari sana Noctis muncul.
"Kita bertemu lagi, gadis kecil," sapa Noctis. Dia menghampiri Elena dari belakang panggung gadis itu. "Cerita apa yang kau baca?"
"Bukan apa-apa." Elena berbalik dan memandang Noctis. "Hanya cerita alegori tentang desa yang baru saja kukunjungi."
"Begitu ya?" ucap Noctis, "Berbicara soal itu, bagaimana dengan kemajuanmu di dunia sana?"
"Lumayan," jawab Elena, "Ada organisasi yang bergerak di balik bayangan, tapi mereka tidak menebar teror. Mereka lumayan sampai memiliki bola yang bisa menyerap 'esensi' dan 'energi'. Kemarin aku ketemu mereka saat mereka menyerap 'esensi kehidupan' dari hutan."
"Ka-Kau bercanda, 'kan?" Noctis tertegun. Kata-katanya terhenti sejenak. "Mereka punya alat yang bisa menyerap 'esensi kehidupan'? Itu kan primitif sekali? Di dunia kita saja musuh kita punya alat yang bisa menyerap cahaya Matahari dan aku sudah mengembangkan sumber tenaga bersumberkan fusi nuklir. Masih menggunakan 'esensi kehidupan'? Aku merasa kita seperti melawan pasukan Romawi dengan AK-47 yang memiliki peluru dan amunisi tak terbatas."
"Gak salah, sih. Mereka memang terlalu primitif," ujar Elena, "Tapi lawan Pasukan Romawi pakai AK-47, meskipun peluru dan amunisi tak terbatas, tapi senapan masih bisa overheat dan meledak."
Keduanya terdiam membiarkan suasana dalam kesunyian. Masing-masing dari mereka saling memandang satu sama lain, saling menunggu lawan bicara mulai melanjutkan pembicaraan.
"Jangan harap aku tidak tahu, kamu mau mengatakan kalau misi ini pasti sangat mudah sampai-sampai aku tidak butuh bantuan." Elena bersedekap. "Mana mau aku bekerja sendiri tanpa bantuan."
"Hehehe, ketahuan, ya?" Noctis terkikik. "Yah, tenang saja. Aku pasti akan membantumu jika kau butuh. Lagi pula, topi yang kau pakai itu lebih dari cukup untuk menghancurkan sebuah planet. Alat-alat di dalamnya sangat berguna."
~
Muncul ke planet tempat misinya digelar, Elena berada di dalam hutan berkabut. Berjalan ke suatu arah, akhirnya dia bertemu dengan Lisa dan wanita yang mereka selamatkan di desa sebelumnya.
"Sudah selesai kalau menjawab 'panggilan alam'? Baguslah kau sudah kembali," ucap Lisa.
__ADS_1
Panggilan alam \= Buang air besar.
"Ya, begitulah," jawab Elena, "Agak sulit melakukannya di dalam hutan, tapi syukurlah bisa selesai."
Aya melompat dan hinggap di bahu Elena. "{Akhirnya kau kembali, nyan~}" Aya mengeong, "{Mereka berdua ribut sendiri. Takut di tengah hutan berduaan}"
"Baiklah, sekarang mari kita bergerak. Kau tidak apa-apa, 'kan, Windy?" Elena memandang wanita yang mereka selamat saat di desa sebelumnya. Dia sudah lebih baik di bawah perawatan Elena dan lainnya.
"Sudah kubilang, namaku bukan Windy! Aku punya nama sendiri!" bentak wanita itu. "Kenapa kamu tidak mau memanggilku dengan nama asliku?"
"Soalnya kamu bisa mengendalikan angin," jawab Elena, "Nama 'Windy' lebih cocok untukmu."
"Uh…." Windy menggerutu. "Bisa-bisanya dari sekian banyaknya anggota karavan aku terdampar bersamamu."
"Bersyukurlah karena bersamaku," ucap datar Elena, "Kalau kamu bersama orang intoleran pada penyihir, kau sudah dieksekusi sekarang."
"Kenapa kamu juga memanggilku 'Windy'! Itu bukan namaku!" keluhnya, "Dasar, bisa-bisanya kecelakaan itu terjadi."
Kejadian sebelumnya, Elena melanjutkan perjalanan bersama karavan. Mereka melewati gunung. Mereka melewati jalan sempit yang di sebelahnya kirinya merupakan dinding batu menjulang tinggi dan di sebelah kanannya merupakan jurang dalam. Jalanan yang sempit saja sudah berbahaya, apalagi waktu itu hujan. Sial, dari atas tanah longsor menjatuhi mereka. Sontak saja kelompok karavan disapu tanah longsor.
Elena masih berbaik hati saat itu. Dia menyelamatkan sebagian dari mereka. Di antaranya Rena, Dorm, dan Fint pastinya. Dan yang lainnya hanya sebagian sedikit saja. Tapi meski begitu, dia meletakkan tiap-tiap anggotanya karavan di tempat yang berbeda-beda, utamanya Lisa dan Windy.
Perlu diketahui, Elena mengetahui bahwa Lisa memiliki relasi dengan kelompok perkumpulan para penyihir. Tujuannya adalah untuk bertemu mereka. Dan bila Lisa dan Windy bersama karavan, mereka berdua akan mengikut pada karavan. Kalaupun Lisa akan membawa ke perkumpulan para penyihir, mungkin saja lama dan memakan banyak waktu. Itulah mengapa Elena memisahkan mereka berdua secara khusus bersama dirinya.
Ini benar-benar patut disyukuri ketika mereka selamat ketika jatuh dalam jurang yang dalam. Kebanyakan orang sudah mati saat itu.
~
__ADS_1
Elena dan Aya bersama Lisa dan Windy, mereka berempat berjalan menembus hutan. Hutan masih basah. Kabut menyertai dan membatasi jarak pandang. Itu bukan masalah bagi Lisa yang memiliki kemampuan «Mengintip». Dia menjadi penunjuk jalan sementata Elena berkamuflase — sesedikit mungkin menunjukkan kemampuannya.
"Kita tidak tersesat, 'kan?" tanya Windy ragu. Dia tak dapat melihat jalan di depannya berkat kabut tebal.
"Gunakan saja kemampuanmu," ucap Elena dingin, "Kamu bisa menggunakannya untuk mengusir kabut."
"Bahkan jika kau mengatakan begitu." Windy mengangkat jarinya. Dia memutarnya dan dari sana pusaran angin kecil tercipta. "Kemampuanku hanya sebatas ini."
Elena tersenyum getir melihat itu. 'Kipas angin jauh lebih berguna,' batinnya.
"Pst, kalian berdua, tolong tenang sebentar," ucap Lisa sembari memalangkan tangannya di depan Elena dan Windy. "Ada seseorang."
Elena memastikan menggunakan «Penerawangan». Memang ada seseorang di depan. Seorang pria paruh baya ditemani seekor anjing. Pria itu membawa pisau besar — yang lebih mirip pedang — satu sisi. Terlihat sarungnya berada di punggungnya. Selain itu, dia juga membawa busur dan anak panah.
Melihat tangan Lisa memalang di depannya, Elena acuh. Tanpa mempedulikan Lisa dia berjalan maju.
"Elena, apa yang kamu lakukan?" Lisa bertanya dengan teriakan pelan.
"Menemui siapapun yang ada di depan kita. Apa salah?" jawab Elena tanpa merasa aneh dan bersalah.
Bertemu dengan orang asing yang kita tidak tahu tabiatnya saja sudah berbahaya. Apalagi bila orang itu membawa senjata dan di dalam hutan. Jika dia membunuh kita, maka jangan harap pembunuhmu mendapatkan hukuman. Semenjak tidak ada saksi dan banyak hewan buas di sini, tidak sulit memalsukan kematian korban dan memberi kesaksian palsu.
Tapi Elena mana peduli perihal itu semua? Dia terus berjalan maju menuju sosok pria itu. Dan akhirnya ketika dia sampai ….
Dia disambut dengan todongan anak panah.
"Sungguh tak biasa bertemu gadis kecil di tengah hutan," kata pria itu, "Apa kamu tersesat?"
__ADS_1