Menjelajah Dimensi Setelah Reinkarnasi: EztEnd

Menjelajah Dimensi Setelah Reinkarnasi: EztEnd
Karavan


__ADS_3

Elena kembali ke penginapan bersama Fint mengikuti. Di sana ada Lisa yang mengemasi barang-barangnya. Yaps, mereka mau pergi hari ini.


"Siapa dia?" tanya Lisa.


"Anak pungut." Elena menuju salah satu meja dan mengambil sebuah kunci. Kunci kamar yang akan di kembalikan hari ini. "Dah lah, tidak perlu banyak cakap. Aku lebih suka jika kau cepat."


'Dan juga, kenapa kamu tidak memakai kemampuan «Mengintip» milikmu untuk mengetahui apa yang aku lakukan?' pikir Elena, 'Palingan dia takut kalau gak sopan.'


"Hey, jangan memanggilku begitu," celoteh Fint, "Dan siapa dia?" Dia memandang Lisa.


"Lisa, salam kenal." Lisa memperkenalkan dirinya. "Dan kamu siapa?"


"Fint," ucapnya singkat, "Mohon kerja samanya."


"Kalau sudah cepatlah." Aku bersedekap. Dia di depan pintu dengan menyandarkan lehernya di daun pintu. Aya mengeong pada Fint dan Lisa seakan sama tak sabarnya dengan Elena.


"Kenapa kita harus buru-buru?" tanya Lisa.


"Hmhp!" Elena mendengus.


Setelahnya mereka check out dari penginapan dan langsung saja pergi ke Serikat Pemusnahan untuk mengambil pelat tanda pengenal Elena dan Lisa. Ada dua hal yang menurut Elena cukup untuk diperhatikan.


Pertama tentang plat tanda pengenal yang bisa disalin. Iya, pelat itu seukuran telapak tangan dan terbuat dari perunggu. Terdapat nama, tempat pelat dibuat, dan tanggal pendaftaran. Tidak ada nomor ID unik. Yang ada hanya simbol khusus di salah satu sudut. Di masa depan Elena bisa membuat pemalsuan. Yah, meskipun mungkin akan ada kesalahan pendataan antara pemegang pelat dan data terdaftar. Itu yang pertama.


Selanjutnya adalah Fint yang ternyata sudah terdaftar sebagai anggota Asosiasi Pemusnah. Masalahnya ialah, usia Fint yang tergolong muda. Sekitar dua belas tahun. Sontak ini membuat Elena berpikir, 'Apakah mereka seniat itu untuk mengurangi populasi? Bukannya di zaman pernyataan 'banyak anak banyak rezeki' masih relevan mengingat berapa banyaknya lapangan kerja kosong?'


Sudahlah. Zaman itu memang kacau.


"Selamat karena sudah terdaftar, Nona Elena," sambutan riang resepsionis, "Apakah Anda akan langsung mengambil pekerjaan?"

__ADS_1


"Iya." Elena mengangguk. Dengan senyuman tanda sopan tentunya. "Tapi niat awalku membuat kartu identitas adalah cuma buat biar aku bisa lebih murah kalau ke kota lain, sih. Aku mau pergi ke kota lain," tambah Elena, "Apakah ada misi pengawalan?"


'Sebenarnya aneh saat aku — yang bisa berteleportasi — melakukan perjalanan. Tapi aku ingin melihat kemampuan Fint dan Lisa. Kebetulan 'itu' ada di sana.'


"Pedagang selalu memasang misi pengawalan, sih," ucap resepsionis, "Ke mana kau mau pergi?"


"Aku mau pergi ke utara," jawab Elena. "Apa ada pedagang yang mau ke sana?"


"U-Utara?" Resepsionis itu terdiam sejenak. Dia membungkuk dan mendekatkan wajahnya pada Elena. Dengan suara pelan ia berkata, "Apa Anda yakin? Kota, desa, maupun pemukiman lainnya umumnya memiliki peradaban lebih terbelakang di utara." Dengan lebih pelan dia menambahkan, "Sering ada ekseskusi penyihir di sana."


"Bukankah di sini juga ada?" ucap datar Elena.


Dia sungguh telah memastikan tentang eksekusi penyihir di kota ini. Elena menggunakan kemampuan «Penerawangan»-nya. Terduga penyihir dan penjahat lainnya dieksekusi. Walaupun tidak dipastikan secara pasti bila terduga itu merupakan penyihir, setidaknya ekseskusi dilakukan secara tertutup. Elena yakin jika dilakukan secara terbuka pasti akan merepotkan. Maksudnya adalah tentang Lisa yang pasti akan berusaha menyelamatkan terduga itu. Beruntung Lisa tidak memakai kemampuannya.


"Jangan bicara begitu, Nona Elena." Si resepsionis tersenyum. "Di tempat ini kami melakukan interogasi dan penyelidikan secara mendalam untuk memastikan bahwa kami tidak salah sasar."


Kata-kata tadi cukup membuat Lisa terpelatuk. Hampir saja terpelatuk. Elena segera memegang tangan Lisa yang telah tergenggam dan melirik dengan pupilnya di sudut mata seakan mengatakan, "Tenanglah!" Baguslah Lisa bisa tenang.


"Baik, segera saya carikan."


~


Beberapa waktu kemudian Elena bersama Lisa dan Fint bersapa dengan sebuah karavan. Karavan yang akan pergi ke utara sesuai permintaan Elena. Karavan itu lumayan kayaknya. Ada sekitar dua hingga tiga puluh orang bersama kereta yang membawa barang-barang.


"Barang-barang yang banyak," kata Lisa, "Apa ke utara barang-barang ini laku?" Dalam benaknya, 'Tidak aneh mengingat di utara lebih terbelakang — menurut resepsionis tadi. Wajar kalau pemenuh kebutuhan lebih banyak.'


"Hey! Siapa kalian?" Seorang wanita datang menemui mereka.


Elena menengok wanita yang baru datang itu diikuti Fint dan Lisa. Itu adalah seorang wanita dengan rambut merah kacau, pupil mata jingga, dan kulitnya agak gelap. Warna kulit wanita sedikit lebih gelap dari Fint. Usianya sekitar delapan belas tahun — seumuran dengan Lisa. Dari pada itu, melihat dari penampilanku mengidentifikasi kalau dia seorang pejuang atau setidaknya bisa bertarung.

__ADS_1


"Bukankan lebih sopan memperkenalkan dirimu sendiri sebelum menanyakan nama orang lain?" balas Elena. Dia menatap datar.


"{Nya, nya, palingan dia anggota Asosiasi Pemusnah yang menjadi pengawal di sini,}" celoteh Aya, "{Apa kemampuan berpikirmu menumpul sampai ke tingkat ini, Elena?}"


"Maaf kalau aku tidak sopan." Wanita itu memperkenalkan dirinya, "Namaku Rena. Aku dari Asosiasi Pemusnah. Sudah lama aku bergabung dengan karavan ini untuk berkeliling banyak tempat. Mah, kalau aku memisahkan diri dari mereka, aku bingung cara lain menghasilkan uang."


"Rena kah? Senang bertemu denganmu," kata Elena, "Namaku Elena Madison, seorang pengembara."


"Pengembara?" Rena terkejut. "Mengejutkan ketika gadis seusiamu pergi mengembara. Apa mereka berdua adalah saudaramu? Kakak perempuan dan kakak laki-laki?"


"Bukan, aku mengembara sendiri." Elena menggelengkan kepalanya. "Mereka berdua adalah orang asing yang kutemui di jalan."


"O-Oh, begitu ya." Rena beralih topik. "Ngomong-ngomong untuk apa kamu menemui karavan ini?"


"Tidak banyak," jawab Elena, "Aku bergabung dengan Asosiasi Pemusnah baru-baru ini. Kurasa aku akan bekerja menjadi pengawal karavan." Dia menambahkan, "Lagi pula aku juga mau pergi ke utara."


"Kau ingin menjadi pengawal? Di usiamu itu?" Rena diam sejenak. Menunggu respon Elena yang tak kunjung diberikan. "Dengar, banyak orang yang mengganggap diri mereka hebat meski aslinya mereka lemah. Apa kau salah satu dari mereka, gadis kecil?"


"Apa kau ingin bertarung?" Elena bertanya balik. "Sampai sini semua orang yang meremehkanku selalu bernasib sama."


"Tentu saja."


Rena mengambil kukri kembar yang ia pegang di masing-masing tangannya. Dia memainkan keduanya dengan indah di kedua tangan, sebelum kemudian menerjang Elena dengan dua senjata itu. Dan memang, jarak mereka dekat saat itu.


Elena tetap tenang ketika kukri kembar mengarah padanya. Dia melihat senjata kembar itu dengan jelas. Pupil matanya yang bak cermin menangkap gambar dengan detail dan amat jelas. Lalu dengan cekatan dia menarik wakizashi bersama sarungnya dan menebas satu per satu kukri, dengan cepat dan tajam!


*Clank!*


Dalam satu serangan kedua kukri terlempar ke udara dan Elena mengarahkan senjatanya ke leher Rena. Tak lupa, dia membuat pupil matanya kembali normal. Berwarna hitam legam.

__ADS_1


"Selesai." Elena tak berekspresi. Wajah dinginnya membuat kata-kata semakin menakutkan. "Aku tidak lemah, bukan?"


Rena hanya bisa terdiam. Dia menelan lidahnya melihat wakizashi terbungkus sarung yang berada di samping lehernya.


__ADS_2