
Malam harinya karavan beristirahat di dalam hutan. Suasana terasa "gelap" saat itu. Bukan hanya gelap secara harfiah sebab malam hari tanpa bulan dan di dalam hutan, tetapi juga terasa gelap hati bagi mereka yang kehilangan rekan. Memang, keberadaan Elena yang berhasil mengalahkan EztEnd seorang diri adalah cahaya harapan, tetapi mereka yang ditinggalkan rekan tetap mendapati kelebihan. Juga, beberapa pedagang dalam karavan kehilangan barang-barang.
Api unggun dinyalakan. Elena, Lisa, Fint, dan Rena mengitari satu api unggun yang sama. Adapun Aya, dia asyik menjelajah hutan. Toh juga, kucing salaku hewan nocturnal lebih aktif di malam hari.
"Kamu memang hebat, ya?" ucap Rena.
"Diamlah." Elena berucap dengan wajah tanpa ekspresinya. Dia memandang ke bawah. "Ini bukan saat yang tepat untuk memberikan pujian."
"Eh? Kenapa?" tanya Rena yang seakan tak tahu apa-apa. "Bukankah mengalahkan EztEnd seorang diri memang hebat?"
"Bahkan jika kau berkata demikian." Elena memandang ke lainnya — orang-orang yang telah kehilanganmu kawan serta sahabat seperjuangan. "Setidaknya berikan waktu bagi mereka untuk bersedih hati. Tak semua orang bisa bersikap acuh pada orang tersayangnya."
Suasana di tempat mereka terasa sunyi. Kobaran api memang memberikan kehangatan, namun tetap terasa dinginnya untuk sebagian orang. Dan yang lebih menyeramkan, Elena yang sejak awal tahu ada EztEnd di sana tak mengabari dan mengabaikan. Justru dia memancing EztEnd tersebut buat muncul. Dengan kata lain ia memiliki kontribusi atas kematian sebagian dari mereka.
Mah, meski begitu Elena juga memprediksikan kalau dia diam pun EztEnd itu tetap akan muncul dan membuat kerusakan dengan sendirinya. Elena seperti bensin yang disiramkan ke kobaran api. Tanpa Elena sekalipun kobaran api tetap bisa menghancurkan cepat atau lambat.
*Cretak!*
Suara kayu bakar dalam nyala api terdengar memecah kesunyian.
"Maaf, aku permisi sebentar." Lisa beranjak. Dia pergi meninggalkan tiga lainnya. Tidak ada yang memberikan respon padanya.
Dalam kesunyian, Elena memandang Fint dan berucap, "Sekarang bagaimana? Kau sudah melihat kematian orang-orang. Bahkan kau sendiri hampir mati. Apakah kau akan terus ikut bersamaku dan 'mungkin' saja mati dalam prosesnya atau kau mau pulang saja? Sehubung kita belum jauh dari kota."
"Aku…," suara Fint terhenti.
"Aku menunggumu jawabanmu esok pagi." Setelah berkata demikian, Elena berdiri dan beranjak pergi.
__ADS_1
"Mau ke mana dia, ya?" tanya Rena pada dirinya.
~
Lisa berjalan sendiri di dalam hutan. Hampir tidak bisa melihat dirinya. Cahaya yang terlalu gelap tak cukup untuk dapat ditangkap matanya. Tetapi, dia memiliki kemampuan «Mengintip». Kemampuannya ini digunakan olehnya sebagai pengganti mata sampai dirinya bisa melihat dengan normal.
"Hah… apa yang aku lakukan?" tanyanya pada diri sendiri, "Kenapa aku meninggalkan mereka?"
Dirinya mengingat kembali yang sebelumnya. Aslinya tidak ada masalah dengan lainnya. Dia hanya merasa perkataan Elena terasa terlalu berat. Meskipun kematian merupakan hal lumrah di zaman ini, tapi melihat kematian massal tepat di depan matanya agak berbeda. Ini pertama kalinya ia menonton kematian seperti itu. Terlebih, dia sendiri hampir mati ketika EztEnd cacing tadi menghadap dirinya.
Namun yang ia permasalahkan adalah Elena. Gadis itu terlalu misterius diperhatikan dari sisi manapun. Mulai dari dirinya yang berjalan kaki dari pada ikut di kereta, kekuatan fisik yang tak masuk akal, dan lakonnya yang misterius. Siapa Elena sebenarnya? Apa tujuannya? Dan mengapa dia seakan sengaja memancing mereka untuk bertemu EztEnd siang tadi? Dan apakah Elena memang sengaja? Apakah gadis itu merupakan musuh?
Lisa mendesah pada selusin pertanyaan dalam kepalanya. Tak peduli dipikirkan berapa kali, Elena terlalu misterius. Di saat itulah dia mendengar suara kucing mengeong. "Suara ini… , Aya, 'kan?" Dia menengok dan menemukanmu Aya yang merebahkan badannya di sebuah batang pohon.
Sepasang mata Aya silau seakan memancarkan cahaya kuning. Bulu kucing itu yang berwarna hitam menyatukan dirinya dengan kegelapan malam di dalam hutan. Hanya sepasang matanya lah yang membuatnya lebih mudah diketahui. "{Manusia, apa yang kamu lakukan di sini?}" tanyanya memakai bahasa kucing. "{Terserah. Tidak seperti kau mengerti perkataanku,}" ucapnya sebelum dia merasa tubuhnya diangkat.
"Nee, Aya, apa kamu tahu perihal Elena? Kamu hewan peliharaannya, 'kan?" berkata Lisa pada kucing itu seakan kawan bicara. Tentu, dia tak mendapatkan jawaban. Kalaupun dapat dia tak akan paham. "Dia orangnya sangat misterius. Aku tidak tahu apa kemampuannya."
"{Iya, dia memang psikopat orangnya.}"
"Seorang penyihir memiliki satu kemampuan unik," kata Lisa, "Yang bisa mengendalikan api hanya bisa mengendalikan api, yang mengendalikan air hanya bisa mengendalikan air. Aku sendiri memiliki kemampuan «Mengintip». Hanya satu itu saja. Tidak pernah kudengar ada penyihir yang memiliki dua kekuatan atau lebih."
"{Yah, Elena secara teknis memang bukan penyihir. Wajar kalau dia berbeda. Meski kemampuannya mirip itu, sih.}"
"Tapi Elena, dia bisa memakai banyak kemampuan. Pertama kali aku melihat pertarungannya, dia seperti membuat pedangnya bercahaya. Kupikir dia bisa mengendalikan cahaya. Lalu saat aku mencoba menemuinya saat itu, tiba-tiba ada ledakan di tempatnya. Kupikir dia juga memiliki kemampuan lain, dan itu adalah membuat ledakan. Tapi dipikir lagi, kekuatan fisiknya juga tak masuk akal untuk usianya. Dia terlalu misterius."
"{Aku rasa kamu terlalu bodoh untuk berdialog dengan hewan.}"
__ADS_1
"Dasar, apa sih yang aku lakukan?" Lisa terkekeh. Dia lalu meletakkan Aya kembali. "Mana mungkin kucing bisa mengerti apa yang aku katakan?"
"{Tidak, tidak, tidak, aku benar-benar mengerti yang kamu katakan. Kamunya saja yang tidak mengerti perkataanku.}"
"Baiklah, sebaiknya aku kembali~"
~
Di tempat lain, di tempat yang tak diketahui, Elena berada di sebuah tempat yang dipenuhi gugusan bintang. Dia seperti melayang, tapi tidak! Jatuh juga tidak. Tempat ini tak diketahui keberadaannya.
Beberapa saat menunggu, sebuah celah hitam terbuka. Lalu dari sana Noctis keluar.
"Gadis kecil, tak kusangka kau akan masuk ke ruang spatial pribadiku," suara Noctis terdengar tak senang, "Kau ingin melapor kah? Tidak bisakah kau pakai cara yang biasa?"
"Maaf, maaf, Noctis," jawab Elena mengentengkan. Dia bahkan bisa tersenyum. "Tapi salah satu kenalanku di sana memiliki kemampuan yang mirip dengan «Penerawangan» milikku. Aku tidak mau dia tahu hubunganku denganmu."
"Terserah." Noctis bersedekap. "Apa yang ingin kau laporkan, gadis kecil."
"Tidak banyak," kata Elena, "Sejauh ini aku sudah bertemu dengan seorang penyihir. Menurut informasi yang kugali dari kepalanya menggunakan «Telepati», penyihir di dunia sana hanya memiliki satu kemampuan. Sudah begitu, sejauh ingatannya, kebanyakan penyihir itu lemah. Dan entah kenapa mereka identik dengan wanita."
"Dibandingkan seorang pria yang merupakan pejuang, mana yang lebih kuat?"
"Tentu saja penyihir," jawab Elena cepat. "Mereka memiliki keunggulan dari kemampuan sihir mereka."
Noctis mengangguk. "Sejujurnya aku tidak peduli dengan laporanmu, tapi terus lanjutkan pekerjaanmu di dunia sana."
"Baik, Pak!" Elena memberi hormat.
__ADS_1
"Tidak usah sok chuunibyou."