Menjelajah Dimensi Setelah Reinkarnasi: EztEnd

Menjelajah Dimensi Setelah Reinkarnasi: EztEnd
꧁Perkumpulan Para Penyihir: Bag. Keempat


__ADS_3

"Sejak mereka berulah, beberapa orang di dunia ini mulai bisa menggunakan sihir — hal yang seharusnya tidak ada di sini," ujar Elena menjelaskan, "Aku tidak tahu ada hubungan apa tapi, entah mengapa penyihir yang kutemui sampai sekarang adalah perempuan." Dia terhenti. Pandangannya tertuju pada Grén di hadapannya. "Aku juga tidak peduli asal misiku untuk menghilangkan sihir dari dunia ini beres. Hanya saja, jika kau bertingkah seperti itu, kita akan menjadi musuh mengingat tujuan kita berlawanan."


"Kau? Mau menghilangkan sihir?" Grén berkata keras. "Apa kau pikir aku akan membiarkanmu!" bentaknya.


"G-Grén…," Lisa berkata lirih.


"Sudah sejak lama aku mencari keabadian dan sejak lama pula aku mendapati jalan buntu. Tapi dengan sihir! Dengan yang disebut sihir ini aku bisa mencapainya!" suara keras-keras merambat melalui hutan. "Dan kau ingin melenyapkan keberadaan sihir dari dunia ini? Mana mungkin aku bisa menerimanya begitu saja!"


"Itu bukan urusanku." Elena membenarkan topinya. Agak condong ke depan dan mengarah ke bawah. Kepalanya tertunduk membuat kedua matanya tertutup daun topi lebarnya. "Tidak peduli apakah itu kebaikan atau kejahatan, yang aku laki hanya satu; menjalankan perintah atasan."


"Bahkan jika sihir akan digunakan demi menyelamatkan nyawa, kau tetap akan melenyapkannya? Kau akan membiarkan banyak nyawa mati?" tanya Grén lantang.


"Tidak terlihat kau akan menggunakannya untuk menyelamatkan nyawa." Dengan lirih dan desisan Elena menambahkan, "Suaramu tak bernilai."


"Kalau begitu, coba hentikan aku!" bentak Grén.


*Sret!* *Sret!* *Sret!*


Tumbuhan-tumbuhan di sekeliling bergerak. Dari semak-semak sulur menjulur menusuk udara dan mengarah ke Elena. Dengan cepat dalam kegelapan. Mereka pelan suaranya dan tersembunyi.


*Slash!*


Elena menarik wakizashi dan menebas.


Memotong sebuah sulur, serangan dari sulur tak berhenti dan pangkal terpotong dari sulur terus mendekati Elena, begitu pula sulur-sulur lainnya.


'Cukup keras,' batin Elena, 'Dan merepotkan.'


*Cring!*


Elena berteleportasi. Dia berpindah ke langit-langit dan berdiri terbalik seperti kelelawar.


*Cetak!* *Drak!*

__ADS_1


Mata Elena melebar. Dia segera sadar langit-langit tempat ia berpijak runtuh dan membuatnya terjatuh.


"Bwahahahaha… sampai sekarang tidak ada satupun orang yang pantas menghadapi kemampuan sihir," berkata Grén dengan konotasi menggila, "Kira-kira sampai mana dirimu, individu dari dunia lain, dunia asal sihir, bisa bertahan di hadapan kekuasaanku!"


Elena jatuh. Menggunakan «Penerawangan» dan «Clairvoyance», dia melihat puluhan sulur dan tongkat kayu menembak mengarah padanya. Mereka semua melayang di udara.


*Zrash!*


Elena mengayunkan wakizashi 360° dengan Surai hitam mengikuti. Selimut hitam melayang di udara dan menghempaskan semua serangan itu.


*Tap!*


Elena mendarat di samping Lisa. Tapi wanita itu sama sekali tak masuk dalam perhatiannya. Pandangnya mengarah pada Grén di depan.


"Harus kuakui kau cukup hebat," kata-kata dingin Elena bercampur hawa malam, "Dibandingkan rata-rata orang di duniaku, kemampuan boleh masuk ke peringkat atas. Tapi dibandingkan jajaran para Raja Roh, kekuatanmu hanya mainan."


"Terima kasih," balas Grén, "Aku telah mengekstrak kekuatan para penyihir di sini selama beberapa tahun terakhir."


"Mati! Mereka semua mati setelah aku mengambil kekuatan mereka. Mereka mati seperti orang yang tak makan selama berbulan-bulan! Mereka yang telah aku ambil kekuatannya, kini mereka tak ada lagi di dunia!"


"Ma-Mati? A-Apakah selama ini kau mengumpulkan para penyihir hanya untuk menjadikan mereka sebagai makananmu?" Lisa bergetar dengan tak percaya.


"Hehehe… kenapa aku harus peduli dengan sebagian kecil manusia?" katanya tanpa perasaan, "Jika aku berhasil mendapatkan rahasia di balik keabadian, juga ilmu untuk memperolehnya dengan cara yang lebih mudah dan cepat, aku bisa menyelamatkan lebih banyak nyawa. Apakah ini salah untuk membunuh 1 orang demi menyelamatkan 2 orang? Tidak! Apa yang aku lakukan adalah kebenaran!"


Lisa terdiam dan gemetar di tempat. Sungguh dirinya tak dapat mempercayai apa yang baru saja dikatakan oleh orang yang ia hormati selama ini. Bila selama ini penyihir yang telah susah payah ia selamatkan datang ke mari hanya untuk mati, bila semua yang ia selamatkan hanya menjadi makanan untuk monster di depannya, bukankah lebih baik dia tidak membawanya ke sini? Setidaknya dengan begitu, tidak akan ada monster gila yang terbangun.


"Tenangkan dirimu. Aku tahu kau mungkin gelisah sebab menjadi kaki-tangan monster ini secara tidak sadar. Tapi menyesal dan berputus asa tidak ada gunanya sekarang. Prioritas kita adalah menyingkirkan makhluk ini."


Wanita itu kembali mengangkat wajahnya. Kata-kata Elena berhasil membuatnya tersadar kembali dan keluar dari keputusasaan dan penyesalan diri yang baru saja menggerogotinya.


"Benar, setidaknya kita—"


"Oh, iya. Berhubung kamu tidak berguna dalam pertarungan, sebaiknya kamu diam saja di dimensi bayanganku, ya? Malah sulit kalau kamu menjadi sandera di sini."

__ADS_1


"E-Eh?"


*Blup!*


Bayangan Elena bergelak ke bawah kaki Lisa dan melebar di sana. Berikutnya, Lisa pun masuk ke dalam bayangan seperti seseorang yang terperosok masuk ke dalam lubang.


"Terima kasih sudah menunggu. Kau pintar juga membuat seseorang bimbang. Tapi sayang sekali tidak ada sandera yang bisa kau ambil."


"Guh, sepertinya aku terlalu memandang remeh dirimu."


Elena mengambil sikap ancang-ancang membawa wakizashinya. "Pertama kemampuan untuk mengendalikan tumbuhan dan kedua kau bisa membuat langit-langit runtuh. Sepertinya kau memiliki lebih dari satu kemampuan. Akan bagus jika kau bisa diajak kerja sama dan kooperatif saat aku menginterogasimu nanti."


"Siapa yang akan menginterogasi siapa?"


*Brak!* *Sret!* *Sret!*


Batu-batu naik dan saling bersusun antara satu dengan lainnya. Tak luput, sulur, akar, serta tumbuhan-tumbuhan lain lilit-melilit dan membentuk satu kesatuan yang kokoh. Terwujudlah sebuah raksasa batu besar. Raksasa batu yang diseluruh tubuhnya terikat akar dan tumbuhan-tumbuhan yang membuatnya makin kokoh dan makin besar.


§Graaah!§


Raksasa batu itu berteriak dengan suara menggelegar dan memantul di dalam sistem gua bawah tanah ini. Angin kencang dari teriakannya, menerpa tiap-tiap tanaman di sana. Elena menempatkan tangan kiri di depan wajahnya, menahan hembusan kuat angin. Dia bertahan dari hempasan kuat dari angin kuat.


"Sangat berisik," celetuk Elena, "Apa kamu tidak khawatir orang-orang yang kau kumpulkan di sana menyadari pertarungan kita?"


"Persetan! Aku akan membunuhmu!"


"Nenek lampir yang merepotkan!"


Elena menyiapkan wakizashinya. Dia lalu melesat maju. Menambahkan tekanan udara di kakinya menggunakan «Aerokinesis», kecepatan berpindah Elena semakin cepat dari biasanya. Sekejap, dia segera sampai di hadapan raksasa batu besar.


*Slash!* *Slash!* *Slash!*


Tebasan-tebasan dilakukan olehnya. Bayangan hitam mengikuti bilah wakizashi di waktu dia menebas. Tebasan bertubi dan beruntung dilakukan Elena di beberapa bagian tubuh dari raksasa batu. Wakizashi Elena yang tajam dan cepat itu, Elena menggunakannya untuk memotong….

__ADS_1


__ADS_2