
Elena dan Fint berjalan menuju hutan. Suasana malam hari tanpa bulan yang gelap ditambah dedaunan lebat dari pohon membuat keduanya membawa sebuah obor sebagai penerangan. Mah, sebenarnya Elena bisa melihat dalam, tapi ini merupakan pencitraan ketika di depan Fint.
"A-Apa yang akan kita lakukan di sini?" tanya Fint.
"Mudah saja," ucapan Elena pelan dengan suara mendesis. Membuat atmosfer terasa semakin mencekam. "Kemarin itu, saat kamu kurang tidur, kamu melihat sesuatu, 'kan? Itulah yang akan kita cari malam ini."
Fint membeku. Langkahnya terhenti dan ekspresi wajahnya menjadi gelap berisi ketakutan. Dia masih ingat dengan jelas sosok makhluk raksasa yang melintas di hadapannya kemarin hari. Itu sudah sangat menyeramkan. Dan kali ini mereka akan mencari makhluk itu? Membayangkannya membuat Fint ngeri.
"Apa? Apa kau yang ingin menjadi seseorang yang kuat berhenti karena rasa takut?" tanya Elena. Suaranya seram akan ancaman. "Terlambat untuk mundur sekarang. Dan kalaupun kau ingin berhenti, pergilah pulang sendiri. Jangan harap aku akan mengantarmu setelah sejauh ini."
Mereka berdua lanjut berjalan di dalam hutan. Suara binatang sesekali terdengar. Font yang merasa ngeri, sensor tubuhnya waspada akan apapun. Tubuhnya sangat mengawasi akan ancaman atau bahaya yang mungkin datang. Meskipun bahaya itu tidak akan ada, tetapi dia yang terlanjur ketakutan membuat tubuhnya menganggap bahkan ranting pohon pun sebagai ancaman. Dalam taraf ini dia bisa dibuat takut hanya karena hal-hal kecil saja. Bahkan seekor lalat yang hinggap di belakang lehernya saja membuat Fint refleks mengusirnya.
Elena hanya menatap datar tanpa minat kelakuan Fint yang terlalu lembek.
"Berhenti!" Elena merentangkan lengannya di depan tubuh Fint. Isyarat untuk berhenti.
Elena menarik Fint ke balik pohon dan memadamkan obor milik mereka berdua. "Apa yang terjadi?" tanya Fint pelan. Melirik di balik pohon sebagai pencitraan, Elena menggunakan kemampuan «Penerawangan». Di depan, sangat gelap. Hampir tak terlihat apapun di sana. Tetapi menggunakan kemampuannya, Elena bisa dengan jelas melihat sesuatu di depan sana.
Sebuah sosok raksasa — mudahnya mengatakan begitu.
Wujudnya mirip seperti manusia. Manusia raksasa dengan tubuh dipenuhi bulu gelap yang menyatu dengan kegelapan malam. Dia memejamkan matanya dan berada di posisi tengkurap. Orang biasa, mereka tanpa sadar akan mendekatinya sebelum mengetahui bahwa mereka berada di dekat makhluk kolosal tersebut. Melihatnya yang masih tertidur seharusnya aman, tapi akan memberikan cerita yang berbeda bila sewaktu-waktu makhluk tersebut membuka matanya.
__ADS_1
'Bagus, sekarang apa yang harus kulakukan?' batin Elena, 'Kalau aku bertarung, aku yakin 100% untuk bisa memenangkan pertarungan. Kalah pun aku masih bisa kabur. Tapi ada Fint di sini. Bertarung sambil melindunginya akan susah, apalagi aku belum tahu kemampuan musuh selain tubuhnya yang besar. Apa aku pulang saja dan tutup mata soal kejadian ini? Toh juga, cuma satu kota yang akan terkena dampaknya.'
Banyak pikiran berseliweran di dalam kepala Elena. Dia memikirkan tindakan terbaik untuk diambil. Dan di antara banyaknya pikiran itu, ada satu yang membuatnya bernostalgia. Itu adalah ingatan ketika dia masih kecil. Ingatan dulu sekali ketika dirinya sama sekali tidak memiliki teman.
Elena Madison, seorang penyendiri. Dia adalah seorang introvert. Introvert yang tidak suka ikut-ikutan jika itu tidak ada hubungannya dengan topik yang ia sukai. Orang yang akan meninggalkan sebagian besar permasalahan di dunia dan hanya memandang apa yang mereka sukai dan mereka inginkan. Tidak pandai memulai pembicaraan dan lebih sering menjadi pendengar dalam suatu pembicaraan. Tidak diperhatikan, tidak dipedulikan, dan tidak digubris sama sekali. Itulah makna kesendirian Elena.
Tetapi di balik kesendiriannya itu, Elena merasa bahwa sendirian itu menyenangkan. Tidak ada yang mengganggu dan tidak ada pembicaraan yang terasa menyebalkan untuknya. Hanya memiliki lingkar pertemanan yang kecil, di mana isinya adalah orang-orang yang berpikiran sama dengannya, dan itu hanya Noctis saja. Terasa seperti kehidupan tenang dan berjalan mulus tanpa gangguan.
Hingga pada suatu ketika, Elena berhasil mendapat teman. Bersama teman barunya itu Elena jadi lebih terbuka melihat dunia luar. Berbelanja bersama kawan, saling bersenda gurau, dan terkadang melakukan hal-hal konyol bersama. Setelah Elena memikirkannya kembali dia terpikirkan bahwa bukankah kehidupan ini bukan hanya untuk satu orang? Kalau begitu bukankah seharusnya dia menolong lainnya? Meskipun dia tak akan mendapat apresiasi atau penghormatan, namun bukankah itu perjuangan tanpa tanda jasa?
"Yare, yare, merepotkan saja," gumam Elena.
Fint bertanya-tanya tentang Elena yang tiba-tiba saja bergumam sendiri dan mengucapkan kalimat tersebut.
"Eh? Em…. Ba-Baik?" respon Fint penuh keraguan. Ragu dan merasa aneh akan sikap Elena yang tiba-tiba berubah.
"Baiklah." Elena berbalik. Dia keluar dari persembunyian dan berjalan mendekat ke makhluk raksasa di sana. "Sekarang, saatnya melakukan pertarungan!"
Elena dengan cepat menarik keluar wakizashinya. Dia bersiap jangan sekilas senjata itu di tangannya.
Dengan tanpa kuda-kuda, dia langsung saja melompat tinggi-tinggi sambil mengangkat wakizashi di atas kepala. Titik mendaratnya adalah tepat di tubuh manusia raksasa di depannya. Dia akan langsung memberikan satu serangan tebasan. Namun sebelum itu, satu pikiran terbesit di kepalanya:
__ADS_1
'Tunggu, bukannya teman-teman yang aku kenal itu sama-sama introvert, ya? Kami adalah tipe yang sama, sama-sama orang yang tidak ingin terlalu banyak bergaul dengan lainnya. Meskipun bentuknya berbeda-beda, tetapi kami senasib sepenanggungan. Kami sama-sama terpisah dari lingkar sosial orang-orang secara luas. Kami menyendiri.'
'Dipikir lebih logis, bukannya lebih tepat kalau aku membiarkan saja? Tidak seperti aku akan mendapatkan sesuatu dengan menyelamatkan mereka.'
Tapi terlambat.
*Slash!*
Serangan Elena mengenai makhluk tersebut sehingga membangunkannya.
§Graaaaa!§
Raungan keras dari makhluk itu terdengar di seluruh hutan.
~
Malam hari apa tanpa bulan adalah tempat yang cocok bagi pecinta kegelapan. Dan salah satu dari pecinta kegelapan itu adalah Aya — kucing peliharaan Elena.
Malam hari adalah waktu aktifnya para kucing serta hewan-hewan nokturnal lainnya. Sebenarnya kucing bukan merupakan hewan nokturnal, tetapi setidaknya dia lebih aktif dari pada manusia. Dan Aya secara khusus lebih suka menghabiskan waktu malam harinya dengan berjalan-jalan di kota sambil melihatnya berbagai hal yang dilakukan manusia.
Ada banyak informasi yang bisa dikorek oleh Aya. Sebagai kucing dia tidak dicurigai. Berbeda dengan manusia yang bertugas sebagai mata-mata. Intel boleh saja menjadi tukang bakso atau pemulung sambil membawa walkie-talkie, tapi tetap saja wujud mereka adalah manusia. Dan itulah kelebihan Aya — memiliki wujud bukan manusia.
__ADS_1
Dan malam ini, di waktu kebanyakan insan menempati tempat tidur, Aya di suatu tempat menemukan sepasang manusia yang tengah berdialog. Isi dari dialog itu nampaknya hal-hal sensitif — informatika penting.
"{Aku harus melaporkan ini pada Elena, 'kan?}"