
"Aku bersumpah aku nggak menggelapkan uang sedikitpun, Lea." Arya berkata dengan lirih, suaranya bergetar, matanya memerah menahan tangis.
Marah, sedih, kecewa, semuanya menyatu dalam hati Arya.
Saat ini ia sudah ada di rumah, dan Arya tidak bisa menyembunyikan masalah ini dari sang istri. Apalagi ia merasa sangat tertekan, dan bingung harus melakukan apa.
"Kamu percaya 'kan sama aku?" Ia menatap sang istri dengan sendu.
"Aku percaya sama kamu, Mas," tegas Lea sembari menangkup pipi Arya. "Aku sudah kenal kamu sejak kita kuliah, aku yang mendampingi kamu saat merintis karir dari nol. Jadi sudah pasti aku percaya sama kamu."
Arya bisa bernapas lega karena istrinya masih percaya padanya.
"Aku harus bagaimana sekarang, Lea?" tanyanya kemudian.
"Kamu bilang pak Steven cuma minta mengundurkan diri," kata Lea. "Kalau begitu, sebaiknya kamu resign."
"Kenapa aku harus resign kalau aku nggak salah?" geram Arya yang kembali emosi.
"Tenang dulu, Sayang." Lea langsung menggenggam tangan Arya.
"Gimana aku bisa tenang kalau aku mendapatkan tuduhan yang nggak benar begini?" bentak Arya. "Aku nggak salah, Lea!"
"AKU TAHU!" Lea balas membentak yang membuat Arya langsung terkesiap. "Makanya kamu dengerin aku dulu!" Lanjutnya.
Lea menarik Arya ke kamar, kemudian ia mendorong pria itu agar duduk di tepi ranjang. "Lihat mataku!" pinta Lea, dan Arya langsung menatap matanya. "Aku tahu kamu sedih, marah, dan kecewa. Dan yang pasti, aku tahu kamu nggak salah, Sayang."
"Lalu kenapa kamu minta aku resign?" desis Arya.
"Karena belum punya bukti bahwa kamu nggak salah," jawab Lea. "Mas, coba pikirkan lagi ini baik-baik ...." Lea kembali menggenggam tangan sang suami. "Kalau kamu mengundurkan diri, kamu masih punya kesempatan mencari pekerjaan di peru perusahaan lain, dan pak Steven akan merahasiakan alasan kamu mengundurkan diri."
"Tapi kalau kamu dipecat, maka pak Steven akan membeberkan alasan kamu dipecat. Jika hal itu terjadi, kamu akan kesulitan mencari pekerjaan di perusahaan lain, atau bahkan mustahil ada yang mau nerima kamu. Selain itu, para pemegang saham bisa jadi akan membawa kasus ini ke meja hijau. "
Arya termangu mendengar penjelasan panjang lebar Lea yang bahkan tak bisa ia pikirkan, dan yang bisa dia lakukan sekarang hanya bisa menatap sang istri dengan nanar.
"Nggak apa-apa kita memulai semuanya dari awal," kata Lea dengan lembut sembari mengusap pipi Arya. "Kamu itu pintar, pekerja keras, jadi kamu pasti bisa sukses di perusahaan lain."
Arya tak dapat berkata-kata, ia hanya bisa menghela napas berat.
"Tapi ini nggak adil, Lea," lirih Arya kemudian. "Bagaimana bisa aku difitnah seperti?"
"Pasti ada orang yang sengaja melakukannya," ujar Lea. "Nanti kita pikirkan masalah ini, sekarang kamu tenangkan diri dulu karena sebentar lagi Darrel akan pulang. Kamu nggak mau 'kan terlihat stres di depan Darrel dan Jihan?"
__ADS_1
Arya mengangguk pelan, ia mengusap wajahnya dengan kasar.
"Anak-anak akan membuat kamu merasa lebih baik," tukas Lea sembari merapikan rambut Arya. "Dan aku rasa sudah waktunya kamu potong rambut, Mas."
"Lea?" Arya langsung menatap sang istri dengan mata yang melotot. "Di saat seperti ini kamu bahas soal potong rambut?"
"Aku benci rambut kamu kalau berantakan begini, jadi seperti suami yang nggak diurus," kekeh Lea sembari mengambil gelang karet, kemudian mengikat rambut Arya di bagian atasnya.
Arya sangat stres sekarang, ia seperti ditindih gunung yang besar. Dan Lea membahas rambut, kemudian mengikat rambutnya sambil tertawa?
Ia tidak tahu apakah harus kesal pada istrinya, atau justru ikut tertawa saja untuk mengurangi tekanan batinnya?
...🦋...
Chelsea bingung karena Arya tidak ada di ruangannya, ponsel pria itu juga tidak aktif.
"Apa dia ada meeting di luar kantor?" gumam Chelsea.
Ia ingin bertanya pada Rubby di mana kekasihnya itu, tapi Chelsea takut itu akan menimbulkan kecurigaan.
Akhirnya ia memilih fokus pada pekerjaannya, berharap tak ada lagi tugas tambahan agar ia bisa segera pulang.
Saat hari sudah sore, dan pekerjaan Chealse telah selesai, ia langsung pulang ke rumah Lea.
"Rambut Papa bagus kalau diikat begini," kata Jihan sembari memainkan rambut Arya yang masih diikat. "Lucu," imbuh Jihan sambil cekikikan.
"Aku membuat cookies kesukaan kalian!" seru Lea yang baru keluar dari dapur dengan membawa sepiring Cookies yang ia buat sendiri.
"Wah, pasti enak!" seru Darrel dengan semangat.
"Jihan juga mau!" Jihan menimpali.
"Pelan-pelan makannya, ya!" kata Lea memperingatkan.
"Bagaimana perasaanmu, Ma?" tanya Lea.
"Sedikit lebih baik," jawab Arya.
"Syukurlah," gumam Lea sembari mengulum senyum yang tak biasa. Ia meletakkan tangannya di paha Arya, kemudian menepuknya dengan pelan.
Ia senang karena rencananya berhasil, dan ia tahu Arya akan kesulitan mencari bukti untuk membela diri dengan bukti yang sangat kuat itu.
__ADS_1
Tak berselang lama, Chelsea datang dan wanita itu langsung disuguhkan pemandangan sebuah keluarga yang harmonis.
Lea dan Arya yang duduk berdempetan, dengan tangan Lea yang berada di atas paha Arya, itu membuat Chelsea merasa sangat cemburu. Ditambah keberadaan anak-anak yang tampak sangat bahagia.
"Kamu nggak kerja hari ini, Mas?" tanya Chelsea memberanikan diri, ia duduk di sofa yang satunya.
"Nggak," jawab Arya lesu. "Aku ... aku akan mengundurkan diri besok," imbuhnya yang seketika membuat Chelsea terbelalak.
"Kenapa?" pekik Chelsea dengan suara lantang, bahkan sampai menarik perhatian anak-anak.
"Sekarang family time, Chelsea!" tegas Lea. "Kami nggak pernah membahas pekerjaan saat kami bersama anak-anak."
Chelsea langsung menatap Darrel dan Jihan yang kini menatapnya. "Tapi kenapa?" tanya Chelsea memelankan suaranya.
Lea membuang napas karena Chelsea masih bertanya kenapa, seolah wanita itu tidak mengerti apa yang dimaksud Lea dengan family time.
"Anak-anak! Ayo mandi!" seru Lea kemudian, sengaja ingin meninggalkan Arya dan Chealse agar berbicara.
"Baik, Mama," jawab Jihan yang langsung berdiri, begitu juga dengan Darrel.
"Mas, kamu serius mengundurkan diri?" tanya Chelsea lagi.
"Iya," jawab Arya lemas.
"Tapi kenapa, Mas?" tanya Chelsea lagi sembari berpindah ke sisi Arya. "Kamu baru aja naik jabatan, kok mengundurkan diri?"
"Pak Steven nuduh aku menggelapkan uang perusahaan, Chel, bahkan dia punya bukti kaut."
"Jadi kamu korupsi?" pekik Chealse yang membuat Arya langsung terperangah.
Pertanyaan Chelsea terdengar seperti tuduhan di telinganya.
"Kamu pikir aku akan korupsi, huh?" bentak Arya kesal.
"Bu-bukan begitu, Mas." Chelsea membantah, tapi sepertinya Arya sudah terlanjur kecewa mendengar pertanyaan tadi.
"Aku pikir kamu kenal aku, Cheal," desis Arya kemudian ia segera naik ke lantai dua.
"Aku bukannya nggak percaya sama kamu, Mas!" seru Chelsea yang mengikuti Arya dari belakang. "Aku ... aku cuma bingung kenapa tiba-tiba seperti ini."
Arya tak mau mendengarkan wanita itu, dan kini ia masuk ke kamarnya. Tentu Chelsea tak bisa ikut masuk, atau dia akan dianggap melanggar janji.
__ADS_1
"Mas?" lirih Chelsea.
Namun, Arya justru menutup pintu kamarnya dengan kasar.