
Tubuh dari orang-orang berjubah itu bergelimpangan di tanah dengan luka sayatan di tubuh mereka. Mereka mati. Elena menerjang dan menebas satu per satu mereka hingga menewaskan mereka semua.
Elena mengayunkan wakizashi di udara, membersihkan sisa darah di bilah. "Di luar dugaan: Tak kusangka mereka bisa menggunakan sihir. Yah, walaupun itu hanya sihir dasar dan cuma menembakkan bola api, sih."
Rena terperangah melihat pertarungan Elena melawan orang-orang berjubah. Dia tahu gadis di depan kuat. Cukup kuat untuk dapat mengalahkannya monster EztEnd seorang diri. Tapi selain itu, sisi yang baru dia lihat dari Elena, itu adalah sisi kejam untuk tidak memberikan belas kasihan pada musuhnya. Sungguh kelewat. Membunuh orang bukan hal yang bisa dilakukan semua orang segampang itu. Seorang pembunuh mestinya memiliki alasan yang cukup kuat untuk melakukannya. Atau kalau tidak ….
'Di tempat seperti apa dia tumbuh sebenarnya?' batin Rena, 'Apa di tempat dia tumbuh pembunuhan merupakan hal yang wajar sampai-sampai di usianya ini ia sama sekali tak gentar menodai senjatanya dengan darah musuh-musuhnya?'
Elena mendekati Rena. Langkah kakinya bergema di ruangan yang sepi ini. "Terima kasih. Kalian bertiga merupakan umpan yang baik." Bibirnya tersenyum tipis. Lebih mirip menyerupai suatu seringai. "Sekarang aku akan membebaskan kalian."
"Tunggu sebentar, apakah sengaja membiarkan kamu tertangkap dan menjadikan kami sebagai umpan?" tanya Rena.
"Pakai nanya?" jawab Elena, "Apa gunanya menanyakan sesuatu yang sudah jelas?"
Rena terdiam, kehabisan kata-kata. Memikirkan kembali segala hal yang telah mereka lewati di kota ini — segala hal pahit ketika mereka harus tidur di gang antah berantah — dan ternyata itu semua sudah direncanakan oleh seseorang, dan orang itu berdiri di hadapannya. Tapi daripada itu, yang lebih membuat penasaran ialah, 'Sejak kapan dia merencanakan ini? Sejak awal? Awal yang mana? Kabar pertama kali kita bertemu?'
Elena mengangkat wakizashi ke atas, siap menetas tadi yang melilit tubuh Rena. Tapi sebelum itu, perhatiannya teralihkan oleh kehadiran seseorang yang ia sadari dalam senyap.
"Tidak ada gunanya menyelinap," kata Elena, "Anggap saja aku memiliki mata di belakang kepala."
Orang yang tadi berusaha menyelinap berhenti. "Sungguh hebat dan luar biasa. Siapa sangka yang menyerang tempat ini adalah seorang gadis kecil? Apa kau seorang penyihir?" Ekspresinya tenang. Entah apakah itu karena dia kebiasaannya atau sebab dia tahu tidak ada gunanya berontak di situasi ini. Atau malah dia berusaha tenang saat berada di dekat hewan buas.
Dia adalah Tuan Tanah — pemilik kota ini. Setidaknya itu informasi yang ada dapatkan selama mengerik kabar juga pengetahuan dari penduduk di kota selama beberapa hari belakangan ini.
__ADS_1
Elena berbalik, menatap Tuan Tanah. "Aku sendiri juga terkejut, lho. Tak kusangka yang datang malah Tuan Tanah sendiri. Kupikir aku harus repot-repot mencarimu dan membantai setiap orang yang ada di dalam rumah tinggalmu. Kau yang datang sendiri ke sini, terima kasih sudah memudahkan pekerjaanku."
"Tentu saja, mana mungkin aku membiarkanmu membunuh lebih banyak orang-orangku? Aku tidak sekejam itu," katanya.
"Tapi nampaknya fakta di sini menunjukkan yang sebaliknya." Hal yang dimaksud Elena merujuk pada lingkaran seperti sumur di tengah ruangan. "Memasukkan tubuh tak bernyawa dari orang-orang tak bersalah, membunuh dan membantu habis mereka, apakah itu salah satu 'kebaikan' yang kau maksud?"
"Tentu saja," jawabnya, "Aku mengorbankan setengah untuk menyelamatkan setengah lainnya. Itu lebih baik daripada semuanya musnah seluruhnya."
Rena diam mengikuti percakapan di antara mereka berdua. Ini bukan levelnya, ini bukan tempat dia seharusnya bicara. Dia menjadi pengamat yang menyimak. Dan di lain itu, 'Apa-apaan orang itu? Sekilas, sekilas tidak ada yang aneh. Tapi entah kenapa, aku merasakan ada yang salah darinya.'
"Mengorbankan minoritas untuk menyelamatkan mayoritas." Elena menyiapkan wakizashi dalam ancang-ancang bertarung. "Kisah-kisah yang sangat umum. Tapi satu hal yang harus kau ingat: Aku sama sekali tidak peduli akan kotamu, keselamatan orang-orangmu, dan dirimu. Aku ke sini untuk menjalankan tugas, dan akan menyelesaikannya."
"Apa kau sebegitunya tak punya hati untuk tak memikirkan orang-orang?"
"Begitu ya? Akan kuingat kata-katamu?" Tuan Tanah itu memejamkan matanya selama beberapa saat sebelum membukanya kembali. "Tapi maaf saja. Bahkan jika kamu adalah seorang gadis kecil, jika kamu mengancam kedamaian di kotaku, di sanalah kita akan bertarung."
Pria itu mengepalkan kedua tangannya. Otot-otot terlihat jelas dan kedua tangannya makin padat serta keras. Selanjutnya, tangannya mulai bertransformasi. Warnanya yang semula normal dengan warna manusia, berubah kemerahan dan membesar. Kedua tangannya berubah merah dengan duri-duri mencuat. Sudah bukan anggota tubuh manusia. Kini telah menjadi anggota tubuh monster.
"Kau mungkin bukan yang terbaik, tapi kau sudah cukup baik," kata Elena, "Benar-benar… dunia ini pasti akan mengalami kemajuan yang pesat bila sihir tetap ada selama beberapa ratus tahun ke depan."
~Bentrokan Pertama
Elena maju sambil membawa wakizashinya. Dia menetes, mengincar leher Tuan Tanah di depan. Tak sampai. Tuan Tanah itu menggunakan kedua lengannya untuk memblokir tebasan Elena.
__ADS_1
'Daya tahannya cukup bagus untuk bisa menahan seranganku.'
Elena tersentak beberapa meter ke belakang. Pria itu, yang tak memberikan waktu rehat untuk Elena, dia maju dan memukul beberapa kali. Sontak saja Elena menggunakan wakizashi untuk menebas setiap pukulan dan memblokir serangan-serangan tersebut.
Melihat celah, Elena menarik wakizashi dan berniat membuat tebasan yang lebih kuat. Kebebasan yang sama seperti tadi — mengincar leher Tuan Tanah. Satu pukulan datang di kala Elena menghimpun serangan. Dia memiringkan kepala. Dengan perhitungan, dia memperkirakan serangan tersebut akan meleset dengan jarak beberapa milimeter saja. Akan tetapi di luar perkiraannya, duri-duri yang ada di lengan Tuan Tanah menjadi lebih panjang. Salah satu dari duri itu menggores pipi Elena sebelum gadis itu secara cepat melimpah ke belakang.
"Nyaris. Kau hampir membunuhku," kata Elena.
Tuan Tanah masih ada di posisi setelah memukul. Duri-duri panjang di lengannya tumbuh dan itu hampir menusuk pada kepala Elena. "Kau juga. Gerakanmu sangat kesit."
~Bentrokan Kedua
Elena kembali menyiapkan wakizashinya. Menghirup napas sampai paru-parunya penuh akan udara, dia lagi melesat ke arah Tuan Tanah kota ini. Dari sisi musuhnya, tulang-belulang duri ditembakkan. Semua itu mengincar tepat Elena yang mengarah berlawanan.
Gadis itu — Elena — menghentakkan kakinya hingga dirinya melompat tinggi dan keluar dari jalur serang peluru tulang. Di udara, dia mengangkat wakizashi di atas kepala dan menebas vertikal ke bawah. Gerakannya cepat. Dia menggunakan «Umbrakinesis» yang membuat semacam lapisan bayangan tipis menyelimuti tubuhnya. Tiap dia berpindah, nampak warna hitam tersisa di jalurnya.
Tak sempat sampai, pria di depan Elena mengubah arah serangan. Nyaris dan hampir saja. Hampir saja serangan Elena kena dan mengakhiri pertarungan, juga hampir saja serangan lelaki itu mengenai Elena. Sebelum dua serangan saling kena, Elena berpindah menggunakan «Teleportasi» dan membuat jarak belasan meter. Dia berdiri di tempat awal.
"Hampir saja. Reaksimu cukup bagus." Elena memuji.
"Kau juga hampir berhasil memenggalku," jawabnya.
~Bentrokan Ketiga
__ADS_1
Elena sekali lagi membangun kuda-kuda. Bersiap dengan ancang-ancang dan tatapan mata tajam nan fokus, titik yang ia perhatikan adalah satu musuh di depan. Menghimpun tenaga dalam dirinya, kemudian dia melesat dengan sangat cepat….