Menjelajah Dimensi Setelah Reinkarnasi: EztEnd

Menjelajah Dimensi Setelah Reinkarnasi: EztEnd
꧁Perkumpulan Para Penyihir: Bag. Kelima


__ADS_3

Elena melesat dan menyerang. Dia menebas memkaai wakizashinya.


*Slash!* *Slash!* *Slash!*


'Keras….'


Tebasannya berhasil memotong sulur dan tumbuhan lain di tubuh raksasa batu, tapi tak cukup untuk mengiris batuan yang menyusun tubuh raksasa itu.


*Boom!*


Raksasa batu itu mengangkat tangannya yang terkepal. Lalu dengan itu dia memukul Elena, membuat asap debu naik di tempat kepalanya tangannya mendarat.


Tidak ada keberadaan Elena di sana. Dia memakai «Teleportasi» dan berpindah menjauh, belasan meter dari sana.


"Lebih keras dari dugaanku," gumam Elena, "Apa hanya aku atau memang benar jika penggunaan energinya terlalu boros? Menciptakan golem dan mengikutkannya dalam pertarungan memang startegi yang bagus untuk menambah sekutu, namun gerakannya yang lambat dan penggunaan energinya yang sama sekali tidak efisien membuatnya menjadi pilihan buruk untuk melawan kelompok kecil elit."


§Graaaaa!!!!§


Lagi, makhluk itu berteriak keras. Seakan menantang siapapun itu untuk keluar dan bertarung melawannya.


"Aku, orang yang memiliki kemampuan «Teleportsi», akan memalukan kalau aku sampai terkena serangannya."


*Guduk!* *Gruk!*


Raksasa batu itu mengambil bongkahan tanah. Dia mengangkatnya tinggi-tinggi di atas kepalanya, lalu melemparkannya. Di udara, bongkahan tanah pecah menjadi serpihan yang lebih kecil dan lebih besar area dampaknya.


Elena memperhatikan dengan seksama. Menggunakan «Clairvoyance», dia melihat segalanya dengan jelas meski di dalam sistem gua ini teramat gelap.


"Menyebalkan saja."


Elena lari ke depan, menerjang serpihan-serpihan pecahan tanah di depan. Meski serangan itu menghujani, juga tajam sebab bercampur batuan, dia bergeming. Terkadang Elena mengayunkan wakizashi dan menebas serpihan yang tepat di depan wajahnya.


*Tep!*


Melewati hujan serpihan itu, Elena semakin dekat dengan raksasa batu. Dia melompat tinggi-tinggi sambil mengarahkan wakizashinya.


*Swoosh!*


Tak membiarkan Elena semakin dekat, raksasa batu memukul.


*Cring!*


Belum sampai pukulan itu menggapainya, Elena berteleportasi ke atas kepala raksasa batu. Berjarak beberapa meter. Dia mengarahkan ujung wakizashi ke bawah.

__ADS_1


*Stab!*


Alhasil, wakizashi tersebut menancap tepat di atas kepala makhluk itu.


§Graaah!!!!§


Makhluk itu berteriak keras. *Brak!* Dia memukul kepalanya sendiri\, tepat di tempat Elena berada. Suara keras dari batuan yang saling bertubrukan terdengar.


*Cring!*


Di sisi lain, Elena kembali menggunakan «Teleportasi» dan sampai di tempat lain.


"Sungguh bodoh orang yang membuatnya," ujarnya, "Menambahkan reseptor rasa sakit dan membuat dia memiliki gerakan refleks. Sekarang dia malah menyerang dirinya sendiri, 'kan?" kata-katanya pada Grén yang berdiri di sampingnya.


"Kau…." Grén menggeretakkan gigi-giginya.


Raksasa batu memandang tajam Elena. Matanya berpendar kuning dan nampak jelas dalam kegelapan gua bawah tanah ini. Kesal. Meski dipertanyakan apakah bahkan dia memiliki emosi, namun pandangan yang dimiliki matanya nampak kesal mengarah ke Elena.


"Gunakan kekuatan kolosal untuk mengalahkan musuh kolosal. Aku tidak suka membuang-buang tenagaku dan akan lebih baik jika memenangkan pertarungan dengan daya seefisien mungkin, tapi kayaknya kali ini harus lebih berusaha, ya."


*Blam!* *Blam!* *Blam!*


Raksasa batu itu berlari ke arah Elena. Setiap dia melangkah, getaran kuat terjadi. Serta, setiap dia melangkah, apapun yang kakinya injak hancur dan kawah mini terbentuk oleh saking berat bobotnya.


Teriakan Grén tak dihiraukan oleh raksasa batu ciptaannya. Makhluk itu terus berlari ke arah mereka. "U-Ugh, kenapa aku menciptakan makhluk cacat sepertinya…!" Grén mengerang. Ekspresi wajahnya benar-benar buruk. Dia berlari pergi meninggalkan Elena. Sudah bodo amat dengan pertarungan ini. Bisa tetap hidup sudah syukur.


Elena memandang datar wanita tua itu. Bisa saja dia membunuh Grén saat ini juga, tapi, "Kuurus nanti saja. Toh juga sudah gak punya kekuatan." Dia lalu memandang raksasa batu yang berlari padanya. "Kenapa setiap musuhku adalah makhluk raksasa di dunia ini? Apa penulisnya kurang kreatif untuk membuat monster lain?" Ia mengambil sarung wakizashi di pinggangnya dan memegangnya layaknya senjata utama. "Memorial Phantasma…," desisnya, "Bayangan Pembunuh…."


Elena memejamkan matanya. Berikutnya, bayangan hitam mulai naik dan menyelimutinya tubuhnya. Siluet tubuhnya yang terbungkus bayangan pun kemudian menghilang, menyisakan tempat kosong di tempatnya.


Selanjutnya….


*Slash!* *Slash!* *Slash!*


Elena muncul di sekeliling tubuh raksasa batu pada sisi dan sudut yang acak. Setiap dia muncul, dia akan menebaskan wakizashi dengan cepat dan tajam. Setelah satu tebasan, dia menghilang. Dia muncul kembali ke sisi lain dan memulai lagi tebasan. Hanya satu tebasan. Satu tebasan yang diulang berkali-kali. Setiap tebasannya diselimuti oleh warna hitam bak bayangan.


*Crak!* *Trak!* *Blam!*


Jumlah banyak tebasan bermunculan dan mengiris-ngiris tubuh raksasa batu. Hingga akhirnya, makhluk batu itupun hancur menjadi bongkahan batu kecil.


*Tap!*


Selesai. Elena berdiri di tengah-tengah runtuhan batu. "Dasar, benar-benar musuh yang merepotkan. Jarang-jarang aku menggunakan tenaga sebanyak ini." Dia berjongkok dan mengambilnya wakizashi yang tergeletak di sana. "Baiklah, sekarang tinggal mengamankan yang satunya." Elena berdiri tegap memandang pemukiman, arah yang dituju Grén ketika dia lari.

__ADS_1


"Atau mungkin aku harus mengeluarkan Lisa dari dimensi bayangan terlebih dulu, ya?"


~


Grén lari terbirit-birit semenjak makhluk ciptaannya tak terkendali. Dengan tanpa memedulikan dan malam yang gelap ini, dia terus berlari menuju desa.


'Cepat…,' batinnya gundah, 'Jika aku bisa sampai ke desa, para penyihir-penyihir di sana, aku bisa mengekstrak kekuatan mereka dan mendapatkan kekuatan kembali. Aku harus cepat! Tak kusangka benda itu tidak memedulikan keselamatanku. Ini kesalahan!'


*Stab!*


Sebuah pasak hitam melesat. Benda itu melintas di depan Grén sebelum sampai dan tertancap di sebuah batang pohon.


Grén sontak berhenti. Dia waspada. Pasti ada sesuatu, itu yang ia pikirkan. Berikutnya, semak-semak bergerak yang membuatnya semakin waspada. Segala kewaspadaannya tertuju pada semak-semak yang bergerak itu. Tak mungkinlah itu angin. Binatang buas juga bukan. Maka yang bisa ia pikirkan, yang melakukannya pasti berhubungan dengan gadis yang ditemuinya tadi — Elena.


"{Gyah! Akhirnya aku berhasil ke luar juga.}"


Kucing. Yang ditemui Grén adalah Aya. Tentu saja hal ini membuatnya heran dan bertanya-tanya. Aneh saja ada kucing di sini. Grén mengernyitkan dahinya atas keheranannya.


"{Kita beda bahasa, sih. Percuma aku bicara,}" celetuk Aya, "{Tapi sudahlah. Pokoknya, aku tidak bisa membiarkanmu pergi! Kayaknya kamu bahaya, deh.}"


Aya merenggangkan kaki-kakinya dan membuat gestur tubuh seperti ngajak berantem. Dia juga mengeong dan mengerang.


"Apa kamu menantangku, kucing!"


Grén menggunakan kemampuan sihirnya untuk menggerakkan sulur. Tapi untuk Aya, dia bergerak lincah dan menghindari mereka. Kemudian Aya menciptakan sebuah pasak bayangan dan melesatkannya, menusuk bahu Grén.


"Akh! Dasar kucing sialan!" Grén berteriak.


"{Tak semudah itu, Mbak Sis.}"


"Aku akan membunuhmu—"


"Hou, kau ingin melakukan sesuatu pada peliharaan kecilku?" sebuah suara dingin terdengar dari belakang telinga Grén. Itu adalah Elena. "Kau senang membuat perkara, ya."


Grén terdiam. Sangat terkejut melihat Elena yang berhasil sampai sini. "Ba-Bagaimana kau bisa selamat?"


"Aku menghancurkannya." Elena melipat kedua tangannya. "Mudah, 'kan?" Reaksinya seakan melakukan rutinitas sehari-hari — hal-hal biasa dan tidak ada istimewanya. "Kau terlalu meremehkan orang yang berasal dari dunia asal sihir. Raksasa batu seperti itu hanya mainan anak-anak untukku. Yah, aku sendiri memang masih anak-anak."


Aya bergerak. Dia melompat ke bahu Elena. "{Aku mengembara sendiri di dalam hutan, Nyan. Nanti beri aku makanan yang enak, ya?}"


Mengabaikan dialog Aya, Elena berkata, "Aku tidak peduli soal apa yang akan kamu lakukan pada para penyihir di sana, tapi nampaknya ada seseorang yang harus mengatakan banyak hal padamu."


Lisa muncul. Dia yang sedari tadi bersembunyi dalam kegelapan menampakkan diri dengan ekspresi buruk. Seperti campuran antara kekesalan dan penyesalan. Menyesal karena mempercayai orang sepertinya, juga kesal pada orang di hadapannya.

__ADS_1


"Silahkan gunakan waktumu, Lisa. Aku tidak akan menguping." Elena meninggalkan mereka berdua.


__ADS_2