
Keesokan harinya mereka melanjutkan perjalanan bersama karavan. Masih sama seperti sebelumnya, Lisa, Fint, dan Rena berada di gerbong paling belakang dengan Aya juga di sana. Tapi dalam perjalanan ini, Dorm ikut bersama mereka. Selain itu karavan menjadi lebih sedikit. Berkat serangan EztEnd kemarin pastinya.
“Kenapa kau ikut bersama kami, Pak Tua?” Fint Lisa.
“Sudah kubilang, bukan?” jawab Dorm, “Aku akan ikut bersama gadis itu jika dia berhasil menebak senjata terbaik di tokoku. Dan aku ikut karena dia benar.”
Rena mendekatkan bibirnya pada telinga Fint. “Lisa, siapa dia?” bisiknya.
“Pandai besi,” jawab Fint acuh, “Aku terlalu malas menceritakan detailnya, tapi dia menganggap dirinya sebagai pandai besi terbaik di tempatnya.”
“Kurasa itu bagus.” Lisa berkomentar, “Semenjak karavan jarang singgah di kota, kami — para pengawal — sulit mendapatkan perawatan layak pada senjata kami.”
“Aku ragu dia berguna tanpa alat kerjanya,” balas Fint, “Palingan hanya bisa mengasah pisau.”
“Ngomong-ngomong, gadis itu tidak ikut bersama karavan, ya?” sela Dorm.
“Abaikan dia,” kata Rena, “Sejak hari pertama dia ikut dengan jalan kaki. Dia orang aneh.”
Perjalanan terus berlanjut dengan Aya dan Lisa yang tertidur di sana.
Lisa, kemarin hari dia yang mendapatkan pelatihan untuk memaksimalkan kemampuannya benar-benar kelelahan. Tak pernah menyangka dirinya kemampuannya bisa digunakan seperti ini. Rasanya memang kejam dan membuatnya merasa bersalah, tapi sudahlah. Lagi pula penjudi adalah orang yang tak produktif.
~
Di tempat yang agak jauh, Elena melompat dari satu pohon ke pohon lainnya. Dia bodo amat soal karavan. Kenapa pula dia harus mengikuti mereka? Asal Aya yang akan menjadi penunjuk koordinat ada di sana, Elena bisa berteleportasi sesuka hati.
Terus melompat dari satu dahan pohon ke dahan pohon lainnya, Elena sampai di sebuah tempat. Jauh di pedalaman hutan dia menemukan air terjun kecil dengan sungai bersih.
“Ketemu, akhirnya ada juga tempat yang nyaman.”
Elena mengambil topinya. Dari sana dia mengeluarkan alat masak; pemantiik api, panci mini, dan lainnya. Tak lupa dirinya mengumpulkan kayu bakar. Kemudian, dia mengambil sebungkus mie instan dari topi sana. Merebus air, mulailah ia memasak mie instan tersebut.
“Dasar, abad pertengahan tidak pernah menyenangkan. Makanan di sini kebanyakan hambar dan keras. Sekali-kali aku ingin makan makanan Bumi modern.”
__ADS_1
*Zrt!*
Celah terbuka. Dari sana Noctis menunjukkan batang hidungnya dan menemui Elena.
“Yo, kita bertemu lagi, gadis kecil,” sapanya. “Buatkan aku satu.”
“Iya, iya,” jawab Elena tanpa minat, “Kau ini. Padahal aku lebih suka mie goreng, kenapa malah mie kuah semua yang ada?”
“Sudah, jangan banyak bicara, gadis kecil,” balas Noctis, “Kuah dari mie kuah bisa mengisi perut.”
“Tanpa karbohidrat sama seperti minum air kran!” jawab Elena.
“Setidaknya rasanya enak!” balas Noctis.
“Itu tidak fungsional!” jawab Elena.
“Kalau kamu mencari fungsionalnya, bagaimana kalau aku ganti semua mie menjadi tepung atau beras? Itu jauh lebih fungsional!” balas Noctis.
"Sudah sampai di sana saja pertikaian mengenai mie instan." Noctis mengganti topik. "Kapan kau akan berhenti main-main, gadis kecil? Aku bisa memaklumi perihal penyihir itu sebagai uji coba dan pengamatan. Kau bahkan mengajaknya bermain di rumah perjudian. Tapi soal pandai besi dan si bocah? Untuk apa mereka berdua ada di regumu?"
Elena diam sejenak. Dia bernapas tenang beberapa kali sebelum menjawab, "Itu urusanku. Kau fokus saja dengan yang di sisi lain." Tatapan matanya tajam memandang Noctis.
Noctis tidak langsung memberikan responnya. Dia mengamati beberapa saat kedua mata tajam Elena yang memandang dirinya. "Meskipun seorang cenayang, pada akhirnya kau tetaplah manusia yang memiliki emosi. Aku tahu Kau pasti tidak bisa membuang mereka begitu saja, bukan?"
*Cling!*
Elena menarik wakizashinya. Bilah wakizashinya tersebut dekat dengan leher Noctis.
"Sudah kubilang, itu urusanku."
Pupil mata Noctis menghadap ke bawah memandang mata tajam wakizashi di dekat lehernya. Dia tenang tanpa khawatir sedikitpun meski sebuah senjata tajam hampir memenggal dirinya.
"Huh, jangan salah sangka, gadis kecil. Aku tidak berniat mengganggu mereka ataupun dirimu," katanya, "Tapi ingatlah akan satu hal: Jika kau gagal, yang menerima resikonya adalah kerajaan tempatmu berasal. Teman-temanmu pun juga akan terpercik. Aku hanya akan menyelesaikan pekerjaan sebisa dan seniatku."
__ADS_1
"Benar-benar dingin." Elena menarik kembali bilah wakizashi. Dia menyarungkan senjatanya. "Apa kamu tidak memiliki simpati pada manusia?"
"Apa kau peduli dengan semut? Aku sebagai roh memiliki pandangan berbeda soal manusia."
Noctis masuk ke dalam celah. Tertutup, sekarang hanya tersisa Elena sendirian di dalam hutan.
Dia menghembuskan napas dan berkata, "Dasar, siapa tadi yang minta dibuatkan mie instan?"
~
Kembali ke karavan, mereka tengah istirahat siang hari itu. Di sana tiba-tiba Elena muncul entah dari mana dan bergabung dengan circle Lisa. Kebetulan circle Lisa yang berisi Lisa, Rena, Fint, dan Dorm itu memisahkan diri dari lainnya.
Aya yang merespon kedatangan Elena berlari dan melompat ke arah Elena. Akhirnya dia diam di bahu Elena dan nyaman di sana.
"Elena! Dari mana saja kau?" tanya Lisa.
"Bukan urusanmu." Lisa duduk di dekat Fint. Di antara bocah itu dan Lisa. "Dari pada itu, kalian cukup beruntung untuk tidak bertemu dengan EztEnd lagi, ya"
"Mou, jangan bicara begitu, Elena." Lisa berkata dengan wajah tak suka. "Kedatangan EztEnd bukan berarti hadiah."
"Terserah bagaimana kau memandangnya." Elena beralih pada Fint yang enak-enakan makan. "Ngomong-ngomong bocah, apa kamu tidak ingin menggunakan waktumu untuk berlatih? Bagaimana dengan mimpimu untuk menjadi kuat? Apa kau pikir kau bisa melakukannya dengan makan, tidur, dan buang kotoran setiap hari?"
Fint bergidik. Pertama Elena adalah seseorang yang misterius, kedua Elena adalah seseorang yang kuat, dan ketiga Elena cukup barbar untuk memberikan serigala sebagai lawan pertamanya dalam latihan. Mendapatkan undangan latihan dari Elena sudah membuatnya berpikir yang buruk-buruk akan dijadikan bubur dia.
"Gak apa-apa, kok, dik. Dulu kakak lebih parah," suara Elena berubah riang, "Kamu masih mending cuma lawan serigala. Dulu kakak disuruh melawan naga sendirian, lho."
Elena bersikap layaknya senior dalam suatu ekstrakurikuler yang mendapatkan ujian berat dan melakukan adu nasib dengan juniornya yang tengah menjalani latihan. Hal tersebut membuat Fint lebih bergidik dan ngeri.
"Bercanda," kata Elena tiba-tiba, "Sebagai amatiran, latihan dasarmu hanya perlu mengayunkan pedang sekian kali dalam sehari. Aku tidak akan menghajarmu." Dia menambahkan, "Dan kalau kamu butuh kawan bertarung, aku yakin Rena akan mau menemanimu."
Fint bisa bernapas lega.
Yang menjadi kecewa adalah Dorm. Ia tadi berpikir kalau dia akan bisa melihat bagaimana Elena dalam menggunakan senjatanya. Sejak awal dia belum melihat rupa dari bilah senjata Elena. Ini membuatnya penasaran. Dan hal itu pula yang lebih memancingnya untuk ikut perjalanan Ini.
__ADS_1