
Perjalanan mereka membawa mereka sampai ke sebuah kota. Bukan kota yang cukup besar untuk menandingi yang Elena datangi sebelumnya. Tapi masih bisa dikatakan lumayan.
"Fuwah~" Elena meregangkan badannya dengan ceria. "Akhirnya sampai juga kita ke suatu kota."
"Ya, begitulah," komentar Lisa, "Walau kamu sama sekali tidak naik kereta, sih."
"Hmm?" Elena menatap datar Lisa. Ekspresinya yang barusan ceria berubah datar. 'Aku tidak suka naik kereta karena sistem suspensinya buruk. Yang ada malah bikin muntah.'
"Ngomong-ngomong, kamu memutuskan untuk ikut dengan kami, ya, Fint?" Lisa memandang Fint. Bocah itu memiliki tatapan serius mengarah ke depan.
"Ya," jawabnya singkat.
"Sekarang apa yang akan kita lakukan?" tanya Lisa. "Rena bilang karavan akan berada di kota ini sampai esok hari. Kita punya waktu luang sampai itu. Apa sebaiknya kita pergi ke penginapan dulu?"
"Hmm? Kau ini cakap apa?" Tatapan datar Elena jatuh pada Lisa. "Pertama-tama kita akan pergi ke pandai besi."
"Pandai besi? Untuk apa kita ke sana?" Kali ini Fint lah yang bertanya.
"Kenapa kamu bertanya?" jawab Elena dengan pertanyaan. "Tentu saja kita butuhkan senjata untukmu. Kau sendiri yang bilang ingin menjadi ksatria atau apalah namanya itu."
"U-Um." Fint mengangguk. Sedikit dia merasa kalau Elena seperti mengolok-oloknya di kalimat terakhir.
~
Walaupun dikatakan akan pergi ke pandai besi pun bukan berarti Elena akan langsung ke sana. Perjalanan yang ditempuh penuh dengan "belok sana belok sini". Kalau ada toko yang bagus, dan Elena akan langsung datangnya untuk melihat barang-barang apa saja yang ada di sana. Tidak seperti dia ingin membelinya. Apa yang ia lakukan lebih seperti melakukan survei sampai sejauh mana peradaban ini berada. Yah, hasilnya tidak ada yang baik. Justru membuat Lisa dan Fint bertanya-tanya atas kelakuan Elena.
__ADS_1
"{Ada yang bilang tebal kamus memahami bahasa wanita lebih tebal dibandingkan wajah penipu ulung. Jangan merasa minder kalau kalian tidak bisa memahaminya.}"
Dan akhirnya, setelah perjalanan yang ditempuh bisa dikomparasikan dengan mengitari sebuah pulau di kepulauan Raja Ampat, sampai juga Elena ke suatu pandai besi. Dia dapat informasi ini dari salah satu pemilik toko yang didatanginya tadi. Itu pula alasan Elena berkeliling-keliling kota.
"Permisi~ kami datang untuk membuat permintaan tempat senjata~" sapa Elena sopan meski dengan cara yang tidak. Dia langsung saja membuka pintu depan dan menerobos masuk ke dapur penempaan. Setidaknya dia melakukannya dengan senyuman manis.
Hawa panas sungguh terasa di dalam sini. Aya saja yang tadinya tertidur langsung terbangun dan matanya membelalak. Tanpa ragu dia melompat dari bahu Elina dan pergi keluar. Sisanya adalah Fint dan Lisa, mereka berdua merasa kepanasan tetapi tetap bergeming — tak ingin membuat tingkah memalukan.
*Trank!* *Trank!* *Trank!*
Suara palu terdengar dari seseorang yang menempa. Suara tersebut berhenti tak lama setelah salam Elena.
"Anoo~" Elena kembali berucap, "Ada orang di sini?" Pertanyaan yang tidak ada gunanya semenjak dia mendengar suara desingan besi.
"Kau sangat berisik," suara seorang lelaki tua terdengar. Suaranya besar dan agak serak. "Baru kali ini aku bertemu dengan pelanggan berisik sepertimu."
"Permisi, apa benar kamu adalah Dorm si Pandai Besi yang terkenal itu?" tanya Elena. "Aku datang kemari untuk meminta dibuatkan pedang."
"Aku tidak membuatkan senjata untuk gadis kecil sepertimu." Dorm dengan melipat tangannya — bersedekap. Dirinya berdiri tegak sambil memasang tampak yang seakan ingin menghentikan mereka bertiga. "Kecuali jika kau menunjukkan kelayakanmu."
'Merepotkan saja,' batin Elena, 'Dia adalah lelaki keras kepala seperti rumornya.'
"Apakah kamu merupakan orang yang jujur?" Elena mencemooh. Sikap tubuhnya meniru Dorm. "Bisakah kamu dipercaya? Dan apa yang berani kau atas namakan jika kau sampai berbohong."
"Aku bersumpuh atas namaku dan harga diriku sebagai pandai besi," jawab Dorm, "Aku yakin bahwa diriku lah pandai besi terbaik di kota ini." Dia juga menambahkan, "Tapi aku tidak menjual karyaku untuk sembarang orang."
__ADS_1
Lisa dan Fint saling menatap. Sampai sini Mereka bisa merasa bila Dorm ini orang yang akan sulit ditangani. Tapi beda cerita untuk Elena.
"Dan kamu menguji setiap pelangganmu?"
"Benar."
"Begitu ya? Aku mengerti." Elena mengangguk. "Jadi apa yang harus aku lakukan agar aku lolos dari ujianmu itu?"
"Mudah saja," ucap Dorm, "Aku menempa banyak senjata sampai sekarang. Kau bisa melihat lusinan pedang dan senjata lainnya yang menghiasi seisi ruangan ini." Pedang, kapak, dan senjata besi lainnya terpasang di sini. Mereka ditempelkan di dinding. "Hanya saja senjata yang kuciptakan memiliki kualitas berbeda antara satu dengan lainnya. Yang kau lakukan hanya harus mencari satu senjata terbaik di ruangan ini."
"Satu senjata terbaik?" Elena mengulang. "Itu mudah." Dia mengentengkan. Sempat bahkan ia tersenyum. "Satu-satunya senjata terbaik di sini adalah pedang yang kubawa ini." Elena mengambil wakizashi bersama sarungnya. Dia tak menunjukkan tubuh dari wakizashi itu.
"Benarkah? Kau yakin dengan jawabanmu?" Dorm menggertak.
"Jika kau tidak percaya, bagaimana bila kau mengeluarkan senjata terbaikmu dan kita beradu di sini." Sudut mulut Elena terangkat. Dia mencemooh.
"Kau sangat berani, gadis kecil." Dorm merasa tertantang. "Akan kuambilkan senjata terbaik tempaanku."
Dorm berbalik. Dia pergi mengambil salah satu senjata yang terpasang pada dinding ruangan. Sebuah pedang pendek dengan hiasan sederhana. Justru hampir tidak memiliki aksesoris, ukiran, ataupun hiasan. Benar-benar pedang pendek biasa.
"Ini adalah senjata terbaik yang kumiliki." Dorm menunjukkan pedang itu. "Jika pedangmu bisa mengalahkannya, maka akan kuakui kalau senjatamu adalah senjata terbaik di sini."
Elena bergeming. Dia memasukkan kembali wakizashinya ke dalam jubah. Lalu dengan cepat, tangannya menyambar dan mengambil pedang yang berada di tangan Dorm. "Baiklah. Sekarang ini adalah senjata terbaik di sini."
Dorm terdiam. Matanya membelalak. Bukan hanya dia, tapi Lisa dan Fint sama-sama terdiam. Cara Elena mengatasinya memang terdengar curang, tapi di sisi lain itu adalah cara yang cerdik.
__ADS_1
"Bagaimana?" ucap Elena, "Jika kau menyangkal, maka kau akan mengkhianati dirimu di bagian 'aku merupakan orang terpercaya'. Kau berbohong saat kau mengatakan ini merupakan senjatanya terbaik di sini. Dan jika kau jujur, artinya aku benar." Bibir Elena dengan jelas membentuk senyuman. "Jadi bagaimana? Mengkhianati nama dan harga dirimu atau mengakui kemenanganju