
Dulu, hadiah terindah dalam pernikahan Lea dan Arya adalah kehadiran Darrel dan Jihan. Kedua malaikat cilik itu membuat pernikahan mereka terasa penuh warna yang begitu cerah.
Lalu sekarang, hadiah terindah bagi Darrel dan Jihan adalah pernikahan Arya dan Lea. Pernikahan ke dua, tapi dengan orang yang sama, atas dasar yang sama, juga dengan komitmen sama, berharap kali ini hanya kebahagiaan yang menyertai mereka.
Tidak ada yang tidak bahagia dengan pernikahan itu, seolah mereka pasangan yang sudah menjalin asmara sejak lama, kemudian menyatukan cinta dalam sebuah ikatan yang sakral.
Kali ini, Arya tidak berjanji pada Lea, atau anak-anak untuk menjadi kepala rumah tangga yang baik. Namun, ia berjanji pada dirinya sendiri dan menekankan bahwa ia harus menjadi suami dan Ayah yang baik, setia dan mampu menjaga mereka, selalu, apapun yang terus.
Tak hanya bagi keluarga dan sahabat, pernikahan Arya dan Lea juga membuat orang-orang di kantor mereka turut bahagia. Bahkan, mereka mengatakan Arya dan Lea adalah simbol cinta sejati. Yang selalu tahu jalan pulang.
Malam ini, adalah malam yang ditunggu Arya selama lebih dari satu setengah tahun, dan malam yang juga ditunggu Lea selama beberapa hari saja.
Arya benar-benar tidak membuang waktu sedikitpun, setelah ia menyelesaikan pekerjaannya di luar kota, ia langsung mengurus pernikahannya.
Saat ini keduanya sedang berdansa, di tengah pesta sederhana yang mereka gelar di rumah Lea dan Arya. Dihadiri beberapa teman dekat keduanya.
"Toko gaun pengantin masih buka, dan aku bisa membelikan gaun pengantin yang bagus," kata Arya pada sang istri. "Tapi kamu cantik dalam balutan gaun ini, Sayang."
Wajah Lea memerah mendengar pujian dari pria yang kini kembali sah menjadi suaminya.
Di malam pernikahannya, ia memang hanya mengenakan gaun putih polos, dengan potongan sederhana, tapi sangat anggun saat dipakai oleh Lea.
Tak mau kalah dengan sang pengantin, Buk Erma juga berdansa dengan dengan Darrel, sementara Pak Jaya berdansa dengan Jihan.
"Mereka semua terlihat sangat bahagia," kata Farel yang saat ini menggeondang putrinya.
__ADS_1
"Aku harap dia selalu bahagia setelah ini," sahut Carol. "Lea wanita yang sangat baik, dia nggak pantas mendapatkan pengkhianatan seperti yang sebelumnya."
"Arya pasti belajar banyak dari masa lalu, Sayang." Farel menatap wajah Arya yang tampak sangat berbinar. "Laki-laki itu kalau memang mencintai dengan tulus, pasti nggak akan bisa mendua apapun alasannya. Dan sekarang, aku yakin perasaan Arya sangat tulus."
"Lea hebat," kata Bu Erma yang kini menghampiri sang suami, setelah ia selesai berdansa dengan cucunyaa. "Dia mampu memberikan kesempatan ke dua pada Arya."
"Arya hebat juga," sahut pak Jaya. "Dia sudah berubah, dan dia sudah belajar banyak dari masa lalunya."
"Sekarang kita akan tinggal di sini lagi 'kan, Kakak?" tanya Jihan pada Darrel.
"Iya dong," jawab Darrel. "Soalnya papa sama mama sudah menikah," tambahnya.
"Kenapa nggak menikah dari dulu aja, Kakak? Biar kita bisa tinggal bersama dari dulu." Jihan merengut, ia kesal mengingat dulu tidak bisa tinggal 24 jam bersama orang tuanya.
"Iya, Jihan senang!" seru Jihan girang.
...🦋...
Saat pesta kecil-kecilan itu usai, dan para tamu juga sudah pulang. Arya mengajak Lea masuk ke kamar, sementara anak-anak sudah tidur sejak satu jam yang lalu.
Mereka makan banyak malam ini, dan pasti mereka juga lelah. Jadi, langsung merasa mengantuk.
"Astaga, kenapa kamarnya masih dihias begini?" kekeh Lea saat ia masuk ke kamarnya.
Kamar yang menjadi saksi bisu hidupnya dan Arya selama ini.
__ADS_1
Kamar itu Arya hias sedemikian rupa, layaknya kamar pengantin. Bahkan, ada taburan kelopak bunga mawar segar di atas seprei putih polos itu,
"Namanya juga kamar pengantin, Sayang," jawab Arya sambil memeluk sang istri dari belakang. "Aku menghias sendiri, kamu suka?" tanya Arya sembari mengeratkan pelukannya, membuat tubuh Lea meremang.
"Biasa aja," kilah Lea. Masih gengsi untuk mengakui bahwa ia suka, bahkan senang dengan apa yang Arya lakukan.
"Jangan bersikap dingin!"
Arya memutar tubuh Lea, hingga wanita itu kini menghadapnya. "Waktunya bersikap hangat karena sekarang kita sudah menjadi suami istri."
Lea tersipu malu.
Meskipun mereka sudah tidak lagi muda, bahkan ini pernikahan ke dua mereka, dan juga mereka sudah punya anak. Tetap saja Lea merasa ini benar-benar seperti hal baru untuknya. Ia merasa menjadi pengantin yang malu-malu, dan gugup.
Arya membelai pipi Lea dengan lembut.
"Aku mencintaimu, Lea," bisiknya tepat di depan bibir sang istri. "Aku sangat mencintaimu."
Arya mendekatkan bibirnya ke bibir sang istri, sebelum akhirnya menyentuh bibir yang ranum itu.
Seketika Lea langsung menutup mata.
Rasanya masih sama, manis, dan mendebarkan.
...🦋...
__ADS_1