Menjelajah Dimensi Setelah Reinkarnasi: EztEnd

Menjelajah Dimensi Setelah Reinkarnasi: EztEnd
꧁Kota dimana Penguasa Berkuasa Bag. Kedua


__ADS_3

Informasi yang diungkapkan Noctis pada Elena cukup membantu.


Sebelumnya, Noctis telah melakukan penyelidikan secara terpisah di dunia ini. Yang ia awasi secara khusus dan tuju adalah kelompok tertentu yang menggunakan keberadaan sihir untuk mencapai kejayaan mereka.


Kurang lebih kelompok ini sama seperti Grén. Hanya saja mereka bergerak dengan jumlah orang yang lebih banyak dan lebih terorganisir. Mereka juga membuat kekacauan di sana-sini yang cukup merepotkan. Yah, bagi Raja Roh Dimensi seperti Noctis itu bukan apa-apa, sih. Dia membereskan satu per satu dari mereka. Melakukan interogasi pada setiap orang, dia membentuk rantai hingga mengungkapkan keseluruhan kelompok pembuat onar itu. Dan hasilnya, dia mendapatkan informasi berharga yang bisa menyelesaikan penyelidikan di dunia ini, serta memberikan ending pada novel ini.


Informasinya kurang lebih mengatakan:


Ada seorang penguasa dari suatu kota tertentu yang dia menggunakan keajaiban dari sihir untuk mengembangkan kota yang ia miliki. Namun tentu saja, sebagai kompensasinya, diperlukan tumbal nyawa supaya keajaiban dari sihir bekerja. Sehubungan dengan kota yang berhasil maju, banyak orang yang datang ke sana, lalu berhubungan dengan itu, penguasa kota tersebut berhasil mendapatkan lebih dari cukup tumbal untuk mempertahankan kotanya sebagai kota termaju di era itu. Dan nama kota itu adalah Kota Irish.


Tentu saja, tidak ada yang menyadari tindakan keji penguasa kota banyaknya orang yang tinggal di sana, membuat satu orang sudah menghapali orang lainnya yang tinggal di sana. Kemudian sebab biaya hidup di sana cukup tinggi, setiap orang perlu bekerja dengan giat. Itu pula yang menyebabkan satu individu kurang akrab dengan tetangganya kan kurang menghafal mereka. Ingin menjadi cerah untuk menculik orang-orang yang tidak memiliki sanak saudara dan tinggal sendirian. Itu adalah yang digunakan demi mendapatkan tumbal.


Kemudian, alasan mengapa Noctis tidak melakukan penyelidikan di kota itu seorang diri, penyebabnya adalah karena dia 𝖒𝖆𝖑𝖆𝖘. Kenapa harus bergerak seorang diri jika kau memiliki bawahan yang bisa digunakan untuk menggantikan pekerjaanmu? Lagi pula, bukankah memang sudah menjadi tugas seorang bawahan untuk melakukan kerja yang lebih berat? Disampaikan saja semua informasi pentingnya kepada Elena selaku agen, kemudian tinggal santai-santai setelahnya.


Elena sendiri memang memiliki pekerjaan di dunia ini. Sudah tugasnya untuk berkenan dari suatu tempat ke tempat dan melakukan penyelidikan. Mendapatkan bantuan dari Noctis supaya cepat selesai, itu sudah lumayan untuk mempercepat proses pencarian.


Jadi dengan kata "oke", Elena pun segera pindah ke Kota Irish, dan kemudian sampai pada adegan sekarang — dia bertemu dengan Rena, Fint, dan Dorm.


~


Mereka berempat kini ada di sebuah kedai. Tentu, Elena yang membayar makan dan minum di sini, sebagai satu-satunya orang yang beruang. Juga baik hati, dia mengizinkan tiga temannya itu memesan makanan dengan harga "sesedikit mungkin".


"Jadi kalian selama ini mencariku, ya?" kata Elena.

__ADS_1


"Ya," jawab Rena, "Sayangnya kami kehabisan bekal selama perjalanan, dan sampai beginilah kondisi kita sekarang."


"Sudah begitu kenapa kalian datang ke kota ini? Di sini kan biaya hidupnya tinggi?" balas Elena. Sedikit kesal. Dia memandang tindakan mereka berempat cukup — bahasa halusnya — nekat.


"Justru itu," kata Rena, "Niatnya kami bakal kerja di sini dan dapat gaji tinggi, sebelum kemudian bakalan lanjut perjalanan."


"Memangnya keterampilan kalian mumpuni untuk bersaing?" tanya Elena.


Terdiam sebentar Fint, Dorm, dan Rena. Memikirkan perkataan Elena, memang benar juga sih kalau di tempat seperti ini orang-orang bisa memiliki keahlian melebihi mereka. Tidak ada untungnya mempekerjakan amatiran sehingga pemilik usaha akan memilih orang yang lebih terpercaya. Orang tanpa kemampuan, mereka akan menghilang dan tersisih dari kehidupan.


"Aku adalah pengguna kukri yang baik, Dorm merupakan pandai besi hebat di desanya, dan Fint, meski dia masih pemula, tak bisa dipungkiri bahwa dia memiliki kemampuan berpedang." Rena berkata-kata dengan percaya diri.


"Dan apa menurutmu itu cukup?" Lagi, perkataan Elena membuat ketiganya terdiam. Ucapan yang keluar dengan agak tergesa itu sebagai penegasan bila ketiganya memang nekat — atau dengan bahasa kasarnya "tolol".


"Bisa jadi 'sukses', bisa jadi 'modar'. Kalau ada kata 'bisa jadi' itu sudah masuk ke kemungkinan. Dan kemungkinan bisa beragam. Dalam kasus kalian, kemungkinan 'modar'-nya jauh lebih besar." Elena menjeda perkataannya. Kemudian dia menghembuskan napas dan berdiri. "Sudahlah. Kalian lakukan saja apa yang kalian mau. Aku mau mengerjakan urusanku."


Selesai sampai di sana. Elena meninggalkan bangunan itu dengan wajah datar dan dengan tanpa memedulikan mereka yang dibelakangnya. Seakan dia sudah tak menganggap lagi perihal mereka.


"Gadis itu…." Rena menggeram.


"Tenanglah. Dari sudut pandangnya apa yang kita lakukan terlihat nekat. Aku juga setuju dan menganggapnya begitu," kata Dorm.


"Tapi, bahkan bila benar, kita melakukannya untuk menemukan dirinya, lho. Kita melakukan perjalanan sejauh ini karena khawatir padanya. Dan setelah semuanya, dia dengan seenaknya sendiri mengatakan kalau kita 'tolol'. Maksudku, tidak bisakah dia merespon dengan lebih lembut." Rena memandang Fint. "Kau juga setuju denganku, 'kan, bocah?"

__ADS_1


"A-Aku…." Fint tergagap dan kehilangan kata-kata. "Menurutku Elena melakukan ini karena khawatir pada kita. Dia mungkin mengusir kita agar kita berhenti dan lebih peduli pada diri sendiri alih-alih terus mengkhawatirkannya." Dia juga menambahkan, "Sekarang saja sudah di kondisi sulit. Kalau kita terus-terusan memikirkannya…."dan


*Gubrak!*


Rena memukul meja. "Siapa peduli?" ujarnya bodo amat, "Aku akan menemuinya dan memukulnya!"


Tindakan Rena membuat sedikit keributan dan menyebabkan pelanggan lain di sini memandang meja mereka bertiga. Tapi dengan acuh, Rena meninggalkan tempat itu untuk segera menyusul Elena.


Di luar, sudah tak nampak lagi sosok gadis itu. Rena menengok ke kanan, lalu ke kiri. Tapi Elena sudah tidka ada. Hanya jalanan normal dengan orang-orang berlalu-lalang.


"Sial…." Dia menggeram sembari mengepalkan tangan sampai urat-urat terlihat.


~


"{Apa kau yakin dengan ini?}"


"Begitulah," jawab Elena, "Kurasa ini yang tercepat dan termudah."


Elena berada di atas sebuah gedung. Dia mengawasi gerak-gerik Rena dari sana.


"Dari laporan Noctis, orang-orang miskin yang tidak memiliki sanak saudara akan ditumbalkan demi kepentingan memajukan kota ini. Mereka akan diculik dan suatu hal dilakukan pada mereka. Jujur, setelah mendalami laporan itu agak ngeri. Di dunia ini praktek-praktek yang berhubungan dengan sihir tidak manusiawi. Aku merasa gak enakan kalau orang yang seharusnya tidak terlibat tiba-tiba menjadi korban dari praktek keji itu. Selain itu dan yang terpenting, kita butuh seseorang untuk ditumbalkan demi memancing pihak musuh. Tidak setiap hari ada penduduk sipil yang menghilang."


"{Tumbalkan teman kalau tidak ada tumbal kah?}" kata Aya, "{Taktik yang bagus.}"

__ADS_1


__ADS_2