
Selesai.
Elena membebaskan Rena, Dorm, dan Fint. Kini mereka berempat dan Aya berada di suatu padang rumput luas di luar kota. Tak ada siapapun di sana. Orang-orang di kota sama sekali tidak menyadari kejadian tersebut. Mereka tetap menjalankan aktivitas mereka dengan normal, seakan tidak terjadi hal luar biasa apapun yang terjadi. Tidak ada satupun dari mereka yang menyadari bila satu per satu dari mereka menghilang. Mereka tetap normal, sama dengan suasana hari ini.
"Yaps, akhirnya selesai. Aku rasa, 'hasil' dari pekerjaan kali ini adalah benda ini." Elena menunjukkan bola seukuran kepalan tangannya. Bola itu berwarna merah. Berpendar dengan warna tersebut dengan cahaya redup. "Sayang sekali, sihir tidak bisa dihilangkan dalam sekejap mata, tapi setidaknya dengan aku yang mengambil benda ini — benda yang memancarkan energi kuat ini —, tidak akan ada lagi orang-orang yang mendapat kemampuan sihir secara acak. Juga, tidak akan ada lagi EztEnd yang akan muncul secara tiba-tiba. Kalau ada, mereka cuma sisa-sisa."
"Jadi itu benda yang membawa keberadaan sihir di dunia ini?" tanya Rena penasaran.
"Tidak sepenuhnya benar," kata Elena, "Ini hanya satu dari banyaknya benda lainnya. Cuma, benda-benda lain sudah diatasi oleh 'atasanku'. Dia jauh lebih hebat dariku."
"Lebih hebat darimu, kau kata." Dorm menggelengkan kepalanya juga menghembuskan napas. "Kau sendiri sudah cukup gila untuk membantai mereka semua dalam hitungan detik, tapi masih ada yang jauh lebih hebat darimu. Seberapa hebat dia?"
Elena menjawab, "Kurang lebih bisa menghancurkan satu dunia. Aku sendiri tidak tahu secara jelasnya, tapi seharusnya dia mampu." Dia menjawab dengan riang, seakan itu bukan masalah sama sekali dan merupakan hal-hal wajar.
Itu untuk Elena. Untuk Rena, Dorm, dan Fint, mereka bertiga tidak berpikir bahwa Elena bercanda. Memang gadis ini misterius, tapi kebanyakan dari perkataannya adalah serius. Tapi menganggap bahwa perkataan Elena yang kali ini adalah serius, dan memikirkan bahwa di luar sana ada eksistensi yang dapat membuat dunia kiamat, rasanya sangat tidak masuk akal dan tidak bisa dipercaya.
"Jadi, ini adalah perpisahan?" kata Fint dengan perasaan berat hati.
Meski tidak lama mereka bersama, mungkin hanya beberapa hari sampai beberapa minggu, tapi Fint memiliki makna sendirian terhadap Elena. Dia yang sebelumnya berada di kondisi buruk — di kondisi tak diakui siapapun — berkat Elena dia mendapatkan kembali kepercayaan dirinya. Ia membayangkan kalau saja tidak pernah bertemu Elena dan dia akan menghabiskan hidupnya dalam kebuntuan. Dia mungkin akan terus berlatih pedang, akan tetapi cuma itu.
"Begitulah." Elena tersenyum kecil. "Tapi jangan sedih: Pertemuan dan perpisahan adalah hal yang biasa. Sesekali kita bertemu orang yang mengajarkan makna kehidupan, lain kali kita berpisah dengannya. Sesekali kita bertemu dengan orang yang membuat kita nyaman, kali selanjutnya dia meninggalkan kita. Pertemuan dan perpisahan merupakan hal yang wajar."
__ADS_1
"Apa kita akan bertemu lagi?" tanya Fint lagi.
"Entahlah?" jawab Elena sambil mengangkat bahu. "Aku tidak benar-benar bebas. Maksudku, aku punya kesibukan tersendiri di tempat asalku dan harus melakukan banyak misi di luar sana."
"Aku tahu perasaanmu, Fint. Tapi kita tidak bisa memaksanya tinggal demi keegoisanmu," ucap Rena, "Kita memiliki jalan kita sendiri yang akan kita hadapi."
"Benar. Maaf karena bertanya." Fint menundukkan kepalanya.
"Tidak apa-apa. Toh juga, kamu bertanya sebagai ekspresi peduli. Selama tak merepotkan, aku tak masalah," ujar Elena, "Baiklah, kurasa ini sudah waktunya pergi. Aku undur diri dan semoga kalian tidak menemukan masalah berarti dalam jalur kehidupan kalian."
Elena membuka celah portal di sampingnya. Masuk ke dalan sana dan portal tertutup, hanya tersisa ruang kosong tempat ia berpijak sebelumnya.
"Benar-benar… orang yang sangat tak dapat ditebak," gumam Dorm.
~
Berada di dimensi lain, sebuah dimensi yang latar belakangnya adalah semesta dipenuhi planet, bintang, dan gugusan indah, Elena bersama Aya menghadap Noctis. Raja Roh Dimensi itu menunggu Elena dengan kedua tangan terlipat — bersedekap.
"Akhirnya kau menyelesaikannya juga, gadis kecil," ucapnya.
"Ya ya, itu tadi pertarungan yang sedikit sulit di akhir, tapi semuanya selesai." Elena menunjukkan bola berpendar merah. "Baguslah aku berhasil mendapatkan benda ini."
__ADS_1
Salah satu alis Noctis terangkat. "Itu pasti dari 'Mereka'. 'Mereka' benar-benar ahli membuat orang lain kerepotan, bukan?" Dia mengambil bola itu dari tangan Elena. "Tapi setidaknya, baguslah kita mendapatkan benda ini sebagai reward. Benda ini terisi akan energi. Persediaan kita bisa bertambah. Walau sayang sekali, auranya terasa jahat."
"Gunakan saja sesukamu. Untuk apa itu akan digunakan sudah berada di luar ranah dan pekerjaanku." Elena berkata acuh. Dia menyerahkan bola berpendar merah itu pada Noctis.
Noctis mengangkat bola itu di depan wajahnya dan mengamatinya lebih dekat, juga lebih jelas. Setelahnya, perhatiannya balik pada Elena. "Apa kau yakin dengan ini? Kau meninggalkan semua kenalanmu selama di sana, 'kan?"
"Aku memiliki banyak kenangan soal meninggalkan orang-orang yang telah kukenal. Menambahkan beberapa yang bisa dihitung jari tidak akan menambah banyak," jawab Elena ketus.
"Baiklah kalau itu jawabanmu."
"{Sekarang bisakah kita pulang?}" Aya menyela, "{Aku ingin tidur di rumah, di atas kasur yang nyaman. Jujur, peradaban buruk di sana membuatku ingin menekan tombol cancel di awal-awal.}"
"Iya iya, kucing. Setelah ini kita pulang." Elena berkata. Dia lalu tersenyum akibat tersingat akan sesuatu. "Aku sudah memikirkan ini: Sudah saatnya aku makan mie goreng yang mengisi perut dengan mie, bukan mie kuah yang mengisi perut dengan kuah."
~
Tidak ada hal istimewa setelah Elena menyelesaikan misinya di dunia itu. Dunia itu — dunia di mana EztEnd si Monster Pembawa Bencana bermunculan — kini perlahan-lahan mencapai keseimbangannya sendiri. Keberadaan sihir yang seperti tetesan air yang jatuh ke ember, membuat riak dan air bergejolak untuk beberapa waktu. Tapi setelah beberapa waktu pula, ember dalam air itu kembali tenang. Dampak sihir yang terwujud selama beberapa tahun di sana membuat ketenangan di dunia itu goyah selama beberapa waktu, namun kini kembali tenang.
Bukan berarti tidak ada dampak sama sekali.
Lisa, Windy, dan para penyihir lainnya tidak kehilangan kekuatan mereka. Mereka masih tinggal di dalam gua dan mengisolasi diri dari orang-orang yang berusaha menangkap dan menyiksa mereka. Para bangsawan, para penguasa, para raja-raja, mereka masih waspada akan serangan EztEnd sekalinya makhluk itu tidak menyerang seagresif dulu. Mereka masih was-was.
__ADS_1
Kini tak ada lagi yang perlu diceritakan. Kisah ini telah ditutup. Setiap orang terus menjalani jalur