
Akhirnya Elena dan kawan-kawan dibolehkan ikut karavan oleh Rena. Yah, meskipun Rena secara teknis tidak memiliki wewenang untuk menentukan seseorang boleh ikut atau tidak, dia sudah bertugas seperti penguji.
“Ngomong-ngomong, gak apa-apa nih dia jalan kaki?” tanya Rena.
“Aku juga tidak tahu, sih.” Lisa mengangkat bahunya dan menggelengkan kepala. “Dia memang orang yang aneh.”
Lisa, Fint, dan Rena duduk di gerobak paling belakang. Ada juga Aya. Kucing itu enak-enakan tidur. Sementara itu, Elena berada di belakang mereka dan menempuh perjalanan dengan jalan kaki, plus dia memejamkan matanya.
“Meski aneh dia orang yang kuat,” tambah Fint.
Elena berjalan kaki tak jauh dari karavan. Dia santai saja mengikuti kecepatan gerak karavan di depannya. Tidak merasa lelah dan tak merasa kepanasan. Masih bisa santai walau memakai jubah hitam di bawah teriknya mentari.
'Hmm… hmm… seharusnya makhluk itu ada di sekitar sini.' Elena bergumam dalam benaknya. Menggunakan kemampuan «Penerawangan», dia mencari-cari sesuatu. Kemampuan «Penerawangan» sendiri membuatnya bisa melihat berbagai tempat dalam satu waktu bersamaan. Aslinya dia tak perlu memejamkan matanya, tapi kali ini dia melakukannya untuk meningkatkan fokus dan menambah jumlah tempat yang diterawang dalam satu waktu. 'Ah, ketemu. Jadi di bawah sana, ya? Kalau begitu ….'
Elena berbelok arah — menjauh dari karavan. Akhirnya ia menghilang setelah beberapa menit.
"Apa yang dia lakukan?" tanya Rena.
"Palingan cuma buang hajat," tebak asal Lisa.
"Perlu aku pastikan?" tanya Fint.
'{Aku merasakan firasat buruk, sih,}' batin Aya. '{Tapi aku yakin dia pasti tidak ingin aku ikut campur.}'
Aya bangun. Dia berdiri di depan Fint dan mengeong. "Nyan~" Dia seakan memberikan isyarat bila bocah itu harusnya diam dan jangan lakukan apapun.
"Eh? A-Apa? Apa aku bertindak salah?" Fint bertanya-tanya sendiri.
Tak lama kemudian….
*Boom!*
Ledakan terdengar bersama awan debu naik ke langit. Sumbernya dari depan karavan. Fint, Lisa, dan Rena dapat melihat dengan jelas ledakan yang terjadi di bagian depan.
"I-itu…," Rena tertegun.
"EztEnd!" Rena dan Fint berteriak bersamaan.
Muncul lagi makhluk yang dianggap sebagai bencana alam di dunia ini — EztEnd. Di depan karavan, makhluk itu memiliki wujud seperti cacing. Tubuhnya panjang berwarna merah-coklat. Itu memiliki tekstur lembek yang menjijikan. Kemudian di kedua ujung tubuhnya — baik itu ekor maupun kepalanya — terdapat gigi-gigi melingkar yang tajam di sekeliling mulutnya.
§Kyek!§
Burung-burung bersama hewan-hewan lain berlari tunggang langgang meninggalkan tempat tersebut. Seketika para pengawal karavan menjadi waspada melihat sosok EztEnd di depan mereka. Mereka bersiaga, hanya sebagian dari mereka. Sebagian lainnya ketakutan hingga gemetaran melihat wujud kolosal EztEnd. Beberapa dari mereka saja melarikan diri dari tempat kejadian serta tanggung jawab.
__ADS_1
*Graduk!* *Gruduk!*
Sayangnya, cacing besar — EztEnd — tersebut menyelam ke dalam tanah. Seketika dia timbul lagi, ia mencaplok salah seorang dan menelannya dalam sekali sambaran. Orang itu sempat dikunyah, tertusuk-tusuk, oleh barisan tajam duri melingkar.
Fint, Lisa, dan Rena menelan ludahnya. Makhluk besar itu semakin mendekati mereka bertiga. EztEnd mengejar orang-orang yang berlari menuju belakang karavan — di mana ketiganya kebetulan berada di sana.
"A-Apa yang harus kita lakukan?" tanya Fint gemetar.
"Melawannya! Itu sudah pasti!" bentak Rena sambil mengeluarkan sepasang kukrinya.
"Me-Melawan ma-makhluk sebesar itu? Bagaimana kita bisa menang?" Lisa tergagap. Yang ada di pikirannya adalah Elena — gadis yang bisa mengalahkan EztEnd seorang diri tempo hari.
Aya mengeong dan menggelengkan kepalanya. Acuh, dia beranjak dan melompat turun dari kerata. "{Ada yang mengatakan manusia adalah evolusi dari kera. Sepertinya evolusi mereka belum lengkap.}" Dia yang tak ingin terlibat dalam pertarungan manusia, Aya pergi ke semak-semak dan bersembunyi di sana.
"Pst, apa yang kamu lakukan di sini?" sebuah suara terdengar pelan dari belakang telinga Aya.
"{Elena!}" teriaknya — dalam bahasa kucing tentunya. "{Ini ulahmu, 'kan? Kau pasti sudah menerawang keberadaan EztEnd ini sejak awal dan sengaja mengatakan akan pergi ke utara saat di Asosiasi. Kau memang sengaja memasukkan mereka ke dalam bahaya, 'kan?}"
"Woiya, dong," jawab Elena datar, "Aku tidak suka membawa beban. Kalau mereka di bawah KKM, lebih baik mati saja dari pada merepotkan."
"{Apa kau yakin?}" tanya Aya.
"Pengecualian untuk penyihir itu."
Rena tanpa ragu maju menerjang ke arah EztEnd berbentuk cacing raksasa yang mirip di film-film itu. Di saat mulut si cacing mengarah padanya, dia melimpah ke samping. Kemudian dia menebas tubuh cacing memakai kedua kukri di masing-masing tangannya.
Keras!
Meski tubuh cacing tersebut nampak lunak, namun nyatanya lebih keras dari perkiraan Rena. Senjatanya tak mampu menembus tubuh cacing itu.
Dan ketika ujung tubuh cacing sampai padanya — kepala di sisi lain — dirinya harus tersayat oleh gigi tajam di sekeliling mulut makhluk itu. Bukan luka fatal memang, namun serangan tersebut membutuhkan luka di tangan kanannya.
"Sialan, apa tidak ada yang bisa kulakukan?" Dia merintih. Giginya gemeretak sebab ia menutup mulutnya kuat-kuat.
Tepat di saat itulah Rena mendapat bantuan. Pengawal karavan lain ikut membantu dalam pertarungan. Tidak sampai semua dari mereka, melainkan hanya sebagian yang memiliki kesadaran. Pemanah menembakkan anak panah, pengguna pedang mencemooh dan menjadi umpan, dan beberapa lainnya melemparkan senjata apapun yang ada di tangan mereka. Tak peduli apakah itu berharga atau tidak.
§Kik!§
Namun percuma. EztEnd memangsa satu per satu umpan. Pengguna pedang yang melukai tubuh makhluk itu mendapatkan kesia-siaan untuk menembus kulit keras makhluk tersebut. Beberapa luka yang berhasil dibuat hanya sedikit luka goresan.
*Gruduk!* *Gruduk!*
Dia menyelam ke dalam tanah. Seketika semua orang di sana terdiam. Mereka ketakutan. Keringat dingin bercampur dengan kucuran deras keringat panas mereka. Inilah mimpi buruk dan salah satu di antara mereka bisa saja disergap dan mendapati kematiannya instan. Lebih instan dari mie instan. Masing-masing dari mereka menjaga jarak dengan lainnya.
__ADS_1
Lisa menggunakan kemampuan «Mengintip»-nya. Dia memperhatikan pergerakan makhluk di dalam tanah. "Fint! Awas!" Dia melompat ke Fint dan mendorong tubuh bocah itu bersama dirinya. Mereka berdua terjatuh. Tapi beruntun nyawa mereka tak melayang oleh sebab makhluk tersebut yang barusan timbul di tempat Fint berdiri.
§Kyek!§ §Kyik!§
Makhluk tersebut seakan memandang Lisa dan Fint. Setengah tubuhnya timbul dari tanah, naik ke atas, dan menghadapkan mulutnya pada mereka berdua. Makhluk itu melesat dan akan memakan mereka berdua. Tapi sebelum itu….
*Slash!*
Sebuah tebasan mengenai tubuh si makhluk dan memberikan luka yang lumayan dalam.
§Kik!§ Suara disturbing darinya terdengar. Kali ini seakan ia berteriak kesakitan.
Langsung saja, makhluk itu masuk kembali ke dalam tanah ditarik oleh kepalanya yang satunya. Dia menghilang dari pandangan setiap orang.
"Elena!" teriak Lisa. "Dari mana saja kau?"
Elena berdiri di sana, lengkap dengan sebilah wakizashi di tangan kanannya dan Aya yang hinggap di bahu kirinya. Dengan tenang dia berkata, "Maaf, aku baru buang hajat." Dia menambahkan, "Untung saja aku tepat waktu. Kalian sangat menyedihkan."
"Awas!" Kemampuan «Mengintip» Lisa masih aktif dan dia mengetahui pergerakan makhluk itu di dalam tanah. Dari penglihatannya, dia tahu makhluk itu kini bergerak mencoba menyergap Elena.
"Dia mengincarku, 'kan? Santai saja." Elena melompat beberapa meter dari tempatnya. Tepat setelah itu kepala dari EztEnd cacing timbul. Dia menggigil udara kosong yang sebelumnya Elena ada di sana. "Beberapa hewan buas adalah makhluk pendendam!"
*Slash!*
Satu tebasan. Elena memotong tubuh makhluk tersebut menjadi dua. Satu bagian naik ke langit dan jatuh di permukaan tanah dan satunya lagi masih menggali di bawah tanah.
§Kek!§
Bagian yang di atas permukaan tanah berteriak marah bercampur kesakitan. Dia tanpa berpikir segera menerjang Elena. Mulutnya terbuka lebar dengan gigi di sekelilingnya mulut berjajar rapi.
Elena masih tenang. Dia memegang wakizashi dalam posisi vertikal. Satu tangan di pegangan dan satunya lagi tubuh wakizashi bagian belakang — bagian tumpul. Di saat makhluk itu sampai, dia sedikit melompat ke samping sehingga ujung tajam wakizashinya menyayat tubuh makhluk itu dengan rapi.
*Sret!*
Alhasil makhluk tersebut terbedah oleh wakizashi Elena. Isi tubuhnya tumpah serta berceceran.
Berikutnya Elena memegang wakizashi secara vertikal. Kedua tangannya memegang pegangan wakizashi. Setelahnya, dia melompat mundur selanjutnya atau dua langkah.
*Gruduk!*
Bagian tubuh satunya lagi dari makhluk itu datang dari tanah. Dia berniat menyambar Elena. Sayang Elena yang telah memprediksikan ini, justru membuatnya makhluk tersebut membedah tubuhnya sendiri dengan wakizashi Elena. Sama seperti bagian satunya, isi tubuhnya terburai berceceran.
"Selesai." Elena mengayunkan wakizashi — membersihkan darah yang menempel di bilahnya — lalu memasukkan senjata itu. Dia berbalik dengan anggota sisa karavan yang masih sehat wal afiat. "Baguslah setidaknya ada yang selamat," ucapnya dingin.
__ADS_1
"{Apa kamu psikopat?}"