
Elena berada di mulut sistem gua bersama Lisa di sana. Tentu saja ada Aya yang hinggap di bahu Elena, tapi tidak perlu menghitungnya. Dia melingkarkan tubuhnya dan sama sekali tidak tertarik pada pembicaraan.
"Jadi kau akan melanjutkan perjalanan?" tanya Lisa.
"Begitulah. Lagi pula alasan keberadaanku di dunia ini adalah untuk menyelesaikan masalah yang dilakukan pihak musuhku. Mah, aslinya aku juga menganggapnya sebagai liburan dari pada duduk di ruang kelas dalam kebosanan," jawab Elena disertai alasan ngawur.
"Apa kau benar-benar akan menghapus keberadaan sihir?"
"Sayangnya 'iya'. Tapi itu jika berhasil," katanya, "Apa kau mengkhawatirkan orang-orangmu? Para penyihir yang ada di sini?"
Lisa mengangguk.
"Hah… ini memang agak sulit." Elena menghela napas. Kemudian dia mengambil topinya dan mengeluarkan selembar kertas dari sana. Kertas itu dia berikan pada Lisa. "Kalau ada apa-apa, kamu robek saja kertas ini. Niscaya aku akan datang ke mari."
Lisa mengamati kertas itu selama beberapa waktu. Ada coretan dan tulisan di sana. Agak ragu untuk menerimanya, tapi berhubung orang yang memberikannya bisa dipercaya (lol), seharusnya tidak masalah untuk menerimanya.
"Hati-hati, taruh di tempat aman. Kalau gak sengaja kerobek, aku bakalan dapat alarm palsu. Aku tidak ingin datang ke mari untuk tidak melakukan apa-apa." Elena tersenyum kecil juga sedikit terkikik. "Kemudian, soal nenek tua itu, kalau dia berulah lagi aku yang akan mengurusnya. Aku memang sudah 'sedikit' memodifikasi ingatannya, tapi kemungkinan dia membuat ulah tidak nol."
"Benar-benar kemampuan yang menyeramkan," kata Lisa, "Katakan, apa kamu pernah melakukan hal itu padaku di masa lalu?"
"Rahasia ilahi? Siapa yang tahu?" Elena mengangkat bahunya. "Siapa tahu aku juga pernah memodifikasi ingatanku di masa lalu, tapi aku tidak bisa mengkonfirmasinya karena tidak ingat, hehehe."
"I-Iya, ya? Hehe." Lisa tertawa canggung mengikuti Elena.
"Baiklah, sampai di sini saja. Jika ditakdirkan, kita akan bertemu kembali."
~
Elena berjalan melewati lereng gunung menurun. Sedikit tumbuhan runduk tersebar selama dia berjalan. Selain itu, udara di sini terasa lebih tipis — udara khas pegunungan. Itu sama sekali tidak berpengaruh apapun padanya. Dia berjalan kaki sambil memejamkan matanya dan memikirkan hal-hal apalagi yang akan dikerjakan untuk kedepannya.
"Hmm… sekarang enaknya ngapain lagi, ya?" gumamnya, "Berkat para penyihir yang ada di sana, aku mendapatkan cukup subjek untuk diteliti mengenai sistem sihir di dunia ini. Manusia yang mendapatkan ilmu sihir hanya memiliki satu kemampuan unik. Untuk kasus nenek tua itu, kok aku itu yang cukup jenius untuk dapat memodifikasi dan membuka kemungkinan baru dalam penggunaan ilmu sihir."
__ADS_1
"{Dan kau telah menyimpan caranya dalam ingatanmu, 'kan?}"
"Begitulah," kata Elena, "Tapi tidak terlalu menarik. Tetap saja ada banyak kecacatan dalam tekniknya mengingat dia mungkin hanya menelitinya selama beberapa bulan atau tahun. Berlatih dengan keras dan giat kedengarannya jauh lebih terjamin."
"{Apakah itu kata-kata yang cocok untuk diucapkan seorang cenayang yang memiliki privilege berupa kemampuan psikis?}"
"Hmhp! Itu bukan urusanmu!"
*Swoosh!*
Sebuah portal terbuka di kala keduanya asyik berbincang. Dari sana keluar sosok Raja Roh Dimensi — Noctis.
"Yo, lama tidak bertemu, gadis kecil," sapa Noctis.
"Seingatku itu hanya beberapa hari. Kata 'lama' terkesan melebih-lebihkan." Elena melipat tangannya — bersedekap — dan mulutnya merengut.
"Ayolah, aliran waktu sedikit berbeda di dunia sini dan dunia sana. Bagiku ini hanya sekejap mata saja."
"Aku hanya ingin melihat kemajuan penyelidikanmu selama di dunia ini. Sudah sampai mana?"
"Baru-baru ini aku sampai di tempat berkumpulnya para penyihir. Harus kuakui mereka cukup hebat untuk membangun tempat tinggal perkumpulan mereka sendiri. Dibandingkan dengan yang ada di dunia kita, di mana masih tinggal di permukaan tanah, mereka lebih hebat untuk mengembangkan sistem gua sebagai pemukiman."
"Kupikir kau kemari untuk melakukan penyelidikan mengenai 'apa yang ditinggalkan musuh kita'. Tapi rupanya kau di sini melakukan review tempat wisata, ya?" Noctis menyeringai.
"Itu bagian dari penyelidikan." Elena menegaskan, "Jangan salah sangka."
"Baiklah baik, terserah kau saja," respon Noctis, "Aku hanya ingin menyampaikan beberapa hal padamu. Ini bisa mempercepat penyelidikanmu."
"Apa itu?"
~
__ADS_1
Kembali ke sudut pandang Fint, Rena, dan Dorm. Sejak kecelakaan yang mereka temui di tebing, mereka bertiga mengembara bersama karavan. Namun mengikuti waktu berjalan, mereka kembali memikirkan Elena, Lisa, dan Windy. Maka dari itulah, alih-alih terus bersama karavan, mereka bertiga memisahkan diri dan memulai petualangan kelompok mereka yang terpisah.
Melakukan petualangan di dunia yang keras bukanlah hal yang mudah, terutama untuk mereka yang tidak terlalu kuat. Mengumpulkan makanan, mengumpulkan uang, dan banyak lainnya. Mempertahankan hidup untuk bisa terus hidup saja sudah sulit untuk sebagian orang di dunia yang keras itu. Dan untuk mereka, mereka yang memiliki ambisi untuk dicapai, beban mereka selain untuk menjaga hidup juga bertambah.
Dan untuk penyediaan bekal selama perjalanan mereka, mereka kehabisan uang. Kalau soal makanan bisa saja mereka mencarinya hutan. Tapi bagaimana untuk kebutuhan lainnya? Kebutuhan berupa perawatan senjata, pakaian, dan lain-lain? Manusia yang merupakan makhluk sosial membutuhkan manusia lain untuk lebih dapat mempertahankan kehidupannya. Kecuali kemampuan seorang individu jauh melampaui banyak individu lainnya, terasa bunuh diri biar segelintir individu itu memilih memisahkan diri dari kehidupan sosial.
Di sini sayangnya, Rena dkk. termasuk segelintir individu yang lemah itu.
"Buwah… akhirnya sampai juga kita di kota ini," ucap Rena ketika dia berjalan-jalan di jalanan kota yang ramai. "Irish. Kota besar dengan pertumbuhan yang sudah maju. Dikatakan bahwa kota ini adalah salah satu kota yang berhasil bukan hanya bertahan, tapi juga menjadi kota yang maju."
"Tapi sayangnya kita menjadi orang miskin di sini…," komentar Dorm.
"Benar, kota ini memang hebat dan banyak barang tersedia. Bisa dibilang ini adalah kota yang maju. Tapi sebagai orang miskin di sini, menurutmu apa yang bisa kita lakukan?" tambah Fint.
"Setidaknya mending ada di kota ini dari pada di alam liar, 'kan?" jawab Rena.
"Menjadi kaya di tempat miskin atau menjadi miskin di tempat yang kaya. Kira-kira mana yang lebih baik?" ujar Dorm, "Berada di tempat yang kaya memang bagus sebab segala kebutuhan bisa terpenuhi di sini. Tapi kalau kita miskin, sama saja karena kita tidak bisa membeli apa-apa."
"Ta-Tapi, kalau kita berada di alam rimba, tidak ada jaminan kalau kita tidak akan dimakan binatang buas. Bahkan kalau kita miskin di sini setidaknya kita tidak perlu khawatir tentang keamanan," balas Rena.
"Katakan itu setelah ada yang bertindak jahat pada kita," timpal Fint.
Di waktu mereka bertugas hari ini berdebat dan bertukar kata-kata, di sanalah mata Rena dengan tidak sengaja menangkap bayangan orang yang familiar baginya. Itu adalah Elena.
"Tunggu, bukannya itu Elena?" katanya sambil menunjuk jari.
Sontak Fint dan Dorm memandang arah yang Rena tunjuk. Dan benar, mereka menemukan Elena ada di sana.
"Yo Elena! Lama tidak jumpa!" sapa Rena sembari melambaikan tangan.
Langkah Elena terhenti dan dia memperhatikan Rena yang melambaikan tangan padanya. "Ya, halo."
__ADS_1