
Arya menatap wajah Lea yang masih tertidur pulas dalam pelukannya. Wajah sang istri yang tenang seperti ini membuat istrinya itu terlihat sangat cantik.
Terkadang, Arya bertanya-tanya apa yang membuatnya menyia-nyiakan wanita yang hampir sempurna seperti sang istri. Yang sudah setia menemaninya di setiap langkah yang selalu ia ambil, yang meyakinkan Arya saat ia ragu dalam suatu hal.
Lea mengerang lirih dalam tidurnya sambil menggeliat, hal itu membuat selimut yang menutupi tubuhnya melorot. Arya tersenyum, lalu dengan iseng ia mendekati sang istri dan mencium pundaknya yang terbuka.
Rupanya, hal itu membuat Lea terbangun, dan seketika wajah wanita itu memerah saat tatapannya bertemu dengan tatapan sang suami.
"Apa aku mengganggu?" tanya Arya sembari merapikan helaian rambut yang mengganggu wajah cantik Lea.
"Nggak," jawab Lea dengan suara serak. "Jam berapa sekarang?"
"Masih jam 4." Arya menjawab sembari menarik sang istri, hingga semakin merapat ke tubuhnya. "Ayo tidur lagi, kamu pasti lelah."
Wajah Lea kembali bersemu mendengar apa yang Arya katakan, dan harus ia akui, dirinya memang masih lelah setelah melewati malam yang cukup panjang dengan sang suami.
"Kamu belum tidur atau sudah bangun?" tanya Lea sembari mendesakkan tubuhnya ke tubuh sang suami, mencari kehangatan yang dulu sempat hilang.
"Aku nggak bisa tidur," jawab Arya yang membuat kening istrinya langsung berkerut.
"Kenapa?" tanya Lea bingung.
"Mungkin aku terlalu bahagia, sampai nggak bisa tidur," kekeh Arya yang membuat istrinya juga terkekeh.
"Aku juga bahagia, sampai bisa tidur nyenyak."
Lea melingkarkan lengan mungilnya di pinggang sang suami. "Kamu juga harus tidur, nggak baik kalau nggak tidur semalaman."
"Hem." Arya hanya menggumam sambil tersenyum, kemudian ia mengecup kening sang istri.
Perlahan Lea memejamkan mata, begitu juga dengan Arya.
Setelah sekian lama, akhirnya meraka bisa sama-sama saling merasakan kehangatan yang dulu hilang.
Setelah badai menerpa, akhirnya waktu untuk memulai semuanya dari awal tiba. Baik Arya maupun Lea berkomitmen, tidak akan ada lagi kesalahan yang sama.
...🦋...
"Selamat pagi!"
Arya menyapa dengan senyum sumringah saat kedua anaknya keluar dari kamar. "Kalian tidur nyenyak?"
"Iya, Papa," jawab Jihan. "Mama di mana?" tanya gadis itu karena tak melihat sang Ibu di dapur. Padahal, saat pagi hari biasanya yang menyambut dengan senyum sumringah adalah ibunya.
__ADS_1
"Mama masih tidur, Sayang," jawab Arya. "Pagi ini Papa yang akan menyiapkan sarapan untuk kalian."
"Kenapa mama masih tidur, Pa? Apa mama sakit?" tanya Darrel cemas.
Arya langsung mengulum senyum melihat sorot mata Darrel yang tampak cemas itu, membuat Arya sadar, anaknya sudah besar. Mungkin, sebentar lagi Darrel yang akan menjaga Lea.
"Nggak, Mama cuma masih ngantuk katanya karena tadi malam dia tidur larut malam." Arya menjaga sembari menyiapkan dua susu untuk Darrel dan Jihan, dan tentu dia susu yang berbeda.
"Kenapa mama tidur larut malam, Papa?" tanya Jihan lagi penasaran, yang membuat Arya langsung meringis.
Dia harus menjawab apa?
Tidak mungkin 'kan dia memberi tahu bahwa tadi malam mereka berolah raga penuh keringat dan melelahkan untuk merayakan hari pernikahan.
Arya melirik Bibi, berharap pembantunya itu sedikit memberikan bantuan untuk menjawab pertanyaan Jihan. Namun, Bibi justru senyum-senyum sendiri, membuat Arya kesal.
"Papa, apa mama tidak bisa tidur tadi malam? Apa mama bekerja?" tanya Jihan lagi.
"Nggak mungkin kerja, Jihan," kata Darrel. "Tadi malam 'kan mama Papa menikah, masa mau bekerja?"
"Yaa begitulah," gumam Arya. "Sekarang kalian minum susunya, ya! Sebentar lagi sarapan siap," kata Arya, mencoba mengalihkan topik percakapan.
Semakin lama, putri bungsunya ini semakin banyak tanya, dan dia akan terus bertanya sampai mendapatkan jawaban yang memuaskan meskipun pertanyaan itu sudah dijawab dengan benar.
"Mau aku buatkan teh, Sayang?" tanya Arya dengan mesra.
"Boleh," jawab Lea. "Kenapa aku nggak dibangunin?"
Lea membantu Arya menyiapkan sarapan, sementara Bibi diperintahkan untuk melakukan pekerjaan yang lain saja.
"Kamu nyenyak banget tidurnya," jawab Arya. "Jadi aku nggak mau ganggu."
"Anak-anak nanyain nggak?" tanya Lea setengah berbisik.
Arya melirik anak-anaknya sekilas, kemudian mengangguk sambil tersenyum tipis. "Terus kamu jawab apa?"
"Ya aku bilang aja mama kesiangan karena tidurnya terlalu malam." Arya menelisik wajah sang istri yang lagi-lagi bersemu merah. "Kenapa?" tanya Arya sambil tersenyum lebar.
Ia tahu apa yang ada dalam benak istrinya itu.
"Nggak apa-apa," jawab Lea. "Cuma ... aneh aja rasanya aku kesiangan," cicit Lea.
"Nggak sama sekali," kekeh Arya.
__ADS_1
Darrel memperhatikan kedua orang tuanya, dan pemandangan pagi ini membuat Darrel merasa sangat bahagia. Setelah sekian lama, akhirnya Darrel bisa melihat mereka mesra lagi, di rumah yang lama, artinya kini keluarga mereka akan memulai semuanya dari awal.
Meskipun masih kecil, tapi Darrel tahu apa yang orang tuanya lewati. Apalagi ia menyaksikan sendiri bagaimana awal mula hubungan yang tadinya baik-baik saja, tiba-tiba retak, kemudian hancur. Tapi setidaknya kini Darrel kembali menyaksikan, bagaimana hubungan orang tuanya utuh kembali.
"Ini sarapan buatan Papa," kata Lea sembari menyajikan sarapan untuk kedua anaknya itu.
"Papa jago masak sekarang, Mama," kata Jihan sambil cekikikan. "Jihan suka masakan Papa."
"Oh ya, lebih enak mana sama masakan Mama?" tanya Lea.
"Enak semua," jawab Jihan dengan senyum lebar.
"Masa?" goda Arya sembari duduk di sisi sang istri.
"Iya, Papa." Jihan menjaga dengan yakin, membuat kedua orang tuanya terkekeh.
"Terima kasih, Sayang," ucap Arya. "Kami senang kalau kalian menyukai masakan kami."
"Tapi ayam goreng Papa nggak enak," kata Jihan yang langsung membuat senyum Arya musnah, sementara Lea langsung tergelak. "Rasanya aneh di lidah Jihan, Papa."
"Iya, benar," sambung Darrel.
"Nanti Papa belajar lagi," kata Arya pasrah.
"Memangnya bisa, Papa?" tanya Jihan.
"Bisa dong," jawab Arya dengan yakin. "Menaklukkan hati Mama aja bisa, masa menaklukan ikan nggak bisa?"
Arya melirik sang istri, ia mengedipkan mata, membuat istrinya tersipu.
Ia menarik tangan Lea, kemudian mengecupnya dengan mesra. "Mas, jangan di depan anak-anak!" bisik Lea dengan wajah yang sudah merah padam.
"Aku cuma mau bilang terima kasih, Sayang." Arya menatap Lea penuh cinta. "Terima kasih karena sudah bersedia memulai awal yang baru lagi bersamaku."
"Aku juga terima kasih atas perjuanganmu," sahut Lea. "Maaf kalau kamu menunggu terlalu lama."
Arya menggeleng kemudian berkata, "Justru dengan waktu yang lama itu, aku banyak belajar."
"Aku juga," balas Lea. "Aku belajar bahwa ternyata kamu memang sudah berubah."
"Karena aku mencintaimu."
...TAMAT ...
__ADS_1