
Sehari, dua hari, tiga hari. Elena terus mengawasi gerak-gerik mereka bertiga dengan sembunyi-sembunyi. Mudah sebenarnya. Jika ada kesulitan untuk Elena, itu adalah pekerjaan ini terlalu membosankan. Tapi melewati semua itu, setidaknya Elena memperoleh hasil pengamatan. Selama pengamatannya di sini, hasilnya sesuai dengan perkiraannya, yaitu gagalnya mereka bertiga untuk bertahan di kota ini.
Bukannya mendapat pekerjaan, mereka malah stagnan sebagai pengangguran. Hari demi hari uang yang mereka miliki semakin berkurang untuk biaya hidup mereka di kota itu. Bahkan saat malam hari mereka harus tidur di tepi jalan saking tidak bisanya mengumpulkan uang. Sudah mau pergi dan meninggalkan kota itu sebenarnya mereka. Tapi dengan adanya Elena di sini, dan mereka yakin akan hal itu, masih merasa ragu apakah harus meninggalkan kota ini atau menunggu selama beberapa hari. Siapa tahu saja Elena akan berubah pikiran dan bergabung dengan kelompok mereka bertiga. Sayangnya pemikiran mereka terlalu naif, sampailah mereka di kondisi seperti ini.
~
Di suatu malam, mereka masuk ke gang-gang sepi dan sempit. Sama seperti hari-hari sebelumnya, mereka mencari tempat tidur malam ini. Mau tidur di sebelah jalan besar atau di emperan toko tidak memungkinkan. Yang ada mereka bakalan kena usir lagi.
"Anjir, dingin banget malam ini." Berkata Rena sambil menggigil. "Beneran kita bermalam di sini?"
"Ada pilihan lain kah?" tanya Dorm.
"Ugh, sampai kapan kita akan menghadapi penderitaan ini?" komentar Fint.
"Tenanglah, Bocah. Dulu ketika rombongan karavan melewati gunung tinggi, udara di sana sangat dingin dan beberapa dari kami mati kedinginan. Suhu sekarang masih tidak ada apa-apanya dibandingkan waktu itu. Kuatkan dirimu." Rena menyemangati.
"Bicara enak. Melakukannya susah," balas Fint.
"Huh, kalau bisa aku ingin berada di bengkelku dan menghangatkan diri di dekat tungku," kata Dorm.
"Tapi itu mana mungkin, 'kan?" kata Rena.
Berlainan sisi dengan mereka bertiga yang dalam kepayahan, Elena bersama Aya duduk di dekat api unggun di atap salah satu gedung. Udara malam sama sekali tidak terasa dingin berkat jubah hitam yang ia kenakan. Selain itu, hal yang membuatnya bersemangat, di atas api unggun ada sebuah panci berisi mie yang tengah direbus.
"Khukhukhu… akhirnya setelah sekian lama, aku mendapatkan mie goreng." Tawa jahat terdengar dari Elena. Sudah seperti villain yang hampir berhasil menaklukkan dunia saja dia. "Setelah lama menghabiskan hari-hari dengan mie kuah, aku sebagai pengikut sekte mie goreng, aku akan mendapatkan kekuatan sejatiku setelah memakan mie goreng ini. Khukhukhu…."
__ADS_1
"{Manusia aneh,}" kata Aya, "{Urusan 'mie goreng' sama 'mie rebus' saja sampai ada sekte sendiri.}"
"Asal Lo tau aja, ya?" Tatapan Elena tajam jatuh pada Aya. "Ini masih mending antara mie goreng dan mie kuah. Nanti kalau sudah masuk ke dunia bubur, bakalan lebih sulit lagi karena ada sekte bubur diaduk vs sekte bubur tidak diaduk. Pertarungan di antara keduanya jauh lebih epik."
"{Dan kamu masuk ke kubu yang mana?}"
"Aku sih milih makan bubur pakai sumpit," kata Elena, "Biar greget."
"{Terserah, deh,}" ucap Aya tanpa minat, "{Ngomong-ngomong, sepertinya pihak yang kita incar sudah mulai bergerak.}" Aya berdiri di sisi atap gedung. Dia memandang ke bawah, pada siluet suatu sosok bayangan hitam yang bergerak mengendapkan dan mencurigakan. "{Baguslah karena akhirnya misi kita di dunia ini akan segera selesai.}"
"Benar. Musuh itu harus dimusnahkan." Elena berdiri. Ekspresinya jadi buruk bin menyeramkan. "Berani-beraninya mereka muncul saat aku merebus mie goreng. Akan kuhancurkan mereka dan kubur dari pelajaran berharga yang terukir dalam lubuk jiwa mereka."
'{Ini orang memang sableng.}'
Kembali ke Rena dan kawan-kawan. Mereka hanya bisa mengumpat akan nasib buruk mereka atas mendapatkan tempat buruk sebagai tempat tidur. Dan dengan tanpa mereka sadari, satu sosok mendekati mereka dengan senyap di dalam gelap.
Kabut asap meledak dan menutupi area dengan asap tebal. Pandangan mereka bertiga terganggu — sama sekali tak dapat melihat. Tiap detik berjalan, Rena merasakan matanya menjadi semakin berat. Semakin ingin menutup akan rasa kantuk. Sampai akhirnya, dia pun kehilangan kesadarannya dan tak tahu apa yang terjadi. Hal terakhir yang dilihatnya adalah kedua temannya yang juga ambruk kehilangan kesadarannya.
~
Di waktu Rena terbangun, dia menemukan dirinya di sebuah ruangan berbatu. Atap, dingin, lantai, di sini terbuat dari batu sepenuhnya. Menengok ke sana-sini, ada beberapa orang berjubah hitam dengan tudung yang menutupi setengah kepala mereka. Melihat ke arah lain, ada sebuah lubang semacam sumur yang dari sana cahaya merah berpijar keluar. Seakan di dalam sana ada suatu hal jahat yang tersimpan.
"Mereka bertiga akan menjadi tumbal malam ini, ya? Kali ini dari mana asal mereka?" Salah satu dari orang berjubah itu berkata.
"Hanya orang asing," jawab lainnya, "Mau hilang mau musnah, tidak akan ada yang peduli pada mereka. Kita cuma perlu menyelesaikan pekerjaan kita dengan cepat."
__ADS_1
Rena coba berdiri dan menggerakkan tangannya, tapi tak mampu. Di situ dia menyadari sebuah tali melingkar tubuhnya dan mengikatnya dengan kuat.
'Sial…. Aku tidak bisa bergerak,' rintihnya dalam benak. 'Siapa dan apa tujuan mereka? Keamanan di kota ini sangat baik. Tidak mungkin mereka penjahat biasa. Apa yang bisa kulakukan?'
Orang-orang berjubah itu berdiri melingkar mengelilingi Rena beserta Dorm dan Fint. "Baiklah, mari kita mulai," ucap salah satu dari mereka.
Tapi sebelum sempat melakukan sesuatu ….
*Boom!*
Suara ledakan besar terjadi diikuti asap ledakan yang menghancurkan.
"Baguslah bagus, aku tidak perlu sulit-sulit mencari tempat ini berkat mengikuti kalian." Bayangan suatu sosok terbentuk. Dari sana keluarlah Elena sambil menenteng wakizashi. "Sekarang apa yang harus kulakukan, ya?"
"Elena!" Rena berteriak memanggilnya.
"Tidak perlu cemas, tidak perlu risau," ujar Elena dengan sok, "Ketika aku datang ke Medan pertarungan, di situ musuh berakhir. Jaminan 100% menang, kalau sampai kalah silahkan minta cashback."
"{Nyan, tidak bisakah kau langsung meratakan semuanya?}" Aya mengeong, "{Asal semuanya hancur, kerjaan kita beres, 'kan?}"
Orang-orang berjubah itu terdiam dan bengong melihat Elena yang sampai di mari. Mungkin masih masuk akal kalau yang muncul adalah pria tinggi, besar, dan berotot, tapi sosok gadis kecil? Bagaimana cara dia bisa sampai ke mari? Dari semua penjaga di atas, bagaimana dia bisa menerima masuk? Ini tempat rahasia yang dijaga ketat. Tidak mungkin anak-anak bisa memasukinya semudah bermain perosotan.
"Siapa kau!" bentak salah satu dari mereka.
"Apakah itu penting?" Elena berjalan pelan sembari menenteng wakizashi di tangan kanannya. "Tidak peduli siapa aku, aku datang untuk membasmi— maksudku menyelesaikan pekerjaan yang diberikan atasanku. Jadi jangan salahkan kematian kalian kepadaku, salahkan atasanku yang memberikan tugas demikian. Sesungguhnya 'aku hanya menjalankan tugas'. Tak kurang dan tak lebih."
__ADS_1
Orang-orang itu tertegun.
"Kalian juga setuju padaku, 'kan? Kalian membunuh orang 'atas perintah atasan', 'kan?" tambah Elena. "Membenarkan tindakan dengan menyalahkan orang lain. Sungguh logika yang lucu."