
Tempat yang mereka datangi secara alami sudah hebat. Namun mengembangkan peradaban di sana sampai dapat menimbulkan keseimbangan juga hal yang tak kalah hebat. Hidup di tempat terisolasi dan jauh dari kehidupan sosial, mereka mengembangkan budaya dan peradabannya sendiri. Dan orang yang memimpin semua perkembangan itu adalah seorang wanita tua bernama Grén.
Elena bersama Lisa dan Windy jauh masuk ke dalam sistem gua. Di sana kenampakan alam telah berbeda, dari yang tadinya sepertinya hutan, sekarang mereka berada di bagian gelap dengan kristal-kristal memancarkan cahaya ungu di dinding serta langit-langit gua. Terasa fantasi. Dan sejak awal memang merupakan kisah fantasi.
Di hadapan Elena kini adalah Grén — pemimpin kelompoknya penyihir di sini. Dia adalah wanita tua dengan kulit keriput dan rambut sepenuhnya berubah. Punggungnya bungkuk dan ia membawa tongkat untuk bantu menyangga tubuhnya.
"Benar kamu adalah pemimpin di sini?" tanya Elena.
"Ya." Grén tersenyum ramah. "Mereka — para penyihir — kebanyakan dari mereka berada di kondisi menyedihkan dan perlu pertolongan."
"Dan kamu sendiri…."
"Aku juga merupakan penyihir, sama seperti mereka." Sulur merambat dan berdiri di samping Grén. "Aku memiliki kemampuan untuk mengendalikan tumbuhan, seperti yang bisa kau lihat."
"Apakah ada dari mereka yang memiliki kemampuan membaca pikiran?" tanya Elena.
Grén mengernyitkan dahinya. Bertanya-tanya dalam batin perihal pertanyaan Elena. Untuk apa gadis ini mencari tahu tentang kemampuan mereka? — itu yang ia pikirkan. Bukan berarti ia bisa dengan gampang mengatakan informasi soal kekuatan basis mereka pada orang asing, meski orang asing itu sama-sama seorang penyihir seperti mereka.
"Itu kemampuan yang mengerikan," sahut Lisa, "Tidak ada di antara kami yang memiliki kemampuan itu."
Alhasil Elena dan Grén terpaut perhatiannya pada wanita itu. Diam dan menunggu keduanya pada apa yang akan Lisa katakan selanjutnya. Berpikir jika wanita itu "sok tahu". Keduanya diam dengan atmosfer ketegangan.
Pupil mata Lisa bergantian mengarah ke Elena dan Grén. Lanjut, dia berkata, "Setidaknya itu yang aku tahu sebelum aku pergi. Kalau kabar terbarunya aku kurang tahu, sih."
Grén menghembuskan napas. "Jika kau ragu akan kemampuan bertahan kami, maka kamu tak perlu ragu. Sejak bertahun-tahun tempat ini tak pernah mendapati masalah pertahanan. Kami tak pernah diserang."
"Begitu ya," gumam Elena. "Yah, aku akan tinggal di sini selama beberapa hari. Boleh?"
"Beberapa hari?" tanya Lisa.
"Aku pengelana," jawab singkat Elena.
__ADS_1
\===
Di tempat lain, Aya berada di tempat penuh semak dan ilalang tinggi. Sedari tadi dia mengikuti hewan kecil mirip tikus. Tidak, bukan tikus. Wujud aslinya adalah hewan yang belum pernah Aya lihat sebelumnya, bahkan mungkin bukan hewan.
"{Mana? Di mana itu?}"
Dari tanah tertutup ilalang, Aya melompat ke bebatuan. Melihat balik bebatuan, dia menemukan aliran air kecil mengalir ke bawah. Di sana dia juga melihat "objek" yang ia cari. Aya pun melompat turun dan mengikuti objek itu yang berenang atau terbawa arus.
\===
Di tempat lain, Elena bersama Lisa dan Windy di bawa masuk lebih dalam oleh Grén. Di sana sudah menyerupai pemukiman saja. Ada rumah, perkebunan, dan lain-lain. Hajya saja, semua yang ada di sini adalah penyihir — dan mereka semua wanita. Dan sebab mereka berupa penyihir itulah, kerja di sini sedikit berbeda. Beberapa alat — cangkul, sekop, dll. — melayang dan bekerja sendiri. Seorang penyihir tanah membangun tembok dengan kemampuan magisnya. Juga, beberapa penyihir air mengendalikan air dan memindahkannya ke wadah.
Windy bersiul. "Sihir memang sangat membantu pekerjaan, ya?"
"Benar, hebat bukan?" tanggapan Lisa sambil tersenyum. Bangga akan kawan-kawan yang hebat. "Bahkan tanpa dunia luar, kami bisa membangun peradaban sendiri. Inilah kekuatan nyata seorang penyihir!"
"Tapi jangan lupakan sisi buruknya," celetuk Elena.
"Bukan, ini lebih tentang kemampuan mereka." Elena menjelaskan, "Ketika orang berkemampuan lebih berada di lingkungan orang biasa-biasa saja, bisa saja menimbulkan rasa iri bagi mereka yang berkekurangan. Ini, entah bagaimana penyihir akan berada di posisi yang berbeda ketika mereka di masyarakat umum. Entah mereka dibenci dan terpuruk, atau mereka yang menjadi tinggi dan dipuja, manakah yang lebih baik di antara keduanya?"
Lisa dan Windy terdiam.
"Bukankah mendapatkan posisi yang tinggi itu lebih baik?" ucap Lisa ragu.
"Benarkah?" kata Elena, "Ketika kau terlalu dipuja, maka kau akan bertanggungjawab dan diandalkan banyak orang. Kau akan merasa punya tanggung jawab besar."
Lisa dan Windy, keduanya lagi-lagi terdiam.
"Tapi aku sendiri lebih pilih itu juga, sih," tambah Elena, "Punya tanggung jawab besar kalau langsung pergi, setidaknya kamu kabur membawa semua kelebihannya itu."
Masing-masing dari Lisa dan Windy saling menatap satu sama lain dan bertanya-tanya juga memikirkan kata-kata Elena.
__ADS_1
"Tch." Grén yang melirik dengan sudut matanya mendecih. Seakan tak senang dengan statement Elena itu. Entah mengapa, kini dia merasa tak senang dengan Elena. Dia juga merasa bahwa ia mungkin harus menyingkirkan gadis itu di kemudian hari.
Berjalan beberapa lama di tempat beriklim sejuk ini, mereka sampai di sebuah rumah kayu. Tempatnya jauh di dalam desa dan tampilannya lumayan mewah. Penuh dekorasi. Seakan dan memang tempat itu dipergunakan untuk menyambut tamu supaya mereka tak merendahkan tempat ini.
"Ini adalah rumah untuk tamu. Silahkan kalian berdua bersantai," suara tua Grén terdengar. Lalu, pandangannya tertuju pada Lisa. "Kau ikut denganku. Ada yang harus kukatakan padamu."
"Baik."
Grén dan Lisa meninggalkan Elena dan Windy berdua di sini. Kesenyapan terasa seusai suara pintu terdengar. Rumah ini, meski tempatnya di dalam atau lebih di tengah desa, namun lokasi sekitarnya kosong. Suara hiruk-pikuk pekerja tak sampai di sini.
"Fuwah~ akhirnya kita sampai di sini, ya~" Windy duduk di sebuah sota kayu. Dia bersandar dengan nyaman sambil merentangkan kedua tangannya.
"Kau sangat santai." Elena membenarkan posisi topi penyihirnya meski sejak awal tak salah. "Apa kamu tidak memiliki pikiran kalau mereka akan melakukan hal buruk?"
"Hal buruk? Kenapa mereka melakukannya?" Perhatian Windy terpaku pada Elena.
"Demokrasi, liberalis, komunis, kapitalis, kerakyatan, kerajaan, dan lain-lain. Entah paham apa yang mereka miliki dan bagaimana sistem pemerintahan di sini. Banyak hal yang tidak kita ketahui. Terlebih, kita tidak tahu tujuan sejati dari mereka. Apa menurutmu kau tidak terlalu santai?"
"Kau sendiri? Tidak merasa overthinking?"
"Ini normal di tempat asalku," jawab Elena. Meski jawaban itu tak bisa dibuktikan.
"Terserah. Tapi aku lelah setelah perjalanan panjang ini. Aku ingin bersantai."
"Begitu?" kata Elena, "Silahkan saja. Aku sendiri, meski aku meragukan mereka tidak seperti aku bisa melakukan sesuatu untuk saat ini."
\===
*Slash!*
Aya mencakar. Garis bayangan hitam terbentuk di jejak cakarnya.
__ADS_1
"{Yare, yare, tempat ini lebih rumit dari kelihatannya, ya.}" Dia memandang ke depan — tempat kumpulan akar saling melilit satu sama lain hingga membentuk lapisan tebal. Mereka seakan melindungi sesuatu. "{Apa aku harus pergi?}"