
Telah jelas bahwa kemampuan Elena terlalu kuat dibandingkan orang-orang di sini. Dia cuma perlu waktu sekejap untuk mengalahkan sekelompok orang di depannya. Hanya tersisa satu. Satu orang yang sengaja Elena biarkan selamat demi keperluan interogasi. Tokoh utama kita hanya menusukkan wakizashinya pada kedua bahu serta salah satu paha orang ini. Gelombang rasa sakit yang intens dirasakan olehnya selama proses.
"Katakan apa tujuan kalian," ancam Elena. Dia tak mengacungkan senjata. Hanya berdiri tenang. "Satu hal yang harus kau tahu: Berbohong di hadapanku tidak ada gunanya."
"He… he… he…." Dia tertawa kecil dengan tenaga kecil pula. Kedua bahu dan satu pahanya terasa sakit berkat lubang dari tusukan wakizashi. "Kami… jauh lebih kuat dari perkiraan…. Manusia biasa… kami tak kan pernah kalah dari manusia biasa…."
"Baik, itu sedikit gaje." Elena mengernyit heran.
Tidak terlalu penting juga info yang keluar dari mulut orang itu. Yang penting bagi Elena, ada orang ini memikirkan informasi di dalam kepalanya. Sebab hanya dengan dia berpikir, itu sudah lebih dari cukup bagi Elena yang memiliki «Telepati». Dia telah membaca pikiran orang itu.
*Shess!* *Shess!* *Shess!*
Rumput ilalang tinggi tumbuh dengan cepat. Daun-daun mereka bergerak cepat layaknya sulur menerjang Elena. Gadis itu secara refleks mengeluarkan wakizashi dan menebas dengan niat memotong. Namun wakizashi Elena tak mampu untuk memotong. Itu dililit dan ditarik hingga terlepas dari tangan Elena.
*Tep!* *Tep!* *Cring!*
Elena melompat mundur beberapa kali demi menghindari tangkapan ilalang. Tapi terus diikuti, hingga dia menggunakan «Teleportasi» untuk berpindah puluhan meter dari sana.
Dengan «Clairvoyance» Elena membuat matanya sebening kaca yang memantulkan lebih jelas apa yang ia lihat. Segala di hadapan Elena terpantul dengan sempurna dan indera matanya ditingkatkan berkali-kali lipat. Dia dengan sangat jelas dan detail melihat kejadian di depan jauh sana.
"Inilah, hasil penemuan umat manusia!" Satu orang tersisa tadi berteriak lantang. Berkenaan dengan itu, sulur-sulur tumbuh cepat. Mereka berkumpul, melilit, dan membungkusnya. "Semenjak dulu manusia biasa selalu kalah melawan penyihir!" Semakin tebal saja tumpukan sulur yang melilitnya. Bola cahaya hijau juga bersinar makin terang. "Tapi sekarang! Inilah kemajuan dari apa yang kami temukan!"
Sulur dan tumbuhan lain yang tumbuh dan saling melilit, mereka membentuk sosok raksasa dengan orang tadi di dalamnya. Terdapat pula bola cahaya hijau sebelumnya. Benda itu menempel dan tertanam di tengah-tengah dada dari raksasa hijau tumbuhan. Bola itu berpendar dengan terang.
"Kenapa pula lawanku adalah makhluk kolosal," gumam Elena.
*Zrt!*
Elena mengambil sarung wakizashi yang tersisa dari pinggangnya. Dia memegang benda itu layaknya wakizashinya sendiri. Mengambil sikap ancang-ancang, menggunakan «Umbrakinesis» dan membungkus sarung wakizashi dengan bayangan, Elena lalu melemparkannya.
*Swing!* *Swing!* *Swing!*
Sarung wakizashi berputar di udara macam baling-baling. Dia menyisakan warna kelam sejauh jalurnya dan berwarna kelam pula dirinya. *Zrash!* Sarung wakizashi tersebut memenggal kepala sosok hijau raksasa hingga terhatuh bagian yang mirip kepala.
*Zrut!* *Zrut!* *Zrut!*
__ADS_1
Tetapi sulur-sulur kembali saling satu menyatu membentuk wujud kepala yang baru.
"Ini baru kunamai merepotkan."
~
Ketika kita beranjak dewasa, belum tentu kita akan sepenuhnya lepas dari anak-anak. Bisa jadi kita menjadi pembimbing mereka, bisa jadi kita menjadi teman mereka, dan bisa jadi pula kita bermain bersama mereka. Begitupun dengan orang-orang yang kuat. Mereka terlibat dengan orang-orang yang lebih lemah darinya. Dan saat ini, Aya tengah mengalami situasi tersebut.
Ini merupakan pertarungan satu sisi. Jika Aya serius, bisa saja dirinya mengalahkan semua orang dalam hitungan detik, hanya saja dia tak berani melakukannya tanpa perintah Elena. Alhasil, Aya terus-terusan menahan kekuatannya dan memperlama durasi pertarungan.
"Uryah!"
Ketika Fint mendekat dengan pedangnya disertai semangat perjuangan yang membara, berkobar, serta berapi-api, Aya tersenyum kering atas betapa lambatnya bocah itu bergerak. Dia melompat ke samping dan sungguh bisa menghindarinya dengan enteng.
"Hiyat!"
Sedangkan dilanjutkan oleh Rena. Kedua kukri kembar menebas padanya. Tapi bukan masalah. Toh juga, tubuh Aya saat ini bukan tubuh aslinya, melainkan adalah "bayangan". Jadi ketika senjata kembar itu melukainya dan membentuk bekas luka, Aya bisa merekonstruksi kembali wujudnya dan seakan menyembuhkan dirinya.
"Hati-hati! Dia memiliki kemampuan menyembuhkan diri yang kuat!" Rena berucap.
Lisa tak peduli. Dia menyergap Aya dari belakang menggunakan pedang pendek yang ia miliki. *Srut!*. Sayangnya Aya bisa dengan gampang melilitkan ekor harimaunya dan membanting tubuh Lisa.
"Lisa!" Fint berteriak. Makin besar saja suasana drama ini.
Ada juga Dorm yang berdiri diam di tempatnya. Dia saling bertatap dengan Aya. "Ini gawat, dia sangat kuat," gumamnya, "Aku tidak tahu kekuatan sejati gadis itu, tapi harusnya kekuatannya berguna di saat ini." Dia memegang erat senjatanya. "Kenapa pula dia tidak ada di sini."
"{Anjir lah,}" umpat Aya, "{Sampai kapan aku akan bermain permainan bodoh ini?}" Dia hanya bisa tersenyum ketika melihat pertunjukan drama yang dilakukan empat orang dalam circle yang sama ini.
~
Kembali ke sisi Elena, pertarungan sangat sengit di sini.
Elena beberapa kali bersalto di udara. Di sela-sela kesempatan, dia mengambil topi di atas kepalanya dan memasukkan tangannya ke dalam sana, mencari-cari benda senjata. Ditemukannya beberapa shuriken. Elena melemparkan shuriken-shuriken tersebut, kemudian ….
*Bom!* *Bom!* *Bom!*
__ADS_1
Masing-masing dari mereka meledak dan mengobarkan api merah di tubuh sulur makhluk itu.
Luka bakar terlihat di tempat shuriken menghujaninya. Tapi sulur-sulur segera tumbuh dengan cepat dan menutup area terbakar. Tak hanya itu, makhluk tersebut juga melesatkan beberapa sulur untuk menyerang Elena.
*Sis!* *Sis!* *Sis!*
*Cring!* *Cring!* *Cring!*
Belasan hingga puluhan sulur datang menghujani Elena. Gadis itu melompat dari satu dahan pohon layu ke dahan pohon lainnya. Tapi jumlah sulur mengincar yang semakin banyak, tidak memberikannya jalan kabur. Hasilnya ini menggunakan kemampuan «Teleportasi» untuk mengamankan diri.
*Tep!*
*Sis!* *Sis!* *Sis!*
Elena mendarat di sebuah batu, namun seakan tidak memberikan jeda istirahat, serangan sulur segera menyerangnya.
*Slash!* *Slash!* *Slash!*
Gadis itu lagi memasukkan tangannya ke dalam topi dan dari sana dia mengeluarkan tanto. Tanto biasa dengan sarung sederhana. Dia menyelimuti tanti tersebut menggunakan «Umbrakinesis» hingga bilahnya berwarna hitam gelap. Kemudian dia menebas di udara dan mengirimkan bilah hitam terbang memotong sulur-sulur.
Elena menarik napas dalam. Arah matanya tegas memandang makhluk besar yang terbuat dari sulur-sulur yang saling mengikat. "Kau benar-benar merepotkan," desisnya, "Awalnya aku ingin mengalahkanmu dan mengambil 'inti' yang kau miliki. Tapi kau terus bersikeras untuk melawanku. Kau memberiku pilihan merepotkan."
Benda bulat berpendar yang tertanam di tengah-tengah dada makhluk itu ialah inti yang menyokong kehidupannya. Jujur, Elena merasa bodoh melihatnya. Pasalnya inti tersebut berada di luar tubuhnya. Satu serangan masuk dan menghancurkan inti tersebut, maka dipastikan makhluk itu akan kalah. Dan sebenarnya Elena bisa saja menghancurkannya dari awal ketika melemparkan sarung wakizashi miliknya. Tapi rencananya, Elena pengen menguras energi makhluk tersebut dan mengambil intinya sebagai buah tangan. Sayangnya itu kayaknya nggak bisa dilakuin, deh.
Elena memasukkan tanto ke dalam topi. Menarik tangannya keluar, kali ini yang dia pegang adalah senapan sniper. Dia membidik dengan tepat. Senjatanya yang presisi siap meluncurkan peluru di tempat yang Elena target.
*Sis!* *Sis!* *Sis!*
Makhluk itu tak tinggal diam. Dia mengirimkan balasan sulur menyerang Elena. Tapi tiada berguna ….
*Dar!*
Elena hanya memerlukan satu serangan. Peluru melesat dari senapan sniper yang dipegangnya.
*Prank!*
__ADS_1
Peluru tersebut mengenai tepat pada inti yang berada di tengah-tengah dada makhluk tersebut. Suara kaca pecah terdengar di kala bola yang menjadi inti makhluk itu pecah.
Berikutnya, makhluk tersebut kehilangan wujudnya. Sulur-sulur yang saling mengikat mulai terurai satu demi satu dan tak lagi hidup. Mereka tak lebih dari tanaman mati — sama seperti hutan dan lainnya yang telah rusak.