
Dadu adalah sebuah alat berbentuk bangun ruang di mana di setiap sisinya terdapat satu angka. Umumnya, dadu memiliki bentuk kotak dengan keenam sisinya yang masing-masing tertulis angka 1 sampai 6. Di saat kita melemparkan sebuah dadu, kemungkinan angka yang kita inginkan muncul ialah satu dibanding jumlah keseluruhan sisi dadu. Dengan kata lain, memainkan dadu berkiblat pada keberuntungan. Hampir tidak ada yang pasti dalam permainan yang menggunakan dadu. Entah itu ular tangga, monopoli, dan sebagainya. Dadu merupakan alat perjudian — sebuah dosa yang akan membawa pada kemalasan.
Namun bagaimana bila dikatakan bahwa kemungkinan angka yang kita inginkan memiliki peluang 100% muncul pada sisi dadu nantinya? Itu sudah bukan merupakan perjudian lagi, melainkan sebuah strategi.
Dan malam ini Elena bersama Lisa mengunjungi sebuah tempat perjudian. Tempat di mana keberuntungan diagung-agungkan dan didewakan. Siapa yang menang akan mendapatkan kenyamanan dalam hidupnya dan barangsiapa yang kalah maka dia akan merana nasibnya.
"E-Elena, a-apa tidak masalah kita bermain di sini?" tanya Lisa bersuara gemetar, "Perjudian hanya akan merugikan, 'kan?"
"Itu bila kita berjudi," ucap dingin Elena, "Berbeda cerita bila kau bisa membuat kemungkinannya menjadi 100%."
Perjudian lebih sering merugikan. Karena jelas, bahwa total uang yang diikutsertakan dalam permainan tidak akan bertambah, melainkan hanya berpindah tangan. Berpindah dari si kalah ke si pemenang. Inilah kenapa judi bukanlah pekerjaan yang produktif.
Elena dan Lisa masuk ke dalam rumah judi. Sontak Lisa langsung memasang ekspresi jelek. Bau alkohol dan lainnya bercampur menciptakan aroma kental menusuk hidung. Di dalamnya, suasana seakan tak kondusif. Tapi di sampingnya, Elena tetap memasang ekspresi datar biasanya.
“Wah. wah, jarang sekali ada dua wanita datang ke mari,” seorang lelaki berucap. Entah dia staff atau pelanggan lain. “Perihal apa yang membawa kalian ke mari? Membutuhkan uang? Kalian pasti bisa mendapatkan banyak dalam semalam.” Kepada Elena dia menambahkan, “Terutama kau, gadis kecil.”
Tentu yang dikatakan lelaki itu memiliki hubungan dengan hal-hal jorok.
“Tidak, kami ke sini untuk bermain.” Elena mengibaskan tangan di depan wajahnya. Mengusir bau yang sama sekali tak hilang. “Begini-begini aku ahli dalam tebak-tebakan dan melempar dadu, lho, paman.”
“Hou, sangat berani, ya?” Dia menyeringai. Menunjukkan intimidasi. “Tak takut kehabisan uang tabungan dari ibumu, gadis kecil? Anak kecil sepertimu sebaiknya minum jus jeruk saja.”
“Ya, sebenarnya aku ingin memesan benda itu.” Elena membenarkan.
Lelaki tadi terdiam dengan ekspresi jelek. Tingkah intimidasinya, tak menyangka gadis di depannya malah mempermainkannya.
~
Elena berjalan di depan dengan Lisa mengikuti yang memiliki ekspresi bergetar. Keduanya berhenti di depan meja seorang lelaki tua. Tubuh lelaki itu kering hingga tulangnya terlihat. Bak tubuh tanpa daging.
__ADS_1
“Pak tua, boleh aku tahu permainan apa yang ada di sini?” tanya Elena.
Di meja depan lelaki tua itu terdapat tiga gelas kayu yang tengkurap. Mereka menutup suatu benda dalam diri ketiganya.
“Permainan di tempatku sangat sederhana, gadis kecil,” ucap kakek tua itu, “Di tiga gelas ini salah satunya terdapat emas. Berikan uangmu padaku dan akan kugandakan jika kau bisa menemukan emas tersebut di antara tiga gelas.”
“Dan jika kalah?” tanya Lisa pelan.
“Maka akan aku akan mengambil uangmu.” Kakek itu tertawa kecil menyudahi kalimatnya.
Lisa menelan ludahnya.
Ini bukan permainan yang menguntungkan. Menebak satu di antara tiga gelas berarti memiliki peluang menang ⅓. Sekitar 33%! Lebih banyak peluang untuk kalah dalam diri mereka. Dan itupun belum tentu di kakek tua di depan mereka jujur.
“Baik.” Elena tesenyum kecil. “Mari kita mulai malam ini dengan permainan sederhana.” Dia menyerahkan sekeping koin emas pada kakek tua di hadapannya.
Elena mengamati satu per satu gelas kayu yang terbalik di atas meja. Baginya sangat mudah untuk menemukan di mana emasnya. Mengapa? Tentu memakai «Penerawangan». Kemampuan itu memungkinkannya melihat benda di tempat lain.
“Mari kita lihat.”
Elena tahu mana yang benar, tetapi dia sengaja kalah. Dia memilih saja satu yang berisi batu kerikil. Membukanya, dan memang isinya hanya batu kerikil.
“Sayang sekali, gadis kecil.” Kakek itu tertawa. “Pilihanmu salah! Kau kalah!”
“Hmm.” Elena menutup kembali kerikil tersebut. “Tapi perjudian memang permainan yang menarik, ya?” Elena lagi menyerahkan sekeping emas pada kakek tua itu.
“Setelah merasakan kekalahan kau masih mau lanjut?” Kakek tua itu menerima uang Elena. “Aku ingin tahu kapan kamu kapok.” Dia mengacak urutan gelas. Dengan cekatan hingga mata manusia normal kesulitan mengikuti. Sulit mengikuti gelas yang mereka ambil tadi. “Silahkan bermain hingga uangmu habis.”
“Seperti yang kau katakan.”
__ADS_1
Dari sini Elena tahu bahwa strategi menggaet pelanggan kakek ini buruk. Seharusnya dia membenarkan pelangganya menang di putaran pertama entah — bagaimana caranya. Ini supaya pelanggan itu tergiur dan terlena untuk bermain judi terus-terusan. Ini pula trik yang sering digunakan agen judi, utamanya judi online.
Lisa merasa tak enak. Buruk rasanya Elena menghambur-hamburkan uangnya demi permainan ini. Terlebih Elena kalah lagi. Dua kali dia kalah hingga totalnya menjadi tiga. Tiga keping emas terbuang sia-sia.
“E-Elena, bukankah ini saatnya berhenti?” pinta Lisa.
“Jangan dulu. Aku masih mau bermain.” Menambah, Elena mengeluarkan kepingan uang emas lagi.
Tentu saja, respon kakek itu penuh dengan riang hati. Mangsa mudah dengan pemasukan besar! Malam ini adalah keberuntungannya — setidaknya sampai sebelum Elena melanjutkan permainan.
Mengapa?
Pasalnya Elena menang! Menang secara beruntun. Bukan hanya satu atau dua, tapi sampai enam kali! Ini minus tiga plus enam. Dia mendapatkan keuntungan tiga keping emas. Ini sampai membuat kakek itu keheranan.
“Cukup gadis kecil, aku sudah bangkrut,” ucap kakek itu penuh ketakutan, “Aku tidak bisa memberikan apa-apa lagi jika kau lanjut bermain.”
“Iya, iya, sudah kuduga kalau aku merupakan orang yang beruntung.” Elena mengangguk dengan bangga. “Lagi pula keping emas memang mahal.”
Ada pula tujuan Elena memainkan ini, yaitu untuk “memecah” uangnya. Dia tau kakek itu tak mungkin menggunakan koin emas saja untuk reward, tetapi juga memberikan koin lain dengan tingkat harga lebih rendah yang jumlahnya banyak.
Elena berbalik. Dia menyerahkan sekantong koin perak bercampur tembaga pada Lisa. “Bermainlah dengan permainan yang bisa kau menang menggunakan kemampuan «Mengintip»-mu,” bisiknya.
“Tunggu, jadi itu rahasiamu?” Lisa menjawab pelan.
Dan hal yang lebih membuatnya keheranan, dengan ini dia tahu Elena memiliki kemampuan serupa dengan dirinya.
Elena berjalan menjauh ke luar bangunan sambil melambaikan tangan pada Lisa. “Jangan sampai mabuk-mabukan! Kau akan membuang semua uang itu!”
“{Tipikal orang buruk.}” Aya yang sedari tadi menunggu di luar bangunan melompat ke bahu Elena.
__ADS_1