
Mereka berpisah, tapi tetap bersatu.
Itu lah keluarga Lea sekarang, bahkan wanita itu tidak menyangka keluarganya akan jadi seperti ini. Sarapan bersama seolah mereka adalah keluarga yang sempurna, apalagi diselingi obrolan ringan tentang beberapa hal.
"Oh ya, Mas, setelah mengantar Darrel nanti, aku nitip belikan pisang, ya," pinta Lea pada Arya.
"Oke," jawab Arya sambil makan dengan lahap. "Nggak pesan Buah yang lain juga? Aku liat di kulkas cuma ada jeruk sama anggur, apelnya sudah habis," tukas Arya.
"Belikan apel sama melon, buah naga juga. Jihan suka jus buah naga," ujar Lea.
Arya mengangguk sambil menatap Jihan yang kini juga makan dengan lahap, putrinya itu sudah besar, usianya sudah 6 tahun, dan Arya tidak percaya ternyata waktu berjalan secepat itu.
Satu tahun lagi Darrel juga akan lulus SD, dan putranya itu akan masuk sekolah menengah pertama.
"Oh ya, Lea, apa kamu sudah memikirkan Darrel akan dimasukkan ke SMP mana nanti?" tanya Arya.
"Belum," jawab Lea yang kini menatap Darrel, putranya itu memakai baju olah raga karena setelah ini dia akan pergi bermain bole dengan teman-temannya. Itu sudah menjadi rutinitas setiap hari minggu bagi Darrel sejak beberapa bulan yang lalu.
"Aku masih bingung, dia mau dimasukkan ke swasta atau negeri," tambah Lea.
"Swasta aja," jawab Arya. "Aku punya rekomendasi sekolah bagus, anak temanku di sana juga. Nanti aku tunjukkan brosurnya."
"Darrel memang mau sekolah swasta aja, Mama," kata Darrel. "Yang ada latihan main bolanya, ya."
"Iya," sahut Lea sambil terkekeh.
"Bukannya dulu cita-cita kamu mau jadi Dokter, Darrel?" goda Arya. "Kok bisa sekarang tiba-tiba pindah haluan ke sepak bola?"
"Biar keren, Pa." Darrel menjawab dengan asal, membuat Arya dan Lea tertawa.
"Jihan mau jadi Dokter, Papa!" seru Jihan sambil mengangkat tangan dengan tinggi. "Jihan mau suntik orang," imbuhnya.
"Dokter itu mengobati orang," kata Darrel. "Bukan cuma menyuntik, Jihan gimana sih?"
"Tapi Dokter juga menyuntik, Kakak, Jihan saja di suntik di sini," kata
Setelah selesai sarapan, Arya langsung bergegas mengantar Darrel untuk main sepak bola.
Sementara Lea tetap di rumah sembari mengajari Jihan membaca dan menulis, sebentar lagi putrinya itu akan di daftarkan ke sekolah dasar.
"Bu?" panggil Bibi setengah berbisik.
__ADS_1
"Hem?" Lea hanya menyahut dengan gumaman.
"Pertanyaan bapak belum di jawab sama Ibu," kata Bibi sambil menahan senyum yang membuat Lea mengernyit bingung.
"Pertanyaan yang mana?" tanya Lea.
"Itu ... kapan Ibu mau menikah lagi sama bapak?"
Wajah Lea tersipu mendengar pertanyaan Bibi, itu mengingatkannya pada pertanyaan Arya yang terus menerus pria itu tanyakan selama beberapa bulan terakhir.
"Apaan sih, Bi," gumam Lea.
Menikah lagi dengan Arya?
Terkadang, Lea memang memikirkan kemungkinan hal itu. Tak hanya sekali atau dua kali, tapi sudah sering. Apalagi melihat anak-anak yang selalu bahagia saat menghabiskan waktu bersama sang Ayah, Lea ingin menyempurnakan kebahagiaan mereka dengan menyatukan kembali hubungan keluarganya.
Namun, rasa takut dikhianati terkadang masih hinggap di hati Lea. Ia takut dengan rasa sakitnya, ia takut kembali kecewa. Karena jika itu terjadi lagi, mungkin Lea tidak akan punya kekuatan untuk bertahan seperti sebelumnya.
...🦋...
Di sisi lain, Arya dan para ayah dari teman Darrel duduk menyaksikan anak-anak yang bermain sepak bola. Tidak banyak yang menunggu anaknya, apalagi sebagian besar teman-teman Darrel adalah seorang pengusaha.
Jadi, mereka pasti sibuk meskipun di akhir minggu. Dulu, Arya juga seperti itu. Namun, sekarang tidak lagi. Apalagi setelah ia merasakan menghabiskan waktu seharian dengan anak-anaknya sangat menyenangkan.
"Capek?" tanya Arya yang melihat Darrel tampak sangat kelelahan, napas putranya itu memburu. Ia mengambil botol minum dan memberikannya pada Darrel.
"Capek banget, Papa, tapi seru!" sahut Darrel.
"Mau langsung pulang?" tanya Arya lagi.
Darrel mengangguk setelah ia meneguk air minumnya. "Tapi Papa mau belanja dulu, Mama pesan buah tadi."
"Iya," jawab Darrel sambil.
Arya pun mengandeng tangan Arya menuju mobil, dan hal kecil itu membuat Darrel merasa sangat senang.
Saat Arya dan Darrel berhenti di toko buah, Arya dikejutkan dengan keberadaan orang yang tidak pernah ia lihat lagi selama satu setengah tahun ini. Orang yang dulu Arya pikir sangat istimewa, dan juga berarti.
Chelsea.
Wanita itu juga terkejut melihat pria yang coba ia lupakan selama ini, pria yang datang memberi harapan, dan pergi setelah menghancurkan harapannya.
__ADS_1
"Lewat sini, Darrel!"
Arya menarik Darrel ke sisi yang berbeda untuk menghindari Chelsea, ia tidak ingin Darrel melihat wanita yang pasti putra nya itu benci.
"Papa, aku mau beli buah semangka yang manis, ya," pinta Darrel. "Mama pernah beli semangka tapi nggak manis, Darrel nggak suka."
"Oh ya? Kalau begitu kita harus cicipi dulu sebelum beli," kekeh Arya.
Chelsea hanya bisa tersenyum masam mendengar percakapan dua pria itu, dan ia tidak menyangka Arya sangat terlihat baik-baik saja. Berbeda dengan dirinya yang masih berjuang untuk move on, berdamai dengan takdirnya yang sangat tidak bersahabat.
Setelah memilih membayar buah yang Chealse ambil, ia langsung pulang ke rumahnya yang tak jauh dari sana, bahkan ia bisa berjalan kaki ke rumahnya itu.
Rumah sederhana yang baru ia tempati sejak satu tahun yang lalu, setelah kematian ibunya
"Chelsea!" panggil tetangganya sebelum Chelsea masuk ke dalam rumah.
"Iya, Tante," sahut Chelsea.
"Tadi ada paket datang, terus di titip sama Tante!"
Wanita paruh baya yang mungkin seumuran mendiang ibunya itu memberikan paket milik Chelsea. "Isinya apa? Kok berat?" tanya wanita itu.
"Vas bunga, Tante," jawab Chelsea sambil tertawa kecil.
"Memangnya nggak pecah kamu beli barang begitu via online?"
"Nggak kok, aman," sahut Chelsea. "Makasih, Tante."
Tetangganya itu mengangguk.
"Kamu sudah masak?" tanyanya kemudian.
"Belum," jawab Chelsea.
"Tante masak rawon, kamu mau?"
Chelsea langsung mengangguk tanpa sungkan, bahkan wanita itu tersenyum senang.
Sejak pindah ke lingkungan barunya, Chealse berhasil membuat hubungan yang baik bersama tetangganya. Apalagi ia hanya tinggal sendirian di sana.
Para tetangganya pun menyambut Chealse dengan baik, apalagi setelah tahu wanita itu tidak punya siapa-siapa lagi.
__ADS_1
Sebenarnya, Chelsea selalu beruntung karena ia selalu di keliling orang yang baik padanya. Seperti Lea dulu, wanita itu sahabat terbaiknya, yang selalu ada untuk Chelsea dalam setiap keadaan. Namun, Chelsea justru menjadi sahabat terburuk bagi Lea.