Menjelajah Dimensi Setelah Reinkarnasi: EztEnd

Menjelajah Dimensi Setelah Reinkarnasi: EztEnd
꧁Perkumpulan Para Penyihir: Bag. Pertama


__ADS_3

Perkara dengan monster kabut itu telah selesai. Elena, Windy, Lisa, beserta Aya saling bertukar salam perpisahan. Mereka berkumpul di pondok kayu Lock.


"Terima kasih sudah mengalahkan monster itu," kata Lock, "Tanpa kalian, mungkin hutan ini akan dipenuhi kabut."


"Terima kasih kembali," jawab Elena berwajah manis, "Tidak perlu merasa berhutang budi. Aku jadi bisa mengerahkan kekuatan yang lama tidak kugunakan berkat melawan monster itu. Aku juga senang."


"Tetap saja," Lock bersikeras, "Aku sangat berterima kasih pada kalian."


"Yah, mau bagaimana lagi kalau begitu," ujar Elena, "Tapi tolong ralat kata 'kalian' menjadi kata 'kamu'. Aku lebih suka jika begitu."


Maksud dari kata "kalian" adalah Elena, Lisa, Windy, dan Aya, sedangkan maksud dari kata "kamu" adalah Elena saja. Maksud Elena berkata demikian adalah bahwa dia merasa dan berniat bila ada penghormatan pada kata-kata Lock, maka hanya dia seorang yang berhak menerima penghormatan itu.


Lock tidak peduli. Dia mengerutkan dahinya diliputi perasaan heran namun sudahlah. Dia melupakan setelahnya. "Ngomong-ngomong, ke mana kalian akam pergi?"


"Kami akan menuju ke tempat di mana para penyihir berkumpul," jawab Elena, "Di luar sana, penyihir yang menjadi minoritas mendapatkan perlakuan buruk alih-alih dipuja-puja dan dimanfaatkan. Aku sendiri sih tidak peduli dan yakin bisa 'membantai' orang-orang itu, tapi untuk mereka berdua yang lemah, mereka perlu berkumpul dengan segolongan mereka." Dia juga menambahkan dengan lebih pelan, "Resiko jadi lemah."


Lisa dan Windy cukup tersinggung. Namun apa yang bisa mereka lakukan? Menggunakan Elena sebagai pembanding, sayangnya gadis itu 'benar'. Mereka berdua sangat lemah.


~


Sekarang mari kita pergi ke sisi lain. Sisi pihak Fint, Rena, dan Dorm berada.


Mereka bertiga secara "ajaib" selamat di kala jatuh dari tebing. Tentu saja, Elena ada sangkut pautnya. Di lain memastikan mereka bertiga terpisah dengan kelompoknya, Elena juga memastikan mereka selamat. Ada segolongan kecil dari anggota karavan lainnya juga yang selamat. Elena tak sekejam itu sampai membiarkan semua orang mati begitu saja. Yang ia biarkan mati cuma "mayoritas" saja.

__ADS_1


Selamat bukan memiliki arti mereka bisa bersantai. Pasalnya saat ini lokasi mereka masih berada di dalam hutan. Mereka harus berusaha mati-matian untuk mengumpulkan makanan, mengobati yang terluka, serta mengumpulkan barang-barang sisa dari karavan yang mungkin masih bisa digunakan.


Awal-awal sangat sial sejak kabut tebal menutupi tempat mereka berada. Kabut tebal yang muncul tiba-tiba membuat pergerakan mereka terhenti dan harus berkemah dalam hutan antah-berantah ini. Setidaknya setelah kabut itu menghilang, mereka melanjutkan perjalanan untuk mencari jalan keluar dari hutan. Dan beruntung mereka sampai di kota terdekat.


~


Kembali ke Elena dan kawan-kawan. Mereka bertiga plus satu kucing melakukan perjalanan panjang selama berhari-hari. Jalan yang mereka lewati cukup terpencil. Tidak ada Desa maupun kota yang mereka lalui. Makanan maupun minum didapatkan dari alam secara langsung. Dan akhirnya, setelah perjalanan berhari-hari itu, sampai juga mereka di sebuah tempat yang Lisa klaim sebagai tempat berkumpulnya para penyihir.


"{Jadi ini tempatnya?}"


Di depan mereka adalah lahan berbatu yang menyeramkan tanpa satupun kehidupan — atau setidaknya itulah yang terlihat. Ini tentu membuat Aya dan Windy merasa ragu apakah jalur yang dilalui selama beberapa hari ini sudah benar. Atau pula, mereka berpikir para penyihir itu berada di kondisi yang sangat menyedihkan untuk membangun markas di tempat yang terasa aura "kematiannya".


"Hehe, memang seperti ini tidak ada yang keluar. Tapi kalau kamu mendekat—"


Elena mengambil sekeping koin dan menghempaskannya ke tempat beraura "kematian" di depannya. Berjarak beberapa sentimeter dan koin tersebut menghilang. Suara besi masih terdengar meski wujud koin tak nampak.


"Seni ilusi kah?" Elena berkomentar datar. "Kalian lumayan juga untuk memiliki penyihir yang mengendalikan cahaya. Padahal itu salah satu elemen yang lumayan rumit."


"Ugh, bahkan trik setingkat ini bisa kau ketahui." Lisa merasa lesu. "Apakah ada hal yang bisa membuatmu terkejut?"


"Banyak," jawab Elena, "Cuma kau tidak tahu."


Mereka bertiga melangkah maju. Baru beberapa langkah mereka seakan melewati tirai tak kasat mata. Seketika apa yang mereka lihat berubah, dari yang sebelumnya berupa tanah berbatu tanpa kehidupan menjadi hitam rindang dengan warna hijau lebat. Bukan hutan mematikan nan berkabut seperti sebelumnya, tapi lebih seperti kebun yang terjaga. Tanaman yang indah dan Elena sama sekali tak merasakan tanda-tanda bahaya dari binatang buas. Dan lebih hebatnya lagi, tempat itu adalah gua yang sangat besar. Kalau harus membuat perbandingannya dengan lingkungan di dunia nyata, tempat itu seperti Gua Er Wang Dong yang ada di provinsi Chongquing, China.

__ADS_1


"Menarik," kata Elena, "Tak kusangka kalian menemukan tempat seperti ini di dunia."


"Hebat…." Windy terperangah. "Baru kali ini aku tahu ada tempat luar biasa seperti ini."


"Hebat, bukan? Pemimpin kami menemukan tempat ini secara kebetulan dan menjadikannya markas untuk para penyihir berlindung. Sudah puluhan tahun kami di sini dan tidak terdeteksi oleh Asosiasi Pemusnahan maupun pemerintah kerajaan manapun. Ini tempat yang sangat cocok untuk berlindung."


"{Gak salah sih.}" Aya mengingat-ingat akses jalan dan perjalanan mereka tadi. "{Buat ke sini saja sulitnya seperti buat skripsi dengan tiga dosen pembimbing yang masing-masing punya ekspektasi terlalu tinggi.}"


"Ayo!" ajak Lisa.


Lisa membimbing melewati jalan setapak. Elena mengaktifkan terus «Penerawang»-nya dan bersiaga. Kemampuannya itu melihat dan mengamati segala sesuatu yang ada di sekitar. Tempat ini terlalu terisolasi dari dunia luar. Bahkan di dalam sini seperti ada iklimnya sendiri yang berbeda. Dan yang lebih Elena awasi adalah kemampuan seorang penyihir.


Dia memang meremehkan kemampuan penyihir di dunia ini. Dia yakin bahkan bila ada 100 penyihir yang menjadi lawannya, Elena masih percaya diri untuk menang atau setidaknya kabur. Yang menjadi masalah ialah kemampuan unik masing-masing dari mereka. Mengingat kemampuan Lisa yang memiliki kesamaan dengan kemampuan cenayangnya (meski versi lite), bisa jadi Elena bertemu dengan penyihir yang memiliki kemampuan mirip kemampuan cenayangnya yang lain. Dan beberapa kemampuan cenayang yang dimiliki Elena, terdapat diantaranya merepotkan bila musuhnya memiliki itu.


Kesampingkan saja dulu soal kemampuan cenayang dan kewaspadaan Elena. Aya, kucing itu, dia santai di atas kepala Elena sambil menikmati keindahan alam di sana. Dia menjadi yang paling enak sedari awal. Lebih dari 80% pekerjaannya adalah duduk di atas kepala Elena dan mengikuti arus.


Tapi saat ini, di waktu dia mengamati sekitar, matanya menangkapnya pergerakan lincah dari makhluk kecil. Gerakan yang menggerakkan semak-semak di permukaan tanah. Dari polanya mungkin hanya tikus. Tapi entah kenapa, itu membangkitkan insting keingintahuan Aya.


Kucing itu melompat dari kepala Elena. Mendadak. Elena sampai cemberut dibuatnya. Tapi sudahlah. Kucing itu masuk ke dalam semak-semak dan pergi menjauh.


"Hei, peliharaanmu kabur m, tuh," sahut Windy, "Tidak ingin menangkapnya?"


"Biarkan saja. Nanti juga bakal kembali sendiri."

__ADS_1


__ADS_2