Menjelajah Dimensi Setelah Reinkarnasi: EztEnd

Menjelajah Dimensi Setelah Reinkarnasi: EztEnd
꧁Perkumpulan Para Penyihir: Bag. Ketiga


__ADS_3

Makan-makan! Salah satu bentuk perayaan yang umum. Jamuan makan di sana digelar atas rangka datangnya sahabat baru (lol) yang akan bergabung dengan mereka. Jujur, penyihir di sana ada pada masa-masa sulit hingga mereka perlu berkumpul dan mengamankan satu sama lain. Itu sebabnya di saat ada kawan yang datang mereka akan senang. Senang untuk mendapatkan sahabat baru.


Di meja panjang, Elena bersama Windy juga Lisa ditemani beberapa penyihir dari desa ini bersama Grén. Berbagai macam hidangan disiapkan di atas meja, tetapi kalau bisa Elena lebih suka mie instan. Namu, sebagai bentuk kesopanan, dia mengambil sedikit makanan. Jangan terlalu banyak makan. Lagi pula, alih-alih makan, acara utama di meja ini adalah saling bercakap-cakap.


"Kalian sudah berapa lama di luar?"


"Bagaimana kondisi di sana?"


"Apa kita masih diburu?"


Tak perlu waktu lama para gadis dan wanita penyihir melontarkan berbagai pertanyaan. Menjawabnya dengan mulut penuh akan merepotkan. Inilah alasan kenapa Elena mengambil makanan cuma sebatas bentuk kesopanan.


"Ya, tidak terlalu buruk," jawab Elena bernada datar. Juga singkat.


Suasana terasa canggung sesaat. Berkat gadis itu yang asal ceplas-ceplos, sekarang bikin bingung saja orang yang melontarkan pertanyaan. Respon apa yang harus kuberikan selanjutnya? Apa dia tidak suka dengan topik ini? Sekarang harus bagaimana?


Windy menyikut Elena. Pelan. Tandanya pada Elena untuk merespon dengan lebih ramah.


"Ya-Yah, di luar sangat berbahaya. Perburuan masih gencar dan kami benar-benar harus mengamankan diri, hehehe." Windy tertawa kecil dengan canggung. Memikirkan sikap datar Elena.


Kebanyakan dari pembicaraan di sana hanya berisi omong kosong. Beberapa gadis penyihir di sini yang sudah lama hilang kontak dengan dunia luar memiliki banyak hal yang ingin diketahui. Tapi Elena tidak benar-benar menanggapi dengan serius. Kebanyakan jawaban tidak relevan dan dijawab dengan tak niat. Untuk Windy, dia sudah berusaha menjawab, hanya saja berhubungan sebelumnya dia sendiri berada di situasi yang buruk, tidak banyak yang bisa dijelaskannya.


~


Malam semakin larut. Elena meninggalkan pemukiman dan jalan-jalan sendiri di dalam gelap. Beberapa tongkat bercahaya didirikan di beberapa tempat. Tentu saja para penyihir-penyihir di sini melakukan pekerjaan dengan baik demi menata lingkungan tinggal yang nyaman. Elena sedikit memuji mereka di dalam benaknya.


Tak lama, Lisa datang menghampiri Elena.


"Tidak bisa tidur kah?" tanya Lisa.

__ADS_1


Elena berbalik. Memandang wanita itu. "Bukannya tidak bisa," kata Elena, "Tapi tidak ingin. Kalau benar-benar niat, aku hanya butuh waktu beberapa jam tidur untuk seminggu."


"Kau sangat percaya diri dengan kemampuan mentalmu. Apa kemampuan unik dari sihirmu berhubungan dengan pikiranmu?" ujar Lisa.


"Bisa dibilang begitu," jawab Elena, "Kau sendiri kurang lebih sama, 'kan? Kemampuan untuk mengintip yang kau miliki juga berhubungan dekat dengan kapasitas mental pengguna. Itu bukan kemampuan yang secara langsung memberikan kerusakan fisik maupun psikis pada lawan."


"Kemampuanku tidak sehebat itu. Aku hanya bisa mengawasi satu titik di satu waktu dan aku tetap butuh tidur layaknya orang normal," ucapnya, "Berbeda denganku juga penyihir kebanyakan, kemampuanmu seperti sangat beragam dan tidak dapat ditebak."


Elena diam. Kedua pupil matanya menatap Lisa dengan pandang tajam.


"Apa kau mau jalan-jalan?" tawaran Lisa, "Aku bisa memandumu di sini. Kau pasti belum terbiasa, bukan?"


"Bukan tawaran yang buruk."


~


Selain memiliki kemampuan sihir, penduduk di sini sama dengan manusia pada umumnya. Mereka tidur di malam hari, membuat suasana di dalam sistem gua bawah tanah ini. Tidak ada langit berbintang. Yang ada adalah langit-langit yang menjulang tinggi. Beberapa penyihir telah menyulap langit-langit itu hingga memiliki kilau dari kristal dan membuatnya seperti bintang di luar.


"Hehehe, semua ini berkat pemimpin kami, Grén. Dia memimpin dengan sangat baik," kata Lisa, "Tapi meski begitu, ada hal yang membuatmu tidak nyaman, 'kan?"


"Begitulah," jawab singkat Elena.


Lisa mendahului Elena. Dia berbalik dan memandang gadis itu. "Katakan, apa yang kurang dari tempat tinggal kami?"


Elena menghentikan langkahnya. Balik memandang Lisa. "Tidak ada, sih," ujarnya, "Dari pada tempat kalian, aku lebih tidak suka dengan orang 'Chief of Everything' kalian. Si Grén itu."


"Sekalinya kau tidak suka, setidaknya jangan mengatakannya secara terang-terangan. Dia adalah tokoh panutan kami semua. Dia adalah orang terhormat. Kau bisa membuat semua orang di sini menjadi musuhmu."


"Itu bukan urusanku. Dan tak seperti aku takut jika kalian semua menjadi musuhku. Dari pada itu, sepertinya dia sudah menunggu kita, tuh." Pandangan Elena melewati Lisa yang di hadapannya. Ia memperhatikan Grén yang berdiri menghadang jalan mereka.

__ADS_1


Grén berdiri tegak, memperhatikan Elena dan Lisa. Mimik wajahnya dengan jelas menunjukkan kekesalan dan amarah yang tertahan. Semuanya itu tertuju pada satu gadis kecil — Elena.


"Yo, angin malam ini terasa nikmat, 'kan?" sapa Elena dengan senyuman kecil.


"Gadis kecil, ikutlah denganku," kata wanita tua itu.


Sampai sini Lisa menjadi orang yang gugup. Entah apa yang terjadi di antara mereka berdua, dia mempertanyakannya. Dan apa yang akan terjadi selanjutnya, dia memikirkannya.


~


Keluar dari pemukiman tempat para penyihir tinggal, mereka bertiga masuk ke area yang lebih liar — area di mana pohon tumbuh berukuran besar dan kenampakan alam lebih mirip hutan. Sangat gelap di sini. Tidak ada cahaya bulan dan sumber cahaya lainnya. Grén dan Elena mampu bergerak dengan seakan mereka sama sekali tidak terganggu. Berbeda dengan keduanya, Lisa menjadi satu-satunya yang kesulitan. Dia memasang matanya baik-baik dan menangkap cahaya sekecil apapun yang datang.


Selepasnya, mereka sampai di sebuah tanah terbuka yang lumayan luas. Tanah melingkar dengan lantai tanah.


"Baru siang tadi aku sampai di sini, tapi kau sudah berani mengajakku ke tempat terpencil," ujar Elena, "Tidak mungkin kau mengajakku untuk berkomplot, jadi boleh kuanggap undanganmu ke mari untuk melakukan perlawanan?" Bibirnya menyeringai.


"Pengamatanmu sangat tajam, gadis kecil," balas Grén, "Dan jika aku boleh menebak, kau bukan bagian dari dunia ini, bukan?"


"Bu-Bukan bagian dari dunia ini?" Lisa kebingungan. Dia memandang Elena. "Apa maksudnya itu, Elena?"


"Biar kujelaskan," Grén angkat bicara. Nada bicaranya terasa angkuh dan seakan menegaskan bahwa ia memiliki posisi tinggi di sini. "EztEnd, penyihir, dan hal-hal sejenis, semua itu bukan bagian dari dunia ini. Keberadaan mereka adalah anomali di sini."


"Benar, begitulah kenyataannya," kata Elena, "Di dunia aku berasal ada 'sedikit' pertarungan yang merepotkan. Yah, mereka semacam organisasi *******. Merepotkannya, mereka sering membuat perkara dengan mengirim hal-hal ke luar dunia sana, dan salah satu yang mereka kirim sampai ke dunia ini."


"Ja-Jadi, kamu ini sebenarnya apa, Elena?"


"Aku? Aku hanya seorang agen yang dikirim untuk mengatasi masalah di dunia ini," jawab Elena, "Aslinya tidak masalah membiarkan dunia ini hancur dan menjadi reruntuhan, tapi tentu kami tidak sekejam itu, 'kan? Bisa dikata, aku datang sebagai perwakilan yang bertanggung jawab."


"Khukhukhu… jadi benar, kau sungguh bukan individu dunia ini." Grén tertawa dengan sendirinya. "Tak kusangka aku akan bertemu dengan makhluk dari dunia lain. Sungguh luar biasa! Akhirnya setelah sekian lama!"

__ADS_1


Tawa Grén menggila. Dia menjadi wanita tua dengan tawa liar atas kebahagiaan yang meluap-luap. Di sekitarnya, atmosfer terasa berubah dan semakin berbeda.


"Dan kau sendiri, boleh aku menganggapmu sebagai 𝕰𝖟𝖙𝕰𝖓𝖉?"


__ADS_2