Menjelajah Dimensi Setelah Reinkarnasi: EztEnd

Menjelajah Dimensi Setelah Reinkarnasi: EztEnd
Akhir Sinetron


__ADS_3

Elena berdiri di atas tumpukan sulur yang terkulai lemas. Di depannya ada mayat seseorang yang menggunakan benda bulat berpendar tadi. Kini tubuhnya telah kering kerontang seakan hanya tulang dan kulit saja. Bukan seakan, melainkan "memang" hanya tersisa itu saja. Bahkan kedua bola matanya menghilang dari tempatnya.


Tak lama Elena memperhatikan mayat kering. Perhatiannya berpindah pada pecahan bola yang menjadi inti makhluk sulur. Kini bola tersebut telah pecah. Namun masih terlihat dia memancarkan cahaya berwarna kehijauan.


Elena berjongkok dan memungut pecahan-pecahan yang memancarkan cahaya hijau. "Bahkan setelah dihancurkan pun masih menyimpan 'energi kehidupan' yang cukup besar. Atau apakah 'esensi kehidupan' lebih cocok?" Elena bertanya pada dirinya sendiri. "Yah, apapun itu tak penting."


Dia meremas pecahan-pecahan. Hanya menggunakan tangannya saja, pecahan-pecahan berukuran besar berubah menjadi debu yang tetap memancarkan warna hijau. Berpendar dia dalam kegelapan malam.


Lanjut, Elena menebarkan debu-debu hijau itu ke sekelilingnya


Seakan terbang. Debu-debu tersebut menyebar jauh menutupi hutan yang mati. Dalam prosesnya kegelapan malam diterangi oleh warna hijau indah yang membikin rindu. Cahaya-cahaya yang menyebar ke seluruh hutan bak kunang-kunang yang berterbangan dalam barisan.


Selesai, semuanya kembali dalam kegelapan.


“Hutan ini akan memulihkan dirinya kembali.” Elena mengambil wakizashi dari topinya dan meleyakkannya di pinggang kirinya. Penampilannya telah kembali seperti awal. “Sekarang, sebaiknya aku kembali ke tempat mereka.”


~


Aya bertarung dalam kebosanan. Beberapa kali dia menguap. Komedi ini sungguh membuatnya ingin tertawa. Malahan tertawa sudah bosan juga. Dia berekspresi datar pada setiap serangan yang datang padanya. Terlalu mudah!


*Bugh!*


Saat Fint mendekat, Aya menyeruduknya dengan tubuhnya sampai bocah itu jatuh.


“{Hoam~}”


*Srut!* *Brak!*


Serangan sergapan dari Lisa bisa ditangani dengan mudah dengan melilitkan ekor pada wanita itu dan melemparkannya.


“{Hum~}”


*Scratch!* *Scratch!*

__ADS_1


Bila yang datang Rena, Aya menyambar menggunakan kedua kakinya. Tentu dengan cakar yang tumpul.


“{Gu….}”


*Dash!*


Dorm? Apalagi? Kakek tua penempa tidak benar-benar memiliki kemampuan bertarung. Aya mendorongnya menggunakan kepalanya saja bisa membuat Dorm terjatuh.


“{Membosankan,}” ucap Aya yang diterjemahkan sebagai raungan bagi orang-orang di sana, “{Ini terlalu membosankan.}”


Di saat inilah akhirnya berakhir juga drama memilukan ini.


Dari balik kegelapan malam, Elena muncul menunjukkan batang hidungnya. Tatapan mata datar tanpa minat, tangan kiri yang memegang “tsuba ring” wakizashi, jubah hitam yang membuatnya misterius, dan topi penyihir runcing. Dia memiliki pikiran yang kurang lebih sama dengan Aya; Ini permainan anak-anak?


“{Jangan salahkan aku!}” Aya mengaum hebat. Pada Elena tentunya. Tapi gadis itu tahu apa yang dikatakan Aya. “{Salah siapa yang menugaskanku di sini?}”


“Begitu ya?” Elena menarik keluar bilah wakizashi. “Sungguh kasihan, ya? Terjebak dalam wujud menyeramkan itu.” Dia mengambil sikap ancang-ancang. “Tidak apa-apa, aku akan membebaskanmu.”


Aya meraum hebat sekali lagi — membuat pertunjukan semakin lengkap. Lalu dia berlari dan menerjang Elena.


Semakin dekat, Aya pun melompat. Elena melakukan bagiannya dengan menebas Aya menggunakan wakizashinya.


*Zrash!* *Cring!*


Bayangan yang membentuk tubuh harimau Aya mengurai. Belum sampai kabut bayangan hitam hilang sepenuhnya, Elena memindahkan Aya menggunakan «Teleportasi» di semak-semak terdekat.


Untuk orang-orang yang melihatnya, mereka melihat bila monster tersebut dikalahkan. Dikalahkan dengan menjadi kabut bayangan hitam dan meledak menjadi partikel cahaya. Mereka tak tahu bila mereka semua dibodohi.


~


Malam yang semakin larut membuat alam sekitar semakin gelap. Tapi berkebalikan dengan itu, suasana hati orang-orang terasa lebih lega. Saat ini mereka "bertemu" dengan sosok Pahlawan yang telah membasmi monster menyeramkan yang menyerang desa mereka. Kutipan "semakin sedikit yang kau tahu maka semakin baik" cocok digunakan pada mereka. Bila saja mereka tahu akan Elena yang hanya berakting dan aslinya gadis itu yang mengirim sosok harimau bayangan itu ke desa mereka, pasti perlakuan yang didapatkannya akan beda.


Tapi abaikan itu untuk sekarang. Saat ini api unggun lagi gelar di tengah desa dan iringan bak pesta meriah diadakan. Mereka berpesta-pora yang sampai membuat Elena bertanya-tanya, "Perasaan desa kalian dalam masalah dan kalian miskin. Bisa-bisanya kalian menggelar pesta di keadaan seperti ini." Yah, Elena tidak akan mengatakan hal-hal yang akan merugikan dirinya, sih.

__ADS_1


Hanya ada satu orang yang mengasingkan diri dari keramaian pesta, dan itu adalah tokoh utama yang seharusnya disambut dalam perayaan itu — Elena. Dia yang suka menyendiri memisahkan dirinya dari keramaian. Adapun Aya. Kucing itu keluar dari semak-semak dan bertengger di bahu kiri Elena.


"{Perayaan yang ramai, ya?}"


"Mau bagaimana lagi?" ucap Elena, "Air bersih tiba-tiba mengalir, beberapa tumbuhan mendadak tumbuh dengan cepat dan subur, juga tanah terasa semakin baik. Wajar jika mereka merasa senang dan melakukan pesta besar-besaran. Dengan budget yang bisa mereka jangkau saat ini tentunya."


Sendiri sangat sadar penyebab dari keanehan tersebut. Sumbernya adalah dia yang menghancurkan bola berpendar hijau tadi. Bola itu yang digunakan sebagai wadah "Esensi Kehidupan" telah pecah dan esensi di dalamnya menyebar ke alam. Dengan jumlah esensi saat itu, tumbuhan dan tanah langsung tumbuh sampai ke tahap tertentu. Meski tidak menumbuhkan tanaman hingga tahap bisa dimakan, tapi untuk desa yang setiap tumbuhannya layu memiliki tumbuhan yang hijau segar merupakan berkah. Orang-orang di sini berpikiran bahwa pasti di masa depan akan menjadi lebih baik. Desa mereka pastinya kembali seperti sedia kala.


"{Kamu tidak mendapatkan informasi soal mereka?}"


"Tenang saja, itu bukan urusanmu," jawaban Elena singkat.


"{Tch, menyebalkan.}" Aya mendecih. "{Aku adalah rekanmu. Tidak bisakah kamu berbagi informasi denganku?}"


"Itu bukan urusanmu."


Tidak ada makanan di pesta ini. Tidak terlalu menarik juga untuk diikuti aslinya. Hanya sekelompok orang yang mengelilingi api unggun besar dan membuat keramaian tidak jelas. Sebagian dari mereka minum minuman keras hingga mabuk malam itu. Hal tersebut membuat Lisa tentu saja tidak nyaman. Di situlah dia menyadari keberadaan Elena yang ada di pinggir dan tak terlibat dalam pesta.


Lisa menghampiri Elena.


"Kau tidak ikut bersama mereka?" tanya Lisa.


"Aku tidak suka keramaian." Elena melipat tangannya — bersedekap. "Bahkan di karavan pun aku lebih suka berjalan sendiri dari pada bersama kalian."


"Benar, kamu tipe orang seperti itu." Lisa merasa bodoh atas pertanyaannya tadi. "Ngomong-ngomong ada sesuatu yang ingin aku sampaikan padamu. Ini berhubungan dengan wanita yang kami selamatkan siang tadi."


Elena cemberut dengan ekspresi dingin.


Pemilihan kata Lisa yang memakai kata "kami" alih-alih "kita" menunjukkan bila dia tidak menghitung Elena. Kini Elena merasa benar-benar diasingkan dari kelompok. Bukan masalah untuknya sebenarnya.


"Dia adalah penyihir. Dia punya kemampuan untuk mengendalikannya angin."


Nah, ini baru informasi yang membuat Elena terkejut.

__ADS_1


__ADS_2