Menjelajah Dimensi Setelah Reinkarnasi: EztEnd

Menjelajah Dimensi Setelah Reinkarnasi: EztEnd
꧁Monster di dalam Kabut: Bag. Kedua


__ADS_3

Musuh yang dihadapi Elena dan kawan-kawan sangat merepotkan — begitu mudahnya untuk mendeskripsikannya. Pasalnya, setiap kali dia terkena serangan, berubah sosoknya akan berubah menjadi kabut putih dan mewujud kembali ke bentuknya semula. Ini membuat semua serangan seakan-akan tak berarti di hadapannya. Bisa terus meregenerasi diri dan tidak bisa dibunuh. Sisi bagusnya adalah serangannya juga tidak terlalu ber-damage. Elena dan Lock selalu berhasil menanggulangi serangan dari makhluk itu.


Tapi bukan berarti mereka dalam kondisi yang bagus.


Jika ini terus berlanjut, tentu saja mereka akan kelelahan dan mati karenanya. Beda dengan makhluk tersebut yang terus hidup dan seakan-akan tak memiliki rasa lelah. Jadi bisa dibilang, Elena dkk. itu menang di reaksi dan kemampuan serangan, sedangkan musuhnya memiliki keunggulan durabilitas. Tak peduli diserang seperti bagaimanapun dia terus-terusan hidup kembali.


"Apa kamu punya rencana?" tanya Lock.


Napasnya sudah tak beraturan. Dia ngos-ngosan. Keringat mengucur deras di tubuhnya meski udara di sini dingin. Walau begitu dirinya tetap memegang busur dengan anak panah yang sedang dilesatkan. Selalu siaga dan waspada pada serangan yang akan datang padanya.


"Entahlah," itu jawaban singkat Elena. Dia memejamkan mata dan terus berkonsentrasi pada «Penerawangan». "Yah, terus saja bertahan. Ada sesuatu yang ingin aku pastikan."


Elena berpikir: 'Tidak mungkin ada EztEnd yang 'mutlak', 'absolut', dan 'Abadi' di dunia ini. Benda yang memicu kedatangan EztEnd di dunia ini tidak didesain untuk memberikan 'keabadian' dan menciptakan makhluk 'Maha Kuasa'. Pasti ada batasan dari setiap EztEnd meskipun berbeda antara satu dengan lainnya.'


'Ada cara untuk mengalahkan makhluk ini yang sangat jelas, yaitu terus bertarung dan membuatnya kehabisan energi. Pertanyaan dari melakukan cara ini adalah: Sampai kapan terus bertarung? Jujur, aku sendiri bisa mengukur batas kekuatan dari makhluk ini. Sedari tadi dia hanya bertarung dalam wujud makhluk kecil yang sangat lemah. Apakah dia menyamakan output dan input energinya? Bila begitu pertarungan yang tidak akan berakhir!'


'Aku memiliki hipotesis. Makhluk itu seharusnya memiliki tubuh utama dan yang ada di depan kita hanyalah ilusi. Jadi cara untuk mengalahkannya, kami harus menemukan tubuh utamanya dan mengalahkan itu alih-alih melawan tubuh ilusi ini.'


Elena terus berfokus pada «Penerawangan». Ketika makhluk itu datang menyerang Elena sedang Lock dan lainnya tidak bisa bereaksi, maka Aya lompat dari bahu Elena dan mencakar makhluk tersebut. Membunuh dengan bekas cakaran di kepala makhluk tersebut.


"{Yare, yare, merepotkan saja.}" Aya bermonolog, "{Tapi, sekali-kali kerja juga tidak buruk.}" Setelah selesai dia melompat kembali ke bahu Elina.


Tindakannya hanya berguna untuk bertahan. Laki-laki makhluk tersebut berubah menjadi kabur dan terwujud kembali tak jauh dari sana.


Tapi tidak apa-apa, karena setidaknya Aya lagi berkontribusi dari dua orang ini: Lisa dan Windy.

__ADS_1


"A-Apa kamu terasa kalau kucing lebih hebat dari kita?" tanya Lisa.


"Iya, sih," jawab Windy, "Dari tadi saja kita nggak bisa bunuh satupun. Tapi dia dengan mudahnya bisa langsung melompat dan mengalahkan. Apa kita memang selemah itu?"


Sejak awal Elena dan Aya memang kuat. Dibandingkan dengan orang-orang dari dunia ini, keduanya adalah anomali — keanehan — yang tak seharusnya ada di sini. Pun sejak awal keduanya memang berasal dari dunia lain.


Cukup lama Elena berfokus dengan «Penerawangan»-nya. Memang merepotkan untuk menggunakan kemampuan ini di tengah tempat yang penuh akan kabut. Jarak pandang dari «Penerawangan» terbatas. Namun hasilnya cukup memuaskan, yaitu Elena mendapatkan sesuatu.


Jauh di pedalaman, Elena melihat sosok lain yang tertutup oleh kabut tebal. Takutnya sangat tebal, lebih tebal dari sebelumnya. Bahkan jarak pandang dari «Penerawangan» berkurang hingga satu meter saja. Ini membuat Elena tidak jelas melihat sosok apa yang ada di dalam kabut tebal itu, tetapi yang pasti, sosok tersebut berwarna-warni dengan wujud tebal. Terlihat dari sisik di lapisan kulit yang mengkilap.


"Ketemu!" Elena tiba-tiba memakai yang mengagetkan tiga lainnya.


Sontak saja mereka berpikir, 'Apa yang dia katakan?', tapi mereka tidak bertanya.


Selesai mengatakannya, Elena segera melompat dan melesat. Hampir saja Aya dibuatnya terjatuh karena aksi tiba-tibanya.


"Oi, kalian paham maksud gadis itu?" tanya Lock pada Lisa dan Windy.


"I don't know, don't ask me," kata Lisa, "Dia memang sudah aneh sejak awal."


~


Elena mengandalkan «Penerawangan» yang menurut makhluk itu sebagai acuan.


Kabut tebal di sini benar-benar. Dia yang tak bisa melihat jelas jalan di depannya, ketika melompat dari satu dahan ke dahan lain, beberapa kali hampir menabrak dan meleset. Beruntung, dengan kemampuan berpikirnya yang cepat, dirinya selalu selamat setiap kali hampir menabrak. Paling-paling cuma Aya yang sesekali berteriak bak menaiki roller coaster.

__ADS_1


Dan setelah perjalanan (menegangkan bagi Aya) yang panjang itu, akhirnya Elena sampai di tempat makhluk yang ia sorot.


Di sana kabut benar-benar tebal. Elena yang berpijak dengan kedua kakinya, melihat menggunakan mata normal, seakan-akan dia berada di tempat yang sepenuhnya berwarna putih. Tak ada apa-apa di sana. Bahkan suara sangat senyap nan sepi. Tidak ada suara hewan serta suara berisik lainnya. Suara angin dan daun-daun yang bergesekan pun tidak terdengar.


*Krak!*


Kaki Elena memijak sesuatu saat berjalan beberapa langkah. Berjongkok, Elena menemukan batang tulang yang patah diinjak olehnya.


Dirinya mengambil patahan batang tulang itu lalu berkata, "Tulang ini sangat rapuh." Alisnya mengkerut dengan perasaan heran menyertai. "Apakah sudah lama di sini? Tapi seharusnya tidak selama itu, 'kan?"


"{Ayolah, kawan~,}" ucap Aya, "{Kau pasti tahu jawabannya, bukan?}"


"Yeah…." Elena melemparkan batang tulang ke sembarang tempat. Kemudian dirinya berdiri sambil merentangkan lebar-lebar kedua tangannya. "«Aerokinesis»," desisnya hanya mengucap satu kata.


*Woosh!*


Seketika kabut terdorong pergi. Terlihat jelaslah lingkungan sekitar yang sedari tadi tertutup oleh tirai kabut putih. Di sana pohon-pohon serta tanaman lain mati, bangkai binatang hanya tersisa tulangnya yang rapuh, dan tanah basah berair.


Bukan itu semua yang Elena pedulikan. Dia menatap terdapat pada makhluk besar di hadapannya. "Kutebak, makhluk itu memiliki kemampuan untuk menyerap Esensi Kehidupan. Kemampuan unik yang sangat umum."


"{Aku rasa tidak terlalu umum. Di bawah rata-rata malah,}" ucap Aya, "{Maksudku, lihat tanah dan rasakan udara di sini. Rasanya basah dan lembab, bukan? Berarti kemampuan penyimpanan dan mungkin juga penyerapannya tidak sempurna sampai Esensi Kehidupan yang ia kumpulkan bocor.}"


"Itu juga bisa."


Makhluk di depan Elena adalah reptil — binatang melata. Seperti kadal kalau harus mengatakan binatang yang paling mirip dengannya. Hanya saja dia memiliki kepala seperti gurita dengan puluhan tentakel, mata ungu gelap yang berpendar, dan banyak "bulatan" memenuhi wajahnya. Tubuhnya dipenuhi oleh sisik yang berwarna-warni. Warna-warna di tubuhnya kerkilauan di bawah sinar mentari.

__ADS_1


__ADS_2