
"Tolong bersikap lah seolah kamu nggak pernah kenal aku!"
Hati Chelsea langsung terasa pedih saat mendengar apa yang Arya katakan, ia merasa ada ribuan tombak yang menusuk tepat di jantungnya.
"Semudah itu, Mas?" lirih Chelsea dengan mata yang berkaca-kaca.
Arya tidak menjawab, ia hanya bisa menghela napas berat.
Awalnya, ia pikir memang tidak tidak akan mudah mengakhiri hubungannya dengan Chealse. Bahkan, dulu pria itu takut hubungannya dan Chealse berakhir.
Namun, nyatanya Arya bisa melakukan itu dengan mudah ketika ia disibukkan dengan mencintai dan memikirkan keluarga kecilnya.
"Waktu yang kita habiskan selama ini, apa sama sekali nggak berarti buat kamu?"
"Sekarang aku cuma hidup untuk keluarga kecilnya, dan aku ingin menghabiskan semua waktu yang ada untuk meraka," tukas Arya dengan tegas, dan juga yakin.
"Maaf aku mengecewakan kamu, Chealse, tapi aku harap kamu juga bisa menemukan kebahagiaan kamu sendiri. Kamu berhak mendapatkan pria yang bisa menghargai kamu, mencintai kamu dan mau menghabiskan sisa hidupnya dengan kamu."
Chelsea tersenyum kecut mendengar apa yang Arya katakan, ia menatap mantan kekasihnya itu dengan penuh kecewa.
"Oke," sahut Chelsea kemudian. "Aku akan lihat apa kamu bisa kembali dengan Lea."
"Doakan saja," celetuk Arya sekenanya yang membuat Chelsea melongo. Apalagi setelah mengucapkan itu, Arya langsung masuk ke dalam lift.
"Apa dia gila?" desis Chelsea marah.
"Sejak awal dia sudah gila!"
Chelsea tersentak saat ia mendengar suara itu, bahkan jantungnya sampai berdebar kencang.
Ia menoleh, dan senyum manis Lea langsung menyambutnya.
"Kamu baru sadar kalau pria yang berani selingkuh itu gila?" cibir Lea.
Setelah kejadian di toilet, ini baru pertama kalinya Lea berbicara dengan Chelsea.
Lea mendengar semua yang Arya katakan pada Chelsea, dan jujur saja itu membuat Lea sangat senang, bahkan hatinya ingin bersorak mengejek wanita di depannya ini.
"Kamu pasti nggak bisa bercerai dari dia, kan?" tanya Chelsea sambil tersenyum miring. "Kamu luluh dengan permintaan maafnyam? Apa kamu nggak takut nanti dia selingkuh lagi?"
Lea langsung tertawa mendengar apa yang Chelsea tanyakan, dan itu membuat Chelsea bingung, sekaligus kesal.
__ADS_1
"Aku memang sangat takut dengan perceraian, aku bahkan selalu berdoa agar rumah tanggaku dan Arya langgeng hingga maut yang memisahkan. Tapi saat dia melakukan kejahatan terbesar dalam rumah tangga, yaitu pengkhianatan, maka aku angkat tangan dan aku nggak takut hidup tanpa suami."
Chelsea tidak mengerti apa yang Lea katakan, apalagi ia mengira kedatangan Arya ke kantor untuk menemui Lea.
"Sekarang kita sama-sama tahu pahitnya perceraian, jadi aku harap setelah ini kehidupan kita sama-sama ada di jalan yang baik. Aku akan berdoa untuk kita berdua karena kita sama-sama wanita."
Lea menepuk pundak Chelsea sambil tersenyum tipis, sebelum akhirnya wanita itu juga pergi, meninggalkan Chelsea yang hanya bisa terpaku di tempatnya.
Apa yang Lea dan Arya katakan membuat Chelsea merasa semakin kehilangan harga diri, bahkan ia pikir akan lebih baik jika Lea melabrak atau menampar nya seperti dulu, dari pada ia di doakan.
...🦋...
Keesokan harinya, Arya ke kantor seperti dulu. Dan ia kembali ke ruang kerjanya, Rubby juga kembali mendampinginya sebagai asisten.
Lea dan Farel juga kembali ke kantor mereka, dan bekerja seperti biasa. Lea bahkan terlihat bersemangat, padahal ia dalam proses perceraian dengan sang suami. Wanita itu memperlihatkan betapa profesionalnya dia, membuat Farel tak henti-hentinya memuji.
Namun, tidak dengan Chelsea yang datang ke kantor justru untuk memberikan surat pengunduran diri.
Chelsea menyerah!
Dia tidak mau lagi terus berharap pada Arya yang sudah jelas membuangnya, dan ia juga tidak mau terus diejek oleh Lea.
Saat jam makan siang, Arya memberi tahu Rubby bahwa ia ingin pulang sebentar. "Aku nggak ada jadwal apapun 'kan siang ini?" tanya Arya.
Baru hari pertama bekerja, Arya sudah disuguhkan segudang pekerjaan. Namun, itu tak membuatnya mengeluh apalagi kesibukan seperti sudah biasa untuknya. Namun, siang ini Arya ingin menjemput Darrel dari sekolah, kemudian mengajak kedua anaknya makan siang.
"Nggak apa-apa, nanti siapkan saja semuanya, aku akan lembur di rumah," kata Arya.
"Baik, Pak," jawab Rubby sambil mengangguk.
Arya mengirim pesan pada Lea, memberi tahu bahwa ia yang akan menjemput Darrel.
Me
"Aku akan menjemput Darrel, kemudian membawa dia dan Jihan makan siang. Mau bergabung? Aku akan membawa mereka ke restaurant tempat kita biasa makan bersama."
Arya sangat berharap sang istri menyetujui ajakannya, berharap mereka masih bisa berdamai dengan keadaan.
Namun, balasan pesan Lea membuat harapan Arya semakin menipis.
^^^Wife^^^
__ADS_1
^^^" G! "^^^
"Astaga!"
Arya hanya bisa menelan ludah kasar membaca pesan Lea yang hanya satu huruf itu.
Namun, itu tidak membuat semangat Arya surut untuk menjemput anak-anak.
...🦋...
Arya membawa Darrel dan Jihan ke restaurant, dan ia tidak ditemani oleh siapapun. Arya ingin lebih mendekatkan diri pada dua malaikat kecilnya itu.
"Kalian tunggu di sini sebentar, ya!" pinta Arya. "Papa mau ke toilet, sebentar saja!"
Darrel hanya mengangguk, sementara Jihan terus menatap seorang anak yang seumuran dengannya, anak itu memegang boneka sangat besar, dan Jihan menginginkannya.
Sementara Darrel lagi-lagi sibuk dengan game di gadget-nya.
Jihan turun dari kursi, dan ia mendekati anak itu. Tanpa aba-aba, Jihan menarik bonekanya yang membuat anak itu langsung menangis.
"Jangan, Sayang!"
Ibu dari anak itu mencoba menjauhkan Jihan dari anaknya, tetapi itu justru membuat Jihan langsung menangis nyaring.
"Jihan!" teriak Darrel yang baru sadar sang adik membuat masalah.
"Mau, Kakak!" rengek Jihan di tengah isak tangisnya, air mata bocah itu mengalir sangat deras membasahi pipinya.
"Nanti minta sama Papa," kata Darrel sambil menarik Jihan kembali ke meja mereka.
"Mau sekarang," pinta Jihan yang semakin menjadi.
"Darrel, Jihan kenapa?" tanya Arya yang baru kembali.
"Mau itu!" Jihan menunjuk anak itu yang kini menatapnya dengan kesal.
"Oh, nanti Papa belikan, Sayang," ujar Arya sembari menggendong Jihan. "Sekarang kita makan dulu, ya!"
"Nggak mau, mau sekarang." Jihan memukul Arya, bocah itu kembali mengamuk seperti dulu.
"Menjaga mereka di luar ternyata lebih heboh dari pada di dalam rumah," ringis Arya.
__ADS_1
"Ya sudah, ayo kita beli boneka, setelah itu kita kembali ke sini.