Menjelajah Dimensi Setelah Reinkarnasi: EztEnd

Menjelajah Dimensi Setelah Reinkarnasi: EztEnd
Desa yang Miskin


__ADS_3

Perjalanan berlanjut. Elena cs. melanjutkan perjalanan bersama karavan. Dalam perjalanan siang ini, mereka melewati padang rumput yang membentang luas. Terdapat sebuah jalur, dan jalur itulah yang mereka lewati. Perjalanan damai Elena bersama circle-nya.


Mah, sebenarnya Elena mengisolasi diri seperti biasa. Dia berjalan mengikuti karavan dan memisahkan diri dari lainnya.


“{Uh… ngantuknya…,}” gumam Aya, “{Kemarin malam benar-benar melelahkan.}”


“Aku terpaksa setuju,” jawab Elena.


“{Ngomong-ngomong soal kemarin, apa kau tidak takut bocah itu tidak akan membocorkan rahasiamu? Kau tidak ingin membunuhnya?}”


“Jangan seenak itu untuk menganggap remeh nyawa seseorang,” kata Elena, “Lagi pula, dengan «Telepati» aku ‘sedikit’ mengganti ingatannya.”


“{Hmm, ‘menganggap remeh nyawa manusia,’ katanya.}” Aya terkikik. “{Sungguh kata-kata mutiara dari seseorang yang sengaja mengundang EztEnd hanya untuk mengetahui kemampuan rekannya.}”


“Aku memiliki pertimbanganku sendiri,” ucap Elena, “Dari pada itu, soal kemarin, bisa kau jelaskan soal dua sosok yang kau untit?”


Aya tersenyum pahit. “{Yah, bagaimana, ya?}” Dia enggan menjawab, “{Sebenarnya, aku lupa apa yang mereka katakan, hehe~}”


“Tidak berguna.”


“{Hei! Jangan panggil aku tidak berguna! Kalau kau ingin yang berguna, kenapa tidak memelihara kucing robotik saja!}”


“Good idea.” Elena memegang gagang wakizashi.


“{Bercanda, bercanda. Kalau ada orang bercanda itu jangan diambil hati.}”


“Tapi yang diambil batu, ‘kan?” Elena melengkapi.


“{Batu juga jangan!}” teriak Aya. “{Lagian, aku tidak sepenuhnya melupakan percakapan kedua orang itu.}”


“Oh, iya?” tanya Elena. “Kalai begitu jelaskan yang kau tahu!”


“{Hmm? Bagaimana ya?}” Aya berkata, “{Kayaknya mereka dari sekte sesat lagi menyesatkan. Intinya, kayaknya monster yang kamu lawan ada hubungannya dengan mereka.}”

__ADS_1


“Benar juga,” gumam Elena, “Makhluk itu bisa menghilang secara misterius. Dia memudar menjadi kabut hitam. Ini akan menjadi masalah baru.”


“{Gini amat punya misi. Suruh mengatasi masalah satu dunia.}”


~


Di tempat singgah mereka selanjutnya, mereka menemui suatu tempat buruk nan kacau. Ingin disebut kota, rasanya bukan. Itu sebuah desa. Desa dengan tanah gersang menghitam dan ditumbuhi tanaman yang layu. Terdapat pagar yang mengelilingi desa. Namun Fint bisa merobohkannya dengan satu tebasan pedang saking rapuhnya.


Bila rombongan karavan paling belakang melihat ke belakang, mereka tidak akan menemukan Elena yang seharusnya ada di sana. Gadis itu sudah duluan masuk. Entah bagaimana ceritanya dia bisa menghilang secara tiba-tiba. Dirinya punya banyak cara.


Di dalam desa itu, Elena menemui pemandangan yang membuatnya mengerutkan kening. Itu yang dia lakukan bila tak mempertahankan wajah datar bak topengnya.


Pemandangan di sini sangat kacau. Di pinggir-pinggir jalan dia menemui orang-orang kurus kerontang dengan tubuh dan pakaian kotor. Sebagian dari mereka bahkan telah compang-camping pakaiannya. Lebih miris lagi bila ada anak kecil di antara mereka.


Elena ingin menolong. Tapi dia tahu melakukannya tidak akan menyelesaikan masalah. Menolong satu, dan lainnya akan meminta. Yang lainnya meminta, dia harus memberi pada semuanya. Dan memberikan makanan cuma merupakan solusi jangka pendek.


Tapi bukan Elena sebegitunya tidak punya hati. Pada beberapa anak kecil, dia memberikan mereka sepotong roti. Jangan tanya dari mana dia mendapatkannya. Topinya berisi benda-benda dari Bumi modern.


“{Kau baik hati juga, ya?}”


“{Pada situasi tertentu, itu benar.}”


Pengemis, tunawisma, dan masyarakat melarat bukanlah hal paling menyedihkan yang Elena temui. Di saat dia sampai ke tengah desa, dia melihat sebuah batang kayu hangus berdiri. Bagiannya menyeramkannya, di sana terdapat mayat manusia yang ikut dibakar bersama batang kayu itu.


Hanya ada satu hal di pikiran Elena: “Perburuan penyihir.”


“{Masyarakat yang terbelakang,}” ucap Aya, “{Tidak bisakah alih-alih membakar penyihir mereka bekerja sama saja?}”


“Jangan katakan itu.” Elena berbalik dan berjalan menjauh.


Pandangan Elena gelap. Perasaan jelek menyelimuti benaknya. Bukan seperti dia tidak pernah melihat seseorang yang dieksekusi sebagai penyihir. Justru lumayan sering sejak dia memperhatikan tempat-tempat tertentu menggunakan «Penerawangan». Tapi kali ini berbeda. Pasalnya, mayat hangus yang dia temui hari ini adalah sosok anak kecil. Dan lebih parah, Elena menduganya kalau itu anak gadis.


Ada alasan mengapa wanita lebih sering dituduh sebagai penyihir.

__ADS_1


Pertama, mereka lebih lemah dibandingkan lelaki tentu saja. Mudah untuk melawan, menangkap, dan menyiksanya. Terutama perempuan yang menyendiri tanpa sanak saudara. Dan lagi, karena lelaki lebih diperlukan bila berburu, mereka “dianggap” lebih berguna.


Kedua, banyak yang iri. Biasanya wanita merasa iri melihat wanita yang lebih cantik dari mereka. Lalu entah bagaimana caranya, mereka akan mencelakakan wanita yang lebih cantik itu. Dengan gelap mata, membakar hidup-hidup pun akan mereka lakukan demi hasrat.


~


Elena menemui karavan. Dia mendekati circle-nya, yaitu Dorm, Rena, Lisa, dan Fint. Sontak saja mereka berempat terkaget menyadari kedatangan Elena.


“Dari mana saja kau?” Lisa mengangkat sebelah alisnya.


“Urusan pribadi.” Elena menambahkan, “Jangan bertanya.” Dengan mata tajam.


“Temanmu bertanya dengan baik-baik. Apa itu respon yang tepat?” tanya Rena.


“Semakin sedikit kau tahu, maka semakin baik.” Tatapan mata tajam Elena mengarah ke Rena.


Pada saat itu Rena merasa ngeri dan tulang-tulangnya gemetar. Entah apa penyebabnya, Rena tak tahu apa yang membuat tubuhnya merespon demikian pada tatapan mata Elena kali ini. Instingnya mengatakan bahwa buruk untuk membuat suasana hati Elena lebih buruk.


“Lupakan,” ucap Elena tiba-tiba, “Ngomong-ngomong, kapan karavan ini akan melanjutkan perjalanan?”


“Besok,” jawab Rena singkat. “Karavan ini selalu singgah seharian di tempat baru. Kenapa kau bertanya begitu? Kau sudah tahu, ‘kan?”


“Tidak, bukan apa-apa.” Elena berbalik, menunjukkan punggungnya pada Rena. “Aku hanya tidak suka atmosfer di sini.”


Mereka berempat melihat arah yang Elena tuju. Desa miskin dengan suasana buruk busuk. Rumah-rumah yang seakan mau ambruk, tanaman layu, pengemis, bau busuk menyengat, dan berbagai hal buruk lainnya. Itu semua merupakan pemandangan miris di hadapan mereka. Bila memperhatikan lebih, rasanya sungguh menusuk sekali ke labuhan hati mereka. Kesedihan dan kesengsaraan — itu yang mereka rasakan.


“{Pergi bukan penyelesaian,}” Aya berucap, “{Bila kau menelantarkan dan tak melihat mereka, apa penderitaan mereka akan berakhir? Keinginanmu untuk tidak melihat mereka adalah keegoisanmu.}”


“Benar, aku adalah orang yang egois.” Elena tersenyum kecil. Senyum sebagai tawa yang menertawakan dirinya sendiri. Ini tentunya membuat yang lainnya heran saat Elena bicara sendiri. Mana mungkin mereka paham perkataan Aya yang merupakan kucing?


Dan tidak lama dari itu, Elena — dan lainnya — mendengar keributan. Keributan dari orang-orang yang saling sahut-sahutan berteriak menyuruh sesuatu berhenti. Mereka bak mengejar maling. Dan memang, tak jauh dari visi pandang Elena dia melihat seorang wanita berpenampilan menyedihkan yang dikejar-kejar oleh empat sampai lima orang pria.


“{Mau menolongnya?}”

__ADS_1


“Aku tidak suka terlibat masalah orang.”


Meski Elena berkata demikian pun, yang mengatakannya adalah Elena, bukan orang di sampingnya. Rena yang melihat itu segera melesat dan menghajar pria yang mengejar wanita itu.


__ADS_2