Merebut Kembali Suamiku

Merebut Kembali Suamiku
Langkah Yang Baru


__ADS_3

Tidak ada yang menginginkan sebuah perpisahan dengan orang yang paling berarti dalam hidup, begitu juga dengan Lea dan Arya.


Status suami istri mereka memang telah usai, akibat kesalahan Arya, dan juga keputusan Lea karena tak bisa berbesar hati untuk memaafkan saat itu.


Namun, setidaknya beberapa hari yang Lea berikan pada Arya untuk mengurus rumah dan anak-anaknya telah berhasil merebut pria itu kembali.


Perhatian, waktu, dan cintanya.


Lea benar-benar berhasil merebutnya.


Tak hanya itu, Lea juga berhasil membuat Arya melakukan apa yang sangat ia inginkan, yaitu melempar sahabat yang telah menikungnya.


Apakah Lea bahagia setelah semua pencapaian itu?


Tidak, ternyata itu tidak membuatnya bahagia karena ia harus melihat kedua anaknya berpisah rumah dari sang Ayah.


Namun, semua sudah sesuai langkah baru yang ia pilih. Dan ia harus menjalaninya dengan sepenuh hati.


"MAMA!"


Lea yang saat ini sedang tidur langsung terlonjak ketika mendengar suara cempreng Jihan.


Ia bahkan langsung melompat dari ranjang, kemudian berlari keluar dari kamarnya dengan jantung yang berdebar kencang, dan juga raut wajah yang panik.


"Jihan!" teriak Lea yang kini berlari ke halaman belakang rumah.


"Haha!"


"Mama!"


"Jihan mau jadi putri duyung!"


"Haha!"


Lea menganga lebar, tapi kemudian ia tertawa melihat penampilan putrinya.


"Lihat, Mama!" teriak Jihan sambil menggerakkan kakinya yang terbungkus benda berbentuk seperti ekor duyung.


"Papa belikan ini dari luar negeri katanya," ujar Jihan girang.

__ADS_1


"Beli di Singapore, Mas?" tanya Lea sembari menguap.


Jujur saja, ia masih sangat mengantuk, bahkan wanita itu sudah berniat akan bangun sedikit lebih siang karena sekarang hari minggu.


Namun, apalah daya, seorang Ibu akan terbangun begitu saja ketika mendengar suara teriakan anaknya.


"Iya," jawab Arya sembari menggendong Jihan masuk ke dalam kolam. "Hanya sisa tiga dengan kualitas paling bagus, jadi aku beli dua untuk Jihan," tambahnya.


"Astaga, itu pasti mahal," kata Lea sembari menjatuhkan diri di kursi dekat kolam. "Satu aja cukup kali, Mas."


"Tapi warna dan modelnya beda," kekeh Arya sembari membantu Jihan berenang di permukaan kolam. "Anggap saja ini hadiah ulang tahun untuk putri kita."


Lea mengangguk pelan, ia pun menarik handuk Jihan kemudian menutupi wajahnya. Lea ingin kembali tidur walaupun hanya 10 menit. Namun, ia harus membuka mata saat mendengar teriakan Darrel.


"MAMA!"


"Astaga!" keluh Lea sambil memijit kepalanya. "Kaos kaki Darrel hilang, Mama!"


Arya yang mengajari Jihan berenang kini justru terkekeh saat mendengar teriakan Darrel.


"Sejak dulu, kenapa Darrel selalu kehilangan kaos kaki?" kekeh Arya.


"Kaos kakinya nggak hilang, Mas," jawab Lea lesu. "Tapi dia aja yang nggak bisa cari dengan benar."


"Kaos kaki dia ada di laci, itu sudah tempat khusus." Lea menggerutu sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Sabar, Bu, sabar!" seru Arya sambil tertawa kecil. "Nanti kerutannya makin banyak loh!"


"Biarin aja lah, biar nggak ada yang naksir!" ujar Lea sambil menahan senyum, ia berjalan lunglai kembali ke dalam rumah.


"Tapi aku masih naksir!" teriak Arya dari kolam.


Lea hanya mengangkat tangan menanggapi ucapan mantan suaminya itu, tapi tak bisa ia pungkiri, kata-kata seperti itu berhasil menghangat kan hatinya yang sempat dingin. Apalagi itu bukan pertama kalinya Arya secara terang-terangan menggodanya


Entah bagaimana hari yang Lea dan Arya lewati, tapi keduanya benar-benar menepati janji untuk menjadi orang tua yang baik bagi Darrel dan Jihan.


Status mereka adalah mantan, tapi mereka tidak saling membenci, dan Lea juga berhenti menyalahkan Arya atas apa yang terjadi. Dia belajar berdamai dengan keadaan.


Bukan hanya menjadi rekan untuk mengurus anak-anaknya, tapi mereka juga menjadi rekan yang baik dalam pekerjaan. Dan semuanya berjalan dengan lancar selama satu setengah tahun ini.

__ADS_1


Mereka telah mengambil langkah yang baru.


Lea yang selalu berusaha menyembunyikan cintanya pada Arya karena masih trauma, sementara Arya memilih bertekuk lutut pada wanita itu, dan ia tidak akan berhenti sampai Lea menerimanya kembali.


Selama satu setengah tahun ini juga mereka masih bersikap seolah tidak terjadi apa-apa di depan anak-anak.


Arya selalu mengunjungi mereka setiap hari, terkadang juga membawa anak-anak menginap di rumah Arya yang masih di tempatinya sendirian.


Saat akhir pekan seperti sekarang, Arya yang ke rumah Lea dan menghabiskan waktu bersama dua malikat kecilnya.


Arya menikamati setiap waktu yang ia lewati, meskipun terkadang ia merasa kesepian di rumahnya, kemudian penyesalan itu kembali datang, dan Arya menyalahkan dirinya sendiri.


Selain itu, tak sedikit yang mencoba mendekati sang direktur, apalagi jika para wanita itu tahu status duda Arya.


Namun, pria itu sudah bertekuk lutut pada mantan istrinya, cinta pertamanya. Jadi, ia tidak tertarik lagi dengan wanita mana pun.


...🦋...


"Papa, Jihan pengen berenang di kolam yang besar, yang banyak balonnya," kata Jihan sambil menatap sang Ayah yang kini mencari bajunya di lemari.


"Minggu depan, mau?" tawar Arya sambil tersenyum.


Tentu saja Jihan langsung mengangguk semangat. "Tapi ada syaratnya!" seru Arya sembari memakaikan baju Jihan.


"Jihan tidak boleh mengambil mainan anak-anak yang lain, Jihan juga tidak boleh menangis kalau pengen sesuatu. Cukup bilang aja sama Papa, okay?"


Jihan mengangguk setuju, membuat Arya meringis.


Setiap kali mereka berencana akan keluar, entah untuk makan, main, atau belanja. Arya atau pun Lea meminta Jihan tidak melakukan apa yang seharusnya tidak ia lakukan, dan bocah itu mengangguk setuju. Namun, sampai detik ini Jihan masih belum sanggup memenuhi apa yang orang tuanya minta.


Walaupun begitu, Arya mencoba memahami Jihan yang masih anak-anak. Dan ia juga teringat apa yang Lea katakan, lambat laun anaknya akan mengerti dan pasti patuh.


Setelah memakaikan baju Jihan, Arya membawa gadis itu ke dapur, di mana Lea sedang menyiapkan sarapan bersama Bibi.


"Mau aku bantu?" tanya Arya menawarkan diri.


"Bisa potongkan buah untuk Jihan Darrel, Mas?" tanya Lea tanpa menatap pria itu.


"Okay," jawab Arya.

__ADS_1


"Terima kasih," ucap Lea tulus.


"Sama-sama," sahut Arya. "Aku sudah bisa jadi suami yang baik, kan? Kapan kita akan menikah?"


__ADS_2