
Mari kita mundurkan waktu sebentar. Kita kembali ke waktu ketika Elena meninggalkan circle-nya.
Waktu itu, Elena telah memiliki berbagai skenario dan melakukan perhitungan pada apa yang mungkin terjadi. Dan hasilnya, dia sendiri menyadari betapa merepotkannya apa yang akan terjadi di depan. Dan tahukah kalian bahwa menyelesaikan masalah tidak selalu dari depan. Setan saja mengatakan bahwa dia akan mendatangi manusia dari depan, dari belakang, dari kanan dan dari kiri manusia. Ya kenapa kita harus selalu mengatasi masalah dari depan? Bisa kita mencari jalan lain untuk menyelesaikan masalah dengan lebih mudah.
Elena sangat menyadari menyelamatkan satu orang sama sekali tidak akan menyelesaikan masalah. Kali ini mungkin dia bisa mengatasinya, tapi bagaimana dengan setelahnya? Setelah masa singgahnya selesai? Tak mungkin pula dirinya terus menetap di sana sampai sisa hidupnya. Dan di sinilah, Elena berencana memunculkan sosok "penyihir" yang sebenarnya. Tinggal menyamar, nanti juga beres sendiri.
Tapi itu hanya rencana awal.
Di kala dirinya pergi demi membuat persiapan, dia menemukan "hadiah" yang cukup bagus. Sekelompok orang tengah berkumpul di luar desa. Penampilan pakaian mereka sama buruknya dengan orang-orang desa, namun tidak dengan tubuhnya. Tubuh mereka subur dan kuat berada di kondisi prima. Mereka seakan orang dari tempat lain yang menyusup dan sengaja membikin kerinduan.
Menyuruh Aya untuk masuk ke perkumpulan orang-orang mencurigakan itu, setelahnya banyak informasi yang Elena dengar dari Aya.
"{Yaps! Mereka membuat konspirasi!}" kata Aya sambil tersenyum getir. "{Kayaknya mereka mau menghancurkan desa itu.}" Dalam benaknya, dia sudah berpikir bila Elena akan menimpa hal-hal pedih pada mereka. "{Apa yang mau kamu lakukan?}"
"Tetap pada rencana awal," jawab Elena, "Tapi ada sedikit perubahan."
"{Dan apa itu?}"
"Di waktu massa marah dan menuntut wanita tadi dieksekusi, nampakan lah dirimu dalam wujud mengerikan."
"{Yare, yare, daze~ Benar-benar dapat bagian merepotkan nih aku.}"
~
Kembali ke saat ini dan di tempat Rena dkk., Aya menunjukkan kemampuannya yang memberikan rasa takut. Rasa takut itu dapat dirasakan oleh kerumunan massa yang marah serta Rena cs. yang kala itu ada di sana. Beberapa dari mereka ada yang tak kuasa menahan takut dan melarikan diri, tetapi beberapa lainnya ada yang tak gentar dan justru mengarahkan senjata pada Aya.
Rena masuk ke golongan orang-orang tak gentar itu. Dia mengambil senjata kembarnya, lalu melesat ke arah Aya.
__ADS_1
"Heyah!" Rena melompat. Dia menerjang Aya.
'{Dah ketebak sih kalau bakal gini jadinya,}' batin Aya yang kini memiliki wujud harimau.
Aya melompat ke atap bangunan lain. Dia tak bisa melawan Rena, bukan karena lemah tapi sebab Rena merupakan kawan. Alih-alih Rena cs., Aya mendarat di depan kerumunan massa. Bukan hal bagus untuknya semenjak ujung garpu taman diarahkan padanya. Tapi Aya yang juga tak gentar, dia mengaum dengan suara keras dan besar membuat sebagian dari kerumunan tak bisa berdiri.
Tapi siapa sangka ada kejadian mengejutkan bagi Aya.
*Slash!*
Fint maju dengan pedang pendeknya. Dia lalu menebaskan pedang itu ke arah Aya. Masih beruntung harimau jadi-jadian itu bisa menghindarinya.
Aya melompat ke belakang kemudian mengawasi Fint di hadapannya. "{Bocah ini lumayan juga. Padahal dia penakut.}"
Aya lagi mengaum. Sejenak Fint gemetaran. Terlihat jelas pada kakinya. Namun dengan keberaniannya, dia berhasil mempertahankan diri tetap berdiri.
'{Dipanggil 'hewan jahanam' aku sampai-sampai,}' batin Aya, '{Tai! Gak tau terima kasih banget padahal sini ngusahain biar sana tetap hidup.}'
"Usaha yang bagus, bocah," sahut Dorm. Dia mengambil pedang pendek di pinggangnya. "Aku suka semangatmu." Senjatanya dia arahkan ke Aya.
"A-Aku juga akan ikut ber-bertarung." Lisa menyusul dengan senjatanya. Dia tak seberani itu untuk berucap lantang.
Tambah satu lagi, itu adalah Rena yang mendarat di samping Fint. "Ya! Kita berempat pasti bisa mengalahkannya!" suara Rena mengobarkan semangat, "Mari kita tunjukkan kalau bukan gadis itu yang bisa mengalahkan monster!"
"{Bruh! Aku bukan musuh!}"
Aya mengaum keras. Kalau Elena atau orang yang paham bahasanya di sini, dia akan mendapati kutukan, umpatan, dan kata-kata kasar keluar dari mulut Aya. Kucing yang menjelma harimau itu mengutuk akan nasibnya yang mendapatkan tugas susah. Susah karena harus bertarung tanpa membunuh musuhnya tapi tetap bertahap hidup. Kesulitan Aya meningkat ketika warga desa ada yang memilih membantu Rena cs. menghadapi Aya.
__ADS_1
Jika ada yang bisa disyukuri Aya, itu adalah dirinya yang tidak harus mengerjakan ujian Gaokao.
~
Berada di lokasi yang lain, Elena mengikuti sekelompok orang mencurigakan. Dia bersembunyi di balik pepohonan mati dan batu besar. Tanah gersang ini memberikan tantangan tersendiri untuk bersembunyi. Tapi masih mudah bagi Elena dengan «Penerawangan»-nya. Dia bisa mengawasi dari jarak jauh.
Sayang bukan berarti kemampuan «Penerawangan» milik Elena mahakuasa dalam mencari informasi. «Penerawangan» hanya menunjukkan gambaran visual dari suatu tempat yang disorot. Seperti CCTV. Kemampuan ini tidak menyertakan audio yang berarti Elena tidak tahu apa yang mereka katakan. Pilihannya, Elena bisa berusaha menebak apa yang mereka katakan dari gerak bibir, tapi informasi yang didapatkan tidak lengkap.
Terus berjalan menjauh dari desa, sekelompok orang itu bersama Elena masuk ke dalam hutan. Hutan dengan pepohonan, ranting, dan ilalang yang mati mengering. Tak luput tanah pecah-pecah dengan retakan. Sungguh suasana kering nan gersang. Berada di sore hari menjelang malam, penggambaran "horor" tepat dikatakan di sana.
Terus berjalan masuk ke hutan, sekelompok orang ini sampai di sebuah mata air. Mata air menggenang dalam kolam kecil. Ditumbuhi rumput hijau, bunga yang indah, dan tumbuhan segar di sekelilingnya kolam air itu. Terbalik seratus delapan puluh derajat pemandangan di sana dengan pepohonan hutan mati.
Satu dari mereka berdiri di tepi kolam. Kemudian mulailah air bergejolak — mengaduk kolam tak tenang. Adegan berikutnya, sebuah bola muncul dari kolam air. Bola hijau seukuran kepalan tangan itu melayang di udara kemudian ditangkap oleh salah satu dari mereka.
'Itu….' Dari kejauhan Elena memandangku bola hijau giok. Dia teringat akan sesuatu. 'Jadi begitu, bola itu seharusnya memiliki fungsi menyerap 'energi'. Jadi mereka membuat bola itu mengambil 'energi kehidupan' hutan dan tanah ini dan membuat tempat ini menjadi tanah gersang?'
*Cring!*
Elena berteleportasi mendekati kelompok orang itu.
Dia menginterupsi. Berkatalah Elena, "Tuan-tuan sekalian, apa kalian tahu apa yang kalian lakukan?"
Segera setiap orang dalam kelompok mengarahkan perhatiannya pada Elena. "Siapa kau!" itu perkataan mereka semua. Serentak.
"Panggil saja 'Dark Tracer'. Mana mungkin aku memberi informasi asli pada kalian." Elena berjalan santai mendekati mereka. "Jadi, tuan-tuan, bisa kalian beritahu apa yang kalian lakukan?" Senyuman terukir di wajah Elena. Senyuman merendahkan dan mencemooh.
Masing-masing orang di kelompok itu memiliki pikiran yang sama: Orang ini harus dibunuh. Segera setiap dari mereka mengeluarkan pisau dan menerjang Elena.
__ADS_1