
Darrel memperhatikan sang ayah yang terlihat sangat sumringah pagi ini. Bahkan, ayah nya itu tidak menegur apalagi marah meskipun Jihan tadi tidak sengaja menumpahkan susu ke baju nya padahal dia sudah mau berangkat.
Papa nya itu justru mencium Jihan dan mengatakan sangat mencintai Jihan.
“Papa, kapan kita akan tinggal bersama lagi?” tanya Darrel setengah merengek.
“Sebentar lagi, Sayang,” jawab Arya sambil tersenyum lebar. “Darrel doakan ya. Semoga nanti kita bisa bersama lagi, tinggal dalam satu rumah seperti dulu, terus menghabiskan waktu bersama.”
“Darrel selalu berdoa begitu, Papa,” lirih Darrel. “Soal nya Darrel pengen kayak teman teman Darrel yang lain, setiap hari mereka makan bersama papa dan mama nya.”
Darrel tersenyum tipis mendengar curahan hati Darrel yang selalu sama sepanjang waktu. “Sabar sedikit lagi, Sayang,” kata Arya. “Papa Cuma butuh persetujuan Mama untuk menyatukan keluarga kita seperti dulu, dan Papa yakin sebentar lagi Mama akan mewujudkan keinginan kita.”
“Benaran, Papa?” tanya Darrel dengan mata yang berbinar.
“Iya dong,” kekeh Arya.
“Tapi Papa janji ‘kan nggak akan buat mama menangis lagi seperti dulu? Papa janji nggak akan pergi sama Tante Chill lagi?"
DEG
Hati Arya terkesiap mendengar pertanyaan yang di lontarkan oleh Darrel,
itu membuat Arya sadar, ternyata yang masih menyimpan luka itu bukan hanya Lea, tapi juga Darrel.
Arya menghentikan mobil nya tepat di depan rumah Lea, ia menekan klakson, memberi tanda pada Lea bahwa ia sudah datang.
Sambil menunggu Lea, Arya menjawab pertanyaan Darrel.
"Papa janji, Sayang Papa nggak akan mengulangi kesalahan yang seperti dulu." Arya mengusap kepala putra nya itu dengan lembut. "Dan jika papa melakukan kesalahan seperti itu, maka kamu dan Mama berhak menjauh dari Papa. Tinggalkan Papa sendirian, dan itu akan menjadi hukuman Papa."
"Benaran?" tanya Darrel seolah ingin memastikan."Darrel tidak tega melihat Mama menangis, Pa, Darrel sayang Mama."
Mata Arya terasa panas, bahkan ia hampis menangis mendengar apa yang Darrel katakan.
"Papa juga sayang sama Mama, Nak," kata Arya. "Maka nya, sekarang Papa sedang berjuang menebus kesalahan Papa."
"Darrel sayang Papa!" seru Darrel sambil tersenyum, bahkan ia langsung berdiri dari kursi nya agar bisa memeluk sang Ayah. "Darrel percaya sama Papa."
"Terima kasih banyak, Sayang," ucap Arya sambil mengusap punggung Darrel dengan lembut.
Mendapatkan kepercayaan dari putra nya itu membuat hati Arya tersentuh, hingga ke titik yang paling dala..
__ADS_1
Tak berselang lama, Lea datang dan Arya langsung melerai pelukan nya dari Darrel. "Duduk di kursi mu, ya!" titah Arya sambil mengucek mata nya yang terasa perih.
Darrel mematuhi perintah sang Ayah.
"Selamat pagi, Mama!" sapa Darrel saat Lea masuk ke dalam mobil.
"Selamat pagi," balas Lea. "Sudah sarapan, Darrel?"
"Sudah, Ma," jawab Darrel.
Lea menatap Darrel dan Arya sambil mengernyit, kemudian ia berkata, "Aku merasa kan hawa yang berbeda."
"Oh ya? Apakah hawa nya panas atau dingin?" tanya Arya sembari melajukan mobil nya.
"Sedikit tegang." Lea menjawab sambil menelisik wajah dua pria tercinta nya itu. "Apa sebelum nya kalian membicarakan sesuatu yang serius?" tanya Lea penasaran, apalagi ia menyadari ada yang berbeda dari raut wajah Arya, begitu juga dengan sorot mata pria itu yang tampak lebih sayu dari biasa nya.
"Iya," jawab Arya sambil mengulum senyum. "Kami membicarakan masalah laki-laki, dan itu cukup rahasia. Iya 'kan, Sayang?" Arya melirik Darrel dari spion, dan putra nya itu mengangguk.
"Oh, jadi sekarang Darrel sudah punya rahasia dari Mama!" seru Lea sambil menoleh ke belakang, menatap putra nya itu yang tersenyum, memamerian gigi nya yang tidak terususn rapi gara-gara rusak di makan ulat gigi.
"Iya, Darrel sudah besar, jadi sudah punya rahasia," kata Darrel.
Sepanjang perjalanan ke sekolah, berbincang ringan, dan sesekali bercanda, kemudian tertawa.
Pagi ini menjadi pagi yang cukup mengesankan bagi Lea, begitu juga dengan Arya.
Setelah mengantar Darrel dengan selamat sampai ke sekolah, kini Arya melanjutkan perjalanan nya menuju kantor mereka.
Berhubung mereka tinggal berdua saja sekarang, tiba-tiba Lea langsung merasa gugup, tetapi ia mencoba menahan diri, dan tetap bersikap seperti biasa. Padahal, jantung nya berdebar sangat kencang.
"Kamu sarapan apa tadi?" tanya Arya membuka percakapan.
"Sereal," jawab Lea singkat.
"Kenapa? Kamu mau diet?" Pekik Arya, bahkan pria itu secara spontan langsung melirik tubuh Lea. "Kamu sudah kurus begitu, Lea, jangan diet!"
"Bukan diet," kilah Lea, apalagi ia memang tidak pernah melakukan diet dengan alasan apapun. "Aku tadi cuma buru-buru, terus nggak selera juga mau makan apa. Jadi aku cuma buat sereal."
"Oh, begitu," gumam Arya.
Lea hanya mengangguk, dan kini suasana Kembali hening.
__ADS_1
"Lea?" panggil Arya dengan lirih.
"Hem," sahut Lea.
"Besok aku harus ke luar kota," kata Arya yang langsung membuat Lea terkejut. "Paling lama satu minggu, paling cepat empat hari," tambah Arya.
"Okay," jawab Lea. "Sudah bilang sama anak-anak? Biasa nya meraka akan tanya kamu di mana, pulang kapan dan sebagai nya."
"Aku sudah kasih tahu tadi," jawab Arya. "Mereka bilang nggak apa-apa, asal pulang nya bawa hadiah yang banyak." Arya tertawa mengingat bagaimana Jihan meminta hadiah sebagai ganti jika Arya akan pergi.
"Semoga pekerjaan kamu lancar," kata Arya.
"Saat aku pulang nanti, aku mau jawaban kamu!"
Arya kembali melirik Lea sekilas, sebelum akhir nya ia kembali fokus menyetir.
"Jawaban apa?" tanya Lea.
"Lamaran," jawab Arya yang langsung membuat Lea termangu. "Aku mau jawaban yang pasti, Lea, sudah waktu nya sekarang!"
Lea hanya bisa mengulum senyum kaku mendengar permintaan Arya yang terkesan menuntut itu.
"Kalau masih ada yang ingin tanyakan, atau ragukan, katakan sekarang. Aku akan memperbaiki nya untuk kamu," tukas Arya.
"Masalah ku cuma satu, Mas, keyakinan di hati," jawab Lea dengan jujur. "Aku masih nggak tahu harus membuat keputusan seperti apa, aku bahkan nggak bisa percaya sama diri aku sendiri."
"Aku mengerti, Sayang," kata Arya. "Aku nggak akan maksa, kamu masih punya waktu untuk memikirkan semuanya, dan meyakinkan hati kamu."
Lea mengangguk pelan.
"Tapi aku harap kamu memberikan jawaban saat aku kembali minggu depan, apalagi kamu itu udah nggak adil sama aku, Lea."
"Nggak adil bagaimana? tanya Lea.
"Waktu kamu punya cuma butuh waktu hitungan hari untuk merebut hatiku lagi, tapi kenapa kamu dengan kejam nya membiarkan aku berjuang selama lebih dari satu setengah tahun untuk merebut hati mu, hem?"
Lea meringis mendengar apa Arya katakan, apalagi itu sangat benar.
"Kamu tega, dan keras kepala. Jadi, sekali saja, tolong turunkan kekejaman kamu, dan kurangi keras kepala mu, okay?"
Lea mengangguk sambil menahan senyum geli.
__ADS_1