
Malam ini pun mereka berkemah di luar. Dan sama seperti sebelumnya, Elena dan kawan-kawannya berada di circle tersendiri. Aya sedang keluyuran sendiri di dalam hutan. Entah apa yang dilakukan kucing itu.
"Dan tiba-tiba\, *Clap!* Sebuah tangan raksasa menerkam lelaki itu hingga seluruh tulang di tubuhnya remuk\," kisah horor Elena. "Tamat!" Dia mengakhirinya dengan senyuman.
"Eh… uh… entahlah." Rena bingung atas respon yang harus ia berikan. "Ini pertama kalinya aku melihatmu bercerita. Aku tidak tahu kamu bisa bercerita."
"Kamu sendiri sudah horor, Elena," kata Lisa, "Tak kusangka kamu bisa bercerita horor."
"I-Itu, kisah itu tidak nyata, 'kan?" Fint gemetaran.
"Sulit dimengerti, semoga harimu menyenangkan," komentar Dorm.
Elena diam sejenak memikirkan respon yang diberikan kawan-kawannya. "Yah, memang setiap orang memiliki selera horornya sendiri-sendiri. Wajar jika hanya sebagian dari kalian yang takut."
Hari yang semakin gelap, mereka pun tertidur dengan satu per satu bergantian menjadi penjaga. Lancar dan tidak ada masalah. Lagi pula di hutan ini tidak banyak hewan buas dan relatif aman. Hanya butuh bangun dan mengamati sekitar penuh dengan kegabutan dan kebosanan. Tapi untuk Fint berbeda. Dia masih terngiang-ngiang atas cerita yang dibawakan Elena sebelumnya.
"Seorang lelaki sendirian di dalam hutan\," gumamnya\, "Dia mendengarkan suara aneh entah dari mana. Lelaki itu pun mencari sumber suara. *Krak!* *Krak!* *Krak!* Semakin mendekat\, semakin terlihat dia yang membuat suara. Dan sosok itu adalah raksasa menyeramkan. Raksasa yang memiliki tubuh busuk dan perawakan menyeramkan. Raksasa yang akan memakan setiap orang yang ditemuinya." Dia bergidik sendiri. "Ke-Kenapa juga layarnya ada di hutan! Aku jadi takut!"
Suasana hening. Hanya suara kayu yang dibakarlah yang memecahkan keheningan dikala semuanya tengah tertidur.
"Aku mau buang air."
Fint beranjak. Dia pergi agak jauh ke dalam hutan, memisahkan dirinya dari kelompok. Menemukan tempat yang dirasa tepat, dirinya pun mulai menjawab "panggilan alam". Tapi tiba-tiba ….
*Krak!* *Krak!* Krak!*
Suara ranting kering patah terdengar. Bak ranting-ranting yang telah mati di tanah diinjak-injak oleh sesuatu. Sontak hal tersebut membuat bocah tersebut semakin ketakutan. Berada sendirian di dalam hutan saja sudah mengerikan. Apalagi kalau sampai mendengar suara-suara aneh.
"A-Apa itu…." Suaranya seakan tertahan di kerongkongan. Dia coba menengok ke belakang, tapi sangat berat. Butuh usaha untuk melawan rasa takutnya. Dan ketika dia melihat di sana ….
"Meow?" Yap, itu hanya Aya. Kucing peliharaan Elena yang berkeliaran sendirian di dalam hutan.
"Hah, ternyata hanya kucing." Fint bernapas lega. "Kupikir aku akan bertemu dengan monster menyeramkan."
"{Apa? Apa bocah ini takut dengan cerita hantu?}" Aya bertanya pada dirinya sendiri. "{Di dalam hutan kini kemungkinan tersesatnya jauh lebih menyeramkan dari pada bertemu hantu, lho.}"
__ADS_1
"Baiklah, saatnya pergi."
Selesai, Fint berniat kembali ke perkemahan. Tapi tak semudah itu ketika dia mendengar suara dentuman besar.
*Dum!* *Dum!* *Dum!*
Bukan hanya itu, tanah yang bergetar juga ikut menyertai. Ada pula suara pohon-pohon yang ditabrak dan dipaksa tumbang. Seakan ada satu makhluk besar memaksa untuk melewati hutan — menerobos dan menyingkirkan setiap pohon di jalurnya.
"A-Apa!"
Secara cepat Fint bersembunyi di suatu semak. Dan tepat di depannya….
*Dum!*
Sebuah kaki raksasa melintas. Hampir menginjak dirinya.
~
Besok paginya karavan melanjutkan perjalanan. Kali ini Fint memiliki tanda hitam di sekitar matanya. Ia tak tidur semalam karena tak bisa tidur. Mengingat akan kejadian horor yang semalam ia alami.
"Tidak, tidak ada apa-apa," jawab Fint.
"Meow!" Aya mengeong. Elena memperhatikan hewan peliharaannya. "{Ada hantu. Semalam dia bertemu dengan makhluk menyeramkan ketika buang air.}"
'Tidak bisa dipungkiri. Itu akan menjadi pengalaman yang mengerikan,' batin Elena, 'Buang air itu hendaknya kita tidak boleh diganggu. Hantu itu lebih parah dari pengintip.'
~
Sampailah mereka di kota selanjutnya. Hari ini masih siang. Condong ke pagi hari malahan. Jika ada jam, jarumnya akan menunjukkan sekitar pukul 10.00 pagi. Memang dekat sih dengan hutan tempat mereka berkemah tadi.
Dan kegiatan Elena ketika sampai di tempat baru, adalah dirinya akan mencari informasi. Elena memisahkan diri dari kelompok. Dia ditemani oleh kucingnya — Aya — yang duduk di bahunya. Ia kini berada di sebuah bar.
"Jus jeruk," pesannya.
"Baik, Nona muda."
__ADS_1
Menunggu beberapa saat, seseorang datang menghantarkan minuman di meja Elena. Gadis itu mengernyitkan alisnya melihat jus yang hanya setengah gelas.
"Jumlah yang tidak banyak."
"Maaf, tapi kota ini mengalami masa-masa sulit akhir-akhir ini."
"Katakan padaku." Elena mengeluarkan koin perak. Bukti dia membayar atas informasi.
Pelayan itu, yang baru saja memberikan jus pada Elena, dia duduk berseberangan dengan Elena. Dia memastikan tidak ada orang lain di sini dan memang tidak ada. Bar ini sepi melompong dengan Elena menjadi satu-satunya pelanggan siang ini.
"Sebenarnya, Nona, akhir-akhir ini ada yang melaporkan bila mereka melihat sosok makhluk menyeramkan di tengah hutan. Itu membuat pedagang enggan datang ke kota kami sehingga pasukan makanan di sini semakin menipis semakin harinya. Kami bisa hancur bila ini terus berlanjut."
'Mirip dengan pernyataan Aya.'
"Bukankah itu EztEnd? Makhluk itu cukup sering muncul di tempat yang entah berantah, bukan?" tebakan asal Elena.
"Tidak, seharusnya bukan EztEnd." Pelayan itu menyanggah. "EztEnd yang kudengar dan kabar soalnya selama ini selalu menyatakan bila makhluk itu akan menyerang siapapun yang ia temui. Tapi dalam kasus kali ini, orang-orang selamat. Mereka hanya melihat penampakan dari sosok makhluk tinggi besar."
'Ini semakin merepotkan. Sebenarnya berapa banyak anomali yang terjadi di dunia ini?'
"Dan satu hal lagi, Nona," dia menambahkan, "Diduga sosok makhluk raksasa itu adalah budak dari seorang penyihir. Orang-orang yang dicurigai penyihir langsung mendapatkan eksekusi dari para warga. Berhati-hatilah. Peraturan penyihir seringkali dilakukan tanpa validasi dan asal-asalan."
'Itu sama saja dengan di daerah lain.'
Elena kurang peduli juga tentang perburuan penyihir ini. Jika diperlukan, dia bisa melarikan diri dengan sangat mudah memakai teleportasi miliknya. Melawan juga merupakan pilihan. Dengan kekuatannya saat ini ia bisa mengalahkan puluhan hingga ratusan orang. Kemudian soal penampilannya, utamanya topi penyihir yang ia kenakan, dan tidak perlu takut semenjak itu model pakaian itu tak lazim digunakan di era tersebut.
Elena kembali ke karavan setelah usai urusannya. Mood-nya lumayan buruk semenjak mendapatkan minuman yang hanya setengah gelas dengan harga dua kali lipat. Aslinya sih tidak terlalu berpengaruh pada keuangannya semenjak yang dia gunakan adalah uang milik Noctis.
Sampai di tempat kereta karavan diparkirkan, di sana dia melihat Fint tengah berlatih keras bersama Rena memberikan arahan.
Elena bersiul. "Wow, latihan yang sangat keras. Ada sesuatu yang membuatmu bersemangat, Fint?"
"Bukankah kau sendiri yang mengatakan kalau aku harus berlatih ekstra?"
"Bukan berlatih ekstra, tapi berlatih keras." Elena meluruskan. "Yah, dari pada itu aku ingin kamu melakukan sesuatu untukku. Temui saja aku nanti malam."
__ADS_1
"{Seorang gadis kecil mengajak anak laki-laki bertemu di malam hari. Kira-kira apa yang akan terjadi?}" narasi Aya.