
Arya menatap gedung menjulang di depannya, sembari mengenang kembali saat pertama kali ia bekerja di sana, dari karyawan biasa yang akhirnya menyentuh posisi sebagai Direktur.
Arya tersenyum, ia baru menyadari dulu hidupnya sangat baik meskipun tidak sempurna. Dan sekarang, ia kehilangan pekerjaan karena hal yang sama sekali tidak ia lakukan. Lalu, rumah tangganya berada di ujung tanduk dan itu memang karena kesalahan fatalnya.
Lamunan Arya buyar saat ia mendengar suara ketukan di pintu mobilnya.
Arya langsung membuka pintu saat tahu yang datang adalah Chelsea.
"Kok tiba-tiba ke sini, Mas?" tanya Chelsea yang langsung masuk ke dalam mobil, bahkan ia hendak memeluk Chelsea, tetapi Arya justru menghalau aksi wanita itu.
"Mas?" lirih Chelsea sedih karena Arya masih cuek padanya.
"Kamu apa kabar?" tanya Arya basa-basi, apalagi memang sudah beberapa hari ini ia tidak menghubungi Chelsea sama sekali.
"Nggak baik," jawab Chelsea dengan suara rendah. "Setiap saat aku nunggu telfon atau pesan dari kamu, tapi kamu sepertinya udah lupa sama aku." Chealse memasang wajah sedihnya, seolah ingin memberi tahu Arya bahwa ia sangat terluka karena diabaikan.
"Aku memang memutuskan begitu," kata Arya yang seketika membuat Chelsea terbelalak.
"Ma-maksud kamu?" Chelsea menatap Arya dengan cemas, dadanya berdebar kencang, ia takut apa yang ia takutkan selama ini terjadi, yaitu ditinggalkan.
"Aku ingin mengakhiri segalanya, Chealse, aku lelah dan aku ingin pulang ke keluargaku."
"Mas Arya?" desis Chelsea dengan dada yang kini semakin bergemuruh. Marah, kecewa, sedih, semuanya bercampur menjadi satu.
"Aku tahu ini nggak adil buat kamu, tapi aku nggak bisa mencari rumah yang baru. Rumah lamaku ternyata sangat baik, dan nyaman. Tapi aku yang bodoh karena aku nggak sadar, dan nggak bersyukur."
Arya berkata dengan suara bergetar, tapi ia juga sangat yakin dengan keputusannya. Meskipun mungkin terlambat, tapi Arya masih ingin mencoba memperbaiki rumah tangganya.
Walaupun mungkin apa yang Arya lakukan terlalu jauh, dan Arya tidak bisa mengulang langkahnya dari awal, setidaknya ia ingin mencari titik baru untuk memulai langkah yang baru.
"Kamu udah janji nggak akan ninggalin aku, Mas!" geram Chelsea sembari menarik baju Arya, seolah ingin melampiaskan rasa sakitnya karena dibuang.
"Aku juga udah janji sama Lea akan selalu bersamanya di setiap langkah dalam hidup kami, aku juga janji pada anak-anak akan menjadi ayah yang baik untuk mereka," ungkap Arya sembari menepis tangan Chealse.
"Aku udah mengikat janji 11 tahun lebih dulu pada Lea dari janjiku pada kamu, Chelsea, jadi aku nggak mungkin melanjutkan pengkhianatan ini."
"Lea udah merestui kita, Mas," ucap Chelsea yang seketika membuat Arya tertawa sumbang.
"Dia nggak pernah merestui kita," bantah Arya. "Asal kamu tahu, kamu udah buat anakku sakit hanya karena susu, kamu bahkan menyakiti fisik Jihan padahal aku dan Lea sama sekali nggak pernah melakukan itu!"
"Aku minta maaf!" seru Chelsea diiringi air mata penyesalannya.
__ADS_1
"Aku maafin," ucap Arya sambil tersenyum tipis. "Tapi sekarang aku sadar, anak-anakku nggak perlu ibu ke dua, dan aku pun nggak butuh wanita ke dua. Kami sangat cukup memiliki Lea dalam rumah dan keluarga kami."
Chelsea termangu mendengar apa yang Arya katakan, dadanya langsung sesak, bahkan ia sampai merasa kesulitan bernapas mendengar apa yang Arya ungkapkan.
Air mata Chelsea sudah membanjiri pipi wanita itu, ia menatap Arya dengan penuh kemarahan dan juga kekecewaan.
"Jahat kamu!" geram Chelsea yang langsung melayangkan tangannya hingga mendarat sempurna di pipi Arya.
Arya tak bereaksi, meskipun pipinya terasa sangat panas dan sakit karena tamparan Chelsea sangat keras.
"Tega kamu melakukan ini sama aku!" teriak Chelsea marah.
"Aku tahu," lirih Arya sembari menyentuh pipinya yang ditampar. "Sejak awal, seharusnya aku memang nggak bermain api sama kamu, Chealse. Itu hanya akan membuat kita semua terbakar seperti sekarang."
"Kenapa, huh? Kenapa kamu berubah pikiran? Bukannya dulu kamu bilang kamu mencintaiku, kamu nyaman sama aku, kamu seperti mendapatkan warna dan cahaya baru dalam hidup kamu setelah sama aku?"
"Iya, aku ingat aku mengatakan itu," sahut Arya. "Dan saat itu aku pasti lupa, atau mungkin aku buta sehingga aku nggak tahu keluargaku dipenuhi dengan warna cerah dari anak-anak, juga cahaya terang dari istriku."
Arya tersenyum masam mengingat dulu ia begitu mudahnya mengucapkan janji manis pada Chelsea, bahkan tanpa sadar ia memberi tahu bahwa keluarganya tidak bahagia, sehingga Chelsea hadir membawa kebahagiaan yang ia kira tak ia dapatkan dari rumah.
Namun, sekarang mata Arya telah terbuka lebar.
Arya menghela napas berat, memang sangat berat berkata jujur seperti ini pada dirinya sendiri, begitu juga pada Chelsea. Tapi sekarang Arya merasa lega karena ia bisa jujur, juga berani membuka mata bahwa kesalahan itu memang ada pada dirinya.
"Apa Lea yang memaksamu meninggalkanku?" tanya Chelsea kemudian. "Dia nggak pernah menghubungiku sama sekali."
"Nggak," bantah Arya dengan cepat. "Bahkan Lea mempersilakan aku jika aku ingin bersama kamu, dia sudah siap menjadi ibu sekaligus ayah untuk anak-anakku. Tapi masalahnya, aku yang nggak siap kehilangan mereka."
Chelsea menatap Arya dengan tajam, sebelum akhirnya dia keluar dari mobil dengan marah. Chelsea sudah tidak sanggup lagi mendengar semua kata-kata Arya tentang Lea dan Lea.
Tak berselang lama, Arya juga keluar dari mobil.
Chelsea sempat berpikir mungkin pria itu ingin mencegahnya pergi, tetapi Arya masuk ke kantor sembari membawa sebuah rantang.
Pria itu bahkan tidak menoleh sedikitpun pada Chelsea yang kini hanya bisa mematung.
Arya datang ke kantor itu bukan hanya untuk mengakhiri hubungannya dengan Chealse, tapi juga untuk mencoba memulai kembali hubungannya dengan Lea.
Maka dari itu, ia datang dengan membawa makanan yang ia masak sendiri. Arya tahu Lea sudah berpindah ke kantor itu berkat informasi dari ibunya.
"Pak Arya?" pekik Rugby yang melihat Arya ada di kantor.
__ADS_1
"Kamu tahu di mana Lea?" tanya Arya.
"Oh, dia ada di ruangan pak Farel," jawab Rubby.
"Apa meraka sibuk? Aku ingin mengantar makanan untuk Lea, tadi dia juga nggak sarapan," tukas Arya.
Rubby tampak bingung harus menjawab apa, tapi setelah berpikir sejenak, wanita itu mempersilakan Arya masuk ke ruangan Farel.
Kedatangan Arya membuat Farel dan Lea terkejut, sementara Arya juga sangat terkejut karena ia melihat Farel dan Lea di sofa berdampingan dan tampak sangat dekat, meskipun sepertinya mereka bekerja karena ada banyak berkas dan juga laptop di depan mereka.
"Maaf mengganggu," kata Arya. "Aku hanya mau mengantarkan ini!" Lea menunjukkan rantang yang ia bawa.
Lea langsung menghampiri suaminya itu, kemudian menariknya keluar dari ruang kerja Farel.
"Apa?" ketus Lea kesal.
"Aku memasak buat kamu," kata Arya sambil tersenyum, meskipun hatinya terasa sangat perih karena ia melihat Farel dan Lea sangat dekat.
"Aku nggak butuh makan sekarang!" desis Lea.
"Kamu bisa makan nanti setelah bekerja." Arya memaksa, ia meletakkan rantang itu di tangan Arya. "Dan... kenapa kamu dekat banget sama Farel, Lea?" cicit Arya.
"Kenapa?" Lea mengangkat wajahnya, seolah menantang Arya.
"Yaa... nggak enak aja kalau ada pegawai yang liat, Lea, apalagi Farel itu suami teman kamu. Takutnya ada gosip yang membuat nama kamu buruk," ucap Arya yang seketika membuat Lea tertawa mengejek.
"Suci sekarang kamu, ya?" cibir Lea. "Chelsea sahabat yang sudah aku anggap suadara sendiri, dan kalian selingkuh di kantor. Apa kamu nggak berpikir itu akan membuat nama kamu buruk? Atau ... itu akan membuat istri dan anak kamu sakit?"
Lea menyindir dengan tajam, dan kata-kata itu seolah menampar Arya dengan sangat keras.
"Aku menghormati Carol dan Farel, aku juga mencintai diriku dan anak-anak, jadi aku nggak akan melakukan tindakan tidak bermoral seperti yang kamu dan Chealse lakukan! Tindakan yang bisa membuat keluargaku dan keluarga orang lain hancur!"
Hati Arya langsung seperti dihujam tombak mendengar apa yang Lea katakan, dan itu memang sangat benar.
"Terima kasih, aku bisa beli makanan sendiri!"
Lea mengembalikan rantangnya pada Arya, sebelum akhirnya ia kembali masuk ke ruang kerja Farel.
Arya hanya terdiam mematung, dan tanpa sadar ia menitikkan air matanya.
"Ternyata aku sejahat itu," pikir Arya.
__ADS_1