
"Belajar yang benar!" seru Lea saat Darrel turun dari mobil nya. "Habiskan bekal nya, Darrel! Tadi kamu sarapan sedikit."
"Bye bye, Mama!" teriak Darrel tanpa menjawab apa yang Lea katakan.
Lea tidak mempermasalahkan hal itu, ia yakin Darrel mendengar pesan nya dan akan mengingat nya.
Kini Lea melajukan mobil nya menuju kantor.
Menjadi ibu rumah tangga sekaligus wanita karir memang melelahkan, ia juga harus pandai mengatur waktu. Namun, Lea menikamati peran nya.
Sesampainya di kantor, Lea langsung fokus pada pekerjaannya, apalagi hari ini dan mungkin sampai besok, Farel tidak akan bekerja.
Teman sekaligus bos-nya itu sudah memberi tahu Lea, ia ingin menghabiskan waktu bersama bayi dan istrinya untuk sementara waktu, tanpa di ganggu oleh pekerjaan apapun. Dan tentu Lea senang dengan keputusan Farel yang sangat mencintai keluarganya.
Sementara di sisi lain, Arya pun juga fokus pada pekerjaan nya. Dan hari ini ia terlihat jauh lebih bersemangat dan ceria dari hari-hari biasa nya. Bahkan, Rubby menangkap basah pria itu yang sedang senyum-senyum sendiri, seperti remaja labil yang sedang kasmaran.
Hal itu membuat Rubby bingung, bahkan ia mencurigai atasan nya punya pacar baru.
"Mau saya buat kan kopi, Pak?" tanya Rubby setelah ia memberikan berkas laporan yang Arya minta.
"Nggak usah," jawab Arya yang masih tersenyum, meskipun sangat tipis.
"Baik, saya permisi," kata Rubby kemudian.
Arya hanya mengangguk.
Setelah Rubby pergi, Arya mengambil ponsel nya dan ia mengirim pesan pada Lea.
Me
"Mau makan siang bersama? Aku yang traktir, mumpung aku belum punya kewajiban menafkahi mu dan anak-anak."
..."🦋...
Lea mengambil ponsel nya yang berbunyi, ia memeriksa pesan yang masuk dari Arya, dan seketika wanita itu tertawa geli.
"Sejak kapan dia menjadi pria humoris begini?"
Lea meletakkan pekerjaan nya sejenak untuk membalas pesan dari mantan nya.
Me
"Jangan menghamburkan uang, semua hal dari tahun ke tahun semakin naik harga nya. Tidak terkecuali nafkah."
Lea mengirim pesan itu sambil tersenyum geli, tapi kemudian ia berpikir pesan itu seperti menyiratkan sesuatu.
"Jangan sampai pesan ini membuat dia merasa aku akan kembali," gumam Lea yang dengan cepat menghapus pesan itu meskipun sudah terkirim m
Lea hanya berharap pesan itu tidak sampai di baca oleh Arya.
"Pasti dia sibuk juga, kan? Dia pasti belum sempat baca," monolog Lea, berusaha meyakinkan diri nya sendiri, untuk menenangkan hati nya.
Namun, seperti nya harapan Lea tinggal harapan.
Pesan Arya kembali masuk, membuat hati Lea berdebar, bahkan tiba-tiba dia merasa gugup.
^^^Mas Arya^^^
__ADS_1
^^^"Jangan khawatir, aku sudah menabung, aku juga berinvestasi, semua itu aku persiapkan untuk masa tua kita nanti. Jadi, kita tidak akan merepotkan anak-anak. Mereka akan bekerja atau membuka usaha."^^^
Pipi Lea langsung teras panas membaca pesan manis, dan penuh makna itu. Meskipun Lea menganggap itu adalah pesan gombal.
^^^Mas Arya^^^
^^^"Lain kali nggak usah menghapus pesan yang sudah kamu kirim, Lea. Itu percuma, pasti masih meninggalkan bekas, bahkan bisa dipulihkan. Seperti cinta kita yang coba kamu hapus, tapi nggak bisa, kan?"^^^
^^^Lea menganga membaca pesan ke dua yang datang dari mantan kekasih nya itu, ia bahkan tidak percaya yang menuliskan kata-kata seperti itu adalah Lea.^^^
"Apa ponsel nya di retas orang, atau dia salah makan?" gumam Lea.
Ia hendak membalas pesan yang ke dua, tetapi Lea mengurungkan niat nya. Ia tidak ingin membahas hal seperti itu sekarang.
Me
"Sampai bertemu nanti malam!"
Setelah mengirim pesan itu, Lea memasukan ponsel nya ke dalam tas, demi menghindari godaan untuk melayani pesan-pesan absurd Arya.
Absurd, tapi berhasil memhuat ia merona.
"Kenapa aku jadi begini?" gumam Lea yang langsung memasang wajah serius, wanita itu bahkan langsung menepuk pipi nya, seolah berusaha menyadarkan diri bahwa apa yang dia lakukan tidak seharusnya dia lakukan.
"Sudah berumur juga, kenapa jadi seperti remaja labil," gerutu Lea. "Mas Arya benar-benar aneh sekarang, apa itu efek karena dia tertekan tinggal sendirian di rumah."
...🦋...
Selamat itu, Arya hanya bisa melongo saat membaca pesan terakhir dari Lea.
"Sampai bertemu nanti malam!"
"Selain pintar balas dendam dengan cara elegan, ternyata dia juga pintar menghindar sekarang," kekeh Arya.
Me
"Mau pakai baju couple? Biar seru, dan seperti orang yang berkencan. Beberapa teman ku melakukan itu saat jalan bersama."
Arya menulis pesan itu dengan semangat, bahkan dengan bodoh nya ia berharap Lea setuju. Padahal ia tahu dengan pasti, mantan istri nya itu tidak akan setuju.
Arya menatap ponsel nya dengan serius, tetapi tak kunjung ada balasan dari Lea.
"Ke mana dia?" gumam Arya sembari memeriksa kembali pesan yang ia kirim. "Masuk tapi nggak di baca, berarti dia sibuk."
Arya menghela napas berat, padahal ia sangat senang bertukar pesan seperti ini dengan Lea. Sensasi nya sangat berbeda, seperti ada rasa yang manis.
"Ya sudah lah, yang penting nanti malam kita bertemu."
...🦋...
Lea menatap ponsel nya yang tidak jadi ia simpan di dalam tas, Lea penasaran dengan isi pesan Arya selanjut nya.
Lea sudah membaca pesan Arya sekilas saat muncul di notifikasi. Dan itu membuat nya hanya bisa geleng-geleng kepala, tapi juga tersenyum samar.
Mantan suami nya itu benar-benar berubah sejak mereka bercerai, dan Lea sangat menyukai perubahan nya. Membuat Lea merasa nyaman, dan juga seperti menghadirkan warna baru dalam hidup wanita itu.
Lea kembali fokus pada pekerja nya, sebelum ia tergoda untuk membalas pesan mantan suami nya itu.
__ADS_1
...🦋...
Saat hari sudah sore, dan Lea sudah menyelesaikan pekerjaan nya, ia pun langsung pulang. Apalagi Lea harus siap-siap untuk pergi menonton bersama Arya nanti.
Di perjalan pulang, Lea mampir ke sebuah restaurant yang baru di buka, orang bilang menu di sana, jadi Lea penasaran.
Selain itu, ia ingin membelikan makanan untuk kakek nenek nya Darrel, anggap lah sebagai oleh-oleh dari Lea saat ia mengantar Darrel dan Jihan nanti.
"Aku pesan kepiting asam manis dua, dan juga sup udang tiga," ujar Lea pada pelayan. "Di bungkus ya, Mbak!" tambah nya.
"Baik, Bu, tunggu sebentar," ucap pelayan itu.
Lea hanya mengangguk.
Sambil menunggu pesanannya datang, ia mengeluarkan tablet-nya yang berisi jadwal pekerjaannya dan juga Farel, juga beberapa hal lain nya.
Lea memeriksa beberapa email yang masuk dengan sangat serius, hingga tiba-tiba ia mendengar suara yang tidak asing untuk nya.
Lea mendongak, dan seketika ia tercengang melihat Chelsea ada di meja yang tidak jauh dari meja nya.
Wanita itu baru saja datang, bersama seorang wanita paruh baya yang berpenampilan cukup anggun.
Bayangan masa lalu kembali menari dalam benak Lea, tapi ia segera menepis semua ingatan itu, dan Lea kembali fokus pada apa yang ia lakukan sebelum nya. Lea bersikap seolah dia tidak melihat Chelsea.
Sementara Chelsea kini justru tanpa sengaja melihat Lea, wanita itu fokus pada tablet di tangan nya. Chealse terkejut, ia tidak menyangka akan bertemu Lea lagi setelah sekian lama.
Tidak ada yang berubah dari wanita itu, kecuali rambut nya yang lebih panjang dari terakhir kali Chealse melihat nya.
"Aku baru pertama kali ke sini, Cheal."
Suara wanita di depan nya ini membuyarkan lamunan Chealse.
"Saya juga, Bu," jawab Chelsea kemudian ia sedikit berdeham untuk menetralkan perasaannya yang berkecamuk.
"Aku dengar menu di sini enak, jadi aku penasaran."
Chelsea hanya tersenyum tipis menanggapi ucapan wanita yang merupakan atasan nya di kantor itu. "Oh ya, jadi bagaimana? Apa kamu bersedia di pindahkan ke luar kota?" tanya wanita itu. "Jika kamu bersedia, maka posisi kamu jauh lebih baik dari pada di sini."
"Saya sedang memikirkan nya, Bu," sahut Chelsea.
"Tentukan keputusan kamu secepat nya, Chelsea, karena kesempatan itu hanya datang satu kali."
"Saya mengerti," jawab Chelsea. "Saya juga tidak akan ingin kehilangan kesempatan yang baik, saya membutuhkan pekerjaan ini."
Sesekali Chelsea melirik Lea, bahkan muncul keinginan dalam dirinya untuk menyapa wanita itu, meskipun Chelsea tidak tahu harus menyapa seperti apa dan bagaimana.
Tak berselang lama, pelayan datang memberikan pesanan Lea. Setelah Lea membayar pesanan itu, ia langsung pergi bahkan ia melewati meja Chealse dan atasan nya.
"Apa dia nggak liat aku?" batin Chelsea. Rasanya ia tidak percaya jika Lea tidak melihat nya, atau dia hanya pura-pura tidak melihat nya?
"Bu, saya permisi sebentar!" ujar Chelsea sambil beranjak dari kursi nya. "
Ia segera mengejar Lea sebelum wanita itu pergi, dan Chealse tidak tahu ia melakukan itu.
"Lea?"
Lea yang hampir saja sampai ke mobil nya langsung berhenti melangkah saat mendengar suara Chelsea, tapi ia tidak menoleh sedikit pun.
__ADS_1