Menjelajah Dimensi Setelah Reinkarnasi: EztEnd

Menjelajah Dimensi Setelah Reinkarnasi: EztEnd
꧁Monster di dalam Kabut: Bag. Ketiga


__ADS_3

Monster di depan Elena memekik dan berteriak. Teritorinya terganggu. Dia terusik. Dengan geram ia menggerakkan tentakel di kepalanya. Jumlah mereka banyak. Masing-masing dari mereka menggeliat di udara. Kemudian setelah itu\, *Syut!*\, tentakel memanjang dan melesat\, membelah udara dan mengarah langsung ke Elena bak tombak.


*Tep!*


Elena melompat. Hampir saja serangan itu mengenainya.


'Dia cepat!' batinnya.


Kaki Elena mendarat di atas salah satu tentakel yang mengincarnya tadi. Dia berlari di atas sana mendekati monster di hadapannya, setidaknya sampai sebelum dia merasa kaki lebih susah diangkat. 'Lengket. Merepotkan saja.' Elena memandang tentakel di bawah kakinya.


*Srut!*


Tentakel yang Elena pijak menggulung dirinya. Tentu Elena menyadarinya. Dia memotong tentakel dilanjutkan melompat ke udara.


Tak berhenti sampai di sana serangan si monster. Belasan tentakel melesat ke Elena dan melilit gadis itu yang tak memiliki pijakan. Seketika Elena dililit tentakel yang berlapis-lapis. Makin kuat saja cengkraman tentakel seakan dan memang ingin meremukkan apa yang ditangkapnya — Elena. Hanya sepersekian detik saja, lilitan bisa meremukkan tulang.


*Cring!*


Sebelum itu, Elena menggunakan «Teleportasi». Dia menanggalkan jubahnya dan meninggalkannya di titik awal teleportasi — lilitan tentakel.


Bukan seperti Elena tidak bisa berteleportasi membawa jubahnya, hanya saja setelah jubah itu berkontak dengan tentakel, ada lapisan lendir menjijikkan. Tentu Elena tidak ingin memakai pakaian kotor atau ada zat tak teridentifikasi di sana.


Ada pun objek lain yang Elena tidak bawa berteleportasi, itu adalah kucingnya. Aya melompat setelah tubuh Elena terlilit. Sehingga ketika Elena terlilit, dia tidak dalam bahaya dan tidak perlu ditolong.


Kucing itu kini mendarat di tanah. Agak jauh di samping Elena. Sama seperti pemiliknya, Aya memandang makhluk besar di depannya.


"Reaksinya dan gerakannya cukup cepat. Kekuatannya juga tidak bisa diremehkan. Lebih lagi aku tidak suka dengan tentakelnya yang berlendir." Elena bersiap dengan wakizashinya.


"{Setuju.}" Aya melebarkan kaki-kakinya. Bersiap dalam pertarungan. "{Dia musuh yang lumayan tangguh.}"


*Crt!* *Zrt!*


Elena menggunakan «Electrokinesis» — kemampuannya mengendalikan listrik. Bersamaan, Aya memanipulasi Kegelapan hingga menyelimuti tubuhnya. Mereka berdua menghimpun kekuatan dan menjadi lebih kuat! Meski itu harus mengeluarkan lebih banyak tenaga.

__ADS_1


Berikutnya makhluk di hadapan keduanya memekik, menjadi tanda babak baru pertarungan dimulai.


Kabut putih tebal menyembur dari sekeliling makhluk itu. Makin lama kabut makin tebal. Setelah satu pekikan lagi dan kabut menjadi gumpalan putih pekat di tempatnya, melesatlah tentakel, gading tulang, dan serpihan sisik kokoh nan tajam ke arah Elena dan Aya. Makhluk tersebut menyerang dengan liar dan membabi buta ke segala penjuru.


*Slash!* *Slash!* *Slash!*


«Electrokinesis» Elena memungkinkan dirinya bergerak lebih cepat. Dia menebas dengan kecepatan yang tidak mungkin dilakukan manusia biasa. Sangat cepat. Tak ada satupun tentakel, gading tulang, maupun sisik keras yang tak terpotong setelah masuk ke area tebas Elena. Kombinasi antara seni listrik dan penajaman indera penglihatan membuat seni bermain wakizashi Elena berada di level baru.


Di sampingnya, Aya tidak menyerang. Dia hanya bertahan. Kegelapan yang ia ciptakan membentuk selimut berlapis-lapis di depan dirinya. Segala serangan yang berbenturan dengan itu berubah warna menjadi gelap dan terurai dalam pembusukan.


Pertarungan menjadi stabil, setidaknya untuk sementara waktu. Karena melihat gumpalan kabut, gumpalan tersebut makin meluas! Tentu, Elena bisa menggunakan «Aerokinesis» untuk mengusirnya, tapi segala itu apa? Mereka mengulang pola yang sama? Tidak! Pertarungan harus membawa perubahan! Perubahan yang menguntungkan Elena dan Aya!


Mata Elena yang sejernih kaca itu memantulkan segala yang ia lihat. Penglihatannya sangat detail. Dan otaknya sebagai cenayang cukup kuat untuk memproses informasi apa saja yang ditangkap inderanya itu dengan sangat amat tepat. Dia melihat setiap serangan yang diluncurkan.


'Pertarungan ini…. Pertarungan ini mengingatkanku pada game tipe hell bullet — game yang membiarkan seisi layar penuh akan tembakan peluru dan player harus menghindarinya,' batin Elena, 'Aku membutuhkan 'bom' untuk menghilangkan semua serangannya. Mendekat dengan «Teleportasi» kurang bijak jika selain kau hanya diserbu peluru.'


Elena menggenggam wakizashi menggunakan kedua tangannya. Dengan «Photonkinesis» ia memanipulasi partikel cahaya dan dengan «Umbrakinesis» ia memanipulasi bayangan. Dengan dua kombinasi ini, dia membuka wakizashi miliknya berpendar putih terang di satu sisi dan hitam legam di sisi lain.


"Fantasi Keledioskop: Memorial Phantasma," desisnya.


"Aya!"


Kucing itu menyahut bentakkan Elena.


"{Iya, iya, aku tahu, kok.}"


Elena mengantarkan arus listrik ke Aya, sedangkan kucing itu melemparkan sebagian dari kegelapannya. Mereka berdua saling bertukar dan mencampur elemen masing-masing. Gabungan dari keduanya menciptakan petir berwarna hitam gelap.


"{Hehehe, sudah lama aku tidak memakai kekuatan ini,}" Aya terkekeh, "{Mari kita lihat, sampai mana aku menguasainya.}"


Aya menghilangkan lapisan kegelapan yang menjadi perisainya. Seketika serangan dari si monster menghujaninya. Tapi bukan masalah untuknya, sebab Aya bisa menghindari semuanya.


Gerakan Aya menjadi lebih gesit. Berkali-kali lipat. Dia melintasi setiap celah-celah sempit dari serangan. Pada satu titik, dia mencakar tentakel yang melintas.

__ADS_1


"{Muahahaha! Inilah kekuatanku yang sebenarnya!}"


Mendengar Aya berucap demikian, Elena bergumam, "Padahal cuma kekuatan pinjaman. Berani sekali sombong dia," suaranya pelan, "Sudahlah, tapi memang sifat 'kegelapan' miliknya memang sedikit berbeda dengan «Umbrakinesis»-ku."


Bola yin-yang menghilang membuat serangan kembali menghujani Elena.


Gadis itu masih tenang. Dia memegang wakizashi dengan tangan kanannya sedang tangan kirinya memegang topi penyihirnya. *Bet!* *Brt!*\, Suara listrik terdengar dan sambaran petir hitam makin intens di tangan kanan Elena. Berikutnya disertai suara ledakan\, wakizashi di tangan kanan Elena menjelma menjadi tombak.


Tombak panjang — sekitar satu meter — dengan warna gelap disertai petir hitam-merah yang menyambar-nyambar. Elena memegang tepat di tengah-tengah tombak tersebut.


"Okay, let's rock!"


Elena melesat maju. Dia memutar-mutar tombaknya dan memotong setiap serangan yang mendekatinya. Semua serangan langsung saja tercerai berai dan hancur berkat tombak Elena. Lalu menggunakan topi penyihirnya, dia melepaskan topi itu dan mengibaskannya. Dari sana granat-granat berjatuhan.


*Bom!* *Bom!* *Bom!*


Ledakan-ledakan kecil beruntun berwujud dan seakan menjadi serangan yang lebih besar. Bersamaan dengan itu, ledakan juga menerbangkan kabut.


Nampaklah mata dari makhluk itu yang mencari-cari Elena dari sisa ledakan. Namun tak ketemu.


"Di sini!" pekik Elena.


Dia menemukan Elena yang berada di langit. Elena memutar-mutar tombak di atas kepala menggunakan kedua tangannya. Tentu, makhluk tersebut tak membiarkan Elena melakukan apa yang akan Elena lakukan. Makhluk itu menyerang dengan berbagai variasi serangan yang ia punya. Tapi tak semudah itu ….


*Scratch!* *Scratch!*


Aya mencakar tubuh makhluk itu dalam-dalam. Darah muncratnya dari bekas cakarnya dan bekas tersebut juga memiliki sisa warna hitam dengan bau busuk. Juga, darah yang keluar berwujud nanah.


"{Tak semudah itu, Ferguso….}"


Sebentar, perhari tersebut berpindah pada Aya. Tapi segera, dia beralih kembali memperhatikan Elena. Sayang sudah terlambat!


"Selesai sudah!"

__ADS_1


Elena melemparkan tombak bak baling-baling ke monster itu. Mata si monster terpaku pada tombak baling-baling sebelum dia lenyap dalam ledakan besar yang memusnahkan.


__ADS_2